
Setelah semua kejadian semalam, hari ini semua keluarga Pak Burhan berkumpul dirumah. Pak Burhan tidak pergi ke kebun, Ibu Dewi juga tidak bekerja karena keluarga majikannya sedang keluar kota, serta kedua adiknya tidak ke sekolah, karena hari ini adalah hari Minggu. Mereka semua sengaja meluangkan waktu spesial untuk keluarga.
Semua kejadian semalam tiada lagi tersisa diantara mereka. Mereka sudah melupakan nya, dan saling memaafkan satu sama lain.
Itulah hakikat sebuah keluarga, ribut adalah hal yang biasa. Piring yang disimpan dalam lemari saja bisa saling bergesekan, apalagi sebuah keluarga, pasti ada keributan dan kesalahpahaman. Hanya ketenangan dan sifat saling memaafkan lah yang bisa memperbaiki semuanya.
****
Ditengah riuh percakapan dan candaan keluarga Pak Burhan di ruang keluarga, Dean berlalu dari sana menuju kamarnya. Ia beranjak Lantaran terdengar suara dering ponselnya yang dari tadi tiada henti berbunyi.
"Ayah, Ibu, Dean permisi dulu mau mengangkat telepon," ujar Dean lalu beranjak dari duduknya.
"Iya silahkan, Nak," ujar Pak Burhan.
"Riko, apa nanti sore kamu akan bekerja, Nak?" kata Ibu Dewi bertanya pada Riko sambil meletakkan minuman ke meja.
"Sepertinya Riko hari ini akan dirumah saja Bu, Riko pengen menghabiskan waktu bersama Ayah, Ibu, Kak Dean dan juga Gita," ujar Riko pada ibunya sambil tersenyum.
"Oh... baiklah kalau begitu Nak," ujar Ibu Dewi sambil mendudukkan dirinya disamping Pak Burhan.
* Dikamar
"Halo Pak?" ujar Dean menjawab telepon dari nomor Pak yuda.
"Halo Dean, kamu sekarang ada dimana?" ujar Pak Yuda dari seberang sana.
"Dean sekarang ada dirumah, Pak. Apa ada yang bisa Dean bantu?" ujar Dean.
"Begini Dean, Jadi saya mau minta tolong kamu menemani saya dan istri saya untuk menjemput anak kami di bandara sekitar jam 7 nanti malam, apa kamu bisa menemani kami Dean?" ujar Pak Yuda.
"Bisa Pak, nanti malam saya akan menjemput Bapak dan Ibu dirumah," ujar Dean.
"Terima kasih Dean. Sebelumnya saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan kamu. Tadi pagi sopir pribadi keluarga kami baru saja pulang kampung, karena ibunya meninggal," jelas Pak Yuda pada Dean.
"Oh tidak apa-apa Pak, saya tidak keberatan kok," ujar Dean.
__ADS_1
"Baiklah, nanti malam saya tunggu ya," ujar Pak Yuda.
"Siap Pak," ujar Dean sebelum mengakhiri panggilan telepon nya dengan Pak Yuda.
Setelah mengakhiri panggilan dengan Pak Yuda, Dean kembali ke ruang keluarga untuk berkumpul bersama. Waktu masih menunjukan pukul 3 sore, itu artinya Dean masih punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga nya.
"Ayah, Ibu, sebelumnya Dean minta maaf, seperti nya malam ini Dean tidak menginap lagi, karena Pak Yuda dan istrinya meminta ditemani untuk menjemput anaknya di bandara nanti malam," jelas Dean sambil mendudukkan dirinya disamping Riko.
"Tidak apa-apa Nak, Ayah dan Ibu bisa mengerti," ujar Ibu Dewi sambil menyematkan senyuman diwajahnya.
"Anaknya perempuan atau laki-laki tuh Kak?" tanya Gita menggoda kakaknya itu.
"Entahlah, Kakak juga tidak tau," ujar Dean sambil mengangkat gelas berisi minuman yang sudah disiapkan oleh ibu Dewi untuknya.
Dean malas menanggapi adiknya yang degil dan usil itu. Bila Dean mengatakan kalau anak Pak Yuda adalah seorang perempuan, sudah pasti gita akan menyamakan dan menghubungkan kisah sinetron yang di tonton nya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Itulah sebabnya Dean tidak mau menanggapi pertanyaan adiknya yang konyol itu.
Saking asiknya bersenda gurau, tak terasa hari sudah petang. Dean pun segera bersiap-siap untuk menjemput Pak Yuda dan istrinya.
