Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi....


...***...


Tangan Ayu masih gemetar saat menyerahkan ponsel tadi. Pikiran Ayu seperti orang linglung. Marah, kecewa, dan bingung. Perasaan seperti itu berkecamuk di kepalanya.


“Mas bisa mulai jelasin ke aku, apa yang aku lihat itu benar?” tanya Ayu dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya.


Danu mengangukkan kepalanya, wajahnya menunduk semakin dalam.


“Mas minta maaf, Ay.”


Seketika tubuh Ayu luruh terduduk di lantai keramik yang dingin mendengar perkataan Danu yang mengiyakan kebenaran video tersebut.


Ayu berharap, jika mimpi. Namun, nyatanya rasa sakit karena kukunya yang menancap saat mengepalkan tangannya menyadarkan dirinya jika ini semua adalah kenyataan.


Danu bergegas menghampiri istrinya dan memapah yang kini terdiam dengan pandangan kosong untuk duduk di atas sofa, Danu tahu pasti apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini.


“Kamu tunggu di sini dulu ya, Ay. Mas akan ambilkan minum dulu.”


Setelah kepergian Danu Ayu menghapus air matanya. Memalingkan wajahnya ke arah foto pernikahan mereka.


“Memangnya apa kesalahanku, Mas?” ujar Ayu dengan suara lirih.


Tak lama kemudian Danu kembali datang membawakan nampan berisi segera air.


“Ay, minum dulu.” Menyodorkan segelas air kepada Ayu.


Ayu menerimanya dengan tangan gemetar. Kemudian menaruh gelas di atas meja.


Ruangan itu kembali hening. Baik Danu maupun Ayu belum bersuara kembali.


Ayu yang sedari tadi menangis sudah lebih tenang, meksipun jejak air matanya masih ada dan hatinya hancur berkeping-keping melihat video tadi.


“Maafkan Mas, Ay.” ujar Danu dengan suara lirih kesekian kalinya.


“Kapan, mas?” tanya Ayu dengan suara serak.


Danu menyugar rambutnya. Dia menghela napasnya, merasa frustrasi dan bersalah karena menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


“Maaf.” Danu semakin menundukkan kepalanya lebih dalam. Dia bahkan tak berani untuk sekedar membalas tatapan mata istrinya.


“Kenapa Mas lakukan ini? Apakah ada pelayanan Ayu yang kurang memuaskan, sampai sampai Mas menikah kembali? Bahkan pernikahan itu disembunyikan dariku.” Tanya Ayu dengan nada getir, dan napas tercekat. Bahkan dia sangat kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Otaknya berpikir dan kepalanya dipenuhi pertanyaan lainnya.


Apakah suaminya berpaling darinya karena merasa tak terpuaskan? Atau apa?


Padahal pengorbanan Ayu selama ini untuk pria di hadapannya ini tak main main.


Ayu bahkan menutupi sesuatu hal yang sangat amat penting selama satu tahun ini dari semua orang termasuk suaminya sendiri dan itu dia lakukan demi kebaikan semuanya. Terutama Danu, suaminya.


Sakit dan kecewa, itulah yang kini Ayu rasakan. Hati wanita mana yang rela, jika suaminya menikah lagi dan hal itu pun dilakukan secara diam-diam.


Danu tetap bergeming di tempatnya.


“Jawab Ayu, mas!” Tanyanya dengan suara lantang karena muak melihat kediaman Danu.


Padahal selama ini jangankan untuk melawan, mengeluarkan suara keras saja dia tidak pernah ketika berbicara kepada suaminya.


“Nggak Ay, kamu sudah menjadi istri yang baik dan sholehah.”


“Lalu kenapa, mas melakukan hal ini sama aku? Mengkhianati pernikahan kita.”


Terpaksa?


Ayu tak habis pikir dengan alasan suaminya itu.


