
blussss....
satu anak panah melayang menembus jantungnya pengawal bayangan itu dan ambruk. sementara, ayu. sudah tergeletak tak sadarkan diri.
dengan marah, Satya juga melayangkan kembali anak panahnya dan mengenai kedua orang lainnya dan mati di tempat. nafas pangeran Satya memburu karena emosi.
seolah wujud pangeran Satya, telah berubah menjadi seorang yang berada di medan perang. bahkan ia tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menyelamatkan diri. ketika pangeran Satya sudah merasa lebih baikan. Iya juga sudah menguasai emosinya, pangeran Satya langsung melihat ke arah Ayu yang saat ini tengah ditangani oleh pengawal bayangannya dan juga kesatria Juno. pangeran Satya pun berlari mendekat ke arah mereka.
"kesatria Juno, periksa tubuh mayat-mayat itu. cari petunjuk Siapa yang berusaha untuk melenyapkan Ayu ku."perintah pangeran Satya dengan datar. kesatria Juno pun langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat.
"baik pangeran..." setelah itu, ksatria Juno langsung bergegas dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. ia menggeledah bagian-bagian tubuh dari pengawal-pengawal bayangan itu.
pangeran Satya langsung mengambil alih, pengobatan yang pengawal bayangan Mahesa lakukan terhadap ayu.
__ADS_1
"biarkan aku saja yang melakukannya. sebaiknya kamu membantu ksatria Juno untuk mencari bukti, selidiki Siapa yang ingin bermain-main." ucap pangeran Satya dengan datar. sebenarnya itu hanyalah salah satu alasan pangeran Satya, agar tak ada laki-laki selain dirinya yang menyentuh Ayu. entah kenapa ia merasa cemburu, jika melihat laki-laki yang menyentuh kulit Ayu walaupun hanya untuk mengobati.
"Baiklah pangeran.." setelah mengucapkan itu, Mahesa langsung menyerahkan urusan mengobati kepada pangeran Satya. sementara, Iya bergegas pergi menuju kesatria Juno untuk membantunya menyelidiki tentang penculikan dan pembunuhan ini.
***
saat ini pangeran Satya meletakkan Ayu di sebuah tempat peraduan dalam kediamannya. tanpa kedua dayang yang senantiasa mengikuti kemanapun Ayu pergi terkejut melihat tampilan dari nona mereka.
"Caca Cici. tolong ganti pakaian Ayu dan bersihkan tubuhnya. kalau sudah selesai panggil aku." ucap pangeran Satya dengan sayu. kedua ada yang itu pun menganggukkan kepala mereka, setelah itu pangeran Satya langsung bergegas meninggalkan kamar tersebut.
***
dan di sinilah pangeran Satya. ia berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan pemandangan hijau di matanya. Iya kembali teringat dengan kejadian yang menimpa Ayu. sungguh dalam hatinya ia tidak ingin Ayu mengalami hal yang seperti ini.
__ADS_1
pangeran Satya teringat kembali dengan penuturan kandita yang mengatakan untuk mengembalikan Ayu ke dunianya. pangeran Satya berpikir itu lebih baik ketimbang Ayu harus tinggal dan membahayakan nyawanya di sini. tapi yang jadi pertanyaan, Apakah pangeran Satya sanggup tanpa ada Ayu di sampingnya..?? dan Apakah Ayu akan bahagia berjauhan dengannya.
"Aku tidak tahu, Apakah aku sanggup tanpa keberadaan Ayu di sampingku. tapi aku juga tidak boleh egois dengan membiarkan dia bertaruh nyawa di sini. Sialan..!! Siapa yang sedang berusaha mengejar nyawa Ayu." ujarnya kepada dirinya sendiri. pangeran Satya benar-benar geram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
tak lama setelah itu, kesatria Juno dan pengawal Mahesa datang menemuinya.
"salam kepada yang mulia pangeran.." ucap mereka serentak dan membungkukkan tubuh memberi hormat. Satya langsung menyambut salam mereka tanpa melihat ke arah mereka.
"katakan..!! apa yang sudah kalian temukan..!!"seru pangeran Satya agak sedikit dingin. jika seandainya suaranya adalah sebilah pisau maka pisau itu pasti akan mencabik-cabik tubuh mereka.
sebelum salah satu dari mereka mengungkap apa yang telah mereka temukan. terlebih dahulu Mereka sama-sama melihat satu sama lain. karena hal yang akan mereka sampaikan mungkin saja tidak akan dipercaya oleh pangeran Satya mengingat, putri anayah adalah gadis kecil yang baik hati dan sangat dekat kepada pangeran Satya.
***bersambung***
__ADS_1