
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Ayu berhenti dari pekerjaannya karena kehamilan sudah memasuki trimester kedua. Dirinya sama sekali tidak boleh melakukan apa-apa, semuanya sudah dilakukan oleh asisten rumah tangganya. Hal itu karena permintaan Raka sendiri yang khawatir akan keselamatannya.
Namun, hari ini Ayu ingin membuat kejutan untuk suaminya, dia membuat cookies kesukaan Raka. Setelah itu, Ayu berminat untuk pergi ke kantor suaminya.
“Bi, tolong ambilkan coklat yang di sana ya.”
Asisten rumah tangganya mengangukkan kepala, mengambil coklat yang letaknya agak sedikit jauh dari jangkauan Ayu.
“Ini, Nyonya”
“Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama. Nyonya jangan capek-capek, nanti kasihan bayinya.”
Ayu tersenyum.
“Nggak apa-apa, malah ini aku buat cookies tiba-tiba karena pengennya si baby.”
Asisten rumah tangganya tersenyum maklum, jika Ayu sudah berkata demikian karena majikannya itu memang terlihat sangat bahagia dan begitu bersemangat ketika membuat cookies tersebut.
Setelah memasukkan cookies ke dalam toples. Ayu meminta tolong para pekerja untuk membersihkan dapur dan meja tempatnya memasak, lalu dia sendiri pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum pergi ke kantor Raka.
Setelah selesai, barulah dia meminta tolong supir untuk mengantarkannya.
“Pak, sebelum ke kantor Tuan. Kita mampir sebentar ya, ke toko yang biasa.”
“Baik, Nyonya.”
Supir mulai melajukan kendaraannya menuju jalan raya. Setelah sampai di toko buah tempat ibu mertuanya membeli buah, Ayu turun dan masuk ke dalam toko buah tersebut. Dia memilih beberapa buah-buahan segar dan manis. Ada juga kiwi dan strawberry.
“Pantesan Bunda rekomendasiin beli buah di sini, soalnya pada segar-segar.” ujarnya lalu Ayu kembali memilih buah-buahan lagi.
Setelah membeli berbagai macam jenis buah, Ayu segera membayar ke kasir.
Ayu melangkahkan kakinya ke luar toko sembari menenteng plastik berisikan buah yang ia beli.
“Nyonya biar saya yang bawakan.”
“Terima kasih, Pak. Nggak apa-apa, ini enteng kok.”
Supir membukakan pintu dan segera melajukan kendaraan menuju kantor.
“Pak, langsung pulang saja ya. Nanti saya mau makan siang sama Tuan. Buahnya sekalian di bawa. Ada dua plastik, yang satu simpan di kulkas. Satu lagi untuk Bapak dan juga yang lainnya. Dibuat jus saja, enak pasti.”
__ADS_1
“Alhamdulillah, terima kasih. Baik, Nyonya.”
Ayu mengangukkan kepala dan keluar dari mobil, melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kantor suaminyano. Beberapa pegawai yang berpapasan dengan Ayu menyapanya ramah.
“Vi, Pak Raka ada?”
Sang asisten pribadi suaminya terlonjak, karena terkejut dengan kehadiran Ayu.
“Eh, Bu Ayu. Maaf, Bu. Aku kaget banget, nggak tahu kalau Bu Ayu datang.”
Ayu tersenyum maklum, pasalnya asisten pribadi suaminya itu memang sedang serius menekuri pekerjaannya hingga tidak menyadari kehadirannya di sana.
“Nggak apa-apa, kamu serius banget. Santai saja, Via. Kalau memang ada yang nggak ngerti atau belum paham. Bisa tanya ke saya atau pak Raka.”
“Baik Bu Ayu.”
“Pak Raka ada?” Ayu menanyakannya sekali keberadaan suaminya.
“Ada, Bu. Kebetulan sedang ada tamu.”
“Oh ya, saya tunggu di sini saja kalau gitu.”
“Jangan, Bu. Nanti Via kena omelan Pak Raka lagi, seperti waktu itu. Ih, serem.” Bergidik ngeri, “pokoknya kalau ada Bu Ayu langsung di suruh masuk saja. Gitu pesan Pak Raka.”
“Ya sudah”
Ayu mengangukkan kepala, membiarkan asisten suaminya membukakan pintu untuknya.
Begitu pintu dibuka, baik Via—asisten pribadi Raka– dan Ayu terkejut melihat pemandangan di depannya. Pasalnya Raka tengah berpelukan dengan seorang wanita dan Ayu tahu betul siapa wanita tersebut. Caroline. Wanita yang dulu pernah dia temui ketika hadir di pesta reuni SMA Raka.