“Apa maksudnya, Mas terpaksa menikahi wanita itu? Apakah mas sudah tidur dengannya? Makanya kalian menikah.”


“Demi Allah, Ay. Mas nggak melakukan hal itu.”


“Lalu apa, Mas? Tolong jelaskan sama Ayu! Kenapa mas melakukan semua ini dengan terpaksa?”


“Demi ibu, Ay.” Berujar lirih, “Mas melakukan ini semua karena keinginan ibu.”


Hati Ayu mencelus mendengar jawaban Danu.


“Gimana ibu tega melakukan hal ini sama aku? Memangnya apa kesalahanku sampai ibu merencanakan semua ini?” Ayu berujar dengan suara bergetar.

__ADS_1


Air matanya kembali luruh, sungguh dirinya tidak pernah menyangka jika ibu mertuanya yang mengusulkan hal tersebut. Dirinya tak habis pikir mengapa ibu mertuanya begitu tega melakukan hal ini kepadanya.


“Ibu kepingin nimang cucu, Ay. Ibu bahkan sempat jatuh sakit dan nggak mau makan, jika Mas nggak mau menuruti keinginannya. Kamu bisa melihat sendiri, bukan keadaan ibu waktu itu di rumah sakit. Akhirnya dengan terpaksa Mas menuruti keinginan ibu untuk menikah kembali. Mas harus apa, Ay? Mas beneran bingung, karena di satu sisi nggak bisa menolak permintaan ibu. Di satu sisi Mas juga nggak mau menyakiti kamu, makanya Mas melakukan hal ini. Menyembunyikan pernikahan ini dari kamu.”


Suara Danu bergetar. Dirinya benar-benar merasa frustrasi sekaligus bersalah kepada istrinya.


Ayu menarik napas dalam-dalam. Menghirup semua oksigen yang dibutuhkan untuk bernapas, tapi meskipun begitu rasanya masih sesak. Seakan ada batu besar yang menimpa dadanya.


“Kapan? Apakah saat mas izin keluar kota?”


Danu mengangukkan kepalanya lagi.


“Kenapa mas nggak pernah cerita apapun ke Ayu atau mencoba bertanya pendapat Ayu.”


“Mas minta maaf, Ay. Maafkan, Mas. Seperti yang Mas jelaskan tadi, Mas nggak mau menyakiti kamu.”


“Tapi kamu tetap saja menyakiti hati aku, Mas.”


Ayu benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada dirinya dan juga keadaan rumah tangganya saat ini.


Danu tiba-tiba bersujud di kakinya.


“Mas minta maaf, Ay. Tolong mengertilah, Mas tahu ini salah. Tolong jangan minta Mas untuk menceraikan kamu atau pergi dari kamu, Mas cinta sama kamu Ay. Mas ingin selalu bersama dengan kamu selamanya, hingga maut memisahkan kita.” Danu tergugu, wajahnya sudah basah karena air matanya mengalir deras. Dia tidak ingin berpisah dari Ayu.


Melihat hal itu Ayu jadi merasa iba pada suaminya karena dia tahu jika Danu sangat mencintainya. Dia sangat tahu itu, dia juga tahu jika hal itu juga pasti berat baginya untuk melawan kehendak wanita yang sudah melahirkannya itu.


Haruskah dia menerima semua ini?


Relakah jika dia membagi cintanya dengan wanita lain?


Semua pertanyaan itu ditelan bulat-bulat.


Ayu hanya mampu memandang ke luar jendela, memandangi langit sore yang tampak kelabu baginya.


Saat ini juga dia sadar, bahwa semuanya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Seperti sebelum suaminya melakukan kesalahan yang begitu fatal.


Apakah rasa keinginan memiliki keturunan harus menyakiti dirinya?


Hati Ayu bergelut dengan rasa sakit dan sesak yang terus menderanya.

__ADS_1


Ya Allah, tolong aku melewati semua cobaan ini.


...****...


__ADS_2