BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO

BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO
23. niat memboyong ayu ke dunianya


__ADS_3

Ayu pun tidak berkata-kata lagi. Ayu cukup malu memperlihatkan kehidupan keluarganya ini. tapi mau bagaimana lagi, Satya itu orangnya keras kepala.


sudut pandang Satya


akhirnya kami tiba dan kapal bersandar di pelabuhan sioban. setelah itu aku dan Ayu turun dari kapal, ternyata tak sedikit orang yang turun di pelabuhan itu. kami harus capek-capek mengantri hanya untuk turun dari kapal. aku juga sempat berpikir, mungkin yang turun di pelabuhan itu hanya beberapa orang saja. ternyata dugaanku salah, hampir setengah dari penumpang turun di pelabuhan itu.


dan saat kami sudah turun dari kapal. tiba-tiba Ayu melihat tumpangan mobil pick up tapi modelnya seperti angkot. entahlah aku juga susah mendeskripsikannya. kami pun berjalan mendekat ke arah mobil itu. ayo menyebut mobil itu adalah bumdes. dan aku tidak tahu arti bumdes itu apa. Namun ternyata ayah Ayu pun turut serta datang ke tempat itu dan menjemput kami dengan mengendarai bumdes.


karena katanya Pak Santoso itu membantu Tuan Supri untuk menjemput beberapa barang dan orang yang baru pulang dari Padang. seketika Ayu pun langsung memperkenalkanku kepada ayahnya. kulihat dari raut wajah Pak Santoso tercetak raut wajah segan terhadapku.


"oh iya pak, kenalkan, dia kak Satya yang ayu bicarakan kemarin. dan, kenalkan kak, ini bapaknya ayu..."ucap ayu memperkenalkan aku kepada Pak Santoso. aku pun meraih tangan Pak Santoso dan memperkenalkan diriku.


aku menatap Pak Santoso dengan tatapan menilai. maksudnya bukan menilai baju atau tampilannya, hanya saja aku sedang merasakan aura yang tidak biasa yang berada di tubuh Pak Santoso. ternyata benar, setelah aku memfokuskan pikiranku ternyata keluarga mereka sedang diincar untuk dijadikan tumbal pesugihan.


namun saat ini, mereka belum beraksi secara berlebihan. sepertinya orang yang melakukan hal ini ingin membunuh mereka pelan-pelan agar terkesannya meninggal karena penyakit, bukan karena pesugihan atau dijadikan tumbal.


"Saya satya pak..." ucap ku sambil menyalim tangan Pak Santoso seperti budaya yang ada di negara ini. di mana seorang anak akan menyelam dan menyalim tangan orang yang lebih tua darinya.


itulah yang sedang aku lakukan. awalnya aku merasa canggung, Karena aku belum pernah melakukan hal ini. di kerajaanku baik muda maupun tua mereka akan memberikan hormat kepada seorang pangeran. walaupun pangeran itu masih berusia muda atau anak-anak. Pak Santoso juga meraih tanganku. Iya memberikan senyum tulus kepadaku namun dari tatapannya ada rasa malu dan enggan terhadapku.


"kalau begitu ayo segera masuk. tapi mohon maaf sebelumnya ya nak satya. rumah bapak hanya sebatas tempat untuk berteduh., "Ucap pak Santos mendahului.


mungkin maksud Pak Santoso mengatakan hal itu, karena mereka hidup berbanding terbalik dengan kehidupanku. Iya pastinya Ayu telah menceritakan siapa aku sebenarnya. dan mungkin itulah yang membuat Pak Santoso menjadi enggan terhadapku. tapi tidak apa-apa, aku tidak keberatan.

__ADS_1


mendengar penuturan Pak Santoso itu juga, aku sempat berfikir, Apakah kondisi rumah Ayu itu benar-benar hanya untuk tempat berteduh saja. pikiranku mulai melayang kemana-mana, tapi ya sudahlah.


Setelah itu kami pun langsung menaiki mobil bumdes itu. di perjalanan aku cukup terkejut dan tercengang, ternyata peradaban di sini sangat jauh dari sentuhan pemerintah.


di mana kondisi jalan saja tidak pernah diperhatikan, semua jalannya berlubang sehingga membuat kami yang berada di dalam mobil itu ter oyak-oyak akibat dari jalan yang rusak itu. namun aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Karena aku menyadari Ayu dari tadi memperhatikanku. aku juga tidak ingin menyakiti perasaannya dengan ucapan yang keluar dari mulutku.


jadi aku hanya berusaha untuk menutup dan menikmati perjalananku.


sekitar 10 menit lebih perjalanan kami menggunakan mobil bumdes itu. akhirnya kami sampai di sebuah desa yang dinamai desa permai, dan di desa inilah Ayu dan keluarganya tinggal. lagi-lagi aku pikir kami sudah sampai di rumah.


Namun kami masih singgah di rumah tuan Supri, karena akses ke rumah Ayu itu jalannya tidak memungkinkan. ya walaupun sudah tidak jauh dari sana. Setelah turun dari sana, kami menyempatkan diri untuk beristirahat terlebih dahulu Sementara Pak Santoso langsung kembali ke tempat kerjanya di belakang rumah tuan Supri tepatnya di gudang pembuatan perabot perabot atau semacamnya.


