
Setelah makan siang, Pak Yuda menyuruh Dean dan Lia pulang saja, tidak usah pergi lagi ke kantor, hitungan-hitungan Pak Yuda memberikan bonus bebas jam kerja pada Dean dan juga Lia, karena dirinya juga akan pulang untuk beristirahat.
Mereka akan pulang bersama-sama, Pak Yuda juga mengajak Lia, dan nanti akan di antar oleh Dean menuju kediaman nya yang memang tak jauh dari apartemen Dean.
Lia mengangguk setuju menanggapi tawaran Pak Yuda. Ini adalah kali kedua dirinya diantar Dean pulang ke rumah, setelah sebelumnya beberapa Minggu yang lalu.
Dean memacu kendaraannya menuju rumah Pak Yuda terlebih dahulu. Setelah sampai dirumahnya, Pak Yuda lantas turun dari mobil yang dikendarai oleh Dean.
"Dean, Lia, ayo mampir dulu," kata Pak Yuda.
"Tidak us... ," ujar Dean terpotong karena perhatiannya dan Pak Yuda kini beralih pada Elin yang memanggil papi nya.
"Papi, tumben pulang nya cepat," ujar Elin yang kala itu sedang berjalan menuju halaman sambil tersenyum ramah dengan kedatangan papi nya.
"Iya Sayang. Tadi Papi, Dean dan Lia baru saja selesai meeting, jadi Papi menyuruh mereka untuk pulang dan beristirahat saja," jelas Pak Yuda.
Dean masih memusatkan perhatiannya pada gadis cantik di hadapannya kini. Gadis itu selalu melemparkan senyum ramah pada semua orang.
"Kak Lia ada juga?" tanya Elin dengan sumringah.
"Iya, dia ada didalam mobil," kata Pak Yuda pada putrinya itu sambil tersenyum gembira melihat Elin yang kian tumbuh dewasa.
Lia Sedari tadi memperhatikan pandangan mata Dean yang terlihat berbeda kala melihat Elin dihadapan nya. Tiba-tiba muncul rasa sakit dari dalam relung hatinya melihat tatapan Dean pada Elin barusan.
Wajarkah bila ia cemburu, meskipun dia dan Dean tidak punya hubungan spesial?
Wajarkah bila ia cemburu pada sesuatu yang bukan miliknya?
Lia buru-buru keluar dari mobil ketika matanya menangkap Elin akan menghampiri dirinya. Lia lalu menyematkan senyum manis nan ramah di wajah cantiknya.
"Kak Lia!" ujar Elin dari kejauhan sambil berlarian kecil menghampiri Lia.
"Elin, kamu kapan sampai? Kok tidak memberitahu Kakak, sih?" ucap Lia dengan ramah sambil memeluk Elin dengan erat.
"Dua hari yang lalu, Kak." Lia membalas pelukan Lia kemudian melepaskan nya.
"Oh... baru dua hari, ya? Kakak kirain udah lama," ujar Lia sambil tersenyum ramah.
"Iya, Kak. Dua hari yang lalu, Papi, Mami dan Dean menjemput Elin di Bandara," jelas Elin.
Raut wajah Lia langsung berubah tatkala mendengar Dean ikut menjemput Elin di bandara beberapa hari yang lalu. Ia juga terlihat melamun sejenak. Dirinya mungkin bisa menyembunyikan perasaan cintanya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Namun, Lia berusaha berpikir positif, kalau Dean ikut menjemput Elin itu adalah bagian dari pekerjaannya sebagai asisten Pak Yuda, sehingga Dean wajib menemani kemana pun Pak Yuda pergi dan kapanpun Pak Yuda membutuhkan nya.
"Ayo, mampir dulu Kak," ujar Elin memudarkan lamunan Lia.
"Eh... kapan-kapan saja Lin, Kakak rasanya pengen istirahat hari ini," ujar Lia dengan lembut menolak tawaran Elin setelah ia tersadar dari lamunannya.
"Oh baiklah, kalau Kakak sudah ada waktu janji ya main kerumah Elin," ujar elin memohon pada Lia sambil mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Lia.
