Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
jelaskan semuanya (Dean)


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor tadi sore, Dean langsung mandi membersihkan badannya yang terasa lengket dan bau keringat. Ia tidak ingin sampai lupa mandi seperti semalam, karena keburu mengantuk dan tertidur.


Setelah selesai mandi, Dean menuju dapur dan mulai mengolah bahan makanan yang ada didalam kulkas. Beruntunglah Dean memiliki sedikit skill memasak, jadi kalau jauh dari ibunya, ia bisa memasak sendiri.


Setelah melahap makanan yang dimasaknya, Dean menyalakan tv di ruang tamu apartemen tersebut. Karena tidak ada tontonan yang menarik, akhirnya Dean memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan membaringkan raga nya yang letih diatas pembaringan yang empuk itu.


Ia sejenak menatap langit-langit kamar apartemen itu dan merenung, kemudian menghela napas panjang. Ia merasa tidak adil pada orang tua serta adiknya. Disini ia bisa tidur nyenyak diatas pembaringan yang empuk, sedangkan orang tua serta adik adiknya hanya tidur diatas kasur lapuk yang sudah usang.


Dean bangun dari posisinya dan duduk disamping kasur itu. Ia lantas membuka laci di nakas dan mengambil sebuah foto. Di foto itu terpampang gambar dirinya, kedua orang tua serta kedua adiknya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


"Ayah... Ibu... maafkan Dean. Dean sampai hari ini belum bisa membahagiakan kalian. Untuk Riko dan Gita kakak juga minta maaf, kakak belum bisa membantu kalian. Namun, Dean berjanji, Dean akan bekerja bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan uang agar Dean bisa kuliah dan merubah nasib keluarga kita," ucap Dean lirih.


"Ayah, Ibu, Riko, dan Gita, Dean sayang kalian semua," ucap Dean pelan sambil menyapu buliran air mata yang turun tak tertahankan lagi, tatkala dirinya memandang foto keluarga yang sangat ia sayangi itu.


Ia lantas meletakkan foto itu di dada nya, dan membaringkan tubuhnya di kasur, lalu tertidur dengan pulas.


*****


Keesokan harinya, Dean terbangun dari tidurnya dan mendapati ada sebuah foto tergeletak di sampingnya. Ia mengingat kalau semalam ia baru saja menangis melihat foto itu.


Ia kemudian bangun dari tempat tidur dan menyimpan kembali foto itu kedalam laci nakas. Setelah itu, ia segera bersiap-siap dan sarapan sebelum dirinya pergi ke kantor.


Mengingat besok adalah akhir pekan, jadi Dean memutuskan untuk pulang ke rumahnya nanti sore. Dan waktu akhir pekan, biasanya Pak Yuda membebaskan Dean untuk pulang ke rumahnya untuk menemui kedua orang tuanya.


Tuut... Tuut... Tuut... ponsel Dean berbunyi tatkala dirinya menelpon nomor Riko.


Berulangkali menelpon, tetapi tak ada jawaban dari Riko.


"Lho kok nggak diangkat sih. Biasanya jam segini kan belum berangkat ke sekolah," ujar Dean sambil memegang ponsel di samping telinga nya.


Sekali lagi ia mencoba. Namun, panggilan nya tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia menyimpan kembali ponselnya kedalam tas.


* Dirumah


Riko yang sudah menyelesaikan sarapannya kembali ke kamar untuk mengambil tasnya. Dilihatnya ada beberapa log panggilan tak terjawab di ponsel miliknya dari Kak Dean.


Ia sejenak berpikir kalau Dean akan memarahinya lagi lewat sambungan telepon. Namun, akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, sehingga ia membuang pikiran jelek nya itu dan segera menelpon balik Dean.


"Halo Kak?" ucap Riko saat panggilannya dijawab oleh Dean.


"Halo Riko, Kenapa telepon Kakak tadi tidak diangkat?" ucap Dean dengan nada sedikit emosi.


"Maaf Kak, tadi ponsel ku ada di kamar. Kebetulan aku juga masih sarapan dengan Ibu dan Gita," jelas Riko pada kakaknya.


"Ada apa Kak? kok pagi-pagi gini menelpon?" tanya Riko.


"Ya sudah, apa Ibu sudah berangkat?" Balik Dean bertanya pada adiknya.


"Belum Kak, sebentar lagi dia akan berangkat," ujar Riko.


"Ya sudah, berikan ponsel mu padanya!" perintah Dean.


"Baik, Kak," ucap Riko sambil berjalan menuju dapur.


"Ibu, ini ada telepon dari Kak Dean," ujar Riko sambil memberikan ponselnya kepada Ibu Dewi.

__ADS_1


"Halo Nak, ada apa?" tanya Ibu Dewi sambil menempelkan ponsel di telinga nya.


"Halo Bu, Dean cuman mau bilang nanti sore Dean pulang, Ibu mau di belikan apa?" ucap Dean pada ibunya.


"Ibu nggak mau dibelikan apa-apa Nak, kamu pulang saja Ibu sudah senang," ujar Ibu Dewi.


"Baiklah kalau begitu Bu, Dean cuman mau bilang itu aja. Selamat pagi ya Bu," ucap Dean.


"Pagi juga, Nak," ujar Ibu Dewi lalu menutup panggilan nya dengan Dean.


********


Sore harinya, setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, Dean segera mengemudi menuju rumahnya yang lumayan jauh dari kantor. Ia juga singgah untuk membeli buah tangan untuk orang tua dan adik-adiknya. Meskipun mereka tak pernah meminta, tetapi hal ini sudah menjadi kebiasaan Dean.


Sesampainya dirumah, hari sudah gelap. Ia disambut oleh Pak Burhan dan Ibu Dewi yang kala itu sedang duduk di teras. Sedangkan Riko dan gita tak terlihat ada Disana.


"Ayah, Ibu," ucap Dean sambil mencium tangan orang tuanya.


Pak Burhan dan Ibu Dewi terlihat sangat senang kala dean pulang kerumah. Meskipun Dean pulang dua kali seminggu, tetapi mereka selalu saja merindukan Dean.


"Ayo masuk, Nak," ajak Pak Burhan dan Ibu dewi sambil tersenyum.


"Ayah, Ibu, mana Riko dan Gita?" tanya Dean penasaran.


"Gita ada dikamar sedang belajar, kalau Riko kamu tau sendirilah. Dia sedang bermain bersama teman-temannya," ujar Ibu Dewi.


Wajah Dean langsung berubah jadi merah padam tatkala mendengar penjelasan ibunya. Tentunya karena Riko belum juga mengatakan yang sebenarnya pada Ibu Dewi dan Pak Burhan.


"Ya sudah Nak, kamu mandi dan ganti baju sana, habis itu kita makan malam. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kamu," ujar ibu Dewi pada Dean.


Setelah mandi dan ganti baju, Dean hendak keluar dari kamar. Namun, langkah kakinya tertahan tatkala Riko masuk ke kamar terlebih dahulu.


"Kak Dean?" ujar Riko sedikit terkejut mendapati Dean ada di rumah. Ia lupa kalau Dean hari ini pulang.


Namun, Dean hanya diam saja sambil menatap Riko. Tatapannya sungguh tak terbaca oleh Riko.


Riko segera menundukkan kepalanya, melihat Dean menatapnya seperti itu. Ia takut Dean akan memarahinya lagi seperti yang dilakukannya tempo hari.


"Riko," panggil Dean dengan lembut.


Riko yang tadinya menunduk kini berani melihat ke arah Dean dan menatapnya.


"Riko, katakan kepada Kakak, kenapa kamu sampai berbohong seperti ini? Sampai kapan kau akan merahasiakan ini semua ha?" ucap Dean dengan dengan nada suara yang tetap lembut namun tegas.


Riko yang sebelumnya tak berani mengeluarkan suara akhirnya menjawab pertanyaan kakaknya itu. Disini ia mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Dean agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.


"Kak Dean... sebelumnya Riko mau minta maaf karena selama ini Riko sudah berbohong sama kalian semua," ucap Riko dengan raut penyesalan diwajahnya.


"Riko hanya ingin membantu Ayah dan Ibu Kak, Riko nggak mau terlalu membebankan mereka dengan semua kebutuhan Riko. Riko terpaksa berbohong karena Riko takut jika Riko berterus terang, Ayah dan Ibu akan akan melarang ku untuk bekerja lagi," jelas Riko pada dean.


Ibu Dewi yang berencana akan memanggil Dean dan Riko untuk makan malam mendengar pembicaraan kedua anaknya itu. Ia lantas melambaikan tangan pada suaminya bermaksud memanggil. Kemudian Mereka mendengar pembicaraan Dean dan Riko dari luar kamar.


"Apa keperluan kamu belum terpenuhi selama ini, Riko?! Apa Ayah dan Ibu tidak memberi mu makan?! Apa kau membayar tempat tinggal mu ini?! Apa uang sekolah mu tidak dibayar oleh mereka?!" tanya Dean dengan beruntun kepada Riko, dan dengan nada berteriak di hadapan nya.


"Cukup Kak! Dengar dulu penjelasan Riko!" ujar Riko dengan nada sedikit gusar. Ia lantas bangun dari duduknya lalu berdiri menghadap Dean.

__ADS_1


Pak Burhan dan ibu Dewi yang sebelumnya berada diluar kini masuk ke kamar Dean dan Riko. Mereka takut kalau Dean dan Riko saling baku hantam.


"Apa yang ingin kau jelaskan ha?!" ujar Dean dengan emosi yang melambung-lambung.


"Apa Kakak tau?! aku sudah berulang kali diberikan surat peringatan karena belum membayar uang sekolah?! Apa Kakak tau kalau aku sering menahan rasa lapar ku karena uang jajan yang diberikan oleh Ayah dan Ibu aku tabung untuk membeli buku-buku pelajaran?! Dan apa Kakak tau bagaimana sakitnya aku ketika perhatian Ayah dan Ibu hanya berpusat pada Kak Dean dan Gita saja?!" ujar Riko dengan amarah yang meletup-letup sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku juga ingin diperhatikan oleh Ayah dan Ibu, Kak. Aku juga ingin mandiri seperti Kak Dean, aku juga ingin disayangi seperti Gita dan Kak Dean," ujar Riko lirih lalu tersungkur dilantai sambil terisak menangis tersedu-sedu.


Mendengar penjelasan Riko, Dean langsung terdiam, air matanya terjun bebas tak terbendung. Ia tidak menyangka jika Riko melakukan itu semua karena ia ingin lebih diperhatikan lagi oleh orang tuanya.


Mendengar penjelasan Riko tadi, Ibu Dewi turut menangis. Ia begitu tercengang mendengar penjelasan Riko. Ia baru menyadari ternyata ia belum bisa bersikap adil terhadap anak-anaknya. Ia lantas berlalu dari sana menuju kamarnya sambil menangis tersedu-sedu.


Pak Burhan yang turut berada Disana juga menitikkan air mata mendengar penjelasan Riko. Sebagai seorang ayah, ia merasa gagal dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ia lantas berjongkok dan mengangkat bahu Riko.


"Nak, bangunlah," ujar Pak Burhan dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya.


Riko pun terbangun dan segera memeluk ayahnya.


"Ayah... Apa Riko salah? Riko hanya ingin membantu Ayah dan Ibu saja," ucap Riko dengan lirih sambil menangis tersedu-sedu.


"Tidak, Nak. Kamu tidak salah. Justru Ayah lah yang bersalah. Ayah belum bisa memenuhi semua kebutuhan kalian," ujar Pak Burhan dengan lirih sambil mengelus kepala Riko.


Gita yang mendengar ibunya menangis segera berlalu dari kamarnya menuju asal suara ibunya itu.


Dikamar, Ibu Dewi terlihat terduduk di kasurnya. Ia tak berhenti mengeluarkan buliran air mata yang menganak sungai.


Gita segera menuju ibunya. Ia lantas memeluk ibunya dengan erat, begitu juga Ibu Dewi yang memeluknya dengan erat.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Gita penasaran pada ibunya yang tak berhenti menangis.


Ibu Dewi hanya menggelengkan kepalanya, ia tak mampu berkata-kata lagi. Gita pun tak memaksa ibunya untuk berbicara. Ia berusaha menenangkan ibunya dan menyuruh ibunya untuk berhenti menangis.


Setelah semuanya tenang, Pak Burhan meminta Riko untuk mandi dan ganti pakaian. Riko pun menuruti perintah ayahnya.


Setelah Riko berlalu, Pak Burhan pun berlalu dari sana menuju kamarnya.


Dikamar, tinggal Dean yang masih termenung dalam posisi nya. Ia menyesali sikapnya terhadap Riko. Ia benar-benar tidak menyangka jika Riko melakukan hal itu untuk membantu orang tuanya.


Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Selama makan malam berlangsung, tak terdengar satu patah kata pun dari bibir mereka, hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok saja yang terdengar.


Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga. Sama seperti sebelumnya, tak ada satupun yang bersuara. Tak seperti biasanya, Gita yang lincah berbicara pun hanya membisu.


"Riko... Ayah dan Ibu minta maaf Nak, jika semua kebutuhan kamu belum bisa terpenuhi," ujar Pak Burhan membuka percakapan diantara mereka.


"Ibu sama Ayah juga minta maaf Nak, jika selama ini Ayah dan Ibu tidak bersikap adil sama kamu," ucap Ibu Dewi lirih sambil memeluk Riko dari samping.


"Ayah dan Ibu tak perlu meminta maaf, Riko senang kok bisa membantu Ayah dan Ibu," ujar Riko turut membalas pelukan ibunya.


Setelah melepaskan pelukan dengan ibunya, Riko lantas melihat ke arah Dean yang dari tadi menatapnya dengan tatapan sendu.


"Riko, Kakak minta maaf. Kakak sudah menuduh mu yang bukan-bukan," ujar Dean sambil melemahkan tatapan nya pada Riko.


"Tidak apa-apa Kak, ini memang kesalahan Riko. Riko dari awal tidak berterus terang kepada kalian semua," ujar Riko lirih.


"Riko, Ayah dan Ibu tidak akan melarang mu untuk bekerja. Tapi kamu juga harus ingat kewajiban utama mu, yaitu belajar," ujar Pak Burhan kepada Riko.

__ADS_1


"Baik Ayah, Riko pasti akan fokus belajar. Karena setahun lagi Riko akan tamat. Riko janji akan belajar bersungguh-sungguh," ujar Riko meyakinkan orang tua nya kalau dia bisa membagi waktu.


__ADS_2