
...Part ini sudah direvisi....
...***...
Mata Ayu terbelalak, mulutnya ternganga melihat pemandangan di hadapannya. Dia memergoki Rika yang tengah berpelukan dan hendak berciuman dengan seorang pria yang jelas-jelas bukan suami mereka.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!”
...***...
Rika dan pria selingkuhan terjengkit karena terkejut dengan suara teriakan Ayu.
Rika melepaskan pelukannya dari pria itu.
Plak!
Ayu tidak bisa menahan amarahnya, dia menampar pipi Rika.
“Dasar wanita murahan! Berani-beraninya kamu membawa selingkuhan kamu ke sini.” Maki Ayu.
Dia menjambak rambut Rika dengan kuat.
“Argh, sakit!” Rika berteriak kesakitan.
“Kamu pikir rumah ini untuk kamu berzina, jangan harap kamu bisa melakukan hal kotor di rumah ini!”
Tak henti-hentinya Ayu memukul dan menarik Rika. Pria selingkuhan Rika terus berusaha melerainya, tapi tidak berhasil.
Byurr!
Rika terjatuh ke dalam kolam renang.
“Rika!”
Danu yang baru saja sampai di rumahnya terkejut melihat istrinya yang tengah hamil terjatuh ke dalam kolam renang.
Dia langsung melompat dan menolong Rika. Rika langsung berpura-pura tidak sadarkan diri, sedangkan Danu panik melihat kondisi istrinya dan juga calon anaknya yang begitu terlihat mengenaskan.
“Apa yang kamu lakukan? Cepat panggilkan supir untuk membawa Rika ke rumah sakit!
Suara teriakan Danu memekakan telinga. Ayu yang tadinya geram atas kelakuan Rika, langsung tersadar.
Ayu membantu Danu memapah Rika yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil.
“Cepat, Pak! Saya tidak ingin istri dan anak saya kenapa-kenapa.”
Perintah Danu dengan raut wajah khawatir. Pakaian sama basahnya dengan Rika, tapi dia tidak peduli hal itu.
“Mas, cukup! Justru kamu membahayakan kita kalau buru-buru.”
“Aku tidak butuh nasihatmu, aku tunggu penjelasan kamu.” Danu berujar dengan nada geram.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menangani Rika. Danu mondar-mandir, raut wajahnya begitu khawatir.
“Mas, kamu minum ini dulu. Dan ganti bajumu, nanti masuk angin.”
__ADS_1
Ayu menyodorkan segelas kopi hangat dan kaos yang baru saja ia beli.
Danu menepis tangan Ayu, menyebabkan kopi itu tumpah ke lantai.
“Kamu bisa jelaskan apa yang terjadi? Dan siapa pria itu.”
Danu menunjuk ke arah pria yang berada di belakang Ayu.
“Dia—”
“Suami Nyonya Rika?”
Terdengar suara dokter memanggil Danu.
“Saya, dok. Saya adalah suaminya, bagaimana keadaan istri dan bayi kami?”
“Pasien mengalami syok dan hal ini sangat membahayakan bagi pasien sendiri serta juga janin yang ada di dalam kandungannya dan maaf saya harus mengatakan hal ini. Saya juga melihat jika pasien mengalami kekerasan secara fisik.”
Danu terkejut mendengar perkataan dokter tersebut.
“Apa? La—lalu bagaimana keadaan istri dan calon anak kami, Dok.”
“Pasien saat ini bisa dikatakan mengalami trauma dan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dia butuh istirahat dan juga dukungan dari orang sekitarnya, terutama anda sebagai suaminya.”
“Baik, dokter. Saya akan memerhatikan kondisi kesehatan istri saya dan menjaganya. Bisakah saya temui istri saya sekarang?”
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, setelah itu ia permisi undur diri.
Danu memasuki ruang tempat di mana Rika di rawat. Tubuhnya terbaring lemah di atas tempat tidur pasien. Hati Danu pilu melihat kondisinya istrinya.
“Eghm," terdengar suara lenguhan Rika yang baru tersadar dari tidak sadarkan diri.
“A—aku di mana? Ma—mas Danu.” Rika langsung memeluk suaminya dan menangis terisak.
Mengelus punggung Rika untuk menenangkannya.
“Mas di sini, sayang. Kamu sekarang tenang ya.”
“Tad—tadi Mbak Ayu do—dorong aku, Mas.” Ujar Rika dengan suara tersendat sendat.
Danu melepaskan pelukannya dari istri keduanya itu.
“Apa maksud kamu, sayang?” tanya Danu sambil memegang pundak Rika.
