Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Suratan Takdir


__ADS_3

Sembab, itulah yang terlihat dari mata Dean. Kesedihan, itulah yang tergambar dari raut wajahnya. Begitu juga dengan ibu dan kedua adiknya.


Rasa tak percaya masih bersarang dalam dada. Rasa kehilangan masih menyelimuti perasaan. Rasa sakit enggan tuk menepi walau sebentar.


Membisu, itulah yang terjadi. Tak ada satupun yang bersuara di ruang tamu. Semuanya kalut dengan pikiran masing-masing, karena tidak percaya dengan apa yang terjadi subuh tadi.


Orang yang selama ini dicontohi, kini telah pergi dan takkan kembali. Orang yang selama ini menjadi panutan, kini pergi dan hilang meninggalkan luasnya rasa kehilangan.


Buliran bening masih terus menerus mengalir dari pelupuk mata seorang ibu dan ketiga anaknya itu. Namun, tak disertai raung tangisan, hanya air mata yang selalu jatuh dan enggan berhenti untuk turun.


Pak Burhan menghembuskan nafas terakhir subuh tadi, setelah kondisi kesehatannya menurun drastis selama beberapa jam. Segala upaya sudah dilakukan Dokter Grove untuk menyelamatkan Pak Burhan, tapi rencana Tuhan tidak pernah terbaca. Dia meninggalkan istri dan ketiga buah hati yang sangat disayanginya itu.


Raga yang telah terbujur kaku tersebut kemudian dibawa ke rumah duka, dan segera dikebumikan di Tempat Pemakaman Umat Katolik Santo Yosef, Jakarta.


Para handai taulan yang datang untuk melayat kini sudah mulai meninggalkan rumah duka, setelah prosesi pemakaman selesai dilakukan. Tinggallah Dean, Ibu, dan kedua adiknya di ruang tamu, serta beberapa tetangga yang tadinya membantu proses pemakaman sang ayah tercinta yang masih berada di teras rumah. Tak luput Pak Yuda dan istrinya yang selalu mendampingi dan menguatkan Dean dan keluarganya dengan kenyataan ini.


Rencananya, pagi hari ini Pak Yuda dan Mami Meri datang untuk membesuk Pak Burhan, tetapi takdir berkata lain, Pak Burhan sudah lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya tepat pukul 3 dini hari tadi. Mendengar berita itu, Pak Yuda dan istrinya langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Disana terlihat seorang ibu dan ketiga anaknya yang menangisi sesosok jasad tak berdaya dan telah terbujur kaku di atas sebuah pembaringan rumah sakit.


"Dean!" panggil Pak Yuda dengan lembut membuyarkan lamunan Dean.


"Hm," jawab Dean singkat, dan tak mengalihkan sedikitpun pandangan matanya yang masih berkaca kearah yang memanggilnya.

__ADS_1


"Dean, kami akan pulang. Besok kami akan kembali lagi, kamu jaga diri baik-baik ya, Nak. Kamu juga jangan terlalu larut dalam kesedihan. Relakan kepergiannya, mungkin ini jalan yang terbaik. Dengan demikian, dia tidak merasakan sakit lagi," ujar Pak Yuda sambil mengelus pundak Dean dengan lembut.


Dean yang sedari tadi hanya melamun, kini mengarahkan wajahnya kearah Pak Yuda. "Terima kasih banyak, Pak, karena sudah banyak membantu prosesi pemakaman Ayah, maaf karena sudah merepotkan Bapak dan Ibu. Dean akan jaga diri kok," ujar Dean dengan senyum tipis sesaat yang terlukis di wajahnya.


"Kami tidak merasa direpotkan kok, Dean. justru kami senang bisa membantu kamu," ujar Pak Yuda.


"Ya sudah, kami pamit, Dean," ujar Mami Meri sambil memandang prihatin Dean, ibu Dewi dan kedua adik Dean. "Mari Bu, kami permisi," sambungnya.


Tiada suara yang terdengar, hanya anggukan kepala yang menjadi ucapan terima kasih dari Ibu Dewi. Jangankan untuk berbicara, sekedar bersuara untuk menangis pun ia sudah tak sanggup lagi, mengenang kepergian sang suami tercinta.