Goodie bag berisikan kue yang tengah di pegang Ayu jatuh, toples kaca itu hancur berkeping-keping dengan isi yang ikut berserakan di mana-mana.
Raka nampak begitu terkejut dengan kehadiran Ayu, segera mendorong tubuh Caroline. Sedangkan Wanita di sampingnya justru tersenyum manis, seolah hal yang dilakukannya adalah hal biasa.
Menangis atau pergi dari sana bukanlah pilihan baik atau menghadapi dengan emosi, seperti menampar, mencakar serta menjambak juga pilihan yang tepat. Hal itu bukan sifat Ayu sekali.
Oke, hadapi dengan elegan. Kamu juga lagi hamil. Batinnya.
Ayu menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskanya perlahan.
Menoleh ke arah Via.
“Via, bisa tolong panggilkan OB. Tolong bantu bersihkan kue ini, karena sampah wajib dibersihkan sebelum mengotori tempat yang bersih.”
Ayu sengaja menekan kata sampah untuk menyindir Caroline.
Kalau punya malu, pasti paham. Batinnya lagi.
__ADS_1
Dan wajah Caroline memang berubah kecut.
“Ba-baik, Bu.”
Begitu asisten pribadi suaminya pergi. Ayu melangkahkan kakinya mendekati Raka.
Ayu auranya seram banget. Batin Raka.
Raka bahkan menelan ludahnya sendiri.
“Aku kira ada tamu siapa, ternyata wanita yang mengejar-ngejar—Ah, bukan. Kalau kata Mas Raihan julukannya ‘si Ulat keket’ karena selalu bergelinyang jika dekat pria.” Ujar Ayu santai lalu duduk di sofa dan melemparkan seulas senyum kepada Caroline.
Wanita itu semakin meradang mendengar ejekan dari Ayu.
“Kamu nggak malu ya? Datang ke kantor pria yang sudah beristri, padahal nggak ada kepentingan apapun. Tsk, saya lupa, urat malu kamu kan, memang sudah putus.”
“Jaga ucapanmu!” suara Caroline meninggi, karena tidak terima dengan perkataan Ayu.
“Ssssttt ... Jangan teriak-teriak, bayiku di sini lagi tidur.” ujar Ayu menunjuk ke arah perutnya
“Kalau kangen-kangenannya sudah selesai, silakan keluar sekarang. Kamu tahu pintunya di mana, kan? Kalau bisa sekarang juga, karena saya mau makan siang dengan suami saya.”
Caroline kesal setengah mati. Dia berharap Ayu akan marah dan bertengkar dengan Raka, tapi justru perkiraannya salah.
Dengan langkah kesal Caroline meninggalkan ruangan Raka, tapi ketika sampai di depan pintu langkahnya terhenti.
“Jangan coba-coba temui suami saya lagi, jika kamu melakukan hal seperti ini lagi. Jangan salahkan saya, jika wajah kamu terpampang di media sosial sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain. Say goodbye dulu sama pelak—eh, maksudnya Tante Carol, Sayang.” ujar Ayu sembari mengelus perutnya lagi.
Caroline melanjutkan langkahnya, melewati OB yang tengah sibuk membersihkan pecahan kaca dan kue yang mengotori lantai dengan hati yang meradang. Begitu OB tadi selesai dan pergi dari sana, Raka yang sejak tadi diam melangkah mendekati istrinya tapi langkahnya terhenti karena Ayu yang menyuruhnya.
“Berhenti di situ, Mas. Aroma parfum ‘si Ulat keket’ itu masih ada di badan kamu. Silakan mandi dan ganti bajumu. Sekalian buang.”
Raka mengangguk pasrah. Pria itu berbalik arah menuju ruangan pribadinya. Selesai melakukan yang diperintahkan istrinya, Raka kembali ke sana. Namun dia sudah tidak mendapati keberadaan Ayu lagi.
Ponselnya bergetar.
Ayu
Saya pulang ke rumah ibu, jangan menghubungi atau datang ke sini.
Tubuhnya menegang. Wajahnya menunduk semakin frustrasi sekaligus merasa bersalah kepada istrinya. Jangan sampai karena kesalahpahaman ini, Ayu pergi meninggalkannya. Seketika Raka diselimuti ketakutan.
Semuanya karena perempuan itu. Tangannya terkepal erat menahan amarah.
“Sialan!” Umpatnya.
...****...
__ADS_1