Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Bab 43 Kita Putus!


__ADS_3

...Bab 43 Kita Putus!...


Elin terduduk di atas kasur kamarnya dengan perasaan bingung tiada tara. Dilema antara menuruti permintaan kedua orang tuanya atau konsisten dengan pendiriannya untuk terus menjalin hubungan dengan Diko.


“Akhhh... kenapa sih harus serumit ini?!” teriak Elin frustasi.


“Kenapa harus Dean? Kenapa bukan Diko saja?” gumamnya.


Elin lantas menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring ke atas kasur. Sejenak ia terdiam untuk mengambil keputusan, meskipun berat tapi ia harus memilih salah satu pilihan tersebut.


Menolak permintaan ayahnya sama saja ia menjadi anak yang tidak tahu terima kasih, tapi bila ia menuruti permintaan ayahnya sama saja ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Pilihan yang sangat berat, tapi tetap harus dipilih.


Ia lantas bangkit dari atas kasur dan mengambil ponselnya yang kala itu sedang diisi daya lalu kembali duduk di atas kasur. Sejenak ia memejamkan matanya dan menarik nafas kemudian dihembuskannya dengan kasar.


“Ini pasti yang terbaik. Selama ini mereka sudah membuatku bahagia, sekarang giliran aku yang membahagiakan mereka meskipun mengorbankan kebahagiaanku sendiri.”


Ketika ponselnya menyala, tampak sosok tampan yang menjadi wallpapernya. Elin kembali dilema, Diko sosok lelaki yang baik baginya yang bahkan sudah menjadi bagian dari perencanaan masa depannya, bagaimana mungkin ia bisa mengakhiri hubungannya itu.


Dengan jari gemetar ia mengetik pesan singkat untuk mengajak Diko bertemu besok.


Besok kita ketemu di taman kota seperti biasanya jam 3 sore.


Hanya butuh waktu lima menit pesan tersebut langsung dibaca dan dibalas oleh Diko.


Baiklah.


Elin lantas melemparkan ponselnya ke atas kasur. Demi apapun ia masih tak rela bila hubungan itu berakhir, tapi ia harus melakukan apa agar pilihan itu tidak mengorbankan kebahagiannya sendiri dan juga kebahagiaan kedua orang tuanya. Hanya pasrah. Kata itulah yang kini menjadi isi pikiran Elin.


...*****...


Elin sudah menunggu kedatangan Diko. Bahkan, setengah jam sebelum waktu yang ditentukan semalam ia sudah berada di taman ini. Ia sengaja berangkat lebih awal karena ingin cepat-cepat menghindar dari papinya, apalagi papinya hari ini tidak pergi ke kantor karena tidak enak badan.


Belum sampai jam tiga sore Diko juga sudah datang untuk menemui kekasihnya itu. Ia sangat senang karena Elin mengajaknya bertemu. Biasanya dirinya lah yang meminta untuk bertemu, tapi hari ini justeru Elin lah yang meminta pertemuan.


Diko langsung mendudukkan dirinya di kursi taman, tepatnya di samping Elin yang sedari tadi terlihat lesu dengan ekspresi murung dan sedih sejak kedatangannya. Dalam hatinya terus bertanya ada apa gerangan pada kekasihnya itu.


“Kamu kenapa, sayang? Kok murung begitu sih, ntar cantiknya hilang lho,” goda Diko.


Elin yang tadi tertunduk lesu kini berani menatap manik mata Diko. Tatapan itu penuh pikat membuat Elin menjadi ragu untuk mengatakan tujuan pertemuan mereka.


Bagaimana ini? Tatapan matanya sungguh membius. Aku tak mampu untuk mengatakan yang sesungguhnya, batin Elin.


“Sayang, kamu kenapa?” tegas Diko.


“Ah enggak. Aku nggak kenapa-kenapa, kok.”


Elin buru-buru menundukkan wajahnya setelah tersadar karena sedari tadi memperhatikan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihnya itu.


“Kamu mau makanan atau minum? Biar aku yang belikan ke minimarket di depan sana,” tawar Diko.


Elin menggelengkan kepalanya.


“Tidak perlu membelikan makan untukku, kita hanya bertemu sebentar saja karena ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu,” tutur Elin dengan serius.


“Ada apa sayang?” Diko memperhatikan betul-betul wajah kekasihnya itu.


Sedikit ragu untuk memulai pembicaraan ini, tapi untuk apa ia meminta pertemuan bila hal ini tidak dikatakan. Bukankah tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mengakhiri hubungan ini? Dengan sedikit keberanian akhirnya Elin memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Kita Putus,” ucap Elin tiba-tiba.


Diko ternganga dan kebingungan mendengar ucapan Elin barusan. Apa ia tidak salah dengar bila Elin mengakhiri hubungan ini?

__ADS_1


Kemarin malam Elin mengatakan kalau ia sangat mencintai dirinya, lalu sekarang tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan ini.