__ADS_1
Lia juga mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya di kelingking Elin sebagai tanda perjanjian. "Iya Kakak janji, kalau ada waktu Kakak pasti akan mengunjungi Elin," ujar Lia sambil tersenyum berusaha menutupi rasa cemburunya.
Lia dan Elin memang sangat dekat, mereka sudah berteman sejak lama. Ketika Lia mulai bekerja di perusahaan Pak Yuda, mereka berdua pun mulai berteman, karena pada saat itu Pak Yuda sering menyuruh Lia mengunjungi rumahnya untuk mengerjakan berkas-berkas kerjasama perusahaan di luar jam kantor. Tentu saja gaji Lia pada saat itu dilebihkan oleh Pak Yuda, karena Lia rajin bekerja diluar jam kantor.
Setelah berpamitan pada Pak Yuda dan Elin, Dean dan Lia lantas masuk kedalam mobil. Dean lalu mempersilahkan Lia untuk duduk di kursi depan, disamping dirinya. Tentu saja Lia tidak menolak tawaran ini.
"Lia, ayo pindah ke depan!" ujar Dean pada Lia sambil menunjuk ke arah kursi disampingnya.
Lia mengangguk setuju dan mengikuti perintah Dean, "baiklah Dean."
Lia pun pindah ke depan menuruti perintah Dean barusan. Dean pun segera memacu kendaraannya menuju rumah Lia. Selama diperjalanan pulang, Lia berusaha menunjukkan kalau dirinya tidak cemburu menyaksikan dan mendengar hal yang melukai hatinya tadi.
"Dean, kamu hebat banget ya, bisa meyakinkan Pak Bruno untuk bekerja sama dengan perusahaan kita," puji Lia membuka percakapan diantara mereka.
"Ah... ini cuma kebetulan saja kok Li, aku gak sehebat yang kamu kira, aku juga masih perlu banyak belajar," ujar Dean dengan rendah hati.
"Tidak Dean, kamu memang hebat. Apa kamu tau? Perusahaan Pak Bruno termasuk salah satu Perusahaan yang tersulit untuk diajak bekerjasama di Indonesia. Dulu, waktu kamu belum bergabung dengan Kusuma CORP, Pak Yuda sudah beberapa kali mengajukan permohonan kerja sama dengan beliau, tapi tidak ada satupun yang berhasil," jelas Lia dengan panjang lebar.
"Oh ya? Aku rasa ini hanya kebetulan saja," ucap Dean dengan santai.
"Ya sudah kalau tidak percaya," ujar Lia dengan kesal karena Dean terus saja merendah diri.
Tak terasa mobil yang dikendarai oleh Dean sudah sampai di rumah Lia. Lia lantas meraih tas kerjanya untuk segera turun. Namun, tanpa sengaja tangan keduanya saling bersentuhan.
Lia buru-buru menarik tangannya, karena merasakan ada sesuatu yang berdetak tak karuan di dadanya.
"Dean ayo singgah barang sebentar," ajak Lia ketika dirinya sudah diluar mobil.
"Tidak usah Li, tunggu ada waktu saja ya," ujar Dean.
"Oh baiklah," ucap Lia.
Setelah berpamitan pada Lia, Dean lantas memacu kendaraannya menuju apartemen nya.
Sesampainya di area parkir apartemen, Dean hendak turun. Namun, matanya menangkap maap berwarna kuning tertinggal di kursi belakang.
Itu adalah maap yang yang selalu dibawa oleh Lia jika mengadakan pertemuan di luar kantor, isinya tentu tentang data-data kantor.
"Lho itu bukan nya maap Lia? Kok ditinggal disini sih?" gumam Dean.
Dean lantas mengambil maap itu tanpa membukanya sedikitpun. Ia lantas membawanya menuju kamar apartemen miliknya yang terletak di lantai 21 .
Sesampainya di kamar, Dean lantas meletakkan Maap itu di atas nakas kamarnya. Lalu ia mengganti pakaian dan mandi. Karena tidur semalam masih kurang, ia bisa dengan mudahnya tertidur setelah mandi. Saat terbangun ia tersadar hari sudah petang.
Karena buru-buru akan menyalakan lampu, tak sengaja tangannya menyenggol maap kuning yang terletak di atas nakas, sehingga maap itu terjatuh ke lantai dan isinya tercecer berserakan.
