
Ayu juga tidak mau menegur Satya lagi. iya takut bawah satya memang marah kepadanya. iya juga tidak ingin mengusik ketenangan Satya. benar-benar egois memang.
akhirnya satu persatu barang itu masuk ke dalam rumah, ada banyak yang ayu bawa dari rumah untuk oleh-oleh di sini. lagipula iya masih belum puas berlibur. namun karena paksaan dari satya, akhirnya iya ikut. tahu-tahunya satya malah mendiamkannya seperti ini dan tak membantunya mengangkat barang-barang masuk ke dalam rumah.
setelah ayu memasukkan semua barang-barang ke dalam rumah, ayu pun segera bergegas masuk kedalam kamarnya dan membersihkan dirinya. setelah itu, ia tertidur. untuk sementara ia ingin menghilangkan rasa marah di dalam hatinya terhadap satya yang mendiamkannya begitu saja.
di posisi satya. satya saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu di lantai satu, ia sedang sibuk mangotak-atik handphonenya. entah apa yang ia cari, dia sebenarnya ingin ayu meminta tolong kepada nya ketika ayu mengangkat barang-barang itu masuk ke dalam rumah. tapi nyatanya, ayu sama sekali tidak meminta tolong bahkan tidak menanyainya.
" apakah ayu sama sekali tidak menganggapku ada, seharusnya ia meminta tolong kepada ku untuk mengangkat beban berat itu." ucapnya dengan kesal. ia benar-benar menjadi laki-laki plin-plan. ia juga menghembuskan nafasnya dengan kasar. Setelah itu, ia juga masuk kedalam kamarnya.
Satya mandi dan bersih-bersih, mengingat mereka belum bersih-bersih. namun tiba-tiba satya merasa lapar. ternyata mereka belum sarapan pagi. karena merasa lapar, Satya Kembali keluar dari kamarnya ketika ia sudah siap dan selesai bersih-bersih.
Iya langsung menyambar kunci mobilnya dan keluar. ia pergi mencari sarapan untuk mereka. walaupun rasanya Satya dan Ayu sedang tidak saling menyapa, namun saat dia tidak mungkin membiarkan Ayu kelaparan.
__ADS_1
"bang, lontong nya satu porsi ya bang, makan disini." ucap Satya memesan makanan untuk dirinya sendiri.
"baik bang," pelayannya pun langsung menyiapkan apa yang telah dipesan oleh Satya. tak lama makanan itu tersaji di depan matanya.
setelah Satya sarapan di sana, tak lupa ya membungkus kan satu untuk kayu. setelah itu Iya kembali pulang.
sesampainya Satya di rumah, Iya meletakkan sarapan untuk Ayu di bawah tudung, setelah itu ia langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya. saat Satya melewati kamar Ayu, Iya sejenak berdiri. maksud hati ingin mengetuk pintu untuk menyuruh ayu makan. namun, gengsinya terlalu tinggi. alhasil Ia hanya memandangi pintu Ayu dan langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya.
siang hari ayu merasa lapar.
"aduh lapar sekali... " sejenak ia tertegun memikirkan Satya yang mendiamkannya sampai siang ini.
"cih ngapain juga aku pikirkan. sudah lah yu, tidak usah dipikirkan." ucap Ayu kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
karena merasa lapar, Iya memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur. sesampainya dia di dapur, Ayu tidak membuka tudung yang ada di atas meja, Iya malah beralih membuka barang yang sudah mereka bawa dari kampung. karena di sana memang ada makanan yang mereka bawa.
Iya mengeluarkan semua barang yang ada di dalam karton itu. termasuk bekal yang mereka bawa tadi. setelah itu Ayu langsung memanaskan makanan itu sekitar 2 menit, setelah itu ia mulai makan siang, tak lupa juga ia sisakan untuk Satya di atas meja.
namun ketika Ayu sudah selesai makan, tiba-tiba sakit datang menghampirinya ke dapur. Iya langsung mengarahkan pandangannya ke arah tudung yang berisi lontong tadi pagi, Iya melihat makanan itu masih ada di atas meja.
"kamu belum sarapan..?? Kenapa lontong itu tidak kamu makan..??" tanya Satya kepada Ayu. ayu melongo, pasalnya Ayu tidak tahu kalau di bawah tudung itu ada lontong.
"lontong..?? Aku nggak tahu kalau ada lontong, kalaupun ada Ayu rasa lontong itu sudah basi." tutur Ayu.
Satya pun terdiam. Iya tahu ini adalah salahnya karena tidak membangunkan Ayu untuk sarapan pagi. tapi ya sudahlah.
***bersambung***
__ADS_1