Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Cemburu?


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi....


...***...


Sedari pagi mood Ayu sudah tak mengenakan. Entah apa yang salah dengannya hari ini, mobil yang dikendarainya tiba-tiba saja mogok tengah jalan saat hendak berangkat ke kantor.


Dan begitu dia langsung memesan ojol, sungguh entah kesialan apa hingga pengendara ojol itu kena tilang lantaran dompet yang ternyata tertinggal di rumahnya. Menurut yang Ayu curi dengar, ojol tersebut pergi dalam keadaan sehabis bertengkar dengan sang istri.


Hingga pada akhirnya Ayu memesan taksi, tapi begitu turun dari mobil tersebut tubuh Ayu terciprat genangan air yang menggenang di depan kantornya karena jalan yang ada di sana sedang dalam perbaikan. Tadi malam hujan dan kendaraan lewat tanpa memelankan laju.


Alhasil, rok span yang dia kenakan dan kemeja putih kesayangannya harus dia relakan untuk dibuang.


Kenapa dibuang?


Ugh, percayalah aromanya membuat setiap orang yang menciumnya akan langsung memuntahkan isi perutnya.


Untuk saja Ayu segera memesan pakaian dari butik terdekat, meskipun dia harus merogoh kocek yang tidak murah tentunya.


Dengan menahan rasa malu karena menjadi pusat perhatian di lobby. Untung saja semua karyawan sudah mulai bekerja karena Ayu datang tepat pukul sepuluh pagi. Sangat amat terlambat bukan?


Tentu saja dia mendapatkan SP1.


Dan apa ini? Masih kurang cukupkah kesialan yang membuat mood-nya terjun bebas.


Seorang wanita dengan pakaian kekurangan bahan, dandanan glamor serta jangan lupakan tatapan angkuh yang ditujukan kepadanya.


Seketika membuat Ayu ingin berdecih dan menangis secara berbarengan. Dia bahkan belum sempat sarapan karena kesiangan, tapi kenapa seakan segalanya hari ini begitu kompak menyedot segera energinya.


“Aku ingin menemui Raka.”


“Sekali lagi saya mohon maaf, Nona Brenda. Jika ingin menemui Pak Raka, anda harus membuat janji terlebih dahulu.” jawab Ayu tetap mencoba ramah meskipun sebenarnya berbeda dengan suasana hatinya yang suram.


“Saya tidak perlu membuat janji, saya ingin menemui Raka SE—KA—RANG.” tekan wanita itu pada kata terakhir.


Ayu menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan.


“Nona and—”


“Ay, tolong bawakan berkas—”


“Raka!” Wanita itu berseru kegirangan setelah mendapati pria yang dia cari selama ini baru saja keluar dari ruangannya.


Raka yang tadi sedang membaca berkas di tangannya, segera melihat ke arah sumber suara.


Dia benar-benar terkejut mendapati Brenda ada di sini. Di kantornya.


“Kau di sini?”


“Ya, tapi aku tidak diperbolehkan masuk oleh asistenmu.” Brenda bergelayut manja di lengan Raka.


Seketika Raka melihat ke arah di mana Ayu berada dan wanita itu memberikan senyuman terbaiknya.


Anggap saja patung atau tanaman hiasan.


Raka hanya menampilkan wajah datar kepadanya.


“Kalau begitu ayo masuk ke ruanganku.”


Tentu saja wanita itu senang bukan main karena merasa dirinya diterima oleh Raka.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, dia sempat melihat ke arah Ayu dan memberikan tatapan meremehkan lalu hilang dibalik pintu.


Ayu mengehala napasnya lalu mendarat tubuh di kursi.


“Hah, ya ampun. Kenapa dari sekian kejadian yang baru saja adalah hal yang paling kesel, ya?” Ayu bertanya kepada dirinya sendiri.


“Sudah ah, yuk! Mulai kerja, semangat.”


Baru saja beberapa saat dia duduk tenang, interkom di sebelahnya berbunyi.


“Ya, Pak Raka. Apakah ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong buatkan minuman untuk tamu saya,”

__ADS_1


“Kau mau minum apa?


Ayu dapat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka di dalam sana melalui sambungan interkom itu.


“Teh Chamomile yang tidak mengandung kafein.”


“Baik, Pak Raka. Akan segera saya buatkan.”