Setelah selesai bersiap, Dean berpamitan kepada ayah dan ibunya. Kemudian ia berjalan kaki menuju tempat ia memarkirkan mobil, yang berjarak kurang lebih 300 meter dari rumahnya.
Selama diperjalanan menuju rumah Pak Yuda, Dean tak henti mencoba memutar otak mengingat siapa saja anak perempuan didalam foto kenang kenangan SMP dulu. Namun, Dean tidak bisa mengingat semuanya.
Flashback on
1 bulan setelah bekerja di Kusuma corp.
Hari ini Dean akan menemani Pak Yuda untuk bertemu dengan seorang klien di sebuah restoran. Semalam Pak Yuda pun sudah memberitahu Dean dan memberikan alamat rumahnya kepada Dean, rencananya Dean dan Pak Yuda akan berangkat bersama-sama.
Setelah bersiap-siap di apartemen nya, Dean segera berangkat menuju kediaman Pak Yuda. Ini adalah kali pertama ia berkunjung ke rumah Pak Yuda setelah 1 bulan bekerja bersama beliau.
Menurut alamat yang dikirimkan oleh Pak Yuda semalam, Dean sudah berhenti di alamat yang benar. Dean berhenti di depan sebuah rumah mewah berlantai 2. Untuk memastikannya, Ia lantas menanyakan pada satpam yang berjaga di gerbang utama rumah mewah itu.
"Permisi Pak, apa benar ini rumah Pak Yuda Kusuma?" tanya Dean dengan sopan kepada satpam disana yang di ketahui bernama Asep.
"Iya benar, apa Aden yang bernama Dean?" giliran Pak Asep yang bertanya pada Dean.
__ADS_1
"Iya benar, Pak," ujar Dean.
"Kalau begitu silahkan masuk," ujar Pak Asep sambil membuka pintu gerbang.
"Terima kasih, Pak" ujar Dean.
Kemudian Dean segera memasuki halaman rumah Pak Yuda. Tampak dari depan, rumah Pak Yuda sangat asri, halamannya dipenuhi tanaman hias koleksi Ibu Meri.
Setelah dipersilahkan masuk oleh Ibu Meri, Dean menunggu di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi yang sudah di suguhkan oleh Bibi suni. Mata Dean tak berhenti menatap setiap sudut rumah mewah itu. Rumahnya tertata rapi dan bersih, karena para pembantu Disana selalu merapikan dan membersihkannya.
Di tembok ruangan itu terdapat banyak sekali foto keluarga Pak Yuda dengan seorang gadis cantik. Dean meyakini kalau gadis cantik itu adalah putri Pak Yuda. Selain itu, di dinding rumah itu juga ada foto lawas Pak Yuda dan Ibu Mery bersama seorang anak laki-laki yang berumur kurang lebih 8 tahun.
Sorot mata Dean terhenti tatkala dirinya memperhatikan sebuah foto yang tidak asing lagi dimatanya. Ya, Dean juga memiliki foto serupa dirumahnya. Itu adalah foto kenang kenangan semasa SMP. Tapi siapa dia? Kenapa Dean tidak mengenalinya? Kenapa dia juga punya foto itu? Dean mencoba mengingat dirinya semasa SMP dulu.
Perhatian Dean teralihkan saat Pak Yuda memanggil namanya, dan mengajaknya untuk berangkat.
"Dean, apa kamu sudah lama menunggu?" Sapa Pak Yuda sambil menuruni anak tangga di rumahnya.
"Belum juga Pak," ujar Dean sambil tersenyum mengarah pada Pak Yuda.
"Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Pak Yuda.
"Baik, Pak."
Dean dan Pak Yuda lantas berangkat menuju tempat pertemuan yang sudah di tentukan oleh klien Pak Yuda kemarin.
Flashback off
Sesampainya di rumah Pak Yuda, Dean segera membunyikan klakson, agar Pak Asep membukakan pintu gerbang rumah megah itu.
Mendengar klakson mobil Dean, Pak Asep segera membuka pintu gerbang. Pak Asep sudah mengenali bunyi klakson mobil Dean lantaran Ini adalah kesekian kalinya Dean berkunjung kerumah Pak Yuda.
Kedatangan Dean sudah ditunggu oleh Pak Yuda dan Ibu Meri. Mereka sangat antusias untuk menjemput putri semata wayangnya, lantaran selama kuliah ia hanya akan pulang 6 bulan sekali.
Setelah bersiap-siap mereka segera berangkat menuju bandara, dengan Dean yang mengendarai mobil dan Pak Yuda duduk di kursi depan disamping Dean, serta Ibu Meri duduk di kursi belakang.
__ADS_1