**********


Itulah yang Dean rasakan, setelah 10 hari kepergian sang ayah, Dean mulai kembali bekerja. Pak Yuda sebenarnya memberikan izin kepada Dean selama dua Minggu untuk melepaskan kesedihan. Namun, Dean merasa semakin dirinya berada di rumah, semakin dia merasa kehilangan. Oleh karena itu, dia memilih untuk bekerja dan mengalihkan pikiran dengan pekerjaannya. Tapi tetap tak bisa, pikirannya selalu saja mengarah pada ayah yang telah meninggalkan dirinya. Tak jarang ia harus keluar untuk beberapa saat untuk menenangkan pikirannya.


"Dean!" panggil Pak yuda.


"Iya Pak," jawab Dean sambil membalikkan badannya ke arah Pak Yuda.


"Kamu lagi apa disini?" tanya Pak Yuda.


"Hanya mengalihkan pikiran, Pak." Dean berkata dengan tenang.

__ADS_1


"Saya tau Dean, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayangi, karena saya juga pernah mengalaminya, ketika anak kami yang bernama Rangga meninggal karena tertabrak mobil. Jika dia masih hidup, mungkin perusahaan ini sudah ada di tangannya. Namun, sampai hari ini belum ada seorang pun yang saya percaya bisa memimpin perusahaan ini," ucap Pak Yuda pilu ketika mengingat Rangga, putra sulungnya itu, ia merasa sangat kehilangan. Buah cintanya bersama istrinya itu meninggal usai tertabrak mobil saat berumur 8 tahun.


"Saya turut prihatin, Pak."


"Tidak apa-apa, Dean. Saya percayakan pada takdir yang berjalan untuk menentukan segalanya, saya tau sekuat apapun saya berusaha, tidak akan pernah berhasil jika melawan takdir dari Tuhan," tegar Pak Yuda.


Rupanya sesosok anak lelaki yang pernah Dean lihat fotonya di dinding rumah Pak Yuda waktu itu adalah putra sulung Pak Yuda yang sudah meninggal. Wajahnya mirip sekali dengan Elin, adik perempuannya itu. Tapi sayang, takdir Tuhan tidak mengijinkan kedua buah hati Pak Yuda dan Mami Meri itu untuk tumbuh bersama. Salah satu dari mereka diambil tuhan di usia yang sangat belia.


"Oh iya, Dean, sebentar lagi dunia pendidikan memasuki tahun ajaran baru. Bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Pak Yuda penasaran.


Dean menghembus nafasnya, "Dean bingung, Pak. Sebenarnya Dean masih ingin meraih mimpi Dean, tetapi takdir Tuhan terlalu kejam." ucap Dean putus asa.


"Dean, tidak perlu menyalahkan takdir. Takdir hadir bukan untuk disalahkan, tapi ia hadir agar kita semakin kuat dan keras berusaha dalam menjalani kerasnya kehidupan," nasihat Pak Yuda.


"Dean tidak tau harus bagaimana, Pak. Rasanya mimpi Dean harus dikubur dalam-dalam. Sebab Dean kini memiliki kewajiban untuk menafkahi ibu dan kedua adik Dean yang masih sekolah. Uang tabungan yang Dean sisihkan selama ini sudah habis untuk membantu membiayai pengobatan Ayah. Namun Dean tidak menyesali habisnya uang itu. Hanya itu yang dapat Dean berikan untuk Ayah di sisa umurnya, selebihnya Dean tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan ayah... ." Dean berkata dengan mata berkaca-kaca.


"Ayahmu sangat bangga padamu. Kamu anak yang bertanggung jawab," puji Pak Yuda.


Dean hanya mengangguk sambil mengerjapkan matanya, takut buliran bening itu kembali tertumpah.


Cita-cita? Rasanya ingin dikubur saja. Apalagi dengan banyaknya halangan dan rintangan, membuat semakin kokohnya tembok niat untuk mengubur mimpi itu. Begitulah yang Dean rasakan, rasanya ia begitu lelah melawan takdir, meskipun ia belum tau bagaimana takdirnya berjalan. Tapi tak ada satu hal pun yang mendukung terwujudnya cita-cita dan mimpinya, semua mendorongnya pada lembah penderitaan. Cobaan, halangan, rintangan, rasa sakit, semuanya semakin gagah mengurungnya dalam lembah penderitaan. Ingin menyerah? Terlalu pecundang jika berhenti berjuang, tapi jika harus berjalan, maka jalan mana yang harus ditempuh? Pasalnya semua akses jalan tertutup dengan rintangan yang sudah siap mendorongnya kembali kedalam lembah penderitaan. Tidak adil? ya, itu yang Dean rasakan, tapi biar bagaimanapun takdir tetaplah takdir dia takkan pernah berubah.

__ADS_1


__ADS_2