
"Oh tante kira dia adalah calon menantu tante.."ucap bibi itu. entah kenapa ucapan itu seperti angin segar untukku. artinya, mereka menilai bahwa aku dan Ayu itu cocok. dan yang bikin gregetnya adalah, hanya karena mendengarkan pujian itu jantungku semakin berdetak dan tak karuan.
"hehehe Tante bisa aja..."ucap Ayu tanpa menyangkal apapun. mendengar ucapan Ayu yang tidak menyangkal sedikitpun. lagi-lagi membuatku begitu senang.
"kalian sebaiknya masuk dan beristirahat dulu. Ibu sudah memasak, tapi tidak ada sambal."ucap Ibu Sukma kepada kami berdua.
aku juga sudah tidak terkejut, karena aku paham, baru saja aku melihat kondisi dan membaca keadaan keluarga Ayu. aku juga sudah paham bahwa di daerah ini pun serba sulit. namun itu tidaklah menjadi sebuah masalah untuk ku. to, aku punya uang yang banyak dan emas yang bergunung-gunung di ruang penyimpanan ku. kami pun masuk ke dalam rumah dengan ibu Sukma melayani dan berusaha agar membuat ku nyaman disana.
"kakak lapar..? maaf ya kak tapi di tempat Ayu sudah biasa seperti ini. nanti kalau kakak lapar kita beli telur saja.."ucap Ayu kepada ku.aku melihat, Ayu sendiri benar-benar bingung bagaimana cara memenuhi kebutuhan ku.
aku juga menebak, sepertinya Ayu merasa segan kepadaku karena kehidupan mereka. namun mau bagaimana lagi, tugas manusia di muka bumi ini hanyalah berusaha dan berdoa, selebihnya Itu adalah kehendak yang kuasa. karena apapun yang dicari di sini serba sulit dan tidak ada. namun jika harus mencari sayuran itu dapat ditemukan di mana-mana. namun tentu saja semua bumbu-bumbu untuk membuat sayuran itu sulit didapatkan di daerah ini. melihat kecemasan di wajah ayu, aku pun langsung berucap guna membuat air tenang.
"nggak papa yu, nanti kita belanja saja. bukankah di tempat persinggahan kapal itu banyak yang disediakan..?"ucap ku mengetahui kerisauan yang Ayu alami.
"Maaf ya Kak, beginilah kehidupan Ayu dan kedua orang tua Ayu. "ucapnya kepadaku. aku pun tersenyum mendengar ucapannya.
"tidak apa yu, setidaknya ini adalah pelajaran baru untuk kakak. tenang aja semuanya baik-baik saja asalkan kamu selalu bersamaku hehehe..."ucapku lagi. setelah itu kami pun makan dengan apa adanya sebelum akhirnya kami beristirahat melepas lelah dari perjalanan jauh kami.
__ADS_1
sudut pandang Satya of
***
malam hari pun menjelang. saat ini Satya sedang rebahan di kasur santai yang sudah disediakan oleh tuan rumah. namun ia tidak dapat meminjamkan matanya, entah apa yang ia rasakan, seolah ada aura aura mistis yang berada di sekitar rumah ini. Satya Pun bangun dan duduk bersila di atas kasur santai itu. ia mencoba memusatkan pikirannya dan mencari asal aura mistis itu. Satya langsung mengambil posisi Lotus dan mulai melakukan semedi. sesaat Satya merasakan aura mistis meliputi rumah Ayu. tak lama saat dia pun membuka matanya.
(sial ternyata ada yang berusaha melenyapkan keluarga Ayu. heh !! kalian tidak bisa melakukannya, karena aku sudah di sini..) batin Satya sambil tersenyum misterius. mendapati persoalan seperti ini tentu saja saatnya tidak mau diam, apalagi ini menyangkut nyawa perempuan yang dikasihinya.
( aku sudah menemukan alasanku tidak bisa tidur. sekarang sebaiknya aku tidur dulu, nanti akan ku diskusikan dengan Pak Santoso dan Ayu.): batin Alexander lagi. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur santai yang keras itu. namun walaupun begitu Satya tidak pernah protes. selama Ayu masih bersamanya ia akan melakukan apapun agar kekasih pujaannya itu tidak merasa minder.
***
"nak, nak Satya tidak dibangunkan? bukankah ia harus salat terlebih dahulu.."ucap Ibu Sukma kepada Ayu Ayu yang melipat sajadah dan mukenanya itu pun mengalihkan pandangannya kepada sang ibu.