Tanpa mengucapkan kata ‘terima kasih’ seperti biasanya, Raka mematikan sambungan interkom tersebut dan itu membuat Ayu kesal.


“Eh, buat apa coba aku kesel?” Ayu menetupuk dahinya, “ya ampun, Ay. Kok kamu sampai segitunya, sih.”


Buru-buru dia bangun dari tempat duduknya menuju pantry khusus yang memang disediakan untuk tamu pemimpin LAVIAS. Siapa lagi kalau bukan, Raka.


...***...


“Silakan, Nona.”


Ayu hendak meletakkan teh Chamomile yang masih mengepul itu di atas meja, tapi sepertinya Brenda yang sedang asyik memainkan ponselnya menyenggol lengan Ayu dan membuat teh panas itu tumpah mengenai keduanya.


“Argh! Apa yang kau lakukan?” Brenda menjerit kesakitan.


Raka yang melihat hal itu langsung menghampiri keduanya.


“Apa yang terjadi?”


“Pegawai bodohmu ini dengan sengaja menumpahkan teh panas ke kakiku. Kau lihat, sekarang kaki melepuh.” Brenda memaki Ayu sambil mengacungkan jarinya.


“Seharusnya kau lebih hati-hati dalam bekerja, kau lihat kakinya terkena tumpahan teh panas.”


Raka mengatakan dengan tegas kepada Ayu.


Mendengar hal itu Ayu meremat nampan yang dipegangnya.


Raka segera menghampiri Brenda dan memapahnya.


“Dan seharusnya kau minta maaf kepadanya.” Setelah mengatakan hal itu Raka keluar dari ruangannya.


Baru setelah Raka benar-benar tak ada, Ayu mengeluarkan air mata yang sejak tadi di tahannya.


Sebenarnya Ayu justru yang lebih parah, bukan hanya tangan tapi kakinya juga tersiram teh tersebut. Hanya saja dia menahan kesakitannya di depan Raka karena dia nampak begitu khawatir dengan wanita itu dan itu membuat Ayu melupakan rasa sakitnya sejenak.


...***...


“Laporan untuk Inklife berikan besok di meja saya, sekarang kau boleh pergi.”


“Baik, Pak. Saya permisi.”


Setelah wanita itu keluar dari ruangannya, Raka langsung mengendurkan dasinya dan bersandar di kursinya.


Apakah sikapnya sudah sangat keterlaluan?


Raka bisa melihat jika wajah Ayu nampak muram dan matanya sembab. Pucuk hidungnya sedikit memerah dan bisa di tebak, jika wanita itu habis menangis.


Namun, mengingat sikap Ayu yang dengan sengaja menumpahkan teh panas kepada Brenda membuat Raka terbawa emosi. Baginya itu sangat keterlaluan.


...***...


“Mas Raihan hiks ....”


“Ay, hei. Kamu kenapa?”


Ayu segera memeluk kakak sepupunya. Sejujurnya Raihan begitu terkejut saat di kantor tadi mendapatkan pesan dari Ayu, jika dia berada di rumah sakit.


Dengan bergegas Raihan segera menyusul adiknya itu. Begitu sampai, adiknya langsung memeluk Raihan.


Tanpa diminta, Ayu menceritakan kesialan yang terjadi pada dirinya seharian ini. Termasuk kejadian di kantornya juga.


Raihan mengumpat dalam hati saat Ayu menceritakan tentang Raka dan Brenda, juga saat melihat kaki dan tangan Ayu yang tampak melepuh.


Raka sialan! Bilang cinta sama adek gue, tapi masih tebar pesona sama cewek lain. Sekarang malah buat adek gue nangis, ketemu gue bejeg manusia satu itu.


Kini tangis Ayu sudah berhenti, hanya masih sedikit terisak isakan. Penampilannya benar-benar kacau. Mata sembab, hidung merah, rambut acak-acakan. Dan, ugh! Kulit kaki dan tangannya, sungguh dua anggota tubuh itu yang paling mengenaskan.

__ADS_1


“Apa nanti akan membekas, Dok? Kasihan soalnya sama adik saya kalau sampai membekas.”


Dokter tersebut tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Raihan.


“Jika perawatannya tepat, tidak akan meninggalkan bekas. Hanya memang butuh waktu untuk menyamakan kulit lama dengan kulit baru, tapi hal itu adalah hal biasa. Namun, jika nanti salah perawatan atau terjadi hal yang tidak terduga. Adik Pak Raihan bisa berkonsultasi dengan Dokter kulit.”


