Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Ayu Diculik! (2)


__ADS_3

...Part ini sudah direvisi...


...***...


PUSING. Itu yang pertama kali Ayu rasakan saat membuka matanya. Entah sudah berapa lama dirinya tak sadarkan diri, Ayu mencoba mengingat apa yang terjadi kepadanya.


Dia izin pergi ke rumah Raihan– sepupunya– karena sudah janji temu dengan Prita, rencananya Ayu dan Prita akan melakukan pijat di perawatan kulit di salon ibu hamil yang biasanya Prita datangi.


Awalnya Prita yang akan datang mengingat Ayu sudah hamil besar, usia kandungan sudah memasuki trimester ketiga. Dua minggu lagi dia akan melahirkan. Namun, Ayu mengatakan jika dia yang akan datang karena sudah lama tidak main ke rumah mereka. Akhirnya Ayu izin kepada Raka, meskipun dengan sedikit rayuan kecil akhirnya Raka mengizinkan.


Ayu pergi diantar oleh supir mereka, Pak Januar. Saat di tengah jalan Ayu merasa lapar, mengingat sebentar lagi jam makan siang, tapi saat membuka tas ternyata Ayu lupa membawa camilan lalu Ayu memutuskan untuk singgah sebentar di supermarket, membeli beberapa camilan.


Setelah itu, supirnya izin ke toilet. Beberapa lama kemudian ketika dia tengah asyik bertukar pesan dengan Prita, supirnya sudah masuk dan menjalankan mobil. Namun beberapa saat kemudian, saat dia tersadar jalan yang ditempuh bukan yang biasa dia lewati dan lebih celakanya lagi yang duduk di kursi pengemudi bukanlah Pak Januar—supirnya– melainkan seorang wanita yang menyeringai kepadanya.


“Caroline.”


“Oh, hai. Kamu asyik sekali, sampai-sampai baru menyapaku.”


Glek. Ayu menelan ludah. Pikirannya bertanya-tanya, mengapa wanita itu ada di sini dan menjalankan mobil mereka lalu ke mana dia akan membawanya?


“Kamu mau apa? Mau ke mana kita?”


“Ck, ck, seharusnya kamu tanyakan kabarku dulu.” Katanya kemudian terkekeh, “kita mau jalan-jalan, ke surga.”


Wajah Ayu berubah pucat. Melihat hal itu Caroline tertawa terbahak-bahak.


“Hei, rileks. Kita akan bersenang-senang.”


Ayu mencoba berpikir jernih. Melompat dari mobil bukanlah hal bagus, dia bisa saja terluka. Terutama bayi yang ada di dalam kandungannya dan pastinya pintu mobil pun sudah dikunci oleh wanita gila yang kini menjadi supirnya. Ayu kemudian mencoba menghubungi Raka, tapi jemarinya terhenti saat mendengar ucapan Caroline.


“Silakan kamu memberitahu kepada suamimu, maka dengan senang hati aku akan menabrakkan mobil ke pembatas jalan. Tentunya sebelum itu, aku akan lebih dulu melompat keluar. Kalau aku mati, kau pun mati bersama anak itu.”


Ayu semakin tidak bisa berkutik. Dengan terpaksa dia duduk diam, sambil berpikir.


“Pilihan bagus.” Caroline tersenyum puas.


Setelah berkendara hampir memakan waktu dua jam, tibalah mereka di sebuah rumah yang agak jauh dari hiruk pikuk keramaian. Meskipun ada tetangga, tapi memang kompleks perumahan mewah itu jaraknya memanglah jauh dari satu sama lain.


Mobil memasuki rumah mewah. Dengan pintu pagar otomatis, Caroline dengan santai memasuki rumah berpagar tinggi tersebut. Di sana sudah ada beberapa pria yang menanti kedatangan mereka. Tampilan mereka layaknya preman.


Begitu mobil berhenti dan pintu dibuka, mereka menyeret paksa Ayu masuk ke dalam rumah bercat putih itu dengan paksa. Meskipun dia mencoba meronta, tapi kemudian seseorang membekap mulutnya dengan kain yang sudah diberikan obat bius. Perlahan tubuhnya mulai bereaksi, pandangan matanya menjadi gelap.


