
Hari demi hari berlalu, hubungan antara Lia dan Dean sedang tidak baik-baik saja. Lia sekarang lebih senang mengabaikan Dean.
Lia juga lebih sering bersama dengan Gino. Laki-laki yang di bencinya itu kini malah lebih sering bersama dengan dirinya.
Dean tidak tau apakah Lia benar-benar tak lagi membenci Gino, atau mungkin Lia hanya berusaha membuat Dean tersadar akan perasaannya selama ini. Dean hanya merindukan pertemanan antara dirinya dan Lia yang dulu, saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama, dan tak jarang mereka membahas hal-hal yang tidak masuk akal. Sungguh Dean merindukan itu.
...*****...
Hari ini, Pak Yuda, Dean dan Lia menghadiri meeting di sebuah hotel bersama para petinggi perusahaan lainnya dalam membahas kerjasama dalam peningkatan pemasaran produk unggulan dalam negeri.
Setelah meeting berakhir, Dean, Lia dan Pak Yuda langsung Pulang. Karena meeting selesai sudah sore sekali, jadi Dean langsung mengantar mereka pulang ke rumah nya masing- masing.
Setelah mengantar Pak Yuda, Dean mengantar Lia. Dalam perjalanan pulang pun tidak banyak percakapan diantara Lia dan Dean, Lia hanya menjawab pertanyaan Dean dengan secukupnya. Ia bahkan enggan menatap Dean kala Dean berbicara padanya.
Lia menyadari perubahan sikap dirinya pada Dean. Ia tau sikapnya dengan mengabaikan Dean bukanlah perilaku orang dewasa dalam menyelesaikan masalah. Namun, tentu saja Lia punya alasan di balik sikapnya pada Dean. Ia tidak bisa berbuat manis terhadap Dean karena ia butuh niat yang kuat dalam melupakan perasaan nya pada Dean. Bila tidak, ia akan gagal dalam melupakan Dean.
Move on adalah hal tersulit yang dirasakan setiap insan yang pernah merasakan cinta, apalagi orang itu sudah lama sekali bersemayam di dalam hati, maka akan Sulit sekali melupakannya. Jika dengan mudahnya kita bisa melupakan seseorang, berarti saat itu kita tidak benar-benar mencintai nya.
Setelah mengantar Lia, Dean lantas segera bertolak menuju apartemen nya. Sesampainya di parkiran apartemen, Dean hendak turun. Namun, hal serupa terjadi lagi. Kejadian beberapa waktu yang lalu terulang lagi, Lia kembali meninggalkan sebuah maap di mobil Dean. Dean Buru-buru mengambilnya dan membuka isinya, mengira ada surat pribadi Lia didalamnya. Setelah di buka, Dean hanya menemukan beberapa surat menyurat yang berkaitan dengan kerja sama dengan perusahaan lain. Kali ini tidak ada ungkapan perasaan yang Dean temukan didalam maap itu. Dean lantas membawa maap itu ke kamar apartemen nya.
...*****...
Hiruk pikuk suasana kota menemani Dean malam ini. Ia terduduk didepan jendela kamar apartemennya dan mengamati bintang-bintang yang bertaburan di angkasa sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatnya tadi.
Dalam lamunannya, ia kembali teringat akan Lia. Perubahan sikap Lia padanya membuat Dean merasa hari-harinya terasa sepi. Lia yang biasanya bagai burung Murai dengan kicauan yang ramai kini berubah bak malam yang sunyi dan sepi. Lia tak banyak bicara seperti waktu itu, Lia sekarang berubah.
POV Dean
Aku tidak mengerti mengapa kau bisa sejahat itu padaku, Lia. Sekarang, aku merasa kau bukanlah Lia yang ku kenal selama ini. Lia yang aku kenal orangnya ramah, baik, sedikit cerewet, dan tentu saja perhatian. Meskipun terkadang perhatian nya terkesan berlebihan, tapi aku bisa menghargai nya. Sungguh aku rindu akan hal itu, Lia.
Perubahan sikap mu terjadi setelah kau tidak masuk selama tiga hari waktu itu. Apa yang sudah terjadi, Lia? Apakah pada saat itu aku melakukan kesalahan padamu? Kuharap kau bisa membicarakannya padaku, agar aku tau dimana letak kesalahan ku.
