
Mobil Dean sudah terlihat terparkir di halaman depan rumah Pak Yuda. Sepuluh menit yang lalu ia sudah sampai untuk menjemput Pak Yuda dan keluarga nya.
"Ayo Mah, Dean sudah lama menunggu kita," teriak Pak Yuda dari ruang tamu.
"Iya, sebentar," ujar Mami Meri dari dalam kamar sambil mengemas peralatan make up yang baru saja di pakainya.
Setelah selesai mengemasi peralatan make up, Mami Meri lantas menuju kamar Elin yang berada di sebelah kamar mereka.
"Sayang... apa kamu sudah selesai berdandan?" ujar Mami Meri sambil mengetuk pintu kamar Elin.
"Iya Mah, tunggu sebentar," ujar Elin dari dalam kamarnya.
Kreeett, pintu kamar Elin pun di buka. "Mami menunggu Elin?" ujar Elin mendapati Mami nya tak beranjak dari sana.
Mami Meri sejenak memperhatikan wajah cantik putrinya itu yang sudah masuk usia dewasa. "Iya Sayang, Mami nunggu Kamu," ujarnya, "kamu cantik sekali malam ini, Nak."
"Ah... Mami bisa aja," ujar Elin sambil tersenyum malu-malu karena di puji Mami nya barusan.
"Sayang... kenapa kamu suka sekali memakai selendang ini?" ujar Mami Meri sambil mengusap dengan lembut selendang biru muda yang dikenakan Elin untuk menutupi lehernya yang jenjang itu.
"Mami... Elin sangat menyayangi selendang ini layaknya menyayangi Kak Rangga, dan Elin ingat betul ketika Kak Rangga memberikannya pada Elin," ujar Elin lirih sambil menatap wajah sendu Mami nya yang sedang melamun.
"Mami??" tegur Elin pada Mami nya.
"Ehh... ayo kita berangkat Sayang, Papi mu dan Dean sudah lama menunggu kita," ujar Mami Meri setelah tersadar dari lamunannya.
Keduanya lantas turun ke ruang tamu untuk menyusul Pak Yuda dan Dean yang sudah menunggu dari tadi.
"Ayo kita berangkat!" ujar Mami Meri kala mereka sudah tiba di ruang tamu.
Dean dan Pak Yuda lantas mengalihkan pandangannya kearah Mami Meri dan Elin. Dean begitu terkagum melihat kecantikan Elin dan Mami nya, mereka terlihat seperti kakak dan adik.
Elin yang mengenakan dress selutut berwarna cream terlihat sangat cantik malam ini. Wajahnya dipoles dengan make up tipis dan rambutnya dibiarkan terurai dengan selendang biru muda yang membalut lehernya. Ia terlihat sangat menawan dengan tampilan seperti ini.
Sedangkan Mami Meri terlihat awet muda, mengenakan long dress berwarna ungu yang menjadi warna favoritnya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ujar Pak Yuda.
Kemudian mereka bertolak dari kediaman Pak Yuda menuju restoran ternama di Kota Jakarta.
"Papi, kita mau makan dimana?" tanya Elin pada Papi nya.
__ADS_1
"Kita akan makan di restoran biasanya, Sayang," ujar Pak Yuda sambil melirik ke arah Elin yang duduk di kursi belakang.
"Yah... Elin kirain kita akan makan ke restoran nya Om Raymond, dia kan baru saja membuka restoran baru," ujar Elin sedikit kecewa.
"Lain kali saja, Sayang. Soalnya restoran Om Raymond kan lumayan Jauh, jadi kita tunda dulu, ya," bujuk Pak Yuda pada Elin.
"Baiklah Papi." Elin hanya pasrah mengikuti keinginan Papi nya.
Sesampainya di restoran, mereka lantas menempati kursi di sudut ruangan. Pak Yuda dan Mami Meri duduk saling berhadapan sedangkan Dean dan Elin juga saling berhadapan.
Sesekali Dean mencuri pandang memperhatikan wajah cantik Elin yang ada di hadapan nya. Namun, Elin tidak menyadarinya.
Setelah menu makan malam yang di pesan mereka tiba, mereka segera menyantapnya. Mereka bak Sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri serta kedua putra dan putrinya. Padahal, salah satu diantara mereka tidak memiliki hubungan darah , yaitu Dean. Meskipun begitu, Dean sudah di anggap seperti anak sendiri oleh Pak Yuda dan Mami Meri.
Setelah menyantap hidangan makan malamnya, mereka lantas duduk santai terlebih dahulu menikmati suasana restoran yang mereka kunjungi saat ini.
"Elin!" sapa seorang pria sambil memegang pundak Elin.