Dan di sinilah dia saat ini, di ruangan gelap dengan sedikit cahaya yang masuk melalui ventilasi udara. Ayu melihat sekelilingnya, banyak benda-benda tidak terpakai dan juga debu, serta sarang laba-laba. Jika tebakannya benar, dia tengah berada di gudang. Ayu kemudian meraba perutnya, dia merasa lega karena bayi itu sepertinya dalam kondisi baik-baik saja karena ketika Ayu mengelus perutnya, bayi itu memberikan respon berupa tendangan kecil.


Tas dan ponselnya pasti sudah diambil oleh Caroline dan orang suruhannya itu. Ayu mencoba duduk, menyandarkan tubuhnya yang masih sedikit pusing. Ayu berdoa semoga obat bius itu tidak berdampak negatif kepada bayinya.


Ceklek.


Pintu terbuka. Caroline berjalan mendekat ke arahnya, Ayu secara refleks melindungi perutnya. Melihat hal itu Caroline tergelak tawa, karena senang.


“Wah, wah. Sudah sadar rupanya. Aku pikir kamu sudah mati.”


“Apa mau kamu sebenarnya?”


Caroline memberikan isyarat kepada pria yang ada di belakangnya.


Plak!


Sakit. Perih dan pusing. Serta sedikit asin. Itu yang Ayu rasakan. Tubuhnya bahkan sampai limbung ke samping, karena mendapatkan tamparan keras dari seorang pria bertubuh besar tersebut.


Kemudian pria itu hendak menendangnya, Ayu secara refleks melindungi perutnya lagi. Kemudian Caroline memberikan isyarat untuk berhenti, wanita itu kemudian berjongkok. Mencengkeram kuat dagu Ayu dengan kukunya. Ayu sedikit meringis menahan perih.

__ADS_1


“Karena ulah kamu my love jadi mempermalukan aku! Jika kamu dan bayimu mati, maka aku dan my love akan hidup bersama. Bahagia selamanya!” Kemudian tertawa.


Tawa Caroline terdengar nyaring di tempat sunyi itu.


Kemudian wanita itu berdiri dan meninggalkan Ayu yang masih meringkuk di lantai yang dingin dan kotor.


Setelah pintu tertutup, Ayu sempat mendengar ucapan Caroline saat memerintahkan kepada para orang suruhannya.


“Jangan biarkan dia kabur atau memberinya air dan makanan, jika sampai hal itu kalian lakukan. Kalian akan tahu akibatnya.”


Setelah itu langkah kakinya terdengar menjauh.


Ayu meneteskan air matanya, berharap pertolongan segera datang.


...***...


Brak!


Prang!


“Wanita sialan!”


Raka memaki dengan melempari apapun yang ada di atas meja kerjanya. Pintu ruangan kantornya terbuka. Raihan ada di sana bersama dengan Via. Via terkejut melihat keadaan ruangan kerja milik atasannya.


“Bro, lo bisa tenang?”


Urat-urat Raka menonjol, wajahnya memerah menandakan jika pria itu tengah dalam kondisi yang sangat marah.


“Vi, tolong panggilin OB buat bersihin semuanya.”


“Baik, Tuan.” Setelah itu Via pergi ke luar ruangan.


Raihan mendekati Sahabatnya. Menepuk pundak Raka.


Benar kata Raihan. Bodoh dia termakan dengan ulah Caroline. Wanita gila itu benar-benar membuatnya tidak bisa berpikiran jernih. Setelah Raka menerima pesan dari nomor baru yang berisikan foto istrinya yang tengah tidak sadarkan diri dan pesan teks menjijikkan dari Caroline, Raka langsung naik pitam.


Kemudian pintunya terbuka lagi, Via segera memerintahkan OB membersihkan kekacauan di ruangan itu. Setelah selesai, Via dan OB tadi keluar dari ruangan Raka.


“Sekarang, kan, lo sudah tenang. Sudah bisa mikir?”


