Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Kepada Siapa Surat Itu Tertuju? (Dean)


__ADS_3

Malam kian larut, tetapi Dean belum bisa memejamkan matanya. Ia lantas beranjak dari kasurnya dan mengambil sebuah buku lalu membacanya di dekat jendela kamar sambil menatap suasana kota yang tak pernah sepi meskipun malam kian meninggi.


Ia duduk termenung dan mengabaikan buku yang diambilnya barusan, setelah membaca selembar dua lembar halaman di buku itu. Ia kembali teringat akan surat yang dibacanya beberapa jam yang lalu. Dalam hatinya terus bertanya siapakah yang menulis surat itu? Lalu pada siapa surat itu tertuju?


Hal yang Dean takutkan adalah jika surat itu milik Lia dan tulisan itu di tujukan untuk dirinya. Jika hal itu benar adanya, Dean takut akan melukai dan mengecewakan perasaan Lia, pasalnya Dean tak pernah menganggap Lia lebih dari sahabatnya.


Dean sangat menyadari bahwa hubungan pertemanan dan persahabatan antara seorang pria dan wanita yang langgeng itu adalah hubungan yang tidak pernah melibatkan perasaan di dalamnya.


Jika suatu hubungan persahabatan sudah dicemari dengan perasaan, maka bersiap-siaplah untuk bubar, karena hubungan persahabatan itu akan segera berakhir.


"Huh... Mudah-mudahan saja itu bukan tulisan Lia," gumam Dean sambil menghela panjang nafasnya.


*****


Sementara di kediaman nya, Lia terlihat gelisah. Di kasur kamarnya, Ia berulang kali kesana kemari memutar badannya untuk mencari posisi tidur yang paling nyaman. Namun, ia tak kunjung menemukan posisi ternyaman untuk mengistirahatkan raga nya yang letih itu.


Ia lantas beranjak dari pembaringan menuju meja belajar yang terletak di sudut kamarnya. Ia hendak mempersiapkan perlengkapan untuk di bawa ke kantor besok. Namun, ia tak kunjung menemukan maap kuning yang di cari-carinya sedari tadi.


"Dimana, ya? Kok nggak ada sih, apa mungkin tertinggal di Hotel atau Restoran kemarin, ya?" gumam Lia dengan kebingungan sambil terus membuka pintu lemari satu persatu.


Karena tak kunjung menemukan maap kuning itu, Lia lantas duduk di kursi untuk mengingat kembali dimana ia meninggalkan maap kuning berisi data-data kantor itu.


"Aduh... itu kan data-data penting perusahaan, bisa di pecat aku kalau data-data itu sampai hilang," ujar Lia dengan panik sambil memukul-mukul pelan keningnya.


"Dimana, ya? Perasaan kemarin sehabis meeting sudah ku bawa dan aku letakan di mobil, lalu kita makan siang. Sehabis makan siang kita langsung pulang, tidak ada kemana-mana lagi," ujar Lia masih diselimuti kepanikan nya sambil terus berusaha mengingat keberadaan maap kuning itu.


"Astaga!! Di mobil Dean, pasti ada disana," ujar Lia terperangah.


"Oh iya, kemarin kan ketika Dean memintaku untuk pindah kedepan, maap itu aku tinggal di kursi belakang. Baiklah, besok aku akan menanyakannya langsung pada Dean," gumam Lia dengan lega.


Baru saja beranjak dari duduknya dan hendak kembali ke kasurnya, Lia berteriak histeris mengingat dalam maap itu ada curahan hatinya pada seseorang yang tak lain adalah Dean.

__ADS_1


"Aakhh!! Astaga di situ kan ada...." Lia tak menyelesaikan kata-katanya.


Beruntunglah semua orang sudah tertidur pulas, sehingga tidak ada satupun yang mendengar dirinya berteriak tengah malam begini.


"Aduh, gimana ini? Gimana kalau Dean sampai membacanya," ujar Lia dengan panik sambil terus mondar-mandir tak jelas.


"Apa aku telepon saja ya?" tanya Lia pada dirinya sendiri sambil menggigit jarinya.


Ia lantas bergegas mengambil ponselnya di atas nakas, begitu hendak menelpon ia tak melanjutkan niatnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.


"Dean pasti sudah istirahat, masa iya aku ganggu waktunya," ujar Lia dengan putus asa.


Lia terus merangai, ia begitu khawatir jika surat yang di tulis nya itu di baca oleh Dean. Meskipun sebenarnya ia ingin Dean menyadari perasaan dirinya terhadap Dean selama ini.


Karena tak kunjung mendapatkan solusi, akhirnya Lia memilih kembali ke kasurnya untuk beristirahat dan menjauhkan overthinking dari pikirannya.


