Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Bab 46 | Balas Budi


__ADS_3

Satu Bulan kemudian...


Dean duduk termenung di depan jendela ruang tamu, sembari menatap lebah yang hinggap pada bunga yang mekar pagi ini. Sesekali ia terlihat gelisah melihat pemandangan itu.


Bunga tak pernah memaksa lebah untuk datang kepadanya, tetapi lebah lah yang selalu tertarik pada bunga yang sedang bermekaran. Lebah seolah sangat mengandalkan bunga dalam hidupnya.


Dean ingin hidupnya seperti bunga, ia tak akan memaksa siapa saja untuk datang, tapi ia berharap ada seseorang yang datang ke dalam hidupnya dan tidak bisa hidup tanpa dirinya.


"Nak, kok melamun?" sergah Ibu Dewi.


"A... Nggak kok, Bu. Dean cuma liat lebah dengan bunga itu." Dean mengalihkan pandangan ke arah ibunya.


"Kamu jangan berbohong pada ibu, ibu dari tadi mengamati kamu."


"Benaran kok, Bu. Dean nggak papa, " sangkal Dean.


Ibu Dewi kemudian duduk di sebelah Dean sembari menatap ke arah bunga yang sejak tadi jadi pusat perhatian Dean.


Meskipun pandangannya pada bunga tersebut, namun Ibu Dewi mengerti akan kegelisahan Dean.


"Nak, apa kamu ragu pada perjodohan ini?" tanya Ibu Dewi meyakinkan.


Dean mengangkat kepala untuk menatap ibunya, "Dean... Dean ya- yakin, Bu." Dean terpaksa menjawab 'yakin' karena sebentar lagi mereka akan datang ke rumah Pak Yuda untuk melangsungkan prosesi lamaran.


Sebelumnya, tepat seminggu yang lalu, Pak Yuda meminta acara lamaran dipercepat setelah mendapat jawaban dari Elin.


Mendengar jawaban penuh keraguan dari mulut Dean, Ibu Dewi mulai mencurigai ada yang tidak beres.


"Kenapa kamu terdengar ragu?" tanya Ibu Dewi.


Dean hanya terdiam. Keraguan itu muncul saat Elin mengucapkan perpisahan saat hubungan mereka belum dimulai.


"Dean, kamu harus ingat semua kebaikan Tuan Yuda pada kita. Kita kan tahu sendiri kalau selama ini kontribusi Pak Yuda pada perekonomian keluarga kita, khususnya pendidikan dan karir kamu sangat besar, beliau membantu kita keluar dari zona kemiskinan. Lalu apakah kita patut menolak permintaannya, hanya ini yang ia minta dari kita, ibu berharap kamu bisa memenuhinya, tapi ibu juga tidak memaksa kamu, bila kamu tidak siap kita bisa membicarakannya pada Pak Yuda," jelas Ibu Dewi.

__ADS_1


Dean masih terdiam, ibunya benar. Selama ini Pak Yuda sangat peduli pada dirinya, mulai dari pendidikan hingga karirnya sekarang. Tak ada yang pernah Pak Yuda minta dari keluarga Dean, hanya ini yang ia minta, yaitu menikahi Elin, putri semata wayangnya.


"Dean Siap, Bu. Dean hanya sedikit gugup karena sebentar lagi akan menjadi seorang suami." Lagi-lagi Dean berdusta, keraguan itu selalu menghantuinya, tapi apa daya, semua berjalan di luar dugaannya kalau Elin tidak bisa menerima dirinya sepenuh hati.


Elin menerima Dean itu mustahil! Malahan dua minggu yang lalu saat berbicara empat mata bersama Dean, Elin hanya diam dan acuh, saat dihubungi lewat telpon pun ia tak peduli pada Dean.


"Ya sudah, kalau begitu cepat bersiap-siap, sebentar lagi kita akan berangkat," ujar Ibu Dewi sembari beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Dean yang masih nyaman dengan posisi duduknya sekarang.


"Hm," kata Dean singkat.


*****


"Kakak! Ayo kita berangkat!" teriak Gita dari ruang tamu.


"Iya sebentar," jawab Dean dari kamarnya.


Tak lama kemudian, Dean datang dengan mengenakan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Otot-otot di lengannya menyembul jelas. Wajahnya yang klimis membuatnya terlihat tampan dan lebih awet muda, padahal usianya sudah menginjak usia 27 tahun, tapi raut wajahnya bak remaja 19 tahun.


"Kamu bisa aja, kakak tuh jelek. Ga kayak kamu yang cantiknya kayak bidadari," kata Dean acuh pada Gita.


"Idihhh dipuji malah nggak terima, apa perlu ku hina?" ujar Gita sembari menatap kakaknya yang sok cool itu.


"Nggak perlu."


"Btw makasih udah muji aku," bangga Gita pada dirinya.