Waktu dirumah makan pada saat itu, kau mulai menghindari ku. Dan Disitulah cikal bakal kau menjauhiku. Pada saat itu aku sedang berbicara pada Gino, orang yang sangat kau benci itu. Mendengar kata-kata ku, kau langsung pergi, apakah kata-kataku yang mengatakan bahwa aku tak punya perasaan padamu membuat mu terluka?
Apa mungkin surat cinta yang ada didalam maap kuning waktu itu adalah surat yang kau tujukan kepadaku? Apa kau benar-benar mencintai ku? Jika demikian aku minta maaf, Lia. Aku tidak bisa memintamu menunggu terlalu lama, aku tidak bisa membiarkan perasaan mu tergantung dengan ketidakpastian.
Sebetulnya aku menyadari perhatian mu selama ini, hanya saja aku tak mau terlalu berharap jika kau menyukai ku, aku juga tidak mau memberikan harapan padamu, karena mimpi ku harus ku capai, dan bukan waktu yang sebentar untuk mencapai semua mimpiku. Oleh karena itu, aku tidak mau membuatmu terlalu lama menunggu ku yang tanpa kepastian.
Itulah mengapa kubiarkan saja perasaan mu padaku tanpa ku hiraukan sedikitpun. Sekali lagi aku minta maaf, Lia. Bukan maksud hati ku untuk melukaimu. Namun, persahabatan kita akan lebih baik jika tidak dinodai dengan perasaan cinta.
Sementara itu, Lia terduduk di kursi halaman belakang rumah nya sambil menatap bintang-bintang di angkasa ditengah gemerlap malam sambil termenung.
POV Lia
Indahnya langit malam dihiasi bintang- bintang tentu sangat indah, terlebih lagi bila dapat ku saksikan bersama mu. Merupakan hal yang selalu ku impikan selama ini, tak terkecuali untuk hari ini.
__ADS_1
Disini aku terduduk dalam kesendirian sambil mengharapkan keajaiban yang datang jika kau akan mengerti dan menyadari perasaan ku selama ini padamu.
Aku sudah menyukai mu sejak pertama kali melihat mu, dan seiring berjalannya waktu, aku jatuh hati padamu. Aku tidak tahu pasti sejak kapan cinta itu hadir, yang aku tahu aku merasa nyaman berada di dekatmu.
Hari-hariku terasa menggembirakan bila berada di dekatmu, dan aku merasa sangat aman bila bersama mu.
Namun, yang aku rasakan tidaklah sama dengan yang kau rasakan. Aku menaruh rasa padamu, tapi kau tidak menaruh rasa sedikitpun padaku. Lalu apa artinya kedekatan kita selama ini?
Dari situlah aku tersadar, bahwa ketika kita mencintai seseorang, bukan berarti dia juga mencintai kita. Terkadang pengharapan yang berlebihan membuat seseorang bisa terluka dengan begitu hebatnya. Oleh karena itu aku akan berhenti berharap padamu.
Aku Menyadari perubahan sikap ku padamu, aku mengabaikan mu, aku mengacuhkan mu, dan aku tak perduli lagi tentang mu. Tapi sesungguhnya aku tidak bisa, nama mu sudah terlanjur menyelam kedalam lubuk hati ini.
Tidak mudah bagiku untuk melupakan mu, karena aku mencintaimu bukan sekedar menyukai mu.
...*****...
"Lia!" Suara Mama Susi memanggil dengan lembut Lia yang sedang duduk di taman belakang.
"Mamah!" Lia tersenyum lebar melihat Mama Susi berjalan ke arahnya.
"Sayang, kenapa berada di luar? Ini udah malam loh," ujar Mama Susi sambil merangkul putri bungsunya itu.
"Lia sedang melihat bintang-bintang yang bertaburan di angkasa,Mah. Indah banget!" ucap Lia sambil tersenyum takjub dan telunjuknya mengarah ke taburan bintang-bintang yang menghiasi langit malam kota Jakarta.
"Iya, Mah. Bintang-bintang itu indah sekali, tapi sayang Lia tidak bisa menggapai nya. Seandainya saja ada yang menjual tiket untuk pergi ke bintang-bintang di angkasa, Lia pasti akan beli, berapa pun harganya." Lia tertawa kecil sambil merangkul lengan ibunya.
"Lia mau ninggalin Mamah sama Papah sendirian?" Mama Susi terlihat panik mendengar kata-kata Lia, meskipun dirinya tahu jika Lia hanya bercanda.
"Iya," ucap Lia singkat sambil tertawa lebar melihat wajah panik Mama Susi.
Mamah Susi terlihat cemberut ke arah Lia yang tertawa lebar.