Diko merasa tak percaya, ia sungguh yakin kalau ucapan Elin itu pasti sebuah prankk.


“Jangan bercanda, sayang. Aku sudah tahu kalau kamu mau ngeprankk aku, kan?” tebak Diko sambil tertawa kecil, tapi raut Elin terlihat tak bercanda sedikitpun.


“Maafkan aku, Diko. Tapi aku serius.” Elin kian menunjukkan keseriusan ucapannya barusan.


Diko yang tadi mengira ini hanyalah sebuah prankk dari Elin mulai merasa tidak enak perasaannya, apalagi sedari tadi Elin tak terlihat bercanda.


“Kamu benaran mengakhiri hubungan kita yang belum sampai satu bulan ini?”


“Maafkan aku, ini semua terpaksa ku lakukan,” jelas Elin sambil menitikkan air mata yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya.


“Tapi kenapa, sayang? Bukankah kemarin malam kamu mengatakan kalau kamu sangat mencintaiku?” Diko mulai merasa kesal mendengar kata-kata Elin.


“Aku memang mencintaimu, Diko. Tapi aku harus memilih jalan ini, sebagai bentuk terima kasihku pada Papi dan Mami.”


“Apa aku melakukan kesalahan padamu? Katakan! Cepat katakan!” desak Diko sembari mengguncang kedua bahu Elin.


“Kamu nggak salah, Diko. Sama sekali Tidak. Akulah yang bersalah karena dengan egoisnya mengakhiri hubungan ini, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan sosok pilihan papiku. Jadi aku minta maaf, hubungan kita hanya sampai di sini,” jelas Elin sambil berurai air mata.


Bak disambar petir di siang bolong, hati Diko sungguh panas mendengar Elin akan dijodohkan dengan sosok pilihan papinya.


“Siapa lelaki itu?” tanya Diko dengan ekspresi dingin.


“Kamu tidak harus tahu siapa dia, dia bukanlah orang asing bagi kita berdua,” kata Elin mencoba menutupi.


“Siapa?!” desak Diko dengan suara nyaring.


“Dean.”


Tatapan dingin Diko kini mengarah ke Elin yang baru saja menyebut nama Dean. Teman sekelas mereka kala SMP dulu. Ia sangat terkejut mendengar pria yang dulunya miskin ternyata punya nyali untuk menikah dengan putri konglomerat seperti Elin.


Elin merasa bersalah sudah mengatakan itu, terlebih ini adalah perpisahan yang menyakitkan. Tapi biar bagaimanapun hubungan ini memang harus diakhiri sebelum ia benar-benar resmi menjadi istri Dean.


Elin menangis sejadi-jadinya di taman, apalagi di taman tidak terlalu ramai jadi ia tidak merasa malu menangis hingga sesegukan.


“Seandainya saja Dean tak pernah hadir di hadapan papi, pasti ini takkan pernah terjadi,” gumam Elin sambil mengepalkan kedua jari tangannya.


Setelah puas menumpahkan semua air matanya, Elin lantas memilih untuk pulang. Karena hari juga sudah petang dan langit sangat gelap menandakan akan turun hujan.


Elin lantas berjalan menuju ke arah halte yang berjarak kurang lebih satu kilometer di depan sana. Elin sengaja tidak mau diantar oleh supir karena ia tahu ia pasti akan menangis saat mengakhiri hubungannya dengan Diko.


Saat berpamitan pada Mami Meri tadi, ia mengatakan akan mengunjungi teman lamanya, Elin terpaksa berbohong agar mereka tak perlu merasa cemas bila Elin pulang sepetang ini.


Baru 200 meter berjalan, hujan turun sangat lebat tanpa aba-aba. Elin tak membawa payung ataupun jas hujan, badannya kini basah kuyub diterpa hujan yang turun sangat lebat sore ini.


Ia berjalan pelan untuk sampai ke halte yang jaraknya lumayan jauh dari sini, namun untuk kembali ke taman pun sama juga jauhnya, jadi Elin memilih untuk menerobos saja.


...*****...


Dean baru saja pulang dari kantor, sebelum benar-benar pulang menuju ke rumah ia hendak mengelilingi taman kota terlebih dahulu, tapi hujan membuatnya tidak bisa menikmati pemandangan taman kota sore ini, padahal setiap hari ia akan singgah dan melepas penatnya di taman ini.


Hujan lebat membuat Dean memilih untuk langsung pulang saja.


Dalam perjalanan pulang Dean melihat sosok Elin yang berjalan menerobos hujan, entah darimana Dean tidak tahu.


Dean lantas memperlambat kecepatan mobilnya dan berhenti tepat di depan Elin. Ia lantas keluar sambil membawa payung untuk menutupi tubuh Elin yang sudah basah kuyub akibat diterpa hujan.


