
Ayu dan kedua dayangnya telah tiba di kediaman pangeran Satya. ternyata, setibanya Ayu dan kedua dayangnya di sana. Mereka melihat kesatria Juno berdiri di ambang pintu kediaman pangeran Satya. Ayu dan kedua ada yang itu pun mendekat dengan nasi goreng yang berada di tangan kedua dayang tersebut.
"salam kepada ksatria Juno.." ucap Ayu sambil membungkukkan badannya dan diikuti oleh para dayangnya itu. melihat hal itu kesatria Juno langsung tersentak. bukan apa-apa, pasalnya bukan Ayu yang memberikan penghormatan kepadanya tetapi ia yang harus menghormat.
"apa yang Nona lakukan, jangan menghormat kepadaku seperti itu nona. karena kami berada di bawah nona." ucap ksatria Juno sambil membungkuk memberikan penghormatan. Ayu pun tersenyum melihat kecemasan dari raut wajah kesatria Juno. Iya tahu kesatria Juno pasti takut dengan pangeran saja.
"tidak apa-apa, setidaknya aku tahu siapa Aku di sini. jadi tidak perlu seformal itu kesatria Juno. em.. kesatria Juno, boleh tidak aku memangil mu kakak saja. aku tidak nyaman memangilmu dengan kesatria Juno." tutur Ayu kepada ksatria Juno.
ksatria Juno terhenyu. Iya pikir Ayu adalah seorang perempuan yang akan melupakan Siapa dirinya ketika sudah menginjak istana. ternyata Ayu merupakan sosok perempuan yang berhati lembut. pantas saja pangeran Satya begitu melindungi dan sangat protektif terhadapnya.
"suatu kehormatan bagi hamba jika Nona menganggap hamba sebagai kakak sendiri." ucap kesatria Juno kembali membungkukkan tubuhnya. Ayu pun langsung mengukir senyum di bibirnya.
"Baiklah kakak Juno, Apakah pangeran Satya di dalam..??" tanya Ayu kepada kesatria Juno dengan membelankan suaranya.
"tidak nona, yang mulia pangeran tidak berada di kediaman. yang mulia menyuruh hamba untuk memanggil Nona makan bersama para keluarga kerajaan yang lain." ucap kesatria Juno lagi. ayu sejenak terdiam dan berpikir, Apakah tidak masalah bergabung bersama dengan anggota istana lainnya. sementara di sini ia bukanlah siapa-siapa.
"Maaf Kakak Juno, Apakah aku boleh menolak permintaan itu. Jujur saja, aku bukanlah orang bagian dari istana ini. aku takut kehadiranku malah membuat orang lain tidak nyaman." ucap Ayu kepada ksatria Juno. kesatria juno pun mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah nona, nanti akan saya sampaikan kepada yang mulia pangeran." ucap Juno lagi. tapi tiba-tiba hidungnya menangkap aroma yang sangat menggugah selera, Iya langsung mengarahkan pandangannya ke arah piring yang dibawa oleh para dayang itu.
"em... Apa isi piring itu nona. Kenapa aromanya sangat menggugah selera.." ucap kesatria Juno sambil mengarahkan pandangannya ke arah piring yang dibawa Cici dan Caca. Ayu pun segera mengikuti pandangan kesatria Juno.
__ADS_1
"itu adalah nasi goreng Kak, kakak ingin mencicipinya sebelum menemui yang mulia pangeran..??" tanya Ayu kepada ksatria Juno. tentu saja kesatria Juno ingin mencicipinya, namun ia urung karena kesatria Juno tidak ingin pangeran Satya menunggu terlalu lama.
"Kakak sangat ingin mencicipinya nona, Tapi Kakak Tidak mungkin membiarkan yang mulia pangeran dan raja menunggu di sana. tapi apakah boleh Nona menyisakan untuk kakak ini.." ucap kesatria Juno lagi. Ayu pun langsung tersenyum.
"tentu saja Kakak, tapi jangan sampaikan kepada pangeran Satya kalau kakak ingin mencicipi nasi goreng. karena pangeran Satya pasti akan datang ke sini sementara porsi kita sudah tidak cukup." ucap Ayu kepada ksatria Jumo lagi. ksatria junupun langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan maksud yang Ayu utarakan.
"Baiklah nona, kalau begitu saya pamit dulu." setelah menyampaikan hal itu, ksatria Juno pun langsung meninggalkan kediaman pangeran Satya dan pergi menuju istana utama. Begitu juga dengan Ayu dan kedua dayangnya, Mereka pun langsung masuk ke dalam kediaman pangeran satya.
