Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Bab 44 | Bukan salahnya


__ADS_3

...Bab 44 | Bukan salahnya...


“Hei, manusia licik!!”


Bugh! Bugh! Bugh!


Seketika darah segar mengalir dari sudut bibir Dean dan ia merintih kesakitan akibat 3 bogem yang dilayangkan oleh Diko padanya secara tiba-tiba.


“Dasar tidak tahu diri!” caci Diko sembari sedikit menjauh dari Dean.


“Apa maksudmu, Diko?Apa salahku?” Tanya Dean sambil memegang sudut bibirnya yang terasa perih.


“Kamu masih bertanya apa salahmu? Benar-benar tidak tahu malu!”


“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu,” bantah Dean dengan emosi yang mulai memuncak.


“Halahhh… jangan pura-pura bodoh, Dean,” ujar Diko dengan wajah menantang.


Para Staf Kusuma Corp yang kebetulan melintas sejenak berhenti untuk menyaksikan pertengkaran antara Dean dan Diko. Mereka saling bertanya tentang apa yang menjadi pemicu Asisten Pribadi Pak Yuda itu dihajar oleh orang yang tidak mereka kenali pagi-pagi begini.


Beberapa Staf lelaki berusaha meredakan perkelahian itu, tapi tak kunjung terlerai karena Diko selalu memberontak.


“Kamu memang sialan! Bahkan aku tidak mengerti maksudmu!” ujar Dean dengan emosi yang berapi-api, jari tangannya kini sudah mengepal menuntut balasan atas darah yang sudah mengalir dari sudut bibirnya.


“Tuan Dean! Jangan ladeni dia!” ucap salah seorang pria sambil berusaha menarik lengan baju Dean.


Namun, Dean semakin membuas. Kedatangan Diko yang secara tiba-tiba dan membuatnya meneteskan darah pagi-pagi begini membuat emosinya kian memuncak.


Langkah kakinya tak mampu tertahankan lagi, seketika ia melayangkan sebuah bogem balasan kea rah pelipis Diko.


Bugh! pukulan itu berusaha ditangkis oleh Diko, tapi tetap saja mengenai pelipisnya.


Perkelahian semakin jadi dan tak terelakkan lagi, satpam yang baru saja tiba langsung meleraikan perkelahian itu.


Perkelahian antara Dean dan Diko di halaman depan Kusuma Corp menarik perhatian para karyawan yang sudah datang.


Keduanya sama-sama babak belur, namun Dean terlihat paling parah luka di wajahnya karena sudah terlebih dahulu dihajar oleh Diko.


Pak Yuda baru saja tiba di kantornya merasa heran karena ada keramaian pagi-pagi begini di depan kantornya.

__ADS_1


“Ada apa ini?” tanyanya pada seorang karyawan yang menyaksikan perkelahian itu.


“Tuan Dean sedang bertengkar hebat dengan seorang pria asing, Pak.” Karyawan itu menjawab dengan wajah ketakutan.


Mendengar nama Dean yang menjadi pelakon dalam perkelahian itu, Pak yuda langsung turun dari mobilnya.


Di sana ia melihat wajah Dean yang kini sudah babak belur, begitu juga dengan rival perkelahian Dean yang juga sudah ia kenali orangnya, yaitu Diko.


“Bubar!” teriak Pak Yuda, seketika para karyawan langsung meninggalkan perkelahian itu, termasuk satpam yang juga mulai menjauh mendegar perintah atasannya itu.


Tinggalah ia dan sopir pribadinya, serta Dean dan Diko yang sedang tarik-menarik kerah baju satu sama lain.


“Hentikan! Apa yang kalian lakukan di kantorku pagi-pagi begini?! Seperti anak kecil saja!” gusar Pak Yuda.


Perkelahian itu langsung terlerai dengan kehadiran Pak Yuda, kini ia berdiri di antara Diko dan Dean yang saling memandang geram.


“Sepertinya Tuan harus cepat-cepat mengusir dan membuang pria licik seperti Dean!” Diko langsung menyahut dengan wajah mengejek dan tersenyum sinis menatap Dean.


Tatapan mata Pak Yuda yang tadinya menatap tajam Diko kini beralih menatap Dean.


“Apa yang sudah ia lakukan sehingga kamu mengatakan dia pria licik?” tanya Pak Yuda pada Diko.


“Dia sengaja selama ini mengabdi pada Anda dan mencuri perhatian Anda, lalu ia berharap dijodohkan dengan putri anda,” ujar Diko sembari tertawa sinis, “sampai sejauh ini rencananya berhasil, tapi perlu Anda ketahui kalau rencana pria licik seperti Dean sangat mudah ditebak, setelah ia menikahi Elin perlahan-lahan ia akan menguras harta Anda dan nantinya ia akan pergi bersama wanita lain, dan Anda harus sadar sebelum anda dimanfaatkan oleh pria licik seperti Dean!” sambungnya menuduh Dean.


