
kriiinggg... kriiinggg..., terdengar suara alarm memecah keheningan pagi hari dikamar Dean dan Riko. Dean pun terbangun dari tidurnya begitu juga dengan Riko.
Hari ini adalah hari pertama Dean bekerja di kantor Tuan Yuda, oleh karena itu dia tidak ingin datang terlambat dihari pertama kerja ini.
Setelah mandi dan berpakaian rapih, Dean segera pergi ke dapur untuk sarapan. Disana, Ibu Dewi sudah menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya itu.
"Selamat pagi, Bu," sapa Dean pada ibunya.
"Pagi juga, Nak," jawab Ibu Dewi sambil menuangkan makanan yang baru saja dimasaknya kedalam piring.
Dean segera mengambil alih sebuah kursi untuk mendudukkan badannya, dan menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh ibunya.
"Riko mana, De?" tanya Ibu Dewi.
"Riko masih bersiap siap, Bu," ujar Dean.
Tak berselang lama, Riko muncul dengan seragam sekolah miliknya, dan berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi, Bu," sapa Riko hangat pada ibunya.
"Selamat pagi juga, Nak," jawab Ibunya sambil menyematkan senyuman pada putranya itu.
Tak beberapa lama, Gita juga muncul dari kamarnya. Gita yang biasanya ceria tiba-tiba muncul dengan wajahnya yang tak bersemangat.
"Gita sayang, kamu kenapa? Kok nggak bersemangat gitu? apa kamu sakit?" tanya Ibu Dewi dengan cemas pada Gita yang terlihat diam saja saat duduk di kursi meja makan, tak seperti biasanya.
__ADS_1
Namun, yang ditanya hanya diam saja sambil terus menundukkan wajahnya.
"Gita, ayo sarapan, Nak. Nanti kamu terlambat ke sekolah," bujuk Ibu Dewi sambil memandangi Gita di hadapannya.
"Gita nggak mau ke sekolah hari ini Bu, nanti pasti Gita di tagih lagi sama guru karena belum membayar uang pembelian buku," ujar Gita dengan nada suara memelas.
Ibu Dewi sejenak melamun memikirkan cara mendapatkan uang untuk pembelian buku-buku Gita. Pasalnya uang gajinya bulan lalu sudah habis untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari, karena kebun suaminya bulan lalu tidak menghasilkan sepeser uang pun akibat diserang hama.
"Ibu minta maaf ya Nak, nanti sore Ibu usahakan dapat uang untuk membayar buku-buku itu," jelas Ibu Dewi dengan nada suara yang lembut kepada Gita.
Mendengar keluhan adiknya itu, Dean menghentikan sarapan nya dan merogoh saku celana yang ia kenakan lalu mengeluarkan sebuah dompet coklat miliknya.
"Gita, ini kakak ada sedikit uang, kamu pakai saja dulu untuk membayar buku-buku mu itu," ujar Dean sambil menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah kepada Gita.
Gita merasa tidak enak saat kakaknya memberikan uang untuknya, karena ia tahu Dean juga sangat membutuhkan uang itu.
"Tidak apa-apa, Kakak masih punya sedikit uang yang bisa Kakak hemat untuk keperluan Kakak," ujar Dean meyakinkan gita.
Dean memang punya sedikit tabungan selama bekerja di rumah makan dulu. Namun, uang tabungan itu tidak cukup untuk membayar uang semester kuliah nya, oleh karena itu dia mengambil cuti kuliah dan menggunakan sisa tabungannya itu untuk mencari pekerjaan.
"Dean, kamu tidak perlu memberikan uang mu itu, pakai saja untuk keperluan mu, kamu kan kerjanya jauh dan setiap hari harus mengeluarkan biaya transportasi. Untuk uang pembelian buku-buku Gita, nanti akan Ibu usahakan," ujar Ibu Dewi pada Dean.
"Tidak apa-apa Bu, Dean bisa menghemat uang yang Dean punya," ujar Dean.
"Baiklah kalau begitu, Ibu benar-benar berterima kasih pada kamu Nak, karena kamu sudah membantu Ibu," ujar Ibu Dewi.
__ADS_1
Dean hanya mengangguk sambil mengunyah sarapannya.
"Terima kasih Kak Dean, Gita sayang sama Kakak," ujar Gita sambil memeluk kakaknya yang duduk di sebelahnya.
"Iya, kakak juga sayang sama Gita," ujar Dean sambil membalas pelukan adiknya itu.
Setelah melepaskan pelukannya dengan Dean, Lalu dengan semangat Gita menyuapkan sarapan yang sudah disiapkan Ibu Dewi untuknya.
"Riko, kamu nanti sehabis pulang sekolah jangan kemana mana ya, temani Gita dirumah. Ibu agak terlambat pulang nya karena dirumah majikan Ibu sedang ada acara keluarganya," ujar Ibu Dewi pada Riko yang dari tadi hanya fokus pada sarapannya.
Riko hanya diam saja tak menanggapi ucapan ibunya barusan, ia terlihat sibuk mengunyah makanan.
"Riko?" tegas Ibu Dewi karena tersadar kalau tidak ada jawaban dari Riko.
"Eh... sebenarnya nanti siang Riko juga akan mengerjakan tugas lagi, Bu," ujar Riko berbohong pada ibunya.
Pak Burhan dan Ibu Dewi sebenarnya tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbohong, tapi untuk yang satu ini Riko terpaksa berbohong kepada orang tua maupun saudaranya kalau dia sudah bekerja di warung kopi. Karena kalau Riko memberitahu yang sebenarnya, sudah pasti orang tuanya akan melarang dirinya untuk bekerja lagi. Sedangkan untuk kebutuhan pribadi Riko, ia tidak mungkin meminta kepada orang tuanya, jangankan minta uang untuk keperluan pribadi, uang sekolah nya saja sudah tiga bulan ini belum di bayar.
Riko merasa tidak enak hati meminta orang tuanya membayar uang sekolah nya, sebab kondisi perekonomian keluarganya sedang terpuruk. Oleh karena itu ia berusaha membagi waktu untuk bekerja dan sekolah.
"Lho kok setiap hari ngerjain tugas? apa tugas sekolah nya tidak bisa dikerjakan dirumah saja, Nak?" tanya Ibu Dewi pada Riko.
"Riko minta maaf Bu, kemungkinan beberapa Minggu ini Riko akan sering berada diluar untuk mengerjakan tugas," ujar Riko dengan penuh kehati-hatian karena takut ketahuan oleh Ibu Dewi.
"Tidak apa-apa Bu, Gita baik-baik saja kok," ujar Gita meyakinkan ibunya kalau dia bisa menjaga diri.
__ADS_1
"Ya sudahlah kalau begitu," ujar Ibu Dewi dengan pasrah.
Setelah menyelesaikan sarapan, Dean permisi untuk berangkat bekerja, disusul Gita dan Riko berangkat ke sekolah, dan terakhir Ibu Dewi yang meninggalkan rumah untuk bekerja di rumah majikannya.