
"Lia!" Dean sedikit berteriak memanggil Lia yang berjalan di depannya.
Lia tidak asing lagi mendengar suara itu, ia lantas menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya kebelakang. Ia melihat Dean berjalan tergesa-gesa menyusul dirinya.
"Hai Lia, apa kabar?" ucap Dean sambil terengah-engah.
"Aku baik-baik Saja, Dean," ucap Lia sambil tersenyum ke arah Dean.
"Syukurlah." Dean berkata sambil berusaha mengatur ritme nafasnya.
Setelah nafas Dean teratur, mereka berdua lantas berjalan beriringan menuju ruang kerja mereka yang berada di lantai 12.
"Tiga hari yang lalu kamu kemana?" tanya Dean sambil mengalihkan pandangannya kearah Lia.
Lia yang sedari tadi fokus mengarahkan pandangannya ke depan kini menolehkan kepalanya ke arah Dean.
"Aku nggak kemana-mana kok Dean, Aku dirumah saja."
"Kata Pak Yuda kamu sakit, kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Dean dengan cemas.
Lia sejenak terdiam, lalu menjawab pertanyaan Dean dengan sangat sopan. "Aku baik-baik saja kok Dean, Kamu tidak usah khawatir."
Lia tidak banyak bicara seperti biasanya, ia hanya menjawab pertanyaan dari Dean tanpa berpanjang lebar.
"Kenapa telepon dari ku tidak pernah diangkat, terus pesanku juga tidak pernah kau baca?" Dengan lancang Dean bertanya hal itu kepada Lia.
"Mohon maaf Dean, aku buru-buru. Aku harus mengerjakan pekerjaan ku yang tertunda karena tidak masuk beberapa hari yang lalu," kata Lia sambil mempercepat langkah kakinya menuju meja kerjanya yang memang tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Lia!" Lagi-lagi Dean berteriak memanggil Lia yang berjalan menjauh darinya. Ia lantas mempercepat langkah kakinya menyusul Lia.
Sesampainya di meja kerja Lia, Dean memperhatikan gerak-gerik Lia yang tak menghiraukan dirinya.
"Lia, apa kau marah padaku?" tanya Dean dengan nada suara yang lembut.
"Tidak," ujar Lia singkat dan tak sedikit pun melirik ke arah Dean.
Lia sibuk sekali membuka lembaran-lembaran berkas yang akan dikerjakannya, tanpa memperdulikan Dean yang berdiri di hadapannya sedari tadi.
Dean bisa merasakan perubahan sikap Lia padanya, Lia yang biasanya bersikap hangat kepada dirinya tiba-tiba bersikap acuh dan tak memperdulikannya.
Lama kelamaan Lia merasa risih dengan kehadiran Dean dihadapannya, ia jadi bingung harus mengerjakan apa jika diperhatikan oleh Dean seperti ini.
"Dean, sebaiknya silahkan kembali ke ruang kerja mu, sebentar lagi Pak Yuda akan datang," kata Lia sambil mengarahkan pandangannya pada Dean.
"Aku akan pergi, tapi jawab pertanyaan ku dengan jujur. Apa kau marah padaku?" ucap Dean sambil menatap bola mata Lia.
Melihat Dean menatap dirinya, Lia buru-buru mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Tidak Dean, aku tidak marah kepadamu!" Lia berkata dengan sedikit membentak.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi." Dean lantas berlalu dari meja kerja Lia menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Jam istirahat siang sedang berlangsung, Dean lantas keluar dari ruang kerjanya, dan berjalan ke arah Lia. Lia terlihat sedang sibuk melakukan pekerjaan nya. Melihat hal itu, Dean lantas menghampiri Lia bermaksud mengajak nya beristirahat.
"Lia, ayo kita istirahat!" ujar Dean dengan ramah bermaksud mengajak Lia untuk beristirahat sejenak.
"Kamu istirahat saja Dean, pekerjaan ku masih banyak nih," ujar Lia yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya.