Dean hanya tersenyum acuh mendengar Gita memuji diri. Kenyataannya memang Gita cantik, penampilannya berubah 180 derajat daripada kecil dulu, tapi sayang sikap manja dan jahilnya tak berubah.


Mobil Dean kemudian melaju meninggalkan rumahnya menuju kediaman Pak Yuda. Hanya mereka bertiga, Ibu Dewi, Gita, dan Dean, sedangkan Riko ia sedang sibuk dengan urusan skripsinya, karena sebentar lagi ia akan lulus sebagai seorang sarjana mekanik.


Sesampainya di kediaman Pak Yuda, mereka disambut hangat oleh Pak Yuda dan Mami Meri. Mereka sangat menantikan kedatangan Ibu Dewi untuk melamar Elin.


Tak banyak yang hadir, hanya keluarga inti saja, karena acaranya memang direncanakan sesederhana ini.

__ADS_1


Setelah prosesi lamaran selesai, dan Elin menerima lamaran itu tepatnya karena Elin terpaksa, terlihat dari raut wajahnya yang tak ada cerianya saat dilamar oleh Dean.


Dean dan keluarganya lantas berpamitan untuk pulang setelah berdiskusi mengenai jadwal pertunangan dan pernikahan mereka yang tak lama lagi, bahkan pertunangan mereka dijadwalkan 2 Minggu lagi. Terlalu singkat memang, tapi Pak Yuda ingin semuanya cepat dilaksanakan.


Dean hanya menuruti saja apa yang menjadi kemauan pihak Pak Yuda. Dari finansial ia sudah siap, ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh hari, hanya saja perasaan Elin yang masih menjadi tanda tanya baginya.


*****


"Nak, tadi kok wajah Elin sepertinya tidak ceria? Apa dia sedang sakit?" tanya Dewi pada Dean.


"Nah, benar tuh, Bu. Gita juga sadar akan hal itu," tambah Gita memasang wajah penuh tanya.


"Setau Dean sih enggak, Bu." Dean mencoba menutupi kenyataan yang sebenarnya. Dean sebetulnya tau kalau ini adalah sebuah keterpaksaan bagi Elin.


"Oh...." Dewi mengangguk sembari menatap ke depan.


"Dia nggak bilang sama Dean kalau dia sedang sakit," kata Dean dengan jujur, karena memang Elin tak memberitahunya, jangankan memberitahu keadaannya saling kabar saja tidak.


"Lho gimana ceritanya sih, kok nggak saling kabaran, apa kalian tidak akur? Atau... Kalian terpaksa menjalani perjodohan ini?" Tuduh Gita sembari memasang wajah curiga.


"Hah, siapa bilang? Sering kok kami kabaran, cuma kalau masalah kesehatannya, Elin memang tidak memberitahu Kakak, jadi Kakak tidak tahu. Nanti akan Kakak tanyakan padanya," kata Dean berbohong.


Mendengar jawaban Dean, Gita dan Ibu Dewi hanya diam, mereka tidak ingin mengulik lebih dalam, takutnya mereka mengeluarkan kata-kata fitnah pada calon menantu di keluarga mereka.


Dean pun kembali fokus mengendarai mobilnya, pikirannya melayang jauh nun ke kehidupan pernikahannya kelak. Apalagi ia tahu kalau ia akan menikah dengan seseorang yang tidak mencintainya, bahkan Elin sendiri sudah terang-terangan mengatakan hal itu, tapi Dean tetap menerimanya sebagai bentuk balas budi atas semua kebaikan Pak Yuda pada keluarganya. Karena perjodohan ini juga kemauan Pak Yuda.


Jika ditanya apakah Dean mencintai Elin? Jawabannya Dean sangat mencintai gadis itu, bahkan saat SMP dulu ia sudah menaruh hati, namun ia sadar diri karena dulu Elin adalah primadona di sekolah sedangkan dirinya hanya orang biasa yang tak punya suatu hal yang patut dibanggakan.


Sekarang, takdir seolah tahu apa yang Dean inginkan, ia sangat bersyukur bisa menikahi Elin karena ia sangat mencintai gadis itu. Tapi apakah ia akan mendapatkan timbal balik atas rasa itu? Rasanya sangat mustahil!


Jika kau sudah tahu jalan ke depannya akan hancur maka untuk apa kau melanjutkan perjalananmu? Bukankah kau hanya membuang waktumu? Lebih baik cari jalan lain yang kau tahu itu bisa membawamu kepada kebahagiaan dan selamat sampai tujuan.


Tapi kata-kata itu Dean kesampingkan, ia begitu yakin bisa membuat Elin mencintai dirinya suatu hari nanti. Untuk saat ini Elin memang tak menganggap dirinya ada, tapi setelah menikah ia sangat yakin kalau mereka berdua benar-benar sepasang tulang rusuk yang ditakdirkan untuk bersama.

__ADS_1


__ADS_2