
"Katakan, apa yang terjadi dan.. kenapa kamu sampai menangis seperti ini??" tanya pangeran Satya lagi.
ayu melepaskan pelukan nya dan menyeka air matanya., kemudian melihat ke arah pangeran Satya.
"aku takut kak, tadi ayu Melihat ada tiga orang berpakaian serba hitam berdiri di pinggir tempat tidur ayu, seperti nya mereka sedang merencanakan sesuatu. ayu langsung reflek berteriak." jelas ayu sambil terisak.
tiba-tiba, kesatria Juno menerobos masuk kedalam kediaman pangeran Satya.
"ada apa pangeran..?? tadi saya mendengar teriakkan dari luar." ucap kesatria Juno dengan wajah panik. ia juga mengarahkan pandangannya ke arah ayu, ia melihat matanya yang sembab akibat menangis.
"nona,kamu kenapa ..??" tanya kesatria Juno dengan penuh perhatian. pangeran Satya tidak suka melihat perhatian itu.
"hm... dia tidak apa-apa. seharusnya, kamu memperketat pengawasan. tadi beberapa orang menerobos masuk kedalam kamar ayu." jelas pangeran Satya.
"apa..!!!" teriak kesatria Juno. pangeran Satya reflek menutup kedua telinganya.
"kamu tidak perlu teriak-teriak, aku tidak pikun." protes pangeran Satya. kesatria Juno menutup mulutnya.
"maaf pangeran." ucapnya sambil menundukkan kepalanya. pangeran Satya kembali mengarahkan pandangannya ke arah ayu.
"ay, kamu tidak perlu khawatir. kakak akan terus berada di samping mu." ucap pangeran Satya menenangkan ayu. sementara, kesatria Juno, ia sudah tidak ada Disana. ia langsung keluar dan memerintahkan beberapa pengawal bayangan miliknya, untuk memperketat penjagaan,apa lagi di dekat kamar ayu.
***
sementara ditempat lain. ketiga pembunuhan yang diutus oleh Putri Anaya itu tidak berhasil melakukan tugas mereka kali ini.
"bagaimana..?? kita tidak berhasil melakukannya." ucap salah satu dari mereka.
"ini semua, karena kita tertegun dengan paras ayunya itu. kalau tidak, kita pasti sudah selesai melaksanakan perintah itu." tutur yang lain.
"kamu benar. aku juga sangat heran, kenapa tiba-tiba aku sangat kehilangan kendali saat melihat gadis itu. menurutku, ia sangat istimewa. pantas saja, pangeran Satya sangat melindungi nya." ucap mereka lagi.
"ia, dia sangat berbeda dengan gadis-gadis bangsawan yang ada disini. apakah ia adalah seorang bidadari yang turun dari khayangan..?!" tanya mereka lagi.
"wah.!! kalau memang ia, aku juga mau. kira-kira, dimana pangeran Satya mendapatkan nya." tanya yang lain.
mereka semua jadi larut dalam pembahasan itu, meremang juga sempat melupakan misi utama mereka untuk menghabisi gadis itu.
__ADS_1
"sudah-sudah, kenapa kita jadi membahas target. ingat, ia adalah target utamanya. kita harus menyelesaikan pekerjaan ini." ucapnya lagi.
"iya juga ya. kok aku jadi tidak tega ingin menghabisi nyawa gadis itu, berikan saja dia padaku untuk ku peristri. kebetulan aku masih sendiri." ucapnya salah satu dari mereka dengan tampang sayunya.
cletak
"auch...!!" serunya sambil memegang kening nya yang tadi kenak sentil dari temannya itu.
"sadar, dia adalah target. sekarang, ayo kita laksanakan tugas kita. habisi perempuan itu, agar urusan kita selesai." tutur nya lagi.
"eh.. tunggu. kita ngak harus melakukannya sekarang. pasti, kediaman pangeran Satya, keamanan nya sudah di tambah dua kali lipat. sebaik nya cari waktu yang tepat untuk melakukan misi ini kembali." tutur yang lain mengingatkan. mereka melonggarkan persiapan mereka, ketika mendengar penuturan dari salah satu dari mereka.
"iya, kamu benar. tumbenan otak mu bisa berjalan. dulu-dulu tidak seperti itu. namamu saja si lambat, karena kamu pahamnya lama." ucap nya menyindir temannya.
"kamu benar. sebaiknya kita tinggalkan dulu tempat ini, sebelum ada yang menyadari keberadaan kita." setelah mengatakan hal itu, mereka semua langsung meninggalkan tempat itu.
***
Esok hari datang menyingsing. setelah kejadian, dimana terjadi penyusupan di kediaman pangeran Satya. istana Blambangan ( nama samaran 😁) memperketat penjagaan di istana itu.
ketika ia melihat ayu disana, entah kenapa. ia ingin sekali melabraknya. tapi, ia berpikir untuk tetap mempertahankan wibawah dan kelembutan hati nya seperti yang orang tau.