“Kamu habis darimana? Kok hujan-hujanan begini?” tanya Dean sambil memegang payung tepat di atas kepala Elin, membuat Elin tersadar kini hujan tak lagi menerpa tubuhnya secara langsung.

__ADS_1


“Dean,” Kata Elin singkat.


“Iya aku, ayo masuk ke mobil,” ajak Dean sambil sebelah tangannya membuka pintu mobil, sedangkan tangan satunya memegang gagang payung untuk melindungi putri bossnya itu dari terpaan hujan.


“Nggak perlu!” Elin lantas kembali berjalan menerobos hujan meninggalkan Dean yang membukakan pintu mobil untuknya.


“Lho, kenapa?”


“Bukan urusanmu!”


“Nanti kamu sakit kalau hujan-hujanan begini,” Dean memaksa mengikuti Elin dan melindunginya dari hujan.


“Bukan urusanmu!”


“Ayo naik ke mobil!” paksa Dean sambil merampas lengan Elin menuju mobilnya yang berjarak sekitar 10 langkah dari posisi saat ini.


Elin cukup terkejut mendapati Dean berani menarik lengannya, tapi dengan keadaan kedinginan ia tidak bisa memberontak.


Mobil terbuka, Elin pun masuk ke dalam mobilnya. Dean lantas menyusul masuk dari seberang sana. Setelah berada di dalam mobilnya, Dean lantas mematikan AC dan mengambil sehelai handuk yang selalu ia bawa lalu di berikan pada Elin.


Ia tahu kalau Elin kedinginan, karena Elin terlihat menggigil. Padahal hujan baru sebentar tapi dengan intensitas yang sangat lebat membuat siapa saja yang menerobosnya akan cepat merasakan kedinginan.


“Kamu habis dari mana, El?” kembali Dean bertanya karena belum mendapat jawaban dari Elin.


Namun, pertanyaannya dianggap angin lalu oleh Elin. Elin mendengarnya tapi ia enggan menjawab dan lebih memilih mengacuhkan Dean.


Tak mendapati jawaban, Dean akhirnya memilih untuk diam. Berulangkali ia bertanya tak dijawab, kalaupun dijawab maka bukan jawaban yang ia terima.


Mobil pun berjalan membelah jalanan kota Jakarta sore ini. Akibat hujan lebat, tak banyak kendaraan yang melintas, karena banyak yang memilih untuk menghindar daripada harus menerobos.


Sesampainya di depan rumahnya, Elin langsung turun begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa, bahkan ucapan terima kasih tidak ia sampaikan pada Dean.


Dean pun berlalu dari sana dan segera memacu mobilnya untuk sampai ke rumah barunya.


Elin yang baru sampai di rumahnya hendak masuk ke kamar, tapi di ruang tamu ia langsung disambut Papi Yuda dan Mami Meri. Mereka merasa khawatir karena Elin tak kunjung pulang, bahkan semua teman-temannya pun sudah dihubungi tapi tak ada satupun yang tahu di mana Elin berada.


“Habis darimana, kamu?” tanya Pak Yuda.


“Aku habis dari rumah teman,” jawab Elin berdusta.


“Kok basah kuyub?” curiga Pak Yuda.


“Iya, soalnya tadi mobil teman Elin mogok jadi Elin bantuin dorong,” jelas Elin berdusta pada kedua orang tuanya.


Jawaban yang tidak masuk akal bagi Pak Yuda.


“Ada lagi yang ingin ditanyakan? Kalau tidak ada Elin mau ganti pakaian dulu.” Elin berjalan begitu saja tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.


“Tunggu dulu,” panggil Pak Yuda.


Elin lantas menghembus kasar nafasnya lalu membalikkan badannya, “Ada apa lagi, Papi?”


“Papi ingin bertanya tentang hal itu. Bagaimana? Kamu bersedia, kan?”


Mengingat itu, Elin kembali meradang. Permintaan papinya sangat berat.


Meskipun hubungannya dengan Diko sudah berakhir, bukan berarti ia akan menerima Dean saat itu juga, ia juga butuh waktu untuk memikirkan dan berbicara empat mata bersama Dean. Waktu seminggu juga belum sepenuhnya dijalani, jadi seharusnya papinya tak harus meminta jawaban secepat ini.


“Bagaimana? Bisa kan? Pokoknya harus bisa, jangan kecewakan papi.”


Beberapa hari ini Pak Yuda jadi sosok pemaksa, semua keinginannya seolah-olah tidak boleh ditolak dan dibantah oleh siapapun.

__ADS_1


Elin lantas menghembuskan nafas kasar saat buliran bening itu hendak mengalir, namun berusaha ia tahan agar papinya tak mengetahui kalau ia juga mengorbankan kebahagian dirinya sendiri.


“Papi tenang saja, Aku sudah memutuskannya,” kata Elin singkat kemudian meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu, sedang ia segera masuk ke kamarnya.


__ADS_2