Elin lantas melirik pada pria itu, begitu juga dengan Pak Yuda, Mami Meri dan Dean.
"Anda siapa, ya?" ujar Elin penuh tanya pada pria yang baru saja menyapa nya.
"Astaga Diko!" ujar Elin dengan kagum kemudian bangkit dari duduknya.
Diko tersenyum manis dan memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
"Kamu dengan siapa ke sini?" tanya Elin sambil tersenyum ramah pada Diko.
"Aku kesini dengan keluarga ku, kami baru saja selesai makan malam," kata Diko.
"Oh, begitu ya," ujar Elin sambil mengangguk.
"Kalau kamu sendiri sama siapa ke sini?" Balik Diko yang bertanya.
"Aku sama orang tua ku, kita juga baru saja selesai makan malam," ujar Elin sambil tersenyum.
"Om, Tante," sapa Diko dengan ramah pada orang tua Elin.
Mami Meri menyambut dengan ramah sapaan Diko, sedangkan Pak Yuda memandang tak sedap pada Diko.
Diko kemudian melirik ke arah Dean, sepertinya dia baru melihat Dean, karena seperti yang ia ketahui Elin adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan KUSUMA CORP.
__ADS_1
"Elin, dia siapa?" tanya Diko dengan penasaran sambil mengarahkan telunjuknya pada Dean.
"Oh... dia teman SMP ku dulu, namanya Dean , sekarang dia menjadi Asisten Papi Ku," ujar Elin dengan santai.
"Kamu kapan pulang ke Indonesia?" tanya Elin pada Diko.
"Dua Minggu yang lalu aku baru saja tiba di Indonesia," ujar Diko dengan santai.
"Oh gitu ya, ngomong-ngomong gimana rasanya kuliah diluar negeri, Dik?" tanya Elin dengan akrab pada Diko.
"Ya begitulah, ada suka dan ada dukanya, tapi yang jelas kuliah di luar negeri lebih enak daripada kuliah di Indonesia," ujar Diko dengan percaya diri.
Elin dan Diko terlihat asik sekali berbicara berdua, sesekali mereka juga mengajak Pak Yuda dan Mami Meri untuk ikut berbicara. Sedangkan Dean, ia hanya menjadi pendengar saja. Lantaran ilmunya masih sedikit sekali, dan tidak ada yang perlu dibicarakan olehnya. Namun, Pak Yuda tetap mengajaknya untuk berbicara di luar topik pembicaraan Elin dan Diko.
Pak Yuda terlihat tidak menyukai Diko. Dari tutur kata dan gaya bahasanya, Diko sangat menyombongkan dirinya karena kuliah di luar negeri.
"Elin ayo kita pulang, Sayang!" ujar Pak Yuda dengan nada serius tapi lembut.
"Nanti Papi, aku masih ingin mengobrol dengan Diko," ujar Elin memelas.
"Tapi ini sudah larut, Nak. Besok baru kamu lanjutkan lagi ya," pinta Pak Yuda.
"Iya El, pulang lah, kalau ada waktu kita bisa berjumpa lagi di lain hari. Aku juga masih lama kok di Indonesia," ujar Diko mencoba mengerti maksud Pak Yuda tadi.
"Baiklah, sebenarnya aku masih kepengen mengobrol sama kamu," ujar Elin penuh harap.
"Dilain waktu saja," ujar Diko.
"Oh iya, save nomor ponselku El!" perintah Diko pada Elin.
"Baiklah Dik," kata Elin singkat.
Setelah bertukar nomor ponsel dengan Elin dan berpamitan pada Pak Yuda, Mami Meri dan Dean, Diko lantas berlalu dari sana menuju rombongan keluarga nya.
Pak Yuda, Mami Meri , Elin dan Dean pun berlalu dari restoran tersebut dan pulang ke rumah, setelah membayar makan malam tadi. Dalam perjalanan pulang, Pak Yuda sedikit mengintrogasi Elin mengenai Diko.
Berdasarkan informasi yang diberikan Elin, pria itu bernama Sardiko, ia merupakan teman Elin ketika SMA dulu. Dia adalah anak pengusaha batu bara dan sedang kuliah di Amerika.
Diko adalah anak yang sangat pintar dan berprestasi, oleh sebab itu orang tuanya mengirim dirinya kuliah ke luar negeri untuk mencari ilmu lebih jauh Disana.
Tapi sayangnya, Pak Yuda sangat tidak tertarik dengan latar belakang pendidikan Diko, apalagi tadi Diko sempat memegahkan diri di hadapannya, hal itu membuat pak Yuda jadi hilang respect dengannya.
__ADS_1