
"Baiklah, Dean. Gino adalah anak yang sangat baik, dulu ia memang sudah dekat dengan Lia, tetapi ada sesuatu hal yang membuat Lia dan dirinya menjadi renggang seperti ini." Mama Susi memberikan sedikit awalan untuk menceritakan kedekatan Lia dan Gino dulu.
"Tante tidak mengarang cerita Dean, Tante banyak tau tentang Lia dan Gino karena Tante sering menjadi tempat bagi Lia untuk mencurahkan semua keluh kesahnya, dan dengan Tante, Lia menjadi sangat terbuka. Itulah mengapa Tante tau apa saja yang sedang di alami anak Tante yang satu ini."
Dean terlihat serius mendengar awalan cerita yang Mamah Susi ceritakan. "Lalu bagaimana lagi kelanjutan ceritanya, Tante?"
Mamah Susi pun mulai menceritakan kisah antara Lia dan Gino beberapa tahun yang lalu.
Flashback on
Dulu, setelah selesai kuliah, Lia langsung mencari pekerjaan. Ia menyebarkan beberapa lamaran sesuai dengan jurusan kuliah yang di tempuh nya.
Akhirnya, suatu hari Lia mendapat panggilan interview di salah satu perusahaan. Perusahaan itu tak lain adalah Kusuma Corp, tempat Lia bekerja saat ini. Dengan kompetensi yang dimilikinya, Lia akhirnya di terima di Perusahaan Kusuma Corp sebagai Sekretaris Pak Yuda Kusuma.
Hari pertama bekerja Lia terlihat sangat bersemangat, ia sangat antusias dengan aktivitas baru nya ini. Dan di hari pertama ini, Lia bertemu dengan seorang pria tampan di lantai dasar Kusuma Corp.
Pria itu tersenyum manis pada Lia, tetapi Lia merasa malu pada pria itu. Lia hanya membalas sesaat senyuman pria itu dengan senyum manisnya dan buru-buru menuju lantai 12, ke ruang kerja yang akan mulai di tempati nya.
Ketika hendak makan siang di Rumah makan yang berada di seberang Kusuma corp, Lia kembali bertemu dengan pria itu. Kali ini pria itu tidak membiarkan Lia lolos begitu saja, Lia diajaknya untuk berkenalan terlebih dahulu.
"Hai!" sapa pria itu sambil tersenyum manis pada Lia yang baru saja melangkahkan kakinya di rumah makan tersebut.
"Hai juga," jawab Lia malu-malu.
"Boleh kenalan, ga?" tanya pria itu.
"Ehm... Boleh," jawab Lia dengan sedikit gugup.
"Kenalin, nama ku Gino. Salah satu staff Kusuma corp di divisi keuangan." Pria itu mengulurkan tangannya di hadapan Lia.
Lia menyambut uluran tangan Gino yang mengajak dirinya untuk berkenalan.
"Lia." Jawaban yang singkat padat dan jelas Lia ucapkan.
"Nama yang bagus," puji Gino.
Lia hanya tersenyum mendengar pujian dari Gino yang tak lain seperti gombalan genit para lelaki pada wanita idamannya.
"Boleh minta nomor telepon nya?" ujar Gino.
Lia terlihat ragu, tapi ini adalah kesempatan untuk mendapatkannya teman di lingkungan kerja. Lagi pula bukan lah sebuah masalah jika hanya meminta nomor telepon, pikir Lia.
Akhirnya Lia memberikan nomor telepon nya pada Gino. Mereka lantas mengobrol lebih jauh, dalam perkenalan ini.
Hari-hari terus berlalu, Lia dan Gino menjadi dekat. Tidak ada yang bisa memastikan apakah mereka saling cinta atau tidak, yang jelas mereka sering menghabiskan waktu untuk bersama.
Lia yang masih polos dan lugu dalam cinta mengira ini adalah pertemanan yang sangat menyenangkan. Namun, tidak bagi Gino. Gino sudah jatuh hati pada Lia sejak pertama kali bertemu.
Gino berusaha keras untuk mendekati Lia dan membuat Lia selalu merasa nyaman berada di dekatnya, ia juga setiap hari memberikan perhatiannya pada Lia. Bahkan, ia selalu menawarkan dirinya untuk mengantar jemput Lia untuk pulang dan pergi menuju kantor.
Lia sering kali menolak tawaran baik Gino itu, karena mereka baru saja saling mengenal. Namun, karena keseringan menolak tawaran Gino, Lia merasa tidak enak hati pada temannya itu, akhirnya Lia beberapa kali menerima niat baik Gino untuk mengantar nya pulang.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya sangat dekat, persis seperti Dean dan Gino saat itu. Namun, Lia hanya menganggap Gino adalah temannya di kantor, tidak lebih dari itu.
Berbeda dengan Lia, Gino sudah terlanjur nyaman dengan Lia. Dirinya yang memang sudah lama menyukai Lia, sering datang ke rumah Lia, walaupun untuk sekedar silaturahmi bersama Mamah Susi dan Pak Heru.
Mamah Susi dan Pak Heru mengira jika Gino adalah pacar Lia, karena mereka terlihat sangat akrab. Suatu hari, Mamah Susi memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Lia.
"Lia, apa Gino pacar kamu?" tanya Mamah Susi yang penasaran akan hubungan antara Gino dan putrinya itu.
Lia tersentak kaget mendengar pertanyaan ibunya barusan. "Ah... Enggak kok, Mah. Kita cuma temanan aja. Lia merasa nyaman dengan pertemanan ini."
"Kamu tidak merasakan kalau Gino menyukaimu, gitu?" ujar Mamah Susi menggoda putrinya itu.
"Emang gimana cara merasakannya, Mah?" Dengan polos Lia berkata demikian.
Mamah Susi menggelengkan kepalanya melihat tingkah polos putrinya itu.
"Lia, menurut pandangan Mama, Gino itu menyukai mu, apa kamu sadar itu? Laki-laki itu sangat senang memberikan perhatian pada wanita yang di sukai nya. Lagipula dia juga anak yang baik, jadi tidak mungkin dia hanya bermain-main dengan mu."
Lia merasa tersentak dengan ucapan ibunya barusan, apa betul yang dikatakan ibunya barusan? Lia menjadi ragu mengartikan hubungan antara dirinya dan Gino akhir-akhir ini.
Hati Lia membenarkan apa yang ibunya katakan barusan. Ia mulai bertanya tanya pada dirinya sendiri, mengenai hubungannya dengan Gino.
Lia pikir tidak masalah juga jika Gino menyukainya, Gino adalah lelaki yang baik, selama ini Gino selalu bersikap baik pada dirinya. Meskipun ia menganggap Gino tidak lebih dari temannya, tapi Lia berusaha membuka hati jika Gino memang menyukainya.
Tibalah suatu hari, pada saat itu Gino meminta izin kepada Pak Heru dan Mama Susi untuk mengajak Lia makan malam. Orang tua Lia tentu mengijinkan, karena Gino adalah anak yang baik jadi mereka tidak takut memberikan ijin pada Gino.
Lia pun menyambut baik ajakan Gino. Semenjak mendengar penjelasan ibunya beberapa waktu yang lalu, Lia mencoba bersikap sebaik-baiknya kepada Gino. Selain untuk membalas perlakuan baik Gino, ia juga ingin tahu apakah Gino benar-benar menyukai dirinya.
Sesampainya di Restoran, mereka lantas menuju sebuah meja romantic Thema dengan hiasan lilin dan sebuket mawar merah terletak di atasnya dengan secarik kertas bertuliskan ungkapan cinta yang menyelip di antara susunan kelopak mawar merah itu. Gino sengaja meminta pihak restoran untuk mendekor meja pesanannya sedemikian rupa, sehingga menambah kesan romantisnya pada Lia.
Sebelum berjalan kearah meja spesial yang sudah di pesannya, Gino menutup mata Lia terlebih dahulu, dan ia menggiring Lia dengan hati-hati ke arah meja romantis itu.
"Gino, kita kemana, sih? Kok pakai tutup mata segala?" keluh Lia dengan senyuman manis terlukis di bibirnya.
"Udah, ikuti saja kemana aku membawamu." Gino berkata sambil tersenyum manis pada Lia, yang matanya di tutupi sehelai kain yang terlipat panjang.
Sesampainya di sana, Gino lantas membuka penutup mata Lia.
"1... 2... 3... Taraa!"
Setelah membuka mata, Lia tersipu malu mendapat kejutan dari Gino. Meskipun Gino belum mengisi ruang hatinya, tetapi ia bisa merasakan perlakuan istimewa dari Gino untuk nya.
"Aaa... Gino, ini apaan sih?" Lia berkata sambil sesekali tersenyum manis ke arah Gino, begitu juga sebaliknya.
Rencananya Gino akan mengutarakan perasaan yang ia rasa selama ini, dan ingin menjadikan Lia sebagai kekasihnya.
Setelah semua kejutan tadi, mereka lantas memesan makanan kesukaan masing-masing.
Setelah mereka menghabiskan hidangan nya, tiba-tiba datang seorang wanita tidak di kenal yang mengaku sebagai pacar Gino. Ia juga mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung anak biologis dari Gino.
Wanita itu datang dengan langkah tergesa-gesa dengan perutnya yang terlihat membesar dan mimik wajahnya menggambarkan raut kemarahan yang sangat besar.
__ADS_1
"Tega kamu, Gino! Dulu kamu berkata manis di depan ku hanya untuk mendapatkan mahkota ku! setelah kau memperoleh apa yang kau inginkan kau berpaling pada wanita ini!" Wanita itu berkata dengan nada suara yang tinggi dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Lia.
Lia dan Gino sangat terkejut dengan kehadiran wanita itu. Wanita itu tiba-tiba datang dan mengata-ngatai Gino, dan juga menunjuk-nunjuk dirinya.
Gino tentu saja kebingungan dengan maksud wanita asing yang tiba-tiba muncul itu. Ia terlihat tak mengerti dengan wanita yang tiba-tiba saja mengatai dirinya dan juga Lia. Wanita itu Juga mengaku sedang mengandung anaknya. Padahal, selama ini ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain dengan Lia.
Para pengunjung restoran memusatkan perhatiannya pada keributan yang terjadi pada Gino, Lia, dan juga wanita asing itu.
"Kamu juga! Dasar wanita murahan! Tidakkah kau tau, kalau Gino itu sudah punya pacar, ha?! Dan sekarang, aku sedang mengandung anaknya!" Wanita itu berkata dengan kasar dan matanya yang tajam bak kilat menatap Lia yang tidak tau apa-apa.
Lia hanya terdiam, ia tak berani menatap wanita itu.
"Cukup! Sekarang pergi dari sini! Aku tidak mengenalimu!" Gino berkata dengan sangat emosi.
"Oh... Jadi ini balasan mu, Gino?! Kamu memang laki-laki brengsek!" Wanita itu berkata dengan nada suara yang tetap tinggi, lalu meninggalkan meja makan Lia dan Gino.
Lia yang tidak tahu apa-apa hanya menangis meneteskan buliran air mata yang jatuh tak tertahankan dari pelupuk matanya mendengar tuduhan bejat wanita itu.
"Lia, dia bukan siapa-siapa, aku tidak kenal padanya." Gino berusaha meyakinkan Lia kalau wanita tadi benar-benar tidak ia kenal.
"Nggak!" Lia berkata dengan tegas, lalu meraih tas kecilnya dan berlalu meninggalkan meja makan itu.
"Lia, tunggu! Aku bisa jelasin semuanya!" Gino berusaha meraih lengan Lia. Tangan Gino akhirnya berhasil meraih lengan Lia yang berjalan tergesa-gesa di hadapan nya.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan, Gino?!" Lia bersikeras untuk lepas dari cengkeraman Gino, dan menghempaskan dengan kasar tangan Gino yang memegang lengannya.
"Lia, please dengarin dulu, aku bisa jelasin semuanya, aku nggak kenal wanita itu, dia datang hanya mengaku-ngaku kalau aku adalah pacarnya, jadi tolong percaya padaku." Gino memohon pada Lia sambil terus mengikuti langkah kaki Lia.
Namun, Lia tak mengindahkan kata-kata Gino. Ia fokus melangkahkan kakinya menuju ke arah jalan pulang. "Lepasin, Gino! Aku mau pulang!"
"Baiklah kalau kamu mau pulang, biar aku yang antarin." Bujuk Gino.
"Nggak! Aku bisa pulang sendiri!" Lia tetap bersikeras pada pendiriannya, sambil sesekali menyeka buliran bening yang mengalir bebas dari pelupuk matanya.
"Lia, ayolah. Dengarin aku dulu." Gino tetap memaksa untuk di dengar.
"Kalau aku bilang nggak ya enggak!, wanita tadi sudah mengandung anak mu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Gino!" Lia berkata dengan sangat emosi.
"Lia, jangan seperti ini, aku bisa buktikan dia itu bukan siapa-siapa ku."
"Berhenti Pak!" Lambai Lia pada sebuah taksi yang melintas di jalan itu.
"Lia, aku yang mengantar mu pulang!" Bentak Gino.
Namun Lia tak mendengar sama sekali kata-kata Gino, ia langsung saja menaiki taksi yang sudah berhenti di hadapannya.
Gino pun tidak bisa berbuat banyak lagi, Lia memang marah dan kecewa padanya. Ia bersumpah akan membuktikan kalau wanita itu memang bukan siapa-siapa dan hanya ingin menghancurkan kedekatan dirinya dan Lia.
*Bersambung...
flashback nya masih bersambung ya, kalau di jadiin satu kepanjangan😁
__ADS_1