BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO

BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO
62. pulang kampung


__ADS_3

Ayu juga melihat sorot mata sedih yang terpancar dari wajah dan tatapan dayang Ami. Iya tahu, pasti ada yang Ami sangat merasa kesepian karena orang-orang yang selalu bersamanya kini tengah berada di kampung halaman mereka.


"terus kenapa bibi juga tidak pulang.?" tanya Ayu dengan ekspresi sedih, saat ini mereka duduk lesehan dan sejajar. di antara mereka tidak ada perbedaan kasta sama sekali. karena memang Ayu tidak memperlakukan hal demikian.


dayang Ami yang mendengar pertanyaan dari Ayu pun sontak mengangkat kepalanya. Iya tersenyum dan membelai kepala Ayu dengan penuh kasih sayang.


"untuk apa bibi pulang ke kampung halaman. Siapa yang ingin bibi temui di sana.. di dunia ini bibi adalah sebatang kara dan tidak memiliki keluarga kecuali dayang Ani dan bibi Isa." ucap dayang Ami dengan senyum pahit.


mereka yang mendengar cerita dan penuturan dari dayang Ami itu pun ikut merasa sedih, Begitu juga dengan Ayu. merasakan begitu pahitnya kehidupan dayang Ami, Ayu pun langsung berhambur memeluk tubuh paruh baya itu.


"bibi tidak perlu sedih seperti itu, kan sudah ada Ayu di samping bibi. bibi harus menjalani kehidupan bibi dengan baik dan bahagia." ucap Ayu kepada dayang Ami sambil memeluk tubuh nya. dayang Ami lagi-lagi tersenyum, ia membalas pelukan Ayu tak kalah erat, Iya sangat beruntung dapat menemukan seorang gadis yang begitu cantik jelita yang dipuja-puja oleh para kaum Adam memiliki hati yang sangat tulus.


"terima kasih nona, Nona adalah satu-satunya orang yang sangat bibi sayangi. kamu juga harus hidup dengan baik di sini." ucap dayang Ami, Mereka pun melerai pelukan mereka.


"Oh iya nona, beberapa waktu yang lalu bibi mendengar kalau Nona mendapatkan musibah. Nona harus berhati-hati berada di sini apalagi di lingkungan istana, di istana ini banyak sekali tipu muslihat yang dilakukan oleh orang lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Nona juga jangan sembarangan percaya terhadap orang lain walaupun itu orang terdekat kita. maksud bibi, Nona harus bisa menilai siapa saja yang dekat dengan Nona." ucap dah Yang Ami mengingatkan kepada Ayu agar selalu berhati-hati saat berada di lingkungan istana.


"terima kasih Bi, Ayu akan selalu mengingat nasehat yang bibi berikan." ucap Ayu kepada dayang Ami.


Setelah itu mereka kembali larut dalam obrolan serta candaan yang tercipta diantara mereka. Ayu juga tidak memberikan jarak kepada para dayang itu untuk bercengkrama dan bercanda dengannya. Hitung-hitung, ini adalah salah satu cara untuk mengusir kebosanan nya berada di tempat ini.


saat mereka sedang bercakap-cakap, ksatria Juno pun datang menjemput Ayu di sana. padahal Ayu masih ingin tetap berada di tempat itu.


"Maaf permisi, Nona pangeran Satya memerintahkan saya untuk membawa Nona kembali ke kediaman. karena pangeran Satya telah berada di kediaman saat ini." ucap kesatria Juno dengan penuh hormat kepada Ayu. mendengar penuturan itu, ayu langsung menghela nafasnya dengan berat.


"baiklah..." pasrahnya. ayu langsung melihat ke arah dayang ami.

__ADS_1


"bibi, Ayu balik dulu ya. nanti kapan-kapan, Ayu akan datang berkunjung lagi. ingat bibi harus semangat.." ucap Ayu sambil menyemangati bibi Ami. setelah itu Ayu dan kedua dayangnya pun langsung meninggalkan kediaman para dayang dan kembali ke kediaman pangeran satya. namun sebelum mereka meninggalkan tempat itu, terlebih dahulu Ayu memberikan pelukan lagi kepada dayang ami, baru setelah itu, Iya langsung meninggalkan tempat tersebut.


***


sementara di kediaman pangeran Satya, pangeran Satya nampak memandangi sesuatu sambil menunggu kedatangan Ayu dan kesatria Juno.


sruk..!!


"salam kepada yang mulia pangeran Satya" ucap Mahesa, Mahesa datang untuk menyampaikan informasi yang ia dapatkan mengenai kejadian 3 minggu yang lalu. di mana saat itu Ayu mengalami insiden diserang oleh tiga orang pembunuh bayaran.


"bagaimana?? Apakah kamu sudah mendapatkan tanda-tanda Siapa yang telah berusaha untuk melukai Ayu..?" tanya pangeran Satya dengan ekspresi datar dan dingin. seperti halnya yang mereka kenal.


"maafkan hamba yang mulia, sepertinya masalah ini sudah terlebih dahulu direncanakan secara matang agar tidak meninggalkan barang bukti sekecil apapun. bahkan hamba hanya menemukan bukti mengenai batu giok itu."


"batu giok tersebut, adalah pemilik dari perguruan teratai putih. namun menurut informasi yang hamba dengar, teratai putih tidak bekerja untuk menerima pekerjaan membunuh orang. dan bahkan pekerjaan-pekerjaan lainnya, perguruan teratai putih ini murni berada di jalan yang lurus. hamba juga sudah menyelidiki hal sekecil apapun, ternyata token giok itu adalah barang yang mereka temukan ketika mendapatkan pekerjaan atau misi untuk melenyapkan nyawa orang." tutur pengawal bayangan itu yang tak lain adalah Mahesa.


pangeran Satya yang mendengarkan pernyataan dari pengawal bayangannya ini tak bisa untuk menyalahkan Mahesa. ia akan berusaha seprovesional mungkin mengenai hal ini.


"baiklah, penyelidikannya hentikan saja. tapi jangan sampai lengah, perhatikan setiap gerak-gerik orang yang mendekati Ayu." ucap pangeran Satya lagi dan langsung mendapatkan tanggapan dari pengawal Mahesa.


"baik yang mulia." setelah itu pengawal bayangan langsung meninggalkan pangeran Satya dengan cepat bersama dengan hembusan angin. lagi-lagi pangeran Satya hanya mampu menarik nafasnya dengan gusar.


(Siapa yang berusaha bermain-main, Baiklah mungkin penyelidikan ini terlalu kentara dan terlihat dan bahkan dapat ditebak. sebaiknya, aku biarkan saja terlebih dahulu tapi tidak membiarkannya) batin pangeran Satya.


Brak..

__ADS_1


suara pintu kediaman dibuka, Siapa lagi kalau bukan Ayu dan beberapa ada yang yang saat ini tengah bersamanya. pangeran Satya yang mendengar suara pintu tersebut, Iya langsung bergegas keluar melihat Apa yang terjadi.


"ay.." panggil pangeran Satya.


Ayu yang merasa namanya terpanggil, Iya pun langsung menoleh ke arah sumber suara. ia melihat pangeran Satya datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Ayu pun menghentikan langkahnya dan berdiri.


"Kak Satya.." panggil Ayu. pangeran Satya pun tiba di depan Ayu, tanpa nafasnya sedikit memburu karena mengejar langkah kakinya.


"Apakah kamu baik-baik saja..??" tanya pangeran Satya. semenjak kejadian itu, setiap kali pangeran Satya bertemu dengan Ayu, Iya pasti akan mengutarakan kalimat pertanyaan seperti itu. ayu menganggukkan kepalanya.


"Ayu baik-baik saja kak, Oh ya Kak. Apakah pekerjaan kakak telah selesai.?" tanya Ayu kepada pangeran Satya. pangeran Satya tersenyum.


"tentu saja sudah selesai," ucap pangeran Satya lagi. mata Ayu pun berbinar.


"kalau begitu, besok Kakak bisa menemani Ayu jalan-jalan ke luar istana. Ayu sangat bosan berada dalam istana. mau ya Kak..!!" seru ayu sedikit memohon. Satya pun tersenyum melihat tingkah Ayu, Ya paham kalau Ayu merasa bosan berada di istana, apalagi semenjak kejadian hari itu, Ayu serasa dikekang olehnya di dalam istana.


"baiklah.. waktu Kakak besok adalah milikmu. jadi kita akan kemanapun, di mana kehendak hatimu." ucapnya lagi.


mendengar penuturan pangeran Satya, Ayu sangat merasa gembira dan bahagia sekali. dengan reflek, Ayu langsung memeluk tubuh gagah yang tegap itu. semua yang ada di sana sontak menjadi terkejut, pasalnya di zaman ini, laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan Tidak sepantasnya melakukan hal itu. dan yang lebih membuat mereka tambah terkejut lagi, pangeran Satya tidak marah, Iya malah dengan senang hati membalas pelukan dari Ayu.


( tunggu tunggu... Apakah pangeran Satya hanya akan bersikap lembut dan baik kepada Nona Ayu saja..??) batin kesatria Juno yang terlihat sangat kebingungan.


( Apakah mereka memiliki hubungan yang tak biasa..?? tapi ya sudahlah..) batin kesatria Juno lagi. pangeran Satya pun langsung melerai pelukannya.


"baiklah, sekarang kamu pergilah beristirahat. jangan lupa bersihkan dirimu." ucap pangeran Satya memberikan peringatan kepada Ayu. Ayu pun dengan malu-malu menganggukkan kepalanya, Jujur saja sikap spontanitasnya itu membuat ia malu sendiri. pangeran Satya yang mengerti akan hal itu, hanya bisa memasang wajah senyum saja.

__ADS_1


setelah berpamitan, Ayu dan kedua dayang itu pun meninggalkan kediaman utama pangeran Satya dan kembali pergi ke kamar ayu.


***bersambung***


__ADS_2