"Lia hanya bercanda Mamah, selama ini Lia tidak pernah jauh dari kalian. Jadi, bagaimana mungkin Lia bisa jauh dari kalian, kita akan selalu bersama Mah," ujar Lia sambil memeluk dengan erat ibunya.
Mamah Susi pun membalas pelukan Lia. "Ya sudah, ayo kita masuk ke rumah, angin malam itu tidak baik bagi kesehatan."
"Baiklah, Mah." Lia menuruti perkataan Mamah Susi, dan berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
*Keesokan harinya
Sebuah mobil putih terlihat berhenti di halaman rumah Lia. Mobil itu di bawa oleh Dean. Ya, Dean mengunjungi rumah Lia untuk mengantar maap yang tertinggal di mobilnya kemarin.
Dean sengaja mengantar maap itu hari ini, karena besok dia akan berangkat ke luar kota untuk menemani Pak Yuda dalam melakukan perjalanan bisnis selama 3 hari mendatang.
Sesampainya didepan pintu, Dean mengetuk pintu yang sedikit terbuka, tapi tidak terlihat seorang pun di rumah itu. Sekali lagi Dean mengucap permisi, dan kali ini tuan rumah langsung menyambut kedatangan Dean.
__ADS_1
"Eh..., Dean. Silahkan masuk." Mama Susi mempersilahkan Dean untuk masuk ke rumahnya.
"Terima kasih, Tante." Dean tersenyum ramah ke arah Mamah Susi.
"Tumben kamu kesini. Kalau Tante boleh tau, ada apa, ya?" tanya Mama Susi dengan sedikit penasaran.
"Ah, enggak kok Tante. Dean cuman mau mengembalikan maap Lia yang tertinggal di mobil Dean kemarin." ujar Dean sambil tersenyum ramah.
"Oh, Lia memang terkadang suka ceroboh Dean." Mama Susi membuka aib Lia didepan Dean sambil tertawa kecil.
Dean hanya tersenyum mendengar ucapan Mama Susi. Sesekali kepalanya melirik ke setiap arah mencari sosok Lia.
"Lia kemana, Tante?" tanya Dean dengan penasaran.
"Lia baru saja pergi sama Gino, sekitar 10 menit yang lalu," ujar Mama Susi.
Dean terdiam dan sedikit melamun mendengar ucapan Mama Susi barusan, Lia berarti memang sudah berbaikan dengan Gino, pikir Dean.
Mama Susi menyadari dan melihat Dean yang melamun. Ia tahu kalau Dean sedang memikirkan keselamatan Lia yang pergi bersama dengan Gino. Ia juga tahu kalau hubungan pertemanan antara Dean dan Lia sedang tidak baik, karena Lia sempat menceritakan nya beberapa waktu yang lalu.
"Dean, kenapa melamun?" Telusur Mama Susi.
"Ah, enggak kok, Tante," ujar Dean sambil tersenyum simpul.
"Dean, jangan sembunyikan dari Tante." Mama Susi menebak apa isi pikiran Dean.
Dean yang ternyata memang sedang memikirkan Lia tidak dapat mengelak lagi, karena tebakan Mama Susi tepat sasaran, jadi tidak ada celah bagi Dean untuk mengelak lagi.
Dean menghela dengan kasar napasnya. "Dean merasa khawatir kalau Lia bepergian dengan Gino, Tante. Dean takut Gino mencelakai Lia." Tanpa basa-basi Dean langsung mengeluarkan unek-unek didalam pikiran nya.
Mendengar perkataan Dean, Mama Susi tersenyum tenang. "Kamu tidak usah khawatir pada Gino, dia lelaki yang baik," ucap Mama Susi meyakinkan Dean.
"Bagaimana Tante tahu kalau Gino lelaki yang baik?" Dean langsung mengarahkan matanya ke arah Mama Susi karena barusan mengatakan kalau Gino adalah lelaki yang baik.
"Panjang ceritanya Dean, apa kau mau mendengar ceritanya?" tanya Mama Susi.
"Mau, Tante." Dean mengangguk kan kepalanya karena merasa penasaran akan baiknya Gino sesuai perkataan Mama Susi, padahal yang Dean tau Gino adalah sosok yang suka mengganggu.
"Baiklah, Gino adalah anak yang sangat baik, dulu...
Bersambung...
Hallo readers, nantikan chapter berikut, ya😁.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kalian terhadap karya author ini ya...
__ADS_1