“Terima kasih atas infonya, Dokter. Saya mengucapkan terima kasih banyak."


“Sama-sama Pak Raihan, itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi dulu,”


“Baik Dokter.”


Setelah Dokter tersebut pergi, Raihan masuk ke dalam ruangan Ayu.


“Kata dokternya gimana, Mas?”


“Ya itu, intinya jangan sampai salah perawatan dan dijamin nggak bakalan ngebekas. Tapi sebaliknya, kalau salah perawatan bakalan ada bekasnya. Dan kalau itu terjadi, kamu disarankan untuk pergi ke dokter kulit.”


Ayu mendesah kesal mendengar kabar yang diterimanya.


“Apes banget, sih, aku hari ini.” Gerutunya.


“Sabar, Ay. Namanya juga cobaan hidup.” Hibur Raihan.


“Mau mas anterin pulang, nggak?”


“Nggak perlu, Mas. Ayu juga bawa mobil sendiri, lagian tadi Ayu memang kesel banget we we ditambah karena Mas Raka dan cewek itu. Makin buat mood Ayu terjun bebas hari ini, makanya tadi tangis. Maaf ya, Mas kalau ngerepotin."


“Tsk, ngerepotin apaan. Kamu itu adikku, tanggung jawabku menjaga kamu, Ay. Kalau kamu lecet dikit saja, dijamin baik Ibuku maupun Budhe bakalan ngomel panjang seperti pluit kereta api.” Gurau Raihan.


“Tapi Ayu sudah nggak apa-apa kok, Mas Rai. Ini juga sudah diobati, cuma tadi memang kesel saja.”


“Ya sudah kalau gitu, pokoknya nyetir hati-hati.”


“Iya, Mas. Salam juga sama Mbak Prita ya.”


Raihan memandangi punggung Ayu yang mulai menjauh.


“Hah, kenapa semua nggak berjalan baik buat kamu, Ay.”


Raihan memutar tumitnya, dia harus segera bertemu dengan sahabat bodohnya itu. Bisa-bisanya Raka membuat adik sepupunya sampai seperti ini.


“Harus dikasih pelajaran, tuh, si Kulkas.”


Raihan bersiul sepanjang perjalanan menuju tempat Mobilnya yang diparkir.


...***...


Sekitar pukul delapan malam Ayu sampai di rumahnya. Untung saja begitu di sampai, ibu dan ayahnya ternyata sendang pergi.


Sore tadi kedua orang tuanya pergi ke rumah kakek dan neneknya, orang tua ayahnya. Ayu baru membaca pesan yang dikirim ibunya.


Jadi mungkin sekitar tiga atau empat hari ke depan orang tuanya tak berada di rumah. Dia aman, karena pasti luka melepuh ini akan segera sembuh.


Ayu hendak membersihkan dirinya, tapi saat membuka celananya.


Ah, pantesan hari ini mood ku anjlok. Nggak tahunya lagi begini.


Noda darah yang keluar menandakan jika dia tengah datang bulan.


Jika diingat-ingat, dari semua hal yang terjadi hari ini. Cara Raka memperlakukan wanita bernama Brenda itu yang membuat Ayu kesal. Ingin sekali marah, tapi tidak bisa.


Karena terlalu menahannya akhirnya malah justru menangis di hadapan Kakak sepupunya.


Duh, malu banget tadi sampai nangis seperti itu di depan Mas Raihan. Semoga saja nggak jadi bahan ejekan dia kedepannya, tpi apa yang Mas Raka lakukan sama aku tadi benar-benar buat aku kecewa dan marah. Bisa-bisanya dia lebih membela si Brenda. Padahal, kan, wanita itu yang salah. Lagian ngapain sih, pakai acara rangkul-rangkulan segala. Manja banget. Mas Raka juga, ngapain jadi lembut begitu ke dia. Aku kan jadi kesel lihatnya–”


“Eh?—”


Apa maksudnya ini, apa aku cemburu?


Ayu menatap kaca yang ada di depannya.


“Ya ampun Ay, bukan, bukan, pasti bukan.”

__ADS_1


Menepuk-nepuk pipinya agar segera tersadar.


__ADS_2