
Dalam perjalanan menuju bandara, terjadi antrean panjang di jalur tol yang mengular sejauh 2 kilometer dari pintu masuk. Pak Yuda dan ibu Dewi terlihat gelisah menunggu antrean tersebut. Sesekali mereka mengumpat kesal karena antrean yang tak ada habis-habisnya.
Setelah terbebas dari antrean, pak Yuda dan ibu meri mendesak Dean agar memacu kendaraan lebih cepat lagi. Namun, Dean tetap mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sewajarnya dan lebih mengutamakan keselamatan berkendara.
Terlihat kerinduan yang begitu besar dari raut wajah keduanya. Ya, mereka sangat merindukan putri semata wayangnya itu. Biasanya putri mereka akan pulang enam bulan sekali. Namun, hampir setahun ini anak mereka tidak pulang dikarenakan merebaknya pandemi virus Corona di Indonesia, jadi anaknya terpaksa harus berkali-kali menunda jadwal kepulangan nya.
Sesampainya di bandara Internasional Halim Perdanakusuma, mereka melirik ke semua sudut bandara untuk mencari sesosok gadis yang sangat mereka rindukan itu. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, itu artinya putri mereka sudah tiba satu jam yang lalu.
Namun, sejauh mata memandang, tak terlihat sosok yang mereka cari. Pak Yuda mencoba menanyakan pada petugas disana mengenai jadwal kedatangan pesawat yang di tumpangi putrinya itu. Namun, langkah kakinya tertahan tatkala terdengar suara seorang gadis memanggilnya.
"Papi," panggil seorang gadis cantik dengan potongan rambut sebahu dan senyum manis terlukis dibibir nya.
Pak Yuda menoleh kebelakang, dilihatnya sesosok gadis yang sangat ia rindukan itu tengah berdiri menghadap padanya. Pak Yuda segera memutar langkah kakinya lalu segera memeluk putrinya itu. Ibu Meri yang juga mendengar suara putrinya segera berhamburan memeluk putrinya itu.
Mereka tak henti-hentinya memeluk putri kesayangannya itu. Dean hanya memperhatikan saja keluarga pak Yuda saling melepas rindu.
"Sayang... Papi dan Mami sangat merindukan mu," ujar mami Meri sambil mencium pucuk kepala putrinya itu dan mengeratkan pelukannya.
"Elin juga sangat merindukan Mami dan Papi," ujar gadis cantik itu sambil memeluk erat ibunya.
"Ya sudah, ayo kita pulang Sayang!" ujar pak Yuda pada anak dan istrinya.
"Iya Sayang, ayo kita pulang sekarang!" timpal mami meri sambil mengelus pipi putrinya itu.
"Ayo," ujar gadis cantik Dengan selendang yang terbalut dilehernya itu sambil mengangguk dan tersenyum.
"Dean, tolong bantu saya bawakan kopernya ya!" perintah Pak Yuda pada Dean.
"Biar Dean saja yang bawa kopernya Pak," ujar Dean.
"Baiklah Dean, terima kasih," ujar pak Yuda.
Kemudian mereka berlalu dari bandara menuju kediaman pak Yuda.
Selama perjalanan pulang, mami Meri dan pak Yuda tiada henti bertutur kata dengan putrinya. Sesekali pak Yuda juga mengajak Dean untuk berbicara.
__ADS_1
Berdasarkan Informasi yang diterima Dean dari pembicaraan mereka di mobil tadi, Dean mengetahui gadis cantik nan ramah itu bernama elin. Ia berkuliah di Singapura, dan sudah masuk ke semester 5. Berarti ia seumuran Dean. Bila saja setelah lulus SMA Dean langsung kuliah, ia juga sudah masuk ke semester lima.
Sesampainya dirumah, mami Meri dan elin langsung masuk kerumah. Sedangkan pak Yuda membawa koper berisi pakaian putrinya dengan di bantu Dean.
Setelah meletakan koper itu di ruang tamu, pak Yuda memanggil salah seorang pembantu untuk membawa koper itu menuju kamar elin. Lalu pak Yuda mempersilahkan Dean untuk duduk bersama di ruang tamu bersama anak dan istrinya.
"Bik Sun," panggil mami Meri pada pembantunya.
"Iya Buk," jawab bibi Suni sambil berjalan menuju sumber suara yang memanggilnya.
