
"Hei Dean! Siapa tuh? Cantik amat, bagi-bagi dong yang beginian," ujar Viktor salah seorang teman kantor Dean.
Dean tersenyum ramah pada rombongan teman kantornya itu. "Dia Elin, Putri Pak Yuda."
"Ha...?! Yang benar kamu Dean?" ujar Viktor takjub.
Dean menganggukkan kepalanya. "Iya benar."
Teman-teman kantor Dean berdecak kagum.
"Cantik banget sih, kamu. Kenalin aku Viktor," ujar Viktor memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
Elin lantas memperkenalkan dirinya sembari membalas uluran tangan Viktor dan beberapa temannya yang lain.
"Ini baru Putri bos, udah cantik, ramah pula," ujar Bram memuji Elin.
Pujian itu bukan tanpa alasan, Elin memang patut dipuji, biasanya anak seorang CEO sangat sombong ketika berhadapan dengan orang kecil, tapi tidak dengan Elin, gadis ini sangat ramah. Itulah yang membuat teman-teman Dean menaruh hormat pada Putri bos tempat mereka bekerja itu.
"Wow! hebat banget kamu Dean! pepetin anak CEO!" Viktor merasa takjub pada Dean sambil sedikit menggoda Dean.
"Wess... Pepetin anak bos dong," ujar Yuni yang juga Teman kantor Dean sambil tertawa takjub, sementara teman-teman yang lain juga turut terkagum.
"Ah, kalian ini, ada-ada saja. Dia temanku SMP dulu," jelas Dean sambil tersenyum.
Sementara Elin sudah dari tadi pipinya merona. Bila tadi karena pelayan restoran, kini teman-teman kantor Dean juga turut membuat ia semakin salah tingkah. Padahal dirinya dan Dean hanya sebatas teman.
"Bisa aja tuh Dean. 'Jodoh ku adalah teman SMP ku, dan juga putri dari bos ku', hahaha..." ujar Bram usil sambil tertawa lepas.
"Heh, ngomong hati-hati, dia putri Pak Yuda lho, entar kamu kaget karena dipecat," timpal Viktor mengingatkan temannya itu yang sering ceplas-ceplos saja kalau ngomong.
"Eh..., Elin maaf ya. Tadi maksudnya hanya bercanda," ujar Bram panik dan kedua tangannya mengatup minta maaf.
"Iya, nggak papa kok," balas Elin sambil tersenyum manis nan ramah.
"Mari!" ujar Dean, lantas berlalu menuju pelaminan Gino dan Lia yang berada tak jauh lagi dari sini.
"Ok, hati-hati bawa anak bos Dean. Nanti kalau tunangan jangan lupa ngundang kita, ya!" timpal Bram setelah Dean dan Elin membelakangi mereka.
Dean hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar kata-kata temannya itu. "Jangan didengar El, mereka memang hobi bercanda."
"Iya, nggak papa kok," ujar Elin sambil tersenyum.
"Ihh..., mulutmu itu lho, kayaknya pengen dimasukin cabe rawit semangkok kali, usil banget dah," ujar Yuni pada Bram.
"Iya deh iya," Bram memanyunkan bibirnya.
Sesampainya di pelaminan Gino dan Lia, Dean mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru itu yang tak lain kini sudah menjadi sahabatnya. Elin juga melakukan hal yang sama.
"Selamat, Bro." Dean mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan selamat pada Gino.
"Terima kasih sudah datang, Dean." Kata Gino sembari membalas uluran tangan Dean.
Sorot mata Dean kini beralih pada Lia yang sedari tadi memusatkan pandangannya pada Dean dan Gino saat mereka bersalaman. Bibirnya membentuk seulas senyum tulus.
"Lia, selamat menempuh hidup baru, ya," ucap Dean sambil mengulurkan tangannya pada Lia.
"Terima kasih sudah datang, Dean." ucap Lia tulus.
Dean tersenyum senang memperhatikan raut kebahagiaan yang terpancar, baik itu dari wajah Gino maupun wajah Lia.
"Kak Lia! Selamat yah. Akhirnya kakakku ini menikah juga. Aku senang banget," ujar Elin sambil memeluk dan menyandingkan pipinya ke pipi Lia.
"Terima kasih Elin karena sudah datang. Kakak kirain kamu ga bisa datang," ujar Lia sembari mencolek hidung Elin dengan gemas.
__ADS_1
"Datang dong!" Ucap Elin sumringah.
Mereka kemudian mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama. Sebenarnya Elin ingin berfoto bersama dengan kedua orang tua nya juga, tapi keberadaan mami dan papi nya entah dimana. Mereka menghilang dalam sekejap, sampai sekarang tak terlihat keberadaannya.
Setelah mengucapkan selamat kepada Lia dan Gino, Dean dan Elin berjalan ke salah satu meja untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan.
Lia sejenak terlihat melamun.
"Terima kasih, Dean. Kamu mengajarkan aku bagaimana caranya menghargai yang datang, bukan sibuk untuk meminta dan mengejar yang belum pasti. Terima kasih juga karena sudah mengingatkan aku untuk menerima yang datang dengan tulus, tanpa sibuk mengejar yang pupus. Sejak hari itu aku mengerti bahwa dicintai lebih menyenangkan daripada mencintai. Kamu sudah mengajarkan aku banyak hal, terutama dalam hal mencintai. Ku harap perjalanan cintamu kelak berjalan manis dengan orang yang kau inginkan," ujar Lia dalam hati.