"ah istirahat dulu deh Kak. nanti kita lanjut jalan, soalnya bapak kerja di sini sebagai kuli. jadi nggak ikut kita.."jelas Ayu .aku pun hanya menurut saja. Karena sejujurnya aku juga capek dan lelah akibat perjalanan kami yang tidak biasa.


" ay !! ay..!!. sejak kapan kakak manggil aku ayang. jangan panggil kayak gitu lagi panggil Ayu saja atau adik..!"ucap Ayu sambil memanyunkan bibirnya beserta melipat kedua tangannya di dadanya.


(eh.. ayang..?? boleh juga tuh..😁) batin ku.


Tapi saat kami sedang bercakap-cakap, berusaha mempertahankan panggilan masing-masing tiba-tiba seorang ibu keluar dari rumahnya. dan sepertinya ibu itu adalah istri dari tuan Supri. bibi itu pun langsung menyapa kami.


"eh, Ayu sudah pulang, ini siapa yu Apakah ini calon menantu..?"ucap nyonya Lina sambil menyalami kami berdua secara bergantian. Ayu yang mendengar ucapan bibi Lina itu pun menjadi salah tingkah sendiri. sementara aku hanya senyum-senyum saja.


"eh !! enggak kok bi. dia Kak Satya, Ayu sudah menganggap Kak Satya seperti saudara aku sendiri. karena Ayu mau pulang makanya dia mau ikut melihat desa kelahiran Ayu."ucap Ayu menjelaskan. bibi Lina pun hanya tersenyum, mendengar ucapan Ayu itu. membuatnya percaya tidak percaya. Ayu mungkin saja berkata tidak, tapi sepertinya Ayu sedang mempertimbangkan perasaanku.

__ADS_1


"Oh ! bibi pikir dia calon mantu... sudah selesai kuliahnya...?" ucap ucap bibi Lina dan juga bertanya. Ayu pun menganggukkan kepalanya. mereka terus bercakap-cakap, sampai akhirnya Ayu mengatakan untuk kami pulang ke rumahnya.


"Kak kita balik yuk. bi Kami balik ke rumah dulu..."ucap Ayu kepada bibi Lina. setelah berpamitan kepada bibi Lina, terlebih dahulu Ayu menemui ayahnya yang sedang bekerja di belakang rumah tuan Supri. sementara aku yang tidak mau ditinggal oleh Ayu, memilih untuk mengekorinya dari belakang.


"Pak Ayu sama Kak Satya pulang duluan ya pak."ucap Ayu Setelah tiba di tempat kerja Pak Santoso. Pak Santoso yang mendengar ucapan putrinya itu pun segera mengalihkan pandangannya.


"Iya kalian berhati-hatilah..."Ucap pak Santoso. setelah itu kami pun langsung meninggalkan rumah tuan Supri dan pulang ke rumah ayu. 10 menit menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, akhirnya kami sampai di depan rumah Ayu.


ternyata di rumah ayu, sudah ada Ibu Sukma dan ibu-ibu yang lain. tampak nya mereka baru pulang dari berladang dan singgah di rumah Ayu untuk melepas lelah. ibu-ibu itu tampaknya sedang asyik bergosip ria. ( wajarlah namanya juga ibu-ibu, kalau sudah ngumpul ada aja yang digosipkan)


sesampainya kami di rumah ayu. Ayu pun langsung mengucapkan salam, sementara aku hanya diam saja karena sudah hampir setahun aku berada di negara ini, aku belum memutuskan untuk memiliki keyakinan selain keyakinanku.


karena aku masih yakin, kalau aku masih bisa kembali ke duniaku dan tentunya memboyong ayu ke sana. aku tidak peduli jika nanti dia menolak, karena sepertinya aku menyadari perasaanku sebagai pria kepada wanita. namun aku selalu menutupi perasaan itu agar Ayu merasa nyaman ketika berada di dekatku.


"assalamualaikum...."ucap Ayu. dan langsung dibalas oleh seorang ibu yang sepertinya itu adalah ibu kandung ayu. karena aku melihat wajah ibu itu sangat mirip dengan Ayu.


"waalaikumsalam..."jawab ibu itu.ibu itu sejenak memperhatikan kami tapi tiba-tiba ia langsung berdiri dan menghampiri kami. kami pun langsung menyalin tangan Ibu itu dengan sopan seperti yang aku lakukan kepada Pak Santoso.


"eh sudah pada pulang. lalu ini siapa Ayu.?."tanya seorang ibu. mendengar pertanyaan dari bibi tersebut, Ayu tanpa malu dan ragu langsung memperkenalkan aku kepada mereka. kulihat tatapan bibi itu kepada Ayu adalah tatapan menggoda Ayu, tentu saja aku paham itu semua karena keberadaanku.


"Oh ini Kak saat Satya, temannya Ayu..."ucap Ayu menjawab pertanyaan dari bibi itu. entah siapa namanya aku juga tidak tahu, tapi dari sudut pandangku. sepertinya bibi tersebut masih memiliki sangkut paut dengan Ayu dan keluarganya. tak hanya bibi itu yang bertanya kepada Ayu, rata-rata semua ibu itu menyambut kedatangan Ayu.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2