Dean lantas menyalakan lampu kamarnya, kemudian meraih dan menyusun kertas-kertas yang yang berserakan di lantai tersebut akibat ulahnya.
Benar saja, kertas-kertas itu berisi data-data perusahaan. Saat mengangkat kertas terakhir, Dean mengerutkan keningnya melihat kertas yang satu ini berbeda dari yang lainnya.
__ADS_1
Kertas ini bertulis tangan, tulisannya sangat rapi. Ini dipastikan adalah goresan tinta dari tangan seorang wanita.
Dean lantas bangkit dan duduk di atas kasurnya untuk membaca secarik kertas yang berbeda itu. Rupanya kertas itu adalah sebuah surat ungkapan perasaan tertulis. Apakah surat itu milik Lia? Tapi kenapa dia menulis surat itu? Lalu untuk siapa? lalu kenapa ada didalam maap itu?
"Dear my first love...
Aku tidak menyangka, jika hatiku yang sekuat dan setegar batu karang ini bisa dengan mudahnya luluh karena dirimu...
Kita baru saja bertemu, tapi hatiku begitu menginginkan mu. Kau sangat mengagumkan dan sangat menarik bagiku...
Oh Cinta pertama ku...
Mantra apa yang kau gunakan untuk menaklukkan hati ini?
Bagaimana bisa kau menyusup masuk ke ruang hati yang sudah membatu ini?
Ada banyak cinta dan perhatian yang pernah menawarkan diri pada hati ini, tapi hati ini tak bergeming, sehingga tak ada yang bisa membuka dan meluluhkan nya...
Kau menjadi orang pertama yang singgah dan bertahta di hati ini...
Aku tidak sekedar Menyukai mu, tapi sudah mencintai mu...
Aku berharap engkau bisa mengerti dengan maksud perhatian ku selama ini padamu...
Entah ini kebodohan atau ketulusan, aku tidak mengerti. Yang aku tau aku sangat mencintaimu....
Karena pada hakikatnya, hati tidak bisa menentukan kemana ia akan berlabuh...
From your secret admire
(GreLa)
Begitulah isi surat yang baru saja di bacakan Dean.
Jika benar ini adalah surat milik Lia, Dean lantas bertanya-tanya apakah surat ini tertuju padanya? Karena hanya dirinya lah yang bisa mendapatkan perhatian dari gadis cantik nan cerdas itu. Namun, Dean juga tidak mau GeEr, mungkin saja Lia punya sosok lain yang di kagumi nya.
Jika bukan untuk Dean, lantas kepada siapa surat itu tertuju? Pasal nya, selama ini Lia tidak pernah menceritakan kedekatannya dengan lelaki lain.
Meskipun baru beberapa bulan berkenalan, sedikit banyak Dean sudah mengetahui seluk beluk kehidupan Lia. Dia seorang wanita cantik dan cerdas yang tak tertarik untuk menjalin kasih. Begitulah kira-kira penilaian Dean pada Lia.
Dean lantas menyimpan kembali surat itu ke tempat asalnya. Ia pikir besok ia akan mengembalikan berkas itu kepada yang empunya. Ia juga tidak mau ambil pusing kepada siapa surat itu tertuju, yang jelas itu bukan urusan nya.
Jika surat itu tertuju untuk orang lain, berarti Lia memiliki seseorang yang di kagumi nya dan tak pernah ia ceritakan pada dirinya. Namun, jika surat itu tertuju padanya, maka Dean akan membuat Lia melupakan perasaan cintanya secara perlahan, karena ia tidak pernah menganggap Lia lebih dari teman dan tidak ingin menyakiti perasaan orang yang sudah membantu dirinya selama ini.
Selain itu, ia juga masih ingin fokus mengejar mimpinya, sehingga belum ada kesempatan bagi hati yang ingin singgah di hatinya. Begitulah kira-kira tujuan Dean saat ini.
Dean kemudian beranjak dari duduknya, dan meninggalkan kamarnya untuk menghidupkan lampu-lampu di ruangan lain yang akan menerangi apartemen nya, karena hari sudah petang.
Untuk readers semua, jangan lupa like, komen and vote karya author yah...😘
__ADS_1