Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Salah Tingkah


__ADS_3

"Mah, Dean udah datang nih!" panggil Pak Yuda dari ruang tamu yang berada di lantai dasar rumah megah tersebut.


"Iya, Pah. Sebentar lagi," pekik Mami Meri dari kamarnya yang berada di lantai atas.


Tak berselang lama, Mami Meri turun dengan mengenakan kebaya moderen berwarna merah dipadukan dengan rok span bermotif batik, kakinya mengenakan high heels berwarna senada. Rambutnya di sanggul sederhana, dan wajahnya dipoles make up tipis. Sangat cantik meskipun usianya tak lagi muda.


"Istriku cantik banget, sih," puji Pak Yuda pada istrinya yang hampir 30 tahun ini menjadi pendamping hidupnya.


"Ah, Papah. Ada-ada saja. Aku kan sudah dari dulu begini terus," kata Mami Meri sambil berjalan ke arah suaminya dan Dean yang kala itu duduk menunggu di ruang tamu.


"Tapi, istriku malam ini benar-benar cantik. Aku semakin cinta padanya. Biar sejuta bintang yang ku lihat di langit, tetap terasa kurang bila aku tidak melihat istriku ini." Pak Yuda kembali menyanjung istrinya itu, membuat Mami Meri semakin salah tingkah, apalagi di situ tidak hanya mereka berdua, tetapi Dean juga bersama mereka.


"Papah..., Sudahlah. Di sini ada Dean juga lho." Mami Meri semakin kesal pada suaminya itu karena tidak memperhatikan situasi dan kondisi, sehingga pipinya bertambah merona karena menahan malu di hadapan Dean.


"Apa masalahnya?! Nggak masalah kan, Dean?" usil Pak Yuda.


Dean pun tersenyum, sambil menahan tawanya. "Iya, nggak apa-apa kok."


"Tuh kan, Mah. Nggak papa kok, nanti Dean juga akan merasakannya." Pak Yuda berkata dengan santainya, disusul dengan gelak tawa yang ringan.


Mendengar Pak Yuda tertawa, Dean juga ikut tertawa. Sedangkan Mami Meri sedari tadi menahan malu karena ulah suaminya itu.


Dasar, sudah tua masih saja gombal. Awas saja nanti. Akan ku buat terkapar kamu suamiku. Gerutu Mami Meri dalam hati.


"Ayo kita berangkat!" potong Elin, sambil menuruni anak tangga satu persatu. Langkah kakinya begitu tertata dan berhati-hati menuruni setiap anak tangga yang akan menuntunnya ke lantai dasar.


Elin malam ini terlihat sangat cantik dan anggun. Dari atas sampai bawah tidak ada kurang sedikitpun. Ia menggunakan long dress berwarna biru navy dengan bagian bahu yang terbuka. Menggunakan high heels berwarna hitam. Wajahnya dipoles make up tipis, meskipun begitu tak mengurangi nilai keindahan dari dirinya, serta tangan kirinya menenteng tas kulit yang harganya sangat fantastis.


Pak Yuda, Mami Meri, dan Dean sangat kagum akan kecantikan Elin. Kecantikan sang ibu benar-benar turun ke putri semata wayangnya itu. Mereka sangat terkagum memperhatikan Elin berjalan menuruni setiap anak tangga.


"Kok pada diam?" ujar Elin kebingungan.


"Ya Tuhan, putriku ini sangat cantik." Mami Meri langsung merangkul putrinya itu.

__ADS_1


"Ah, Mami. Cantiknya kan turunan dari Mami," tutur Elin sambil tersenyum.


"Putriku ini memang cantik. Dean kayaknya suka deh. Sedari tadi nggak sedikitpun mengalihkan pandangannya," ujar Pak Yuda sambil tersenyum dan menolehkan kepalanya ke arah Dean dan Elin secara bergantian.


Mendengar perkataan Pak Yuda, Dean langsung mengalihkan pandangannya dan tertunduk malu, karena ketahuan sedang mengamati Elin sedari tadi. Pipinya merona dan telinganya memerah. Salah tingkah deh jadinya.


"Hei Dean, biasa saja. Tidak perlu gugup seperti itu. Wajar kok," ujar Pak Yuda sambil menepuk pundak Dean dan tertawa.


"Heh... Iya, Pak. Nggak gugup kok. Dean hanya kaget," sangkal Dean. Padahal apa yang dikatakan oleh Pak Yuda memang benar adanya, Dean tak mengalihkan sedikitpun pandangan matanya ketika melihat Elin menuruni setiap anak tangga di rumahnya itu.


