
Hari ini lalu lintas terlihat sangat ramai, bahkan sampai menimbulkan kemacetan. Hal ini bukanlah hal yang baru terjadi di ibu kota Jakarta, bahkan setiap hari antrean pasti terjadi bila jam sibuk sedang berlangsung. Banyak masyarakat yang lalu lalang kesana kemari, sehingga antrean sudah menjadi tradisi sehari-hari.
Kendaraan saling berdesakan dan tak sabaran agar bisa segera keluar dari kemacetan, salah satunya mobil yang di kendarai oleh Dean. Hari ini ia sedikit terlambat berangkat ke kantor, karena semalam setelah pulang makan malam bersama, Pak Yuda mengajak dirinya mengobrol santai terlebih dahulu, sehingga ia pulang sudah larut sekali dan tadi pagi ia bangun kesiangan.
Dean terlihat kesal karena ia tak kunjung keluar dari kemacetan. Padahal, satu setengah jam lagi dirinya dan Lia harus mendampingi Pak Yuda mengadakan pertemuan dengan seorang direktur perusahaan yang akan bekerjasama dengan Kusuma CORP di sebuah hotel ternama di kota Jakarta.
Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya mobil Dean berhasil keluar dari kemacetan. Dean lantas memacu kendaraan nya lebih cepat menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Dean lantas berjalan secara buru-buru menuju ruang kerjanya, untuk mengambil berkas-berkas yang sudah dipersiapkan nya kemarin. Ia lantas duduk di kursi meja kerjanya dan membuka laci berisi maap surat-surat itu.
Tok tok tok, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Iya, silahkan masuk," ujar Dean dari dalam ruangan, sambil membolak-balikan dan mengecek kembali berkas-berkas yang di perlukan untuk pengajuan kerja sama.
"Permisi Dean," ucap Lia dengan ramah sambil membuka pintu dan tersenyum pada Dean.
"Eh... Lia, ada apa?" ujar Dean sambil mengarahkan pandangannya ke arah lia ketika Lia sudah di dalam ruangannya.
"Apa berkas-berkas kerjasamanya sudah dipersiapkan semua?" tanya Lia sambil berjalan ke arah Dean.
__ADS_1
"Sudah Li, berkas-berkas ini sudah ku persiapkan dari kemarin," ujar Dean sambil memegang sebuah maap berisi surat menyurat permohonan kerjasama KUSUMA CORP dengan perusahaan yang akan di temui nanti.
"Baiklah kalau begitu, lima belas menit lagi kita akan berangkat, Pak Yuda juga sudah menunggu di ruangannya," ujar Lia sambil tersenyum kemudian berlalu meninggalkan ruangan Dean.
"Baiklah," ujar Dean sebelum Lia membalikkan badannya.
Lima belas menit kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju hotel tempat diadakannya pertemuan.
Pak Yuda duduk di kursi depan berdampingan dengan Dean, sedangkan Lia duduk di kursi belakang. Dean memacu kendaraannya dengan cepat, karena takut terlambat.
Sesampainya di hotel itu, mereka langsung menuju ruang rapat yang sudah di tentukan sebelumnya. Beruntunglah mereka datang sebelum jam yang di tentukan, sehingga mereka tidak membuat Pak Bruno Santoso selaku direktur Indosnack menunggu.
Tak berselang lama, Pak Bruno tiba di ruang rapat didampingi oleh seorang wanita yang tak lain adalah Sekretaris nya.
Pak Yuda sengaja menyuruh Dean untuk melakukan negosiasi ini, karena ia ingin mengajari Dean cara untuk mengajak perusahaan lain agar bisa bekerja sama, sekaligus mengetes sampai dimana ilmu yang sudah ia ajarkan pada Dean.
Dean pun dengan tekun berusaha meyakinkan direktur Indosnack kalau perusahaan Kusuma corp bisa memasarkan produk yang mereka keluarkan. Mengingat perusahaan Indosnack adalah perusahaan besar, jadi banyak perusahaan-perusahaan lain yang berusaha keras agar bisa mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan mereka, salah satunya perusahaan yang dipimpin oleh Pak Yuda Kusuma.
Selama negosiasi berlangsung, Dean tampak berwibawa dalam meyakinkan klien nya. Meskipun Dean baru belajar, tapi kemampuannya dalam meyakinkan klien patut diacungi jempol.
__ADS_1
Lia tiada henti terkesima melihat Dean, ia begitu kagum pada teman yang diam-diam sudah mengisi ruang hatinya itu. Pak Yuda juga terkagum-kagum melihat perkembangan Dean, yang mana ia mengajari Dean dari nol, dan kini Dean layaknya seorang pemimpin perusahaan, yang sudah mahir bernegosiasi dalam bisnis.
Benar saja, Dean bisa meyakinkan direktur perusahaan makan ringan tersebut, dan ia tertarik untuk bekerja sama dengan Kusuma corp. Akhirnya, kesepakatan kerjasama pun resmi terjalin, dan penandatanganan kontrak kerja sama dilakukan oleh Pak Yuda selaku pemilik KUSUMA CORP dan Direktur Indosnack yaitu Pak Bruno Santoso.
Pak Yuda sangat senang karena Dean bisa meyakinkan direktur indosnack untuk bekerjasama dengan Kusuma CORP. Pasalnya ia sudah beberapa kali mencoba mengajukan kontrak kerja sama sebelumnya, tapi tak pernah berhasil.
Setelah pertemuan penting dan penandatanganan kontrak kerja sama dilakukan, Pak Yuda menjamu Pak Bruno dan sekretaris nya untuk makan siang disebuah restoran yang berada tak jauh dari sana.
"Wah wah wah, Pak Yuda, asisten anda ini sangat mengagumkan, dia juga sangat cerdas. Saya sangat kagum padanya!" ujar pak Bruno sambil menepuk pundak Dean yang duduk disampingnya.
Dean tersenyum malu mendengar pujian Pak Bruno untuknya. Ini adalah kali pertama dirinya melakukan negosiasi kerjasama, tentu dirinya masih perlu banyak belajar pikirnya.
"Terima kasih, Pak Bruno. Dean ini baru tiga bulan menjadi asisten saya, selain menjadi asisten, saya juga memberikan sedikit ilmu berbisnis padanya. Dia adalah anak yang sangat disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, saya sangat tertarik untuk mengajari nya berbisnis," ujar Pak Yuda sambil tersenyum ke arah Tuan Bruno.
Tuan Bruno pun mengalihkan pandangannya pada Dean, dan memujinya, "kamu hebat, Nak."
"Tidak juga kok, Pak. Saya masih perlu banyak belajar lagi biar bisa menjadi seperti Bapak-bapak ini," ujar Dean dengan sopan sambil menunjuk ke arah Pak Yuda dan Pak Bruno.
"Saya yakin kamu pasti bisa jadi seorang pebisnis," kata Tuan Bruno sambil tersenyum.
__ADS_1
Lia yang dari tadi mendengar pujian untuk Dean juga tiada henti memberikan senyuman manisnya untuk Dean. Sedikit banyak ia sudah memberikan ilmu untuk Dean, dan ia sangat bersyukur karena Dean menangkap semua ilmu yang sudah diberikannya dengan baik.
hai readers semua, kalau kalian suka sama ceritanya jangan lupa berikan dukungannya ya... 😘