Berbagi Cinta : DUA CINCIN

Berbagi Cinta : DUA CINCIN
Pesta Reuni (1)


__ADS_3

...Part ini sudah mengalami tahap revisi....


..._____...


...Happy reading!...


...***...


Tidak terasa waktu berlalu, Ayu kini sudah terbiasa dengan status dan juga kehidupannya.


Satu tahun sudah perpisahan dengan sang mantan suami. Namun tak sekalipun Ayu bertemu kembali dan mendengar kabar tentang pria itu, ataupun keluarga mantan suaminya.


Perlahan dia mulai dapat menyembuhkan luka masalalu yang dia alami, dengan cara menerima semua apa yang sudah terjadi kepadanya.


Dan itu berhasil, dia merasakan sendiri hal itu. Ayu pikir akan butuh waktu lebih lama baginya, tapi ternyata tidak. Dugaannya salah, mungkin karena banyak orang yang memberinya dukungan dan kekuatan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ayu menjadi dirinya yang dulu, yang ceria dan lebih dewasa pemikirannya dari sebelumnya.


...***...


Saat tengah fokus mengerjakan laporan, interkom di samping Ayu berbunyi.


“Ya, Pak?”


“Tolong ke ruangan saya sebentar.” pinta Raka.


“Baik, Pak.”


Ayu bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah kakinya menuju ke ruangan Raka. Setelah mengetuk pintu, Raka mempersilakannya untuk masuk.


Sesampainya di sana, Ayu mendapati pria di depannya duduk tertelungkup dengan wajah melihat ke arah samping.


Dahi Ayu mengeryit heran.


Apa Mas Raka sakit, ya?


Kakinya berjalan mendekati Raka.


“Mas, mas Raka kenapa, sakit?”


Tak ada jawaban dari pria itu, dia hanya mengangsurkan ponsel miliknya kepada Ayu. Namun tak mengubah posisinya.


Ayu mengambil ponsel dan membaca pesan yang tertera di layar ponsel milik Raka tersebut dengan seksama. Dia mencoba mengatupkan bibirnya agar tidak meluncurkan suara tawa.


Pasalnya isi pesan itu dari sepupunya, Raihan. Yang berisikan ejekan, yang ditujukan kepada Raka. Ayu berdehem sebelum kembali berbicara.


“Terus?”


Raka menegakkan punggungnya.


“Sepupu kamu ngeselin, Ay. Mentang-mentang dia udah married, bukannya sibuk ngurusin rumah tangganya, malah sibuk ngurusin aku. Hampir setiap hari aku diejekin sama dia, Ay.” Raka merajuk dan mengadukan perbuatan Raihan kepadanya.


Pasalnya memang hanya Ayu yang dapat mengimbangi kejahilan seorang Raihan. Raka yang notabene adalah sahabatnya pun kewalahan dan sering dibuat kesal. Dari dulu, awal perkenalan mereka sampai sekarang.


Menyesal pun tak ada gunanya setelah mengangkat Raihan menjadi sahabat baiknya. Begitu pikir Raka.


Ayu sedikit terkikik geli mendengar perkataan Raka, dan jangan lupakan ekspresi kesal pria itu. Yang di mata Ayu justru terlihat menggemaskan.


Tunggu, apa? menggemaskan? Ya ampun, sejak kapan sih, kok jadi mikirnya begitu.


Tanpa dia sadari wajahnya merona.


“Ay, tolongin.” Pinta Raka memelas.


Ayu kembali berdehem, menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak lebih cepat.


Ayu memahami permintaan Raka, pasalnya dia sendiri tahu bagaimana kejahilan Raihan. Terlebih saat sudah menikah seperti sekarang.


Ya, sepupunya itu memang sudah menikah, tepatnya enam bulan lalu. Ayu dan Raka berpikir, jika menikah kejahilan Raihan akan berkurang. Nyatanya hal itu hanyalah angan kosong keduanya, sifat jahil Raihan justru malah semakin menjadi. Raka selalu menjadi bulan-bulanan Raihan saat ketiganya bertemu.