Pak Yuda dan Mami Meri sama-sama mengangkat bahu sambil tersenyum, mengisyaratkan kode yang tak dimengerti oleh siapapun, kecuali mereka berdua.


"Yaudah, ayo kita berangkat," ajak Mami Meri.


"Ayo," ujar Elin yang tak sabaran menghadiri pernikahan sahabat yang sudah ia anggap sebagai


kakaknya sendiri.


Sesampainya di hotel tempat resepsi pernikahan Gino dan Lia, Pak Yuda dan Mami Meri langsung memisahkan diri dari Dean dan Elin. Entah apa yang mereka rencanakan, baik Elin maupun Dean tidak ada yang tahu.


Sepasang suami istri itu langsung menghilang di kerumunan tamu undangan yang memadati tempat resepsi pernikahan itu diadakan.


"Aduh, Mami sama Papi kemana lagi? Kok kita ditinggalkan sendirian sih," gerutu Elin.


"Iya, mereka kemana ya? Masa dalam sekejap mata mereka menghilang," ujar Dean sambil menoleh ke kiri dan ke kanan berusaha mencari sosok Pak Yuda dan Mami Meri di setiap kerumunan tamu undangan.


Namun, sejauh mata memandang baik Pak Yuda maupun Mami Meri tak terlihat, entah kemana perginya, Dean dan Elin tidak melihatnya sama sekali.


"Yaudah deh, kita jalan berdua aja, Dean. Capek nyari Mami sama Papi." Elin pasrah jika Mami dan Papi nya meninggalkan dirinya bersama Dean.


"Ayo!" ujar Dean singkat, sambil berjalan di samping Elin.


Long dress yang dikenakan Elin sedikit kepanjangan, sehingga kaki high heelsnya menyeret bagian bawah baju itu dan hampir saja membuat nya terjatuh.

__ADS_1


"Eitss...!" sentak Elin, hampir saja ia terjatuh di antara kerumunan tamu undangan tersebut, beruntunglah Dean dengan sigap menopang tubuh Elin dengan tubuh bidangnya itu.


Sejenak keduanya saling bertemu pandang. Mata bulat Elin membuat Dean terbius, jantungnya berdetak tak karuan, tanpa sadar terlukis sebuah senyum manis di bibirnya.


Elin juga merasakan hal yang sama. Jantungnya berdetak tak karuan, tanpa sadar ia juga melengkungkan bibirnya yang berwarna merah muda itu pada Dean.


"Hati-hati. Pelan-pelan saja jalannya," ujar Dean salah tingkah sambil mengangkat badan Elin sehingga kembali tegak.


"Hm..., iya Dean." Elin juga salah tingkah jadinya.


"Kalau kamu takut jatuh, kamu boleh gandengkan tangan mu pada ku," tawar Dean.


"Memangnya boleh?" tanya Elin gugup.


"Tidak ada larangan," kata Dean yakin.


"Baiklah," tutur Elin tersenyum sambil menggandengkan lengannya ke lengan Dean.


"Mas dan mbak membuat mata saya berdosa saja melihat kalian bermesraan," ujar salah seorang pelayan yang menjadi pramusaji acara pernikahan Gino dan Lia. Dia sedari tadi membereskan gelas yang sudah tak terpakai sambil tersenyum lebar dihadapan Dean dan Elin.


"Maaf, Mas. Tadi teman saya hampir saja terpeleset, makanya saya tolongin," jelas Dean.


"Tidak apa-apa kok. Lagipula adegannya Romantis," ujar pelayanan tersebut dengan senyum yang tak padam kemudian berlalu dari sana.


Wajah Dean langsung memerah, dan sedikit menahan senyumnya. Sedangkan Elin, sedari tadi ia sudah menunduk. Keduanya jadi salah tingkah. Seandainya saja pelayanan tadi tidak menegur, pastilah tidak jadi canggung seperti ini pikir Dean.


"Elin, ayo kita jalan!" ajak Dean memecah kecanggungan diantara mereka.


"Baiklah," kata Elin.


Dean langsung menyodorkan lengannya, dengan sigap Elin juga


menyandingkan lengannya dengan lengan Dean. Keduanya lantas berjalan menyusuri setiap tamu undangan untuk menuju ke pelaminan Gino dan Lia di depan sana. Keduanya terlihat sangat serasi, seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2