"Apa aku bisa membantu mu?" Dean menawarkan dirinya untuk membantu pekerjaan Lia.
"Tidak usah!" ketus Lia.
Mendengar penolakan dari Lia, Dean lantas membalikan badannya dan berjalan meninggalkan meja kerja Lia menuju ruang kerjanya, tanpa berkata lagi. Ia merasa kecewa mendengar ucapan Lia barusan. Lia yang dikenalnya sebagai teman yang hangat kini berubah drastis seperti orang yang tidak pernah dikenalinya.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang, Dean lantas berkemas dan keluar dari ruang kerjanya. Begitu keluar, dia lantas kembali bertemu dengan Lia yang juga akan pulang.
"Lia, apa kamu akan pulang?" tanya Dean.
"Iya," ujar Lia singkat.
"Ayo kita pulang sama-sama, aku bisa mengantar mu pulang." Dean menawarkan diri untuk mengantar Lia pulang.
"Tidak usah Dean, Pak Gugun pasti sudah menungguku." Lia menolak dengan halus tawaran dari Dean.
Dean tidak bisa berkata lebih banyak lagi, Lia yang hari ini bukanlah Lia yang selama ini dikenalinya. Dalam waktu tiga hari saja, sikap Lia bisa berubah drastis padanya, Dean tidak mengerti apa kesalahannya pada Lia.
Sesampainya di lantai dasar, Lia dan Dean berjalan menuju ke arah parkir. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, mereka sama sama membisu dan tidak tau harus bicara apa.
Biasanya, Pak Gugun sudah menunggu dihalaman KUSUMA CORP. Tapi hari ini, Pak Gugun belum kelihatan batang hidungnya, padahal Lia pulang lebih lambat dari biasanya.
Dering ponsel membuat Lia harus membuka tas yang berisi ponselnya.
"Iya, halo Pak Gugun! kenapa belum jemput Lia?" ujar Lia dari sini.
"Mohon maaf Non, sepertinya Pak Gugun agak terlambat menjemput Non Lia, karena ban mobil kita bocor Non." Pak Gugun mencoba menjelaskan nya pada Lia.
"Oh... baiklah Pak Gugun, Lia tunggu disini," ujar Lia dengan tenang.
"Tunggu saja, Non. Sekitar setengah jam lagi," ucap Pak Gugun.
"Iya, Pak," ucap Lia singkat.
Dean yang sedari tadi berdiri disamping Lia mendengar percakapan antara Lia dan Pak Gugun, dan mencoba menawarkan dirinya untuk mengantar Lia pulang.
"Lia, biar aku saja yang mengantar mu pulang, ini pasti masih lama sekali." Dean mencoba lagi menawarkan bantuannya pada Lia.
"Tidak perlu Dean, aku tunggu disini saja." Lia tetap saja bersikeras menolak tawaran dari Dean.
"Kamu kenapa masih disini?" ujar Lia pada Dean, karena Dean dari tadi berdiri di hadapannya.
"Aku menemani mu menunggu jemputan," ujar Dean.
"Nggak perlu, kamu pulang saja duluan!" ujar Lia dengan ketus.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku membiarkan mu menunggu disini sendirian, kau teman baik ku, dan aku tidak ingin ada yang melukaimu." Dean berkata dengan serius.
Lia terlihat sejenak melamun mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dean barusan.
"Kau tidak ingin ada yang menyakiti dan melukai ku Dean, tapi apakah kau sadar kalau kau sendiri yang sudah melukai hatiku?" ujar Lia dalam hati.
"Aku bisa menjaga diriku. Kau pulang saja!" Lia berkata dengan tegas tidak mau ditemani oleh Dean.
"Aku tidak mau pulang sebelum kau juga pulang." Dean menantang perintah Lia barusan.