Siapa yang menyangka, jika gadis cantik dan cerdas itu begitu mudahnya di perbudak oleh cinta.


...~Dominikus Dewanda~...


*Keesokan harinya


Derap langkah kaki seorang wanita terlihat terburu-buru melangkah menuju ruangan Dean, siapa lagi kalau bukan Lia.


Ia begitu khawatir akan keberadaan maap kuning itu, bukan hanya data-data kantor saja yang ia khawatir kan, tetapi juga surat cintanya itu.


Begitu bangun tidur, ia bergegas mandi dan sarapan, lalu segera berangkat agar bisa datang lebih awal ke kantor untuk menemui Dean. Namun, ia datang terlalu pagi, baru ada cleaning servis yang datang untuk membersihkan kantor.


"Nona Lia, cepet banget datang nya Non," ujar salah seorang cleaning servis disana.


"Iya Pak, hari ini saya sedang banyak kerjaan, jadi datangnya lebih awal," ujar Lia dengan ramah sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


Ia terpaksa berbohong untuk menutupi kebodohannya itu. Ia lantas berjalan menuju meja kerjanya yang berada tak jauh dari sana. Dirinya tiada henti merungut kesal karena kebodohan dan kelalaiannya.


Setengah jam kemudian, suasana kantor sudah lumayan ramai. Sudah banyak karyawan yang berdatangan. Namun, Dean belum juga kelihatan batang hidungnya.


Derap kaki seorang pria berjalan menuju ke arah lia. Lia mengira itu adalah Pak Yuda atau Dean yang baru saja tiba di kantor. Namun, dirinya di buat terkejut karena yang datang itu bukanlah Dean ataupun Pak Yuda, melainkan Gino, orang yang sangat ia benci.


Lia memutar bola matanya, ia malas sekali jika Gino menghampiri dirinya, apalagi mengajak nya berbicara.


"Hai Lia, apa Pak Yuda sudah datang?" tanya Gino dengan ramah saat ia sudah sampai di hadapan meja kerja Lia.


Namun, yang ditanya tak melihat ke arah dirinya. Jangankan untuk merespon pertanyaan nya, melihat saja Lia tak mau. Tentu saja Gino merasa tak di hormati. Padahal, ia ke sini bukan untuk sekedar berbasa-basi, melainkan ada hal yang perlu di bahas nya bersama pemilik KUSUMA corp itu.


"Lia! Tolong jawab pertanyaan ku, aku kesini bukan untuk bermain-main, aku kesini untuk membahas kepentingan perusahaan, jadi tolong hargai aku!" ujar Gino dengan sedikit emosi mendapati perlakuan Lia terhadapnya.


Lia menatap datar wajah Gino yang kini berdiri dihadapannya.


"Pak Yuda belum datang, setengah jam lagi silahkan anda datang kemari," ujar Lia dengan nada datar dan ketus sambil mengalihkan perhatiannya pada Dean yang baru saja tiba dan hendak masuk ke ruang kerjanya.


Dean yang baru saja tiba di kantor dibuat terkejut mendapati ada Gino di meja kerja Lia. Tidak biasanya Gino datang pagi-pagi kesini, pikir Dean. Ia lantas masuk ke ruangannya, Dean pikir Gino tidak akan mengganggu Lia.


Gino menatap sendu wajah Lia yang tak mau menatap dirinya sama sekali. Sebesar apakah salahnya pada gadis cantik dan cerdas itu, sehingga Lia enggan untuk menatap dirinya?


Lia merasa sangat tidak nyaman di tatap Gino seperti itu. Hal ini membuat rasa bencinya terhadap Gino kian terpupuk.


"Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, bukan? Kalau begitu silahkan pergi!" ucap Lia dengan ketus mengusir Gino dari hadapannya.


Namun, yang di usir tak mengindahkan perintah Lia, ia tetap berdiri pada pondasinya dan terus menatap sendu gadis yang di impikan nya selama ini.


"Sebesar apakah salahku padamu Lia? Sehingga kau tak pernah mau memandangi diriku?" tanya Gino dengan nada suara yang halus.


"Kesalahan mu sebesar planet Jupiter, paling besar di antara yang lain. Dan apa kau tahu? Aku sangat-sangat membencimu, sekarang pergilah!" perintah Lia dengan ketus dan sedikit emosi serta tak sedikitpun melihat ke arah Gino.

__ADS_1


Gino pun berlalu dari sana dengan perasaan kecewa yang berkecamuk didalam hatinya, bukannya menambah mood booster saat melihat Lia pagi-pagi begini, ia justeru membawa hatinya ke lembah penyiksaan, yang membuat hatinya kian terluka dan tak terobati.


__ADS_2