
Setelah sedikit berbincang dengan Pak Yuda, Lia dipersilahkan kembali ke meja kerjanya didepan. Sedangkan Dean langsung menempati meja kerja yang sudah di sediakan untuknya.
Siang ini, Pak Yuda ada meeting bersama direktur PT. Franssugar. Lia begitu sibuk mengurus perlengkapan untuk pertemuan tersebut. Melihat Lia yang begitu sibuk, Dean tak segan menawarkan diri untuk membantu.
"Lia ada yang bisa ku bantu?" tanya Dean pada Lia.
"Em... bisakah kamu mengatur proyektor yang ada di ruangan meeting?" ujar Lia dengan sedikit grogi, padahal ini bukan kali pertama dia bertutur kata dengan Dean.
"Bisa!" ujar Dean dengan mantap sambil tersenyum.
Setelah itu, Dean pun beranjak menuju ruang meeting yang terletak di lantai 13 gedung tersebut.
Lia sebenarnya tidak ingin dibantu oleh dean, lantaran ia takut grogi bila harus berdekatan dengan Dean. Namun, mengingat Dean Sekarang adalah asisten Pak Yuda, dan mereka sudah dipastikan akan sering bertemu, bahkan setiap hari, jadi mau tidak mau ia harus membiasakan diri untuk berdekatan dengan Dean.
Lima belas menit lagi meeting akan segera dimulai, semua perlengkapan untuk meeting juga sudah dipersiapkan dengan baik oleh Lia dan Dean.
Tak berselang lama, Pak Yuda terlihat masuk ke ruangan meeting sambil membawa personal computer miliknya.
"Lia, Dean, apa semuanya sudah beres?" tanya Pak Yuda pada sekretaris dan asisten nya itu.
"Sudah, Pak," jawab Lia dan Dean bersamaan.
"Bagus," ujar Pak Yuda sambil mendudukkan tubuhnya di kursi ruangan itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, direktur PT. Franssugar, yaitu Bapak Frans Pradipto sudah tiba dan terlihat masuk bersama sekretaris nya ke ruangan meeting KUSUMA CORP.
Selama meeting berlangsung, Dean hanya menjadi pendengar saja, lantaran ini adalah kali pertama baginya untuk mengikuti pertemuan para petinggi perusahaan. Sesekali ia diminta menjadi fotografer dadakan untuk mendokumentasikan kegiatan ini.
Kala Lia melakukan presentasi, Dean begitu terkagum. Lia tidak hanya cantik, tapi juga cerdas, serta public speaking nya mampu mengalihkan pandangan.
Setelah meeting dilakukan, semua orang meninggalkan ruangan, hanya ada Dean dan Lia di ruangan itu. Lia terlihat sedang mengemasi berkas-berkas sisa presentasi nya tadi, sedangkan Dean turut membantu. Setelah selesai berkemas, Dean dan Lia segera meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke ruang kerja masing-masing.
Diperjalanan menuju lift, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya, lantaran sama sama canggung, barulah ketika di dalam lift Dean memberanikan diri untuk mengajak Lia berbicara.
"Lia, presentasi tadi itu keren banget ya, kamu tidak hanya cantik tapi juga pintar," puji dean memecah kecanggungan diantara mereka.
"Emm... kamu bisa aja Dean, terima kasih ya atas pujian nya," ujar Lia malu-malu. Hatinya berbunga-bunga kala Dean memuji dirinya seperti itu.
Ting..., terdengar suara lift, menandakan mereka sudah sampai di lantai dua belas. Setelah pintu lift terbuka, mereka segera keluar dari sana.
"Aku tinggal di jalan Merdeka Timur," ujar Dean sambil menoleh kearah Lia dan menyematkan senyuman dibibir nya.
"Wow... itu jauh sekali," ujar Lia sembari melirik kearah Dean yang sudah lebih dulu melirik dirinya.
"Iya, begitulah," ujar Dean singkat kemudian memfokuskan pandangannya ke depan.
"Kalau kamu sendiri tinggal dimana?" balik Dean Bertanya pada Lia.
__ADS_1
"Sekarang, aku tinggal bersama orang tua ku di jalan Jendral Sudirman," ujar Lia sambil tersenyum.
"Berarti kita satu arah dong, cuman kamu lebih dekat," ujar Dean sambil melebarkan senyuman diwajahnya yang tampan dan rupawan itu.
Lia hanya mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya di meja kerja, Lia langsung melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Dean juga masuk ke ruangan Pak Yuda untuk meneruskan pekerjaannya tadi.
****
Langit sudah berubah warna jadi jingga, burung-burung beterbangan di langit kota mencari tempat ternyaman untuk menyelesaikan malam.
"Dean, ayo pulang!" ajak Pak Yuda pada Dean sambil beranjak dari duduknya.
"Baik, Pak," ujar Dean. Lalu dengan segera ia mematikan Komputer dan meninggalkan meja kerjanya mengikuti Pak Yuda.
Pak Yuda tahu rumah Dean sangat jauh, jadi ia mengajak Dean untuk pulang bersama. Dean merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan bosnya itu. Namun, ia juga tidak bisa menolak niat baik Pak Yuda. Ia diantar hingga depan gang saja, lantaran tidak ada akses mobil menuju rumah Dean.
"Terima kasih Pak, saya minta maaf karena sudah merepotkan Bapak," ujar Dean setelah dirinya turun dari mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi Pak Yuda.
"Tidak apa-apa Dean," ujar Pak Yuda sambil tersenyum.
Setelah Pak Yuda berlalu, Dean segera meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju rumah nya.
__ADS_1
Dirumah, ia disambut hangat oleh ayah dan ibunya yang kala itu sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh.
Dean lantas mencium tangan kedua orang tuanya, setelah itu ia masuk untuk mandi dan berganti pakaian.