"hm..." dehem putri Anaya. ia berdiri tepat di belakang ayu dan kedua pelayannya Caca dan Cici. ketiga nya pun menoleh.
ayu dan kedua pelayannya yang tau si apa Anaya, mereka bertiga langsung memberi hormat.
"salam kepada putri Anaya. maaf, kami tidak menyadari keberadaan putri." ucap ayu, dan dibalas anggukan kepala oleh kedua pelayannya. Anaya benar-benar geram melihat ayu.
apalagi, waktu itu, pengawal bayangan yang ia utus untuk menyelidiki kediaman pangeran Satya, mengatakan bahwa ayu lah perempuan yang ada di dekat pangeran Satya.
"ck. tidak usah basa-basi. aku cuma mau mengingatkan, jauhi pangeran Satya. dia milikku." ucapnya dengan ketus dan nada peringatan. setelah mengatakan hal itu, Anaya langsung meninggalkan tempat itu, dan bergegas melanjutkan niatnya untuk bertemu dengan pangeran Satya.
sementara, ayu menjadi tertegun. ia tidak mengerti, kenapa Anaya menyuruhnya menjauh dari pangeran Satya. padahal, walaupun mereka saling suka, tapi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
( apa maksudnya. apakah kedekatan ku dengan pangeran Satya membuat putri Anaya tersinggung.?) batinnya pada dirinya sendiri.
"nona.." panggilan Caca membuat ayu tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"ah.. iya. ada apa ca..??" Tanya ayu kepada mereka. Caca dan Cici pun saling memandang.
"nona tidak apa-apa..??" Tanya mereka dengan khawatir. tapi, ayu malah memasang wajah sumringai kearah mereka berdua.
"aku tidak apa-apa. memangnya kenapa..?? untuk perkataan putri Anaya tidak perlu diambil hati. sekarang, sebaiknya kita ketempat lain. aku ingin berjalan-jalan lagi." ucapnya. Caca dan Cici pun segera menganggukan kepalanya.
"baiklah nona." setelah itu, mereka langsung meninggalkan tempat itu dan kembali berjalan mengelilingi taman istana. seharian, ayu dan kedua dayangnya terus berkeliling dan sekali-sekali mereka akan beristirahat.
melihat ada peluang, kesempatan ini dimanfaatkan oleh ketiga pembunuhan bayaran yang diutus untuk melenyapkan nyawa ayu.
sreng...
"nona awas..!!" teriak keduanya. ayu pun langsung syok, ia tidak dapat bergerak dari tempatnya. dan untungnya ada sebuah pedang yang menghalangi pedagang lawan. ayu mematung, ia membulatkan matanya.
"sialan..!!" umpat orang yang melayang kan pedang tadi. ia terkejut, ternyata mereka salah perhitungan karena mereka tidak merasakan keberadaan para penjaga itu.
ayu langsung tersadar, ketika kedua dayang itu menarik ayu dari sana. sementara, pengawal yang diutus untuk menjaga keselamatan Ayu sedang bertarung dengan pembunuh itu.
"nona.. anda tidak apa-apa.." ucap mereka. nafas Ayu memburu, wajahnya menjadi pucat. kakinya bergetar karena syok, sehingga tidak mampu lagi menyanggah berat badan nya. dan akhirnya ambruk, ayu jatuh pingsan.
"nona..!!" seru mereka.
pertarungan terus terjadi, dengan satu lawan tiga. sampai akhirnya, pengawal bayangan itu memenangkan pertarungan mereka. ia tidak membunuh mereka, ia masih membutuhkan informasi tentang siapa yang mengutus mereka
namun mereka sangat konsisten dengan pekerjaan mereka, mengetahui maksud dari itu, mereka langsung bunuh diri dengan menggigit racun yang sudah tersimpan di bawah lidah mereka. sebelum mereka bertarung, mereka sudah lebih dulu meletakkan nya disana.
"sialan..!!" umpatnya lagi. ia tidak tinggal diam, ia menggeledah semua tubuh mereka dan mengambil apa saja yang ia temukan sebagai bukti nanti.
sementara, kedua dayang itu sibuk membuat ayu terbangun. mereka tidak membawa ayu di kediaman pangeran Satya, karena sudah lumayan jauh.
"ugh..." ayu tersadar dari pingsannya. ia mengedarkan pandangannya, Melihat mereka satu persatu. tapi tiba-tiba matanya menangkap tiga mayat yang tergeletak begitu saja dengan jarak yang tidak jauh dari mereka.
"i-itu..." ucap ayu terbata-bata karena gugup. pengawal bayangan yang dikenal dengan Mahesa itu pun mengangguk.
"mereka adalah orang yang mengincar nyawa nona."ucapnya dengan sedikit memelankan suaranya.
***bersambung***
__ADS_1