"Sayang, kok melamun? Kamu kenapa?" ujar Gino membuyarkan lamunan Lia.
"Ha..., Nggak kenapa-napa kok," ujar Lia sembari tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke pundak Gino, lelaki yang kini sudah mendapat tempat di hatinya.
Suara merdu artis ibukota yang membawakan sebuah lagu romantis berjudul 'Melepas Lajang' yang di populerkan oleh Arvian Dwi baru-baru ini sukses membuat suasana menjadi hidup di momen yang sangat tepat seperti ini.
Mungkin sudah saatnya
Kan ku akhiri masa kesendirian
Terimalah diriku
Mungkin saat ini
Ku akan melepas masa lajang ku
Kan ku persunting dirimu
Jadilah pasanganku
Dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
Mungkin sudah saatnya
Kan ku akhiri masa kesendirian
Terimalah cintaku
Mungkin saat ini
Ku akan melepas masa lajang ku
Kan ku persunting dirimu
Jadilah pasanganku
Dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
Mungkin saat ini
Ku akan melepas masa lajang ku
Kan ku persunting dirimu
Jadilah pasanganku
Dan hidup menua bersamaku
Mungkin saat ini
__ADS_1
Ku akan melepas masa lajang ku
Kan ku persunting dirimu
Jadilah pasanganku
Dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
Sorak Sorai dari tamu undangan terdengar riuh kala suara merdu artis itu memulai melantunkan Lirik-lirik lagu yang penuh arti tersebut. Apalagi di momen yang sangat pas seperti ini.
...*****...
"Aduhh...! Kok papah sampai sakit perut segala sih," ujar Mami Meri kesal pada suaminya itu.
Padahal baru kurang lebih lima belas menit mereka menghadiri acara resepsi pernikahan Gino dan Lia. Setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai, Pak Yuda lantas meminta untuk diantar ke klinik terdekat, karena perutnya terasa tidak enakan. Mami Meri merungut kesal, tapi mau gimana lagi, daripada suaminya itu kesakitan, jadi lebih baik ia segera mengantar sang suami ke klinik.
Setelah selesai berobat keduanya lantas masuk ke taksi yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Mami Meri pada suaminya itu.
"Sudah sangat enak," ujar Pak Yuda sambil melebarkan senyumannya.
"Berarti kalau mau bepergian itu makan dulu sedikit, biar nggak masuk angin!" Cecar Mami Meri.
"Kan kita mau kondangan, masa iya makan dulu dirumah." Pak Yuda berusaha membela dirinya.
"Daripada kayak gini!" Cetus Mami Meri.
"Mamah kecewa banget ya?" tanya Pak Yuda pada istrinya yang mulutnya terlihat manyun.
"Iyalah, udah dandan cantik-cantik gini mau kondangan, malah pergi ke klinik," keluh Mami Meri.
"Iya deh, Papah minta maaf." Ujar Pak Yuda. "Jadi, kita kembali ke hotel atau langsung pulang nih?" Sambungnya.
"Pulang aja deh," ujar Mami Meri singkat.
"Uluh-uluh, istriku yang cantik ini marah," goda Pak Yuda, sambil memandang gemas istrinya itu.
Mami Meri semakin kesal pada suaminya itu. Hari ini suaminya yang tak lagi muda itu tiba-tiba jadi bucin akut, serta tak memperhatikan situasi dan kondisi kalau mau bermesraan. Seperti anak muda saja, wkwkwk.
"Kabarin Dean dan Elin," ujar Mami Meri.
"Baiklah, sayang," ucap Pak Yuda gemas.
Sumpah demi apapun Mami Meri rasanya ingin tertawa selepas-lepasnya memperhatikan tingkah suaminya itu. Makin tua semakin menjadi saja kelakuannya. Meskipun begitu, tak sedikitpun mengurangi rasa cintanya pada lelaki yang hampir 30 tahun ini mengisi hari-harinya. Suka duka sudah dilewati bersama, kehidupan yang bahagia juga sudah ia dapatkan dari sang suami tercinta.
...*****...
Setelah mendapat kabar dari Papinya, Elin merungut kesal karena tidak dikabari sedari tadi, kini ia ditinggalkan, memang sih bersama dengan Dean, tapi tetap saja ia merasa ditinggalkan oleh mami dan papinya.
"Elin, ayo kita pulang!" ajak Dean.
"Ayo!" Ujar Elin.
Dean dan Elin lantas meninggalkan hotel tempat resepsi pernikahan Lia dan Gino. Mobil yang dikendarai oleh Dean melaju tanpa hambatan, karena waktu juga sudah menunjukan pukul sebelas malam, jadi volume kendaraan juga sudah berkurang.
"Kok diam aja, sih?" tanya Dean penasaran, karena Elin sedari tadi hanya diam.
"Nggak papa, kok." Ujar Elin singkat.
Entah apa yang ada di pikiran Elin, Dean tak pandai menebak, sepertinya ada sesuatu, namun Dean enggan membuka mulutnya untuk bertanya, mungkin saja itu masalah pribadi. Mobil Dean terus melesat dengan leluasa membelah jalan di tengah kota untuk mengantar putri bosnya itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Pak Yuda, Dean lantas berpamitan setelah menurunkan Elin disana. Malam kian larut, meskipun besok hari libur, Dean tetap memperhatikan kualitas tidurnya, dan tak mau tidur terlalu larut malam agar tubuhnya tak mudah terserang penyakit.