Raka meskipun kesal, tapi mendengar ucapan Raihan ada benarnya. Raka kemudian mengingat sesuatu, segera Raka membuka ponselnya dan benar saja, titik merah itu masih menyala. Ada rasa lega sedikit, setelah dirinya mengetahui keberadaan Ayu dan anak mereka karena emosi dengan bodohnya dia melupakan hal sepenting itu. Mobilnya sudah dia pasangi GPS.


Raihan yang melihat itu segera menghubungi anak buahnya.


“Kalian segera pergi ke tempat yang saya kirimkan, SEKARANG!”


Setelah mengakhiri panggilan, Raka menatap ke arah Raihan.


“Apa?”


“Aku sudah menemukan mereka.”


Raka segera mengirimkan lokasi keberadaan Ayu ke ponsel milik Raihan, keduanya segera pergi.


...***...


Plak!


Byurrr!


Setelah ditampar oleh Caroline, wanita itu menyiram seember air dingin kepada Ayu.

__ADS_1


“Uhukk, uhukk.”


Ayu terbatuk-batuk karena sedikit air masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Tubuhnya juga menggigil kedinginan.


“Sudah aku bilang, kan, my love itu milikku. See, my love bahkan nggak mencari kamu!”


Kemudian Caroline tertawa lagi.


Tangannya hendak melayangkan tamparan kembali, tapi tubuhnya tersungkur karena tubuh pria yang ada di belakangnya menubruknya.


“Kurang ajar. Apa yang kamu lakukan? Jauhkan tubuh bau dan kotormu dariku!”


“Maaf bos, tap-tapi—”


“Apa? Ka—”


Suara Caroline terhenti melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Raka. Caroline tersenyum melihat pujaan hatinya di sana.


Namun, jauh berbeda dengan Raka. dia melihat bagaimana kondisi Ayu yang sangat memprihatikan. Tubuhnya basah, wajahnya ada memar bekas tamparan, sudut bibir Ayu juga terluka. Rambutnya acak-acakan. istrinya terlihat meringkuk untuk melindungi perutnya, bayi mereka.


Raihan pun tak kalah berang, dia segera menarik pria yang tersungkur di samping Caroline, sedangkan Raka melangkahkan kakinya mendekati Caroline.


“Love, tolong aku. Ini sakit, pria itu bodoh jatuh mengenaiku.” Ujarnya dengan nada manja yang justru terdengar menjijikkan di telinga Raka.”


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Caroline. Raka segera menghampiri Ayu dan membopong tubuh istrinya.


“Maaf, maafkan aku.” Ujarnya lirih terdengar sedikit pilu.


“Mas,” jawab Ayu, kemudian dia terisak di dekapan suaminya.


Di ruang tamu, tiga orang suruhan Caroline sudah dibekukan polisi dan anak buah Raihan.


“Patahkan tangannya, karena menyentuh wajah istriku.” ujarnya dengan nada dingin.


Tentu mereka tahu apa yang dimaksud Raka. Tak lama terdengar suara kesakitan yang pilu, karena tangan preman itu patah. Sedangkan Caroline berlari mengejar Raka, kembali menghadang jalannya.


“Kenapa kamu lakukan ini, Love! Aku cinta sama kamu!”


“Carol!” suara Tuan Roy menggema. Dia tergesa-gesa menghampiri anaknya.


“Kamu gila! Apa yang sudah kamu lakukan?”


“Pa-papi—”


“Masukkan dia ke rumah sakit jiwa dan buat Prayoga Grup hancur.”


Tubuh Tuan Roy pucat mendengar perkataan Raka.


“Tuan Raka, saya mohon. Tuan!”


Anak buah Raihan menghalangi Tuan Roy.


Polisi membawa para preman tadi ke rumah sakit, mereka hanya terdiam melihat semuanya. Mau berbicara pun sudah lebih dulu takut, karena mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Sedangkan Caroline meronta-ronta ketika diseret paksa oleh anak buah Raihan. Raka dan Raihan pergi melangkahkan kakinya menuju mobil, mereka segera membawa Ayu menuju rumah sakit terdekat.


...****...


Jangan lupa untuk follow, klik tombol LIKE dan LOVE ya~

__ADS_1


Komentar Next, untuk part selanjutnya 🤗


__ADS_2