
Tiba-tiba, Brughh...,
"Aww!" jerit Elin kesakitan karena baru saja terjuntal akibat tersenggol seorang Pria yang tidak fokus saat berjalan itu.
"Eh..., Maaf, Kak. Saya tidak sengaja," ujar pria itu sambil mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf, dan segera mengulurkan tangannya untuk membantu Elin bangkit.
Wajah kesal Elin enggan menatap pria itu, ia hanya melirik sekilas tangan pria itu, kemudian meraihnya dan segera bangkit.
"Kalau jalan tuh fokus kedepan! Bukan fokus sama handphone!" bentak Elin.
"Iya, Kak. Maaf," ujar pria itu.
Elin lantas merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu menatapnya intens, seperti sedang mengingat seseorang.
"Elin!" ucap pria itu sumringah.
"Ha?!" Elin nampak kebingungan dan mengerutkan keningnya. Bagaimana pria itu tau namanya, padahal baru saja bertemu.
"Kamu ingat aku?!" ujar Pria itu.
Elin memperhatikan wajah pria itu betul-betul. "Diko!!" seru Elin sumringah.
Diko menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian perhatiannya teralihkan ke koper-koper dan barang bawaan Elin yang sangat banyak itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Diko heran, memperhatikan banyaknya barang bawaan Elin.
"Aku mau pulang."
"Kamu akan menetap disini?" tanya Diko ingin tahu.
"Iya, aku akan menetap di Jakarta," jawab Elin dengan antusias.
"Wah..., Bagus dong. Aku juga sudah menetap di Jakarta," imbuh Diko.
"Kamu sudah lama menetap di Jakarta?" tanya Elin.
"Baru 6 bulan ini," ujar Diko sambil menatap lawan bicaranya penuh perhatian.
"Oh iya, kamu ada gerangan apa disini?" tanya Elin ramah pada lawan bicaranya.
"Aku tadi ngantarin Papa sama Mama, mereka mau terbang ke New York. Ada urusan perusahaan di sana," jelas Diko.
"Hm...," gumam Lia sambil mengangguk.
"Aku kira kamu mau minggat, habisnya barang bawaannya banyak banget deh," ujar Riko sambil tertawa kecil melihat barang bawaan Elin yang tidak sedikit.
__ADS_1
Keduanya terlibat pembicaraan yang cukup lama di bandara, hingga akhirnya Elin menyadari dirinya belum memesan mobil lagi untuk mengantarnya pulang.
"Maaf ya, Diko. Aku buka HP sebentar. Mau pesan taksi, kelupaan tadi," ujar Elin sambil mengambil handphone yang ada di saku tasnya.
"Kamu mau pulang sekarang? Aku antarin aja, sekalian aku juga mau pulang," tawar Diko.
"Iya aku mau pulang, aku pesan taksi saja. Barang bawaan ku banyak banget nih, nanti malah ngerