Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Sebuah Pengharapan


__ADS_3

Tok... tok... tok.... Dean mengetuk pintu ruangan Pak Yuda.


"Permisi."


"Ya, silahkan masuk!" ucap Pak Yuda sambil membubuhkan tanda tangan ke beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.


"Bapak memanggil saya?" tanya Dean sambil berjalan menuju meja kerja Pak Yuda.


"Iya Dean, benar sekali," ujar Pak Yuda sambil melirik ke arah Dean.


"Silahkan duduk!" perintah Pak Yuda.


"Baik, Pak." Dean mengikuti perintah Pak Yuda.


"Jadi, mengenai pembicaraan kita minggu lalu, bagaimana keputusanmu? Kamu masih ingin meneruskan kuliah?" Pak Yuda langsung ke inti pembicaraan.


"Dean tidak ingin lagi meneruskannya, Pak," jawab Dean dengan yakin.


"Kenapa? Masih dengan alasan yang sama dengan minggu lalu?" tanya Pak Yuda.


"Iya, Pak. Alasannya masih sama." Dean tertunduk lesu menjawab pertanyaan Pak Yuda.


"Apa kamu sudah putus asa?" Lagi Pak Yuda bertanya.


"Dean ingin fokus bekerja saja, Pak. Biarlah mimpi-mimpi itu lenyap ditelan takdir," ujar Dean pasrah pada takdir.


"Haha...." Pak Yuda tertawa kecil mendengar kepasrahan Dean.


"Kamu ingin fokus bekerja. Bagaimana jika saya pecat kamu, apa kamu tidak keberatan?" tutur Pak Yuda.


Dean yang tadi tertunduk kini berani menatap Boss nya itu dengan perasaan terkejut. Merasa tidak percaya pada kata-kata yang baru saja Pak Yuda ucapkan.


Apa salahku? sayangnya Kata-kata itu hanya mampu Dean ucapkan dalam hati.


Kemarin Ayahnya meninggal, lalu mimpinya terkubur oleh kenyataan dan keadaan, dan kini ia akan dipecat dari pekerjaannya. Belum puas kah takdir mempermainkannya?

__ADS_1


"Bapak serius? Dean salah apa, ya?" tanya Dean khawatir pada kesalahan yang


mungkin tidak ia sadari.


"Tidak ada kesalahan yang kamu buat, saya hanya berandai-andai saja," tutur Pak Yuda.


Dean menghela nafas lega, pasalnya mencari pekerjaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itulah yang membuat Dean sangat takut kehilangan pekerjaannya ini.


"Kamu jangan khawatir, Dean. Saya tidak akan memecat kamu, kamu karyawan yang disiplin, dan tidak mungkin juga saya membuat kehidupanmu semakin sulit." Pak Yuda kini melenyapkan raut candaan dari wajahnya diganti dengan raut serius nya.


"Terima kasih, Pak." Dean tersenyum mendengar ucapan Pak Yuda barusan.


"Dean, saya ingin kamu meneruskan kuliah. Untuk masalah pembiayaan, kamu tidak usah khawatir, saya yang akan bertanggung jawab membiayai semuanya," ujar Pak Yuda sambil tersenyum ke arah Dean.


Bak menemukan oasis di tengah gurun, Dean merasakan sebuah kelegaan untuk melepas dahaga. Setidaknya masih ada sebuah harapan untuk menggapai mimpinya.


Tapi, haruskah ia bergembira ria mendapat bantuan dari Pak Yuda, dan langsung menerima begitu saja tanpa memikirkan ibu dan kedua adiknya serta bersikap egois? Tidak, Dean tidak bisa bersikap egois, ia harus memikirkan kehidupan keluarganya, karena kini beban tanggung jawab berada di pundaknya. Lalu, apakah ia harus bersedih karena kesempatan datang di waktu yang salah? Tidak juga, semuanya datang disaat yang tepat, hanya saja itu bagi sang pencipta bukan bagi hamba yang diciptakan.


"Terima kasih atas tawaran bantuan nya, Pak. Sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran itu. Beban tanggung jawab kini ada di pundak saya," jawab Dean dengan tenang.


Dean benar-benar tidak menduga jika Pak Yuda akan melakukan ini. Pak Yuda begitu peduli pada dirinya. Tidak hanya ia saja, tapi seluruh keluarganya.


Pak Yuda memang berhati mulia, sungguh beruntung Dean dipertemukan dengan orang sebaik Pak Yuda. Beliau tidak hanya baik tapi juga memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi terhadap sesama.


"Dean tidak tau harus bagaimana lagi berterimakasih pada Bapak. Rasanya Dean seperti manusia paling beruntung bisa dipertemukan dengan Bapak, entah dengan apa Dean akan membalasnya nanti," ucap Dean terharu.


"Dean, inilah buah kesabaran mu selama ini. Ketika kamu merasa hilang arah dalam kegelapan, percayalah ada sebuah cahaya yang akan menuntun mu untuk menemukan sebuah tempat yang berisi Kilauan cahaya yang tak terhitung jumlahnya," ujar Pak Yuda memberikan pencerahan kepada Dean.


Dean menyeka air mata yang sempat terjatuh karena terharu akan kebaikan Pak Yuda." Saya benar-benar mengucapkan terima kasih, Pak."


"Sudah sudah, jangan menangis! Kamu seorang pria, tidak baik cengeng seperti ini," ujar Pak Yuda sambil menepuk pelan bahu Dean.


Dean tersenyum sambil mengangguk haru.


"Selama Kuliah, kamu juga bisa membagi waktumu untuk bekerja. Simpanlah gaji mu selama bekerja untuk keperluan pribadimu," tutur Pak Yuda.

__ADS_1


"Baik, Pak. Akan Dean ikuti nasihat dari Bapak." Dean menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, nanti malam kita berangkat bersama-sama, ya, ke pesta pernikahan Lia dan Gino." Pak Yuda mengalihkan pembicaraan ke pesta pernikahan Lia dan Gino yang akan digelar nanti malam di sebuah hotel yang ada di Jakarta.


"Baik, Pak. Dean akan menjemput Bapak dan Ibu nanti malam." ujar Dean sambil mengangguk.


"Dengan Elin juga. Dia juga ada disini," timpal Pak Yuda.


"Benarkah?! Eh... Maksudnya Elin ada disini?" ujar Dean sedikit kaget.


"Iya, dia datang kemarin. Dia sengaja pulang untuk menghadiri pernikahan Lia dan Gino, sekaligus melepas rindu."


Rasanya Dean sangat senang mendengar nama Elin. Nama itu seolah-olah membangkitkan semangat baginya. Ia begitu antusias bila mendengar Pak Yuda menceritakan Elin.


Suka kah? Kagum kah? Entahlah Dean tidak tahu. Yang Dean tahu nama Elin menjadi topik yang sering ia bicarakan kepada dirinya sendiri, dan menjadi hal yang sangat senang bila ia pikirkan sejak dua bulan ini.


...*****...


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dean bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang untuk bersiap-siap menghadiri pernikahan sahabatnya, Gino dan Lia nanti malam.


Apa?! Sahabat?! Nggak salah tuh? Bukankah Dean dan Gino musuhan?


Hallo readers, ketika Gino mengetahui Lia patah hati karena Dean, disitulah Gino mengambil kesempatan untuk masuk ke hati Lia. Memang tidak mudah, tapi dengan keyakinan, Gino berhasil mendapat tempat di hati Lia.


Gino lantas menemui Dean untuk menanyakan tentang perasaan yang Dean punya terhadap Lia.


Dean mengatakan jika Lia hanya sahabat baginya. Dean tidak menganggap Lia lebih dari sahabatnya, sekalipun Lia bersikeras.


Mulai saat itu Dean berjanji untuk membantu Gino dalam meyakinkan Lia. Sejak hari itu pula Dean dan Gino menjadi sahabat.


Benar adanya mengenai apa yang diceritakan Mama Susi beberapa waktu yang lalu mengenai Gino. Gino adalah sosok yang baik. Dean sedikit terkejut mendapati kepribadian Gino yang bertolak belakang dengan yang ia kenal selama ini. Sosok Gino yang usil dan penuh rasa iri berubah drastis menjadi sosok yang dewasa dan berbudi.


Gino dan Lia akhirnya resmi bertunangan tiga bulan yang lalu. Dan nanti malam adalah hari yang ditunggu-tunggu sepasang insan yang sudah saling mencintai ini. Gino mendapatkan apa yang ia harapkan selama ini, sedangkan Lia merasa beruntung karena mendapatkan sosok yang sangat mencintainya.


Pesan Author:

__ADS_1


Lebih baik dicintai daripada mencintai, karena jika dicintai kita merasa seperti raja dan ratu sedangkan bila mencintai kita seperti pelayan. Tapi lebih baik lagi kalau bisa saling mencintai dan dapat feedback.😁


__ADS_2