"tidak Bu, Kak Satya tidak seagama dengan kita..."terang Ayu sambil terus mengemasi tempat salat yang mereka gunakan. Ibu Sukma dan Pak sonto pun hanya merespon dengan anggukan saja. Ya sudahlah, mereka hanya berpikir barangkali Satya seagama dengan mereka maka tidak boleh membiarkan Satya tidur terus-menerus tanpa melakukan sembahyang.
"oh ayah sama ibu pikir dia seagama dengan kita. kalau begitu tidak apa-apa biarkan saja dia tidur mungkin dia masih kelelahan."Ucap pak Santoso lagi. setelah mereka melakukan aktivitas itu, Pak Santoso langsung bersiap-siap akan ke kebun pagi ini.
__ADS_1
"bapak berangkat ya Bu.."Ucap pak Santoso sambil memikul cangkul di pundaknya dan membawa sebotol air minum. kebiasaan Pak Santoso adalah, sebelum matahari terbit ia sudah berada di ladangnya. dan setelah matahari menyinari bumi ini, sekitar jam 09.00 pagi, Pak Santoso akan pulang. setelah ia pulang ia akan melanjutkan kembali menjadi kuli di rumah tuan Supri dan seperti itulah kehidupan yang mereka jalani.
"Iya bapak hati-hati... nanti Ibu nyusul membawa sarapan untuk bapak."ucap Ibu Sukma menyertai kepergian sang suami. sementara Ayu sudah berkutat di dapur membersihkan peralatan rumah dan memasak untuk keluarganya. tak lama, karena suara sedikit ribut akhirnya Satya Pun bangun dari tidurnya. Iya bangun dengan mata sayu bahkan badannya sakit-sakitan akibat tidur di kasur yang keras. namun saat dia Tidak berkomentar. Ia pun langsung pergi ke dapur dan melihat Ayu di sana.
"eh !! kak Satya udah bangun..!!"ucap Ayu dengan ramah dan senyum. Satya pun membalas senyum Ayu, entah kenapa ada keinginan dalam diri Satya untuk memeluk Ayu. namun ia sadar mereka sedang tidak berada di Padang tepatnya di rumah mereka. tidak mungkin ia memeluk anak orang sembarangan.
"Iya ay... "jawabnya dengan suara khas bangun tidur. dengan posisi berdiri saat dia merenggangkan otot-ototnya yang kaku itu. setelah itu ia beralih kepada kamar mandi dan melakukan rutinitas di sana. tak lama Satya pun keluar, ia melihat yang ada di dapur Hanya ibu Sukma dan Ayu sementara ia tidak melihat Pak Santoso. Satya pun mulai telinga-celinguk menengok kiri kanan mencari keberadaan Pak Santoso.
"Ada apa kak kakak cari apa..?"tanya Ayu menegur Satya sepertinya sedang bingung dan mencari sesuatu. setia pun menghentikan aktivitasnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, dari tadi kakak tidak melihat Pak Santoso. ke mana beliau ay...?"tanya Satya berjalan ke arah dapur dan mengambil air minum dan menekuknya. Satya tidak merasa canggung sama sekali karena Ia memposisikan dirinya sebagai anak di rumah itu bukan sebagai tamu. dan tentu saja bagi kedua orang tua Ayu cukup senang, karena menurut mereka ini akan lebih mudah untuk kenyamanan Satya tinggal di rumah ini.
"Oh.. tadi pagi bapak sudah berangkat ke ladang..."ucap Ayu sambil tangannya terus mengerjakan sesuatu. Satya langsung mengerutkan keningnya. Iya heran, ada ya orang di dunia ini sebelum matahari terbit sudah pergi ke ladang.
"eh, bapak pergi pagi-pagi...? Kenapa buru-buru sekali pergi ke ladangnya aay...?"tanya Satya lagi. Satya pun boleh tak kan gelas di atas meja yang ia gunakan untuk minum tadi.
"Iya Kak, bapak dan Ibu memang seperti itu. sebelum matahari terbit setelah salat subuh bapak akan pergi ke ladang, sementara ibu akan menyusul bapak ketika sarapan sudah selesai dan sudah disiapkan. sesampainya nanti mereka di ladang baru bapak sama ibu akan sarapan di sana."jelas Ayu lagi tanpa merasa malu.
__ADS_1
***bersambung***