"Baiklah, jika kau tetap tidak mau pulang, silahkan saja menunggu disini bersamaku. Tapi ingat, jangan harap besok kau akan bertemu dengan ku lagi, jangan harap kau bisa menghubungi ku lagi!" Lia berkata dengan serius sambil terus menegakkan kepalanya, tak mau terlihat lemah di hadapan Dean.
Mendengar ancaman Lia, ada ketakutan tersendiri bagi Dean. Apalagi mimik wajah Lia tidak terlihat bercanda, bahkan sedikitpun.
"Baiklah. Jika ini mau mu, aku akan pulang," ujar Dean dengan mimik wajah yang tak terbaca, kemudian ia berlalu dari hadapan Lia menuju mobilnya.
Dean lantas memacu mobilnya keluar dari lingkungan Kusuma corp, ia tidak langsung pulang, tetapi mengawasi Lia dari kejauhan.
Lia sedari tadi terlihat gelisah, hari semakin gelap, tetapi Pak Gugun tak kunjung datang untuk menjemput nya. Seandainya saja tadi ia tidak menolak tawaran Dean, pasti dirinya sudah ada di rumah. Namun, ia masih ingat dengan tujuan awal dirinya kepada Dean, yaitu move on. Dia tidak ingin mendapatkan perhatian dan memberikan perhatian nya lagi pada Dean.
*****
Gino yang baru saja keluar dari gedung Kusuma corp mendapati gadis impiannya sedang terduduk di kursi tunggu sambil berusaha membuka kelopak matanya yang kelelahan. Apalagi kondisinya yang belum sehat sepenuhnya, membuat raganya mudah terserang letih.
"Lia?" ujar Gino sambil memegang bahu Lia.
Lia terkejut dengan kehadiran Gino di dekatnya, karena ia tadi hampir saja tertidur. Namun, suara Gino mengagetkan nya dan membuat ia tersadar.
"Gino," kata Lia singkat.
"Kamu kenapa tidur disini? Terus kenapa belum pulang?" tanya Gino dengan cemas sambil mendudukkan dirinya di samping Lia.
"Aku menunggu Pak Gugun, ban mobil bocor katanya." Lia menjelaskan alasan dirinya belum pulang kepada Gino.
"Ya sudah, ayo ku antar pulang!" ucap Gino dengan lembut.
"Tapi...," ujar Lia dengan ragu.
"Tapi apa lagi? Kau mau menunggu Pak Gugun sampai malam? Ini sudah gelap Lia, sebaiknya kau pulang, wajah mu juga terlihat pucat. Apa kau sakit?" Gino berkata sambil menunjukkan perasaan cemasnya melihat kondisi Lia.
Lia menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Gino.
"Ya sudah ayo kita pulang!" ujar Gino sambil menuntun Lia menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.
Setelah naik ke mobil, Gino segera memacu kendaraan nya menuju kediaman Lia.
Dean yang sedari tadi mengawasi Lia merasa lega karena Lia sudah pulang. Namun, Dean merasa curiga dengan Gino. Bukankah Lia sangat membenci Gino? Lalu mengapa Lia tidak menolak saat Gino menawarkan untuk mengantar nya pulang? Apa Gino punya rencana jahat pada Lia?
Karena rasa cemasnya itu, akhirnya Dean mengikuti pergerakan mobil Gino. Dari arah yang dituju oleh mobil Gino tidak ada yang mencurigakan, mobilnya mengarah ke rumah Lia. Apakah Lia dan Gino sudah berbaikan?
Tak berselang lama, Mobil Gino terlihat memasuki halaman rumah Lia, tidak ada hal buruk yang terjadi pada Lia, hal itu juga yang membuat Dean bisa bernafas lega melihat Lia pulang dengan selamat, meskipun bukan di antar oleh dirinya.
__ADS_1
Namun, keberadaan Gino menjadi teka-teki yang harus Dean selidiki. Ia tak mau ada yang melukai Lia bahkan sedikitpun, meskipun sebenarnya ia dan Lia bukanlah sepasang kekasih.
Bersambung...