"Tolong buatkan minuman ya!" perintah mami meri.
"Baik Bu," ujar bibi Suni, kemudian ia berlalu dari sana menuju dapur.
"Elin sayang... Perkenalkan ini Dean. Dia assisten papi," ujar pak Yuda memperkenalkan Dean pada putrinya.
Elin mengalihkan pandangannya pada Dean dan tersenyum ramah. Ia lantas mengulurkan tangannya dihadapan Dean bermaksud mengajak berkenalan. Dean pun dengan sigap menyambut uluran tangan tersebut.
"Melinda Kusuma," ujar elin memperkenalkan dirinya pada Dean dengan ramah.
"Deandra Septian," ujar Dean yang juga memperkenalkan dirinya pada putri bos nya itu sambil menatap mata gadis cantik nan ramah itu.
Mendengar elin menyebut namanya, Dean hanya mengangguk. Ia juga sedang berusaha mengingat nama Melinda Kusuma yang memang tidak asing lagi di telinga nya.
"Bukannya kamu Dean teman sekelas ku waktu SMP dulu?" ujar elin mencoba menebak siapa Dean.
"Iya benar. Astaga.... jadi kamu elin yang jadi primadona dikelas dulu ya?" ujar Dean setelah ia mengingat siapa itu Melinda Kusuma.
Elin hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi pertanyaan Dean.
Tak berselang lama bik Suni muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman diatasnya.
"Permisi Pak, Buk, ini minumanya sudah siap," ujar bibi Suni sambil meletakkan nampan berisi minuman yang dibuat nya ke atas meja.
"Ini minumanya non," ujar bik Suni sambil meletakkan segelas minuman dihadapan elin.
__ADS_1
"Terima kasih Bik, " ujar elin sambil tersenyum ramah pada bik Suni.
"Sama-sama Nona cantik," puji bik Suni pada elin.
Elin hanya tersenyum mendengar pujian dari asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi pada keluarganya itu.
Setelah meletakan minuman pada mereka, bik Suni lantas berpamitan ke dapur untuk menyiapkan makan Malam.
"Oh jadi kalian sudah saling mengenal?" tanya ibu Meri penasaran, sambil meletakan gelas berisi minuman yang baru saja diteguknya.
"Iya Mi, pas SMP Elin dan Dean dulu teman sekelas," ujar elin pada ibunya.
"Wah wah wah, ada yang reunian dadakan nih," ujar ibu Meri pada Dean dan elin sambil tertawa kecil.
Elin dan Dean hanya terkekeh mendengar ucapan mami Meri.
"Apa Mami tau? Dean dulu sangat culun. Dia pakai kacamata, selain itu dia juga memakai tas yang talinya dipendekin sampai kayak kura-kura," ujar elin pada ibunya sambil tertawa kecil ke arah Dean.
"Oh ya?" ujar mami Mery tak percaya, lantaran Dean sekarang sangat macho tidak ada jejak culun yang terlihat.
"Iya Mi, lihat saja di foto itu, cowok yang pakai kacamata itulah Dean," ujar elin sambil menunjuk ke arah foto lawas yang terpajang di dinding ruangan itu.
Dean tersenyum malu malu, mengingat penampilan lawas dirinya yang sangat buluk.
"Masa sih? Kayak nya bukan deh, Dean yang sekarang aja macho banget," ujar mami Meri tak percaya.
"Elin juga tidak menyangka mi, Dean sekarang berubah 180 derajat. Elin sampai tidak mengenali wajahnya lagi. Dean sekarang macho banget, nggak kayak dulu lagi," ujar elin memuji penampilan Dean yang sekarang.
Mendengar elin memuji dirinya, Dean merasa sangat senang. Siapa juga yang tidak senang dipuji gadis secantik elin yang aura kecantikannya sudah terpancar sedari dulu.
"Wah wah wah bagus dong kalau kalian sudah saling mengenal. Jadi Papi tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian berdua lebih jauh lagi," ujar pak Yuda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja.
"Maksud Papi?" ujar elin dengan nada suara yang sedikit manja.
"Oh tidak tidak, Papi hanya bercanda," ujar pak Yuda sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
Tak berselang lama, bik Suni muncul dan mengatakan kalau makan malam nya sudah siap.
Mereka pun berlalu meninggalkan ruang tamu menuju meja makan untuk makan malam bersama.