“Tad—tadi aku melihat Mbak Ayu pelukan sama pria itu dan waktu dia mau ci—ciuman, Aku nggak sengaja melihatnya. Awalnya aku tanya baik-baik, tapi dia langsung marah. Saat aku bilang mau bilang ke mas Danu, Mbak Ayu menampar dan mendorong dorong aku, hiks ....”
Tubuh Danu menegang, tangannya mengepal kuat. Menahan gejolak emosi di dadanya kala mendengar istrinya yang begitu dia cintai telah mengkhianatinya dan dia melakukan hal itu di rumah mereka.
Bahkan untuk menutupi kebejatannya, wanita itu malah hendak mencelakakan istrinya yang lain beserta bayi yang kini tengah dikandungnya.
“Sssttt ... Sekarang kamu tenang, Mas sudah di sini. Sekarang kamu istirahat dulu ya.”
Rika menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Setelah dirasa Rika sudah tertidur, Danu keluar dari kamar tersebut.
Ayu melihat suaminya keluar dari ruangan tempat Rika dirawat. Sebenarnya Ayu juga merasa sangat khawatir dengan kondisi Rika, karena wanita itu tengah hamil.
__ADS_1
Tapi mengingat apa yang Rika lakukan di rumah mereka dan mengkhianati pernikahan bersama Danu hal itu membuat Ayu marah dan tidak bisa menahan emosinya.
Bugh!
Danu memukul pria yang tak lain adalah selingkuhan Rika hingga tersungkur.
Ayu yang melihat hal itu mencoba melerainya, dia takut suaminya berbuat nekat.
“Mas, sudah. Ini rumah sakit.”
Danu yang masih sangat emosi dan geram berbalik arah.
Plak!
Perih dan nyeri Ayu rasakan menjalari wajahnya yang terkena tamparan Danu, bahkan dia dapat merasakan perih di ujung bibirnya yang sobek karena tamparan Danu yang begitu keras.
Ayu terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan hal itu, dan ini baru pertama kalinya dia dipukul oleh pria yang berstatus sebagai suaminya.
Ayu melihat ke arah suaminya.
“Mas, apa yan—”
“Kalian, berani-beraninya melakukan perbuatan menjijikkan itu di rumahku.”
Danu memandang Ayu dan pria itu dengan pandangan marah sekaligus jijik.
“Apa maksud kamu mas?” tanya Ayu tak mengerti, tangannya masih memegang pipi bekas tamparan Danu.
“Tinggalkan rumah sakit ini sekarang, dan tinggalkan rumahku. Bawa semua barangmu, mulai saat ini aku Danu Gunawan menalak tiga kamu—Sukma Ayu Rengganis– sebagai istriku, aku tidak sudi memiliki istri yang tidak bisa menjaga kehormatannya!”
Bagaimana tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan talak meluncur begitu lancarnya dari Danu. Air mata Ayu lolos dari pelupuk matanya. Tubuh Ayu seketika bagaikan tak bertulang, kakinya seolah kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Ayu jatuh terduduk di kursi tunggu yang berada di belakangnya.
Bagaimana bisa suami—pria yang begitu ia cintai– tidak bertanya atau mendengarkan penjelasannya lebih dulu, bahkan menjatuhkan talak tiga kepadanya.
“Pergi kalian dari sini sekarang!”
Ayu seperti orang linglung, pikirannya kosong setelah mendengar perkataan Danu. Dengan langkah gontai dia meninggalkan rumah sakit tersebut.
Sesampainya di rumah mereka, Ayu menumpahkan air matanya.
“Kenapa ini terjadi sama aku? Apa salah aku, hiks ....” ujar Ayu dengan suara tangisan yang terdengar pilu.
Ayu mengemasi barang-barangnya, dia hanya membawa apa yang menjadi miliknya tanpa membawa apapun yang sudah dibelikan oleh Danu. Hatinya teramat sakit dan juga kecewa kepada suaminya.
Sungguh, dia tidak pernah sekalipun membayangkan rumah tangganya hancur berantakan. Namun siapa yang menduga, rumah tangga yang belum genap dua tahun harus kandas begitu saja karena kesalahpahaman Danu serta tuduhannya terhadap Ayu.
Ayu berpamitan kepada Bi Ijah yang sudah membantunya selama ini, Ayu juga meminta maaf kepada Bi Ijah jika dirinya secara tidak sengaja menyakiti asisten rumah tangganya itu.
Asisten rumah tangganya itu hanya bisa menangis melihat kepergian majikan yang begitu dia sayangi seperti keluarganya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang kembali ke rumah orang tuanya, Ayu tak hentinya menangis. Mobil yang dia kendarai melesat menuju kediaman orang tuanya.
Entah apa yang akan terjadi nanti dan bagaimana Ayu menjelaskan semuanya.
...****...
__ADS_1