__ADS_1


“Ayu punya solusinya, Mas.”


Raka menatap Ayu seksama. sedangkan yang ditatap mulai salah tingkah.


“Emh, Mas. Ngeliatinnya, bisa nggak jangan gitu banget.” Soalnya jantung aku makin aneh.


“Oh, maaf. Habisnya aku heran, kamu bilang kata ‘gampang’ barusan.”


Mendengar hal itu Ayu menjelaskan kepada Raka tentang rencananya, agar nanti dia tidak diejek lagi oleh Raihan.


“Errr ... Mas Raka tinggal bawa Mbak Siska saja ke acara pesta reuni itu.”


Tatapan mata Raka memincing mendengar usulan wanita dihadapannya.


“Dari sekian orang, kenapa harus dia coba? Aku nggak setuju sama usul kamu.”


“Ya, terus? Dia kan, cantik, pintar, anak kolega bisnis dari perusahaan ini juga. Terus—”


“Cukup, oke. Jangan muji-muji dia kalau nggak tahu sifat yang sebenarnya.”


“Ya, tapi kan, yang aku bilang sedikit banyak memang benar. Lagian kenapa nggak mau? Mas juga, kan, harus bawa pasangan ke acara reuni itu. Dan biar nggak diledekin juga sama Mas Raihan.


Raka mengamati wajah Ayu dengan seksama. Menopang dagu dengan kedua tangannya, sembari mengetuk ketuk meja dengan jarinya.


“Kenapa nggak kamu saja?” Raka berkata dengan entengnya.


“Iya, itu juga bole—Hah!”


Seketika senyum Raka terbit.


...***...


Dan di sinilah akhirnya dia sekarang. Ayu terpaksa harus ikut pergi bersama dengan Raka. Menjadi pasangan pria itu di acara pesta reuni SMA tempat sekolah Raka dan Raihan dulu.


Acaranya memang tidak terlalu mewah, hanya teman seangkatan Raka dan Raihan saja. Dan mereka hanya menggunakan gedung serbaguna sekolah yang sudah mendapatkan izin dari pihak sekolah sebelumnya.


Ayu mengenakan Hanbok modern dengan panjang di bawah lutut berwarna hitam, terdapat motif bunga sakura berwarna krem muda. Sedangkan untuk bawahnya dia menggunakan rok polos berwarna krem tua.


Raka sendiri mengenakan jas semi formal berwarna krem tua, kemeja putih dan dasi berwarna hitam. Keduanya tampak begitu serasi.


Bahkan saat memasuki gedung keduanya berhasil mencuri perhatian teman-teman Raka yang ada di sana.


“Oh, lihat. Siapa yang baru saja datang? Ternyata pasangan fenomenal abad ini rupanya, berikan sambutan kepada kedua sepasang kekasih ini.” Sebuah suara yang tentu saja mereka tahu itu siapa, tentu saja Raihan.


Ayu memutar bola matanya, karena jengah dengan kelakuan kakak sepupunya itu. Sedangkan Raka memilih untuk tak menunjukkan ekspresi apapun.


“Mas, jangan mulai deh. Kamu tuh, ya diam dulu. Jangan digodain terus merekanya.”


Prita—istri Raihan– adalah Dewi penyelamat bagi Ayu dan Raka, saat Raihan akan mulai menggoda keduanya.


Raihan hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya dan mengecup pipi istrinya.


“Yuk, Ay. Kita gabung sama yang lain, khusus ciwi-ciwi di sana.” Prita menggaet tangan Ayu, “Raka, aku pinjam dulu ya, Ayu-nya.”


Raka mengangukkan kepalanya, memandangi kepergian keduanya.


“Biasanya saja lihatinnya, bisa bolong itu punggung sepupu gue.”


Raka berdecak sebal, Raihan masih saja menggodanya. Pria itu tergelak melihat ekspresi sahabatnya.


“Gimana progresnya?”


“Apa?”


“Tsk, progres pendekatan sama sepupu gue lah. Masa sama kang somay.”


