
...Sudah mengalami tahap revisi....
...____...
...Selamat membaca...
...***...
“Ayah, Ayu minta izin kerja lagi boleh?”
“Rencananya Ayu mau kerja di mana? kena di kantor Ayah mau?”
Ayu menggelengkan kepalanya.
“Lalu?”
“Di kantor lama Ayu, di tempatnya Mas Raka. Kebetulan asisten yang sekarang resign karena mau menikah dan pindah ke kantor cabang yang di luar kota, mas Raka kasih tawaran ke Ayu.”
“Kalau memang itu maunya kamu dan kamu merasa tidak keberatan, ya sudah. Nggak apa-apa, Ayah izinkan.”
“Terima kasih, Yah.”
“Iya, sama-sama.”
Keduanya anak dan Ayah itu kembali menikmati sore mereka dengan obrolan lainnya.
...***...
“Mbak Ayu, sini.” Sapa Devi dari kejauhan.
Sedangkan Ayu yang baru saja masuk ke kantin kantor langsung melihat ke arah sumber suara dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana Devi berada.
“Hai, Dev. Kamu apa kabar?” Ayu menyapa balik.
“Alhamdulillah baik, Mbak. Silakan duduk mbak,” Devi mempersilakan Ayu untuk menduduki kursi di samping kanannya yang memang kosong.
“Terima kasih ya, Dev.”
“Sama-sama, mbak. Oh ya, kenalin. Mereka berdua ini teman aku, kebetulan keduanya karyawan kontrak yang baru.”
Ayu memalingkan wajah dan menatap keduanya.
“Halo, saya Ayu. Salam kenal ya, semoga betah di kerja di sini.”
__ADS_1
“Aku Dini, mbak. Pasti betah dong, banyak cowok cakep di divisiku.” Ujar Dini kemudian terkikik.
Sedangkan mereka yang mendengar ikut tersenyum.
“Kalau aku Laras, Mbak. Insyaallah betah, mbak. Mohon bantuannya ya, mbak.”
Keempat wanita itu makan siang dengan diselingi berbagai macam obrolan seputar dunia wanita dan gosip artis. Yang tentunya di dominasi oleh Devi dan Sini. Ayu dan Laras lebih banyak menyimak, terkadang mereka tertawa dengan sikap blak blakan Dini.
Sudah satu minggu Ayu mulai bekerja lagi di kantor Raka, meskipun awalnya ragu mengingat bagaimana alasan dia berhenti dari sana. Namun, begitu dijalani keraguannya seakan lenyap.
Ayu menjalankan pekerjaannya dengan baik, meskipun awalnya harus menyesuaikan lagi ritme pekerjaan tapi lama kelamaan dia semakin terbiasa.
“Aku senang banget waktu mbak Ayu kerja di sini lagi, terlebih dengan jabatan yang sebelumnya. Behhh ... bukan hanya aku, tapi hampir semua anak-anak divisi lain ikutan senang dan malah ada yang makan-makan buat ngerayain. Ya, meskipun ada saja yang nyinyir.” Jelas Devi yang kini hampir memakan tandas bakso yang dipesannya tadi.
“Oh ya, kok sampai segitunya?” tanya Ayu keheranan.
“Iya, setuju. Aku saja yang baru kerja beberapa bulan merasakan beda selama seminggu ini. Kalau ibarat perut orang yang lagi nahan kentut, eh, akhirnya keluar juga. Lega,”
“Ih, Din. Jorok,” protes Laras.
Sedangkan Ayu geleng-geleng kepala mendengar perumpamaan yang Dini utarakan.
“Loh, bener. Kamu juga pasti ngerasain, kan, Ras. Bahkan mbak Ayu itu jadi seperti semacam pusat perhatian sekarang, berasa seleb. Coba deh, lihat.” Tunjuk Dini dengan dagunya, “tuh, kan, beberapa dari mereka merhatiin ke sini.”
Ayu pun bukannya tak tahu hal itu, dari hari pertamanya bekerja kembali hingga detik ini pun dia tahu hampir semua orang yang berpapasan dengannya memperhatikan dia dengan begitu seksama. Kadang sampai membuatnya tidak nyaman, bahwa ada dari mereka yang sedang membicarakan dirinya di belakangnya.
Seperti di toilet khusus wanita, di pantry atau di lift yang mereka sendiri tidak tahu jika orang yang mereka tengah bicarakan ada di sekitar mereka.
“Iya, soalnya mbak Ayu itu penolong dan penjaga.” Ujar Devi.
Yang sontak saja membuat Ayu terkekeh geli mendengar perkataannya.
“Aku serius loh, Mbak. Asisten Pak Raka yang sebelumnya bahkan hampir ngibarin bendera putih. Dia sendiri yang bilang ke aku.”
“Kok bisa, memangnya kenapa?”
“Semenjak Mbak resign, Pak Raka yang tadinya idol bagi kami kaum hawa. Berubah seratus delapan puluh derajat, jadi malaikat pencabut nyawa.”
Ayu, Laras dan Dini tertawa bersamaan mendengar ucapan Devi.
“Kok gitu?”
“Gimana, nggak gitu? Ritme kerja berasa kerja rodi. Tanya saja sama pegawai lama dan pegawai kontrak yang baru gabung ke sini
__ADS_1
Ya, kan, Ras, Din.” Devi meminta dukungan kepada dua orang temannya itu.
“Iya.”
“Benar, banget.”
Laras dan Dini menyetujui pendapat Devi.
“Ya, meskipun bonusnya tebal tapi ya ampun, mukanya Pak Raka tuh, yang tadinya bikin kesemsem malah bikin merinding.”
Ayu meringis mendengar ucapan Devi.
Bukan hanya sekali dua kali mendengar hal yang sama, selain dirinya yang dibicarakan. Raka pun sama, semenjak dia bekerja kembali
Pria itu jadi lebih ramah, dan auranya jadi kembali seperti sedia kala. Begitu katanya.
Kadang Ayu bertanya pada diri sendiri, apakah dampak yang dia tinggalkan begitu besar terhadap Raka saat dirinya memutuskan untuk resign dulu.
Dia kembali teringat perbicangan karyawan di pantry saat awal pernikahannya dulu dengan mantan suaminya. Raka juga menunjukkan perubahan yang berbeda.
Lebih banyak diam dan terkadang sering melamun, bahkan sempat pergi untuk waktu yang lama. Pria itu memutuskan untuk pindah ke luar negeri mengurusi anak cabang perusahaan, meskipun hanya sementara.
Apakah benar yang dia dengar dulu tentang Raka yang memiliki perasaan kepadanya? Tapi ....
Tidak-tidak, duh, aku mikir apaan sih?
“Mbak, mbak ....” Panggil Devi.
“Eh, ya. Dev, kenapa?”
“Hayo, ngelamunin Pak Raka ya. Goda Devi.”
“N—nggak kok.” Ayu gugup.
“Iya juga nggak apa-apa, kok. Kami dukung, ya kan guys.” Melihat ke arah Laras dan Dini.
Keduanya mengangukkan kepala mereka tanda mengiyakan.
“Kami dukung demi kelangsungan hidup kami dan bonus di perusahaan ini.” Lanjut Devi diiringi tawanya.
Ayu sendiri hanya tersenyum salah tingkah. Keempat wanita itu berjalan beriringan menuju lift karena jam makan siang yang sebentar lagi berakhir.
...****...
__ADS_1