BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO

BERTEMU LELAKI DARI ZAMAN KUNO
31. bertarung


__ADS_3

terlihat di tangan Tuan sepian terbentuk sebuah bola api yang besar yang siap untuk melawan sosok yang bercahaya itu.


"cih !! aku pengen lihat seberapa kuat dirimu.." ucap Tuan Sepian menantang Satya. Satya yang ditantang seperti itu hanya memberikan senyum. kalau hanya dengan bola api, Satya bisa menciptakan bola api yang lebih besar daripada milik Tuan sepian.


"ternyata kamu bukanlah orang yang mudah untuk dinasehati. Kalau begitu jangan salahkan aku membuatmu babak belur." ucap Satya lagi. Satya memasang wajah dingin dan suara datarnya. namun Tuan sepian itu tidak peduli.


saat itu, juga tuan Septian langsung melempar bola apinya ke arah Satya. namun dengan cepat Satya dapat menghindari bola api itu. Satya juga tidak tinggal diam, Iya langsung mengeluarkan sebuah jarum dari air dan langsung mengarahkannya ke pada Tuan sepian. tuan sepian yang menyaksikan jarum dari air itu, Mengerutkan keningnya. tuan sepian yang notabene nya, pemburu semua jurus, nyatanya ia tidak mengetahui jurus tersebut. Satya pun melempar jarum air kearah tuan sepian dengan gaya elegan.


untuk sementara, Tuan Septian dapat menghindari serangan Satya. karena Satya memang sengaja memberikan sedikit kelonggaran pada serangan yaitu.


"cih !! ternyata kamu tidak sehebat itu, aku pikir kamu akan segera melumpuhkan ku dengan cepat. ternyata kekuatanmu hanya segini cuih.." ucap Tuan Sepian memprovokasi Satya.


satya tersenyum. niat hati ingin mengerjai Tuan sepian terlebih dahulu, dan mengajaknya sedikit berolahraga. namun ia tidak kuat lagi mendengar provokasi dari mulut tua itu. lama-lama, ia bisa mati karena kesal dengan mulut bau tuan sepian.


Satya pun kemudian langsung melakukan penyerangan lagi. ia menciptakan bola api di tangannya yang berwarna biru, kemudian Satya dengan posisi yang melayang langsung melempar bola api itu ke arah Tuan sepian. dan..


bruk...


huek..


serangan Satya tepat sasaran, dan mulut Tuan sepian langsung mengeluarkan darah yang hitam kental. Tuan Septian terduduk dan memegang dadanya yang sakit karena mendapat serangan dari makhluk itu.


namun Tuan sepian masih belum mau menyerah. Iya masih belum terima bahwa ia yang dijuluki dukun sakti di daerah ini kalah dari makhluk tersebut. Tuan Septian pun kembali bangkit dan mulai menciptakan bola api lagi dari tangannya, kemudian melemparkannya ke arah makhluk tersebut. lagi lagi Satya bisa menghindari serangan itu.


kemudian mereka langsung adu jotos. Tuan Septian mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya yang ia pelajari dalam kitab-kitab ilmu bela diri itu.


Mereka pun mulai bertarung dengan sengit. walaupun sebenarnya Satya mampu mengalahkan Tuan sepian hanya dengan sekali pukul, namun saat dia benar-benar ingin menguji kekuatan dukun ini. serangan demi serangan dukun itu berikan kepada Aditya. namun dengan mudahnya Aditya menangkis semua jurus-jurus yang dikeluarkan oleh Tuan setia.


"cih !!! Apakah hanya jurus-jurus lemah ini andalanmu. coba kamu keluarkan jurus yang lain. aku benar-benar belum merasa panas."ucap satya. kali ini ia yang mengeluarkan kata-kata provokasi.


Tuan Septian yang mendengarkan kata-kata provokasi yang keluar dari mulut makhluk tersebut pun menjadi marah. Iya benar-benar tidak menyangka ada orang yang mampu mengimbangi kekuatannya.


*bukan mengimbangi sih..!! lebih tepatnya melampaui..🤭🤭*


"sialan kamu makhluk terkutuk.!! jangan bilang aku dukun yang berilmu sakti kalau aku tidak bisa membunuhmu hari ini.!!" teriak Tuan sepian mulai kehilangan kesabarannya. lagi-lagi, Satya hanya tersenyum sinis mendengar teriakkan tuan sepian.

__ADS_1


Tuan Septian pun mulai mengeluarkan jurus yang ia pelajari di kitab-kitab itu. ya itu ajian penyerap jiwa. mulutnya mulai berkomat-kamit mengucapkan mantra, ia juga mengeluarkan jurus-jurus itu. namun tentu saja, seseorang yang memiliki kekuatan peri sama sekali tidak terpengaruh dengan ajian tersebut. Satya menyunggingkan senyum.


"cih..!! ajian serat jiwamu masih sangat lemah" ucap Satya. Satya langsung memasang raja perlindungan tingkat 1. yang dikenal dengan raja perlindungan yang masih lemah dan masih bisa diterobos oleh tingkat kekuatan yang lebih besar.


Tuan Septian pun langsung menyalurkan ajian itu, dan menyerang Satya dengan membabi buta. ternyata, ajian itu sama sekali tidak berpengaruh kepada sosok tersebut. malahan ajian tersebut malah berbalik kepadanya dan menyerangnya.


bugh..


huek..


lagi lagi Tuan Septian memuntahkan seteguk darah.


"cih, lihat saja Aku akan membunuhmu.." ucap Tuan sepian dengan darah yang masih keluar dari mulutnya. Tuan Septian memegangi dadanya yang terkena pukulan ajian serat jiwanya itu.


karena merasa Tuan Sepian tidak akan menang bertarung dengan makhluk ini, akhirnya Ia memutuskan untuk mundur. saat itu juga tuan sepian langsung menghilang dari tempat itu.


"cih dasar dukun tua, bisanya hanya menggertak dan memprovokasi orang saja." ucap Satya. setelah itu saat dia langsung kembali masuk ke dalam rumah dengan kekuatan berpindah nya, dan berbaring tanpa harus mengganggu penghuni rumah yang lain.


***


mereka semua bangun dan melaksanakan kewajiban mereka di subuh hari. seperti biasa Satya hanya tertidur saat mereka melakukan kewajiban mereka menghadap kepada sang khalik.


setelah mereka melaksanakan dan menunaikan kewajiban mereka, seperti biasa Tuan Santoso akan berangkat lebih dulu ke ladang mereka. Tuan Santoso langsung memikul cangkul dan membawa satu Aqua air minum untuk bekalnya di ladang itu.


"Bu, bapak berangkat ya.." ucap Tuan Santoso. Ayu dan ibu Sukma pun menyalim tangan Pak Santoso sebelum berangkat ke ladang mereka.


"Iya pak, hati-hati. nanti Ibu susul.." ucap Ibu Sukma kepada Pak Santoso. Pak Santoso pun langsung melenggang meninggalkan rumah tersebut.


setelah kepergian Pak Santoso, Ayu dan ibu Sukma pun mulai berkutat di dapur. Ayu mencuci semua piring alat dan perkakas lainnya yang mereka gunakan kemarin yang tidak sempat dicuci dan dibersihkan olehnya. sementara Ibu Sukma, ia menyalahkan api ditunggu dan memasak pisang mentah untuk bekal mereka di ladang nanti.


karena sudah terdengar bunyi nyaring di pagi hari, Satya pun langsung membuka matanya. Iya duduk dan mengedarkan pandangannya. kemudian ia bangkit dan menuju kamar mandi.


selepas Satya dari kamar mandi, Satya pun berkumpul dengan ibu Sukma dan Ayu yang masih sibuk di dapur.


"Kakak sudah bangun?? mau dibuatkan teh Kak..??" tanya Ayu kepada Satya. Satya pun menggeleng, Iya berjalan ke arah galon dan mengambil segelas air putih.

__ADS_1


"tidak usah ay, air putih saja.." ucap Satya lagi. setelah mengambil air putih saat ia pun kembali duduk di kursi meja makan. Iya meneguk air itu sampai ludes.


"Bagaimana kondisimu nak?? Apakah kamu masih merasakan lelah atau masih ada yang sakit..?"tanya ibu Sukma kepada Satya. Satya pun tersenyum dan menggeleng.


"saya sudah sehat bu. Oh iya nanti Satya akan mengajak Ayu menemani Satya berbelanja ya Bu. soalnya kemarin tidak jadi, karena tertunda dengan kegiatan kita."tutur Satya kepada Ibu Sukma.


"Iya nak, maafkan keluarga ibu ya yang sudah menghalangi aktivitasmu. tapi Ibu juga mengucapkan terima kasih karena sudah membantu bapak dan ibu untuk sembuh dan terbebas dari belenggu itu."ucap Ibu Sukma lagi. Satya pun hanya mengganggu dan tersenyum saja.


"Iya Bu sama-sama. ini bukan apa-apa dibandingkan dengan keselamatan Ibu, bapak dan Ayu." ucap Satya lagi. sementara Ayu yang masih berada di sana tidak menimpali pembicaraan itu. Iya hanya fokus pada pekerjaannya untuk menyelesaikan cucian dan juga membuat sarapan untuk mereka sebelum Ibu Sukma menyusul Pak Santoso ke ladang.


***


di tempat lain, tuan sepian yang semalam bertarung dengan Satya. saat ini sedang berusaha untuk mengobati penyakit dalamnya akibat serangan dari jurus ajian nya sendiri.


terlihat di dada kirinya, tercetak gambar telapak tangan di sana. ukiran tangan itu adalah ukiran tangannya sendiri. di mana tanda itu adalah jejak pertarungannya dengan Satya. Setelah lama fokus dan menyalurkan tenaga dalamnya akhirnya Tuan Septian mengakhiri kegiatannya itu.


nyonya sati yang melihat suaminya telah mengakhiri penyaluran tenaga dalamnya dan mengobati luka dalamnya itu. nyonya sati pun berjalan mendekat ke arah Tuan sepian. nyonya sati meletakkan minuman dan makanan di depan Tuan Septian.


"Kenapa semalam bapak bisa terluka..?"tanya nyonya sati.


waktu itu ketika tuan Septian pulang, tubuhnya dalam kondisi memprihatinkan karena kekurangan banyak tenaga ditambah lagi dengan pukulan yang mendarat di dadanya itu. nyonya sati yang khawatir dan cemas dengan kondisi suaminya itu tidak bertanya. malahan ia langsung membantu suaminya untuk mengobati luka dalam yaitu.


"aku habis bertarung dengan sosok yang sepertinya melindungi keluarga Santoso. dan ilmu sosok itu lebih tinggi dari. aku mendapatkan pukulan ini ketika bertarung dengannya, dan lebih bikin gregetnya lagi. aku terkena pukulan dari ajian serat jiwa milikku sendiri. terang Tuan sepian kepada nyonya sati sambil memasang bajunya.


nyonya sati pun mengeratkan rahangnya. Iya tidak habis pikir dengan keluarga Santoso yang memiliki pelindung yang sekuat itu. padahal, dulunya, Santoso dan keluarganya tidak memiliki pelindung apapun.


"menurut bapak, Siapa yang melindungi keluarga mereka. karena biasanya Tidak seperti ini." tanya nyonya sati. Tuan Septian terdiam dan menggeleng sejenak.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kita cari tahu nanti. sekarang bapak harus beristirahat untuk memulihkan tenaga dalamku kembali dan melakukan beberapa ritual pemujaan. pasti raja jin itu sangat marah kepada kita karena telah gagal memberikan ia tumbal. jadi bapak akan cari cara untuk membujuk raja jin itu kembali." ucap Tuan sepian. nyonya sati pun mengganggu kan kepalanya tanda mengerti.


Iya mereka tidak bisa berpatokan kepada satu korban saja. mereka harus mencari cara agar tidak dapat murka dari raja jin. apalagi waktu yang telah ditentukan untuk penumbalan telah berlalu.


"Iya Pak sebaiknya begitu. jangan sampai raja jin jadi marah kepada kita." ucap nyonya sati. tampak tercetak jelas raut wajah nyonya sati yang khawatir.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2