Raka menghembuskan napasnya perlahan, kemudian mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


“Gimana sih, naklukkin investor gampang banget. Giliran hati wanita, malah mleyot.”


Plak!


Raka memukul bahu Raihan.


“Aduh!” Raihan terkejut dengan pukulan Raka yang tiba-tiba.


“Seharusnya bantu, bukan cuma ngejek.” ujar Raka.


“Ini sudah gue bantu banget kali, lo saja yang kurang garcep. Keburu digaet orang lain lagi baru tahu rasa.”


“Sialan! Nggak akan aku biarin.”


Baru saja Raka hendak mengatakan sesuatu, MC yang berada panggung menyapa dan mulai membuka acara dan memberikan informasi mengenai sederet rangkaian acara yang akan berlangsung malam ini.


Dan semua itu di sambut antusias oleh mereka yang datang.


Sebagai pembukaan, ada beberapa pria yang melakukan stand up comedy, bercerita saat semasa SMA dulu dan hal lucu yang terjadi.


Serta permainan sebuah game truth or dare tentang pengakuan apa yang masih mereka ingat sampai sekarang.


Dan ketika tiba saatnya untuk berdansa bersama pasangan masing-masing.


Raka mengajak Ayu untuk ikutan berdansa menjadi pasangannya. Tangan kanan Raka melingkar di pinggang Ayu, sedangkan Ayu menaruh tangan sebelah kiri di dada Raka. Mengingat tubuh Raka yang tinggi, meskipun ia sudah mengenakan hels. Kedua tangan mereka yang satunya saling bertautan.


Raka memandangi wajah Ayu, dia begitu menikmati pemandangan di hadapannya. Awalnya Ayu tidak sadar, tapi begitu dirinya mendongak, pandangan matanya bertubrukan dengan mata Raka.


Lagu With You milik Tyler Shaw mengiringi setiap langkah kaki keduanya. Keduanya saling terpaku dalam diam dan tengelam dalam pikiran masing-masing, hingga suara tepuk tangan menyadarkan Raka dan Ayu.


MC naik panggung kembali, mengatakan acara berikutnya serta mempersilakan untuk semua tamu memakan hidangan yang sudah dipersiapkan.


Perlahan Ayu menjauhkan tubuhnya dari Raka.


“Aku lupa bilang kalau malam ini kamu cantik banget, Ay.”


Blush.


Ayu yang sedang memperhatikan MC berbicara, menjadi merona mendengar ucapan Raka barusan. Irama jantungnya semakin berdetak semakin lebih kencang dari sebelumnya.


Ayu berdehem, mencoba menetralisir detak jantungnya. Memalingkan wajahnya ke arah Raka.


“O—oh, ja—jadi kalau kemarin-kemarin aku jelek gitu, Mas?” pura-pura kesal.


“Bu-bukan gitu maksudnya, Ay.”


Melihat Raka yang gelagapan, Ayu tekikik sembari memegang perutnya. Dia yang tadinya gugup setengah mati karena perlakuan dan perkataan Raka, justru rasa gugupnya perlahan hilang.


“Tsk, cukup Raihan saja, Ay. Kamu jangan ikutan.” Raka berdecak dan menampilkan raut sebal.


“Iya, maaf. Habisnya Mas Raka lucu, sih,” ujar Ayu dengan sisa tawanya.


“Mas juga ganteng banget kok malam ini.” puji Ayu tulus.


Sial! Jangan salah tingkah, please.


Raka berdehem.


“Memang ganteng dari lahir, Ay.” Ujarnya dengan pede, mengalihkan rasa salah tingkahnya.


Sedangkan Ayu langsung mencebik melihat hal itu.


Keduanya lalu mengobrol lagi, membahas apa saja. Seolah tak pernah kehabisan topik untuk dibahas.


“Hai, Ka. Ternyata benar itu kamu, aku kira kamu nggak datang, gimana kabar kamu sekarang?”


Baik Raka maupun Ayu memalingkan wajah mereka ke arah sumber suara.

__ADS_1


Seketika membuat raut wajah Raka berubah dingin.


...****...


__ADS_2