
...Part ini sudah direvisi...
...***...
Rika datang dengan perasaan riang, kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan. Hari ini dia senang sekali karena Daffa membelikannya tas-tas mewah dan sepatu keluaran terbaru.
“Mbak, bawa Raffi ke kamarnya ya.” Perintah Rika kepada pengasuh anaknya.
“Baik, Nyonya”
Rika menaiki tangga menuju kamar lalu meletakkan semua belanjaan di atas kasur.
“Sudah jam sepuluh, Mas Danu tumben belum pulang.” Rika bergumam.
Rika mandi dan berganti pakaian, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia masih mengingat pertemuannya dengan Daffa hari ini. Daffa begitu memanjakannya, hingga akhirnya mereka melakukan hal itu lagi. Hingga beberapa kali.
Rika selalu dibuat melayang oleh pria itu. Berbeda dengan suaminya, Danu. Pria itu seperti robot yang gila kerja. Pulang malam, jarang sekali berlaku romantis akhir-akhir ini.
Meskipun Danu masih meluangkan waktunya di akhir pekan untuk bersamanya dan Raffi serta semua kebutuhan mereka terpenuhi. Namun tetap saja Rika merasa hal itu kurang, karena Danu tidak semenggebu-gebu dulu.
“Pasti dia lagi ingat wanita sialan itu—” Runtuknya dengan wajah kesal.
“–Aku pikir setelah wanita itu berhasil aku singkirkan, Danu bakalan lupa tapi malah ingat lagi, huh!” Menghembuskan napasnya kuat.
“Masa bodo, yang penting aku happy hari ini.”
Kemudian Rika mulai terlelap dalam tidurnya.
...***...
“Heh! Babu, Tuan ke mana? Belum kok pulang?”
Bi Ijah terjengkit dari tempatnya, karena terkejut.
__ADS_1
“S-su—”
“Haduh, kebiasaan. Kalau jawab itu yang benar, kenapa. Gagu gitu, kamu itu kerjanya selalu nggak becus!”
Rika hendak melayangkan tangannya untuk menampar wajah Bi Ijah, tapi tiba-tiba ...
“Jadi begini kelakuan kamu saat aku tidak di rumah.”
Rika menoleh, di ambang pintu antara ruang keluarga dan ruang makan terdapat suaminya berdiri dengan menatap Rika dengan tatapan penuh amarah.
Tangan yang tadinya terhenti di udara ditarik kembali oleh Rika.
Mati aku, kenapa Mas Danu ada di rumah. Sialan, dasar babu sialan!
“M-mas.” Rika terbata.
“Kenapa nggak di jawab? Benar pertayaanku tadi, kalau aku tidak di rumah kamu bertingkah seperti ini?”
“A-aku nggak gi-gitu, kok. Ta-tadi cuma kesal saja, soalnya dia selalu lelet sama kerjaannya da-dan kebetulan suasana hatiku lagi nggak baik.”
“Jadi hanya karena alasan lelet kamu mau pukul Bi Ijah? Ayu bahkan tidak pernah sekalipun melakukan hal seperti itu.”
Rika menjadi emosi, dirinya tertawa sumbang mendengar perkataan Danu.
“Ayu, Ayu dan Ayu terus! Aku bukan Ayu, mas. Aku—Rika. Kenapa kamu selalu bandingkan aku sama perempuan sialan itu?”
“Oh, sudah berani meninggikan suara dan berkata kasar atau memang inilah kamu yang sesungguhnya?”
Rika semakin gelagapan.
“Dan, apa kamu bilang tadi? Suasana hatimu buruk, kamu yakin? Bukankah kemarin kalian habis bersenang-senang. Berbelanja dan juga melakukan reservasi hotel!”
Wajah Rika seketika pias. Suaranya tercekat di tenggorokan. Perutnya melilit.
__ADS_1
“Ka-kamu bicara apa sih, Mas?” memalingkan wajahnya ke arah lain, Rika tidak berani menatap mata suaminya.
Danu melemparkan map coklat dan putih ke hadapan Rika, Rika yang sedikit terkejut melihat map yang jatuh di kakinya. Rika berjongkok untuk mengambil map itu, dibukanya map berwarna coklat tersebut. Disana berisikan foto-foto Rika bersama Daffa.
Tangan Rika gemetar, wajahnya pucat. Dia mengangkat wajahnya menatap mata Danu.
“Mas, I-ini nggak seperti yang kamu pikirkan. A-aku, aku bisa jelaskan.”
Danu diam. Tidak bergeming dari tempatnya. Rika perlahan menghampiri suaminya. Memegang lengan Danu dengan wajah memelas.
“Mas, aku dijebak. Tolong percaya sama aku, ya.”
“Dan sampai memiliki anak dengan pria itu.” Dengan suara pelan, tapi dingin.
Mulut Rika ternganga mendengar perkataan Danu.
Bagaimana bisa mas Danu? Jangan-jangan ...
“Aku sudah tahu, jika Raffi bukan anakku.” Danu berkata dengan nada lirih.
“Mas! Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu, aku bukan Ayu yan—”
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rika mengentikan ucapannya yang hendak menghina Ayu.
“Kamu tidak lebih baik dari pada Ayu. Jadi, jangan pernah sekalipun kamu menjelek-jelekkan dia. Aku sudah melakukan tes DNA, dan terbukti Raffi bukanlah anakku karena aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan!” Danu berkata dengan nada tegas dan penuh penekanan.
Rika semakin ternganga mendengar perkataan Danu.
“Aku akan mengurus semuanya perceraian kita. Meskipun Raffi bukan anak kandungku, aku akan tetap membesarkan dia sebagai anakku dan mengambil hak asuh atasnya. Kamu silakan angkat kaki dari rumah ini sekarang, pergilah bersama kekasihmu itu.”
Setelah berkata demikian Danu pergi meninggalkan Rika yang masih terpaku di tempatnya.
__ADS_1
...****...