***
Sementara di dapur, para dayang yang melihat masakan Ayu pun langsung mengerumuninya seperti semut yang mengerumuni gula. dari tampilan itu saja mereka sudah sangat yakin bahwa nasi goreng itu terlihat sangat enak. salah satu dayang paruh baya langsung mengambil sendok untuk mencicipi makanan itu, Siapa lagi kalau bukan dayang Isa. seminggu Ayu tinggal bersama mereka, mereka tidak tahu bahwa Ayu pintar memasak. satu sendok nasi goreng langsung menyapa indra perasa dayang isya, sontak saja matanya jadi membulat. enak itulah yang ia tahu.
"Ami, Ani ayo makan nasi goreng ini. ini rasanya sangat enak," ucap dayang Isa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan. dayang Ami dan dayang Ani yang memang tidak bergabung di sana langsung mengarahkan pandangannya ke arah dayang isa. melihat nasi goreng yang dayang isa bawah, kedua ada yang paruh baya itu pun langsung menelan ludah mereka.
sementara para dayang yang lain, mereka mulai menyendok sisa nasi goreng yang dayang bisa ambil. saat nasi goreng itu menyapa indra perasa mereka, reaksi yang mereka tunjukan sama dengan reaksi yang ditunjukkan oleh dayang Isa.
"mmm... ini sangat enak, benar-benar sangat enak. ini adalah makanan yang pertama kali aku coba." ucap salah satu dayang terus mengunyah makanan itu. yang lain pun tidak mau tinggal diam, mereka juga langsung mengambil nasi goreng dan mencicipinya. sontak saja suasana dapur menjadi riuh dan ricuh akibat tawa yang dikeluarkan oleh para dayang. seolah makanan itu adalah makanan yang turun dari kayangan, yang membuat Siapa saja yang mencicipinya akan merasa lebih baik.
"wah !! kamu bener.. makanan ini sangatlah enak, aku belum pernah mencoba nasi yang dibuat seperti ini. aromanya juga benar-benar menggiurkan." ucap mereka sambil cek Kiki kan juga melompat-lompat kecil. suasana di dapur saat itu benar-benar sangat ramai karena nasi goreng.
***
__ADS_1
di meja makan istana, tampak di ruang makan itu semua keluarga istana telah berkumpul. Begitu juga dengan pangeran Satya. Tapi nampaknya pangeran Satya masih merenung, Iya masih menunggu kedatangan kesatria Juno. melihat pangeran Satya merenung seperti itu dan tak mencicipi sarapan paginya. permaisuri Anjani pun langsung menegur putranya itu.
"pangeran.. Apa yang membuatmu merenung seperti itu, ayo waktunya untuk sarapan. jangan merenung lagi. Oh iya.. di mana gadis bidadari itu..??" tanya permaisuri Anjani kepada putranya. pangeran Satya yang mendengar ibunya memanggil Ayu dengan sebutan bidadari langsung menganga dan melongo. hah !! bidadari..?? yang mana..?? begitulah pikiran pangeran Satya.
"maksud bunda..?? bidadari yang mana..??" kali ini Putra pertamanya yang bertanya yaitu pangeran Argantana Diningrat. permaisuri Anjani pun tersenyum melihat wajah-wajah melongo itu.
"Iya siapa lagi, kalau bukan perempuan yang di bawah oleh adikmu." ucap permaisuri Anjani. semua yang ada di situ pun langsung Ber-o saja.
tiba-tiba, ksatria Juno langsung masuk dan memberi salam kepada raja dan permaisuri serta pangeran yang ada di sana.
"salam kepada yang mulia raja, permaisuri dan yang mulia pangeran." ucap kesatria Juno sambil membungkukkan badannya.
"bangunlah ksatria Juno.." ujar raja Erlangga. kesatria Juno pun langsung menegakkan tubuhnya.
"Bagaimana Juno... di mana dia..??" tanya pangeran Satya sambil celinga-celinguk mencari keberadaan Ayu.
"hem... maaf Yang mulia, Nona Ayu tidak berkenan hadir dikarenakan Nona Ayu merasa tidak enak badan." tutur kesatria Juno. berharap pangeran Satya mau memaklumi. ternyata ekspresi yang dikeluarkan pangeran Satya di luar dugaan. mendengar Ayu sedang tidak enak badan, seolah menganggap Ayu berada dalam bahaya.
***
***bersambung***
__ADS_1