“Halah… mana mau ngaku. Kamu sengaja, kan mendekati Pak Yuda untuk mendapatkan Elin?!”


Dean menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar tuduhan bejat Diko padanya.


“Ngaku Dean! Ayo ngaku!!” bentak Diko.


“Cukup!!” sela Pak Yuda dengan suara nyaring.


“Diko! Asal kamu tahu, Dean tidak meminta untuk dijodohkan dengan Elin, justeru saya sendiri yang menginginkan perjodohan itu, agar Elin tidak menikah dengan pria sepertimu!” Pak Yuda memberikan penjelasan untuk membela Dean.


Deg! perih rasanya hati Diko mendengar kenyataan pahit itu, ternyata Pak Yuda memang sengaja ingin menjauhkan dirinya dan Elin.


“Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Saya sudah sangat memahami bagaimana sifat dan karakter Dean, jadi kamu tidak perlu meyampaikan tebakan yang menyudutkan Dean seperti itu, sekarang cepat pergi dari sini!” usir Pak Yuda pada Diko.


“Sialan!! Nanti kamu akan menyesal, pria Tua Bangka!! Cuihh!!” Dengan langkah angkunya, Diko langsung meninggalkan Pak Yuda dan Dean yang sedang kesakitan namun tetap ia tahan.

__ADS_1


“Maafkan saya, Pak.” Ujar Dean sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya.


“Ayo kita masuk ke ruangan saya,” ajak Pak Yuda dengan raut wajah yang tak terbaca.


Dean menyadari kesalahannya telah meladeni Diko, seandainya saja ia tidak terbawa emosi sudah pasti perkelahian ini tidak jadi sebesar ini. Tapi ini bukan juga sepenuhnya kesalahan dirinya, Diko lah yang sudah menyerangnya secara tiba-tiba sehingga membuat sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah segar pagi-pagi begini.


Sesampainya di ruangan Pak Yuda, Dean langsung menduduki kursi yang berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan itu.


Dean tak berani membalas tatapan mata Pak Yuda yang sedari tadi menatapnya.


Tiba-tiba datang seorang wanita sambil membawakan kotak P3K dan langsung membersihkan darah di wajah Dean.


Setelah selesai, wanita itu pun berpamitan untuk pergi dari ruangan itu.


“Bagaimana rasanya, Dean? Sakit?” tanya Pak Yuda degan raut kesal.


Dean tak berani menjawab, ia tahu Pak Yuda kecewa padanya.


“Dean minta maaf, Pak.” Berulangkali Dean meminta maaf atas kejadian tadi, tapi Pak Yuda selalu saja memasang wajah kecewanya pada Dean.


“Seharusnya kamu tidak perlu meladeni pria seperti Diko. Dia memang licik, dia memutarbalikkan fakta.”


“Sekarang pulanglah, istirahat saja hari ini, jangan lupa obati lukamu itu.”


Dean mengangguk mendengar perintah Pak Yuda, ia lantas berpamitan dan segera meninggalkan kantor dan lagsung pulang.


...*****...


“Hallo, Elin sayang, sekarang kamu pergi ke rumah Dean, dia tadi terlibat perkelahian dengan seseorang, tolong kamu obati lukanya, luka di wajahnya cukup parah,” pinta Pak Yuda pada Putrinya.


“Lho, kenapa aku, Pi? kenapa nggak dibawa ke rumah sakit saja?” jawab Elin dari seberang sana.


“Ikuti saja perintah Papi!” paksa Pak Yuda.


Elin kembali menghembuskan nafas kasar. Papinya akhir-akhir ini jadi sering memaksakan kehendaknya. Elin tidak suka itu. Tapi daripada masalahnya semakin panjang, Elin menuruti semua keinginan papinya, walaupun terpaksa.


“Ya.” Jawaban singkat saja Elin jawab sebagai penutup panggilan telepon dengan papinya.


Sambungan telpon pun terputus.

__ADS_1


“Dasar pemaksa!” caci Elin sembari mengambil tas selempang dan bergegas meninggalkan kamar, dan langsung menuju kediaman Dean. Ia memang sudah tahu kediaman Dean, karena ia pernah mampir saat pulang liburan bersama Papi dan Maminya dua bulan yang lalu, saat itu Dean baru pindah ke rumah baru itu.


Elin mengakui kalau Dean memang pria yang baik. Wajahnya lumayan tampan dengan kumis tipis menghiasi atas bibirnya. Ia juga sopan dan bijaksana, tapi apalah daya jika hati Elin tak tertarik pada semua itu, ia mencintai Diko, pria yang ia percaya bisa membahagiakannya kelak, dan ia berharap bisa hidup bahagia bersama Diko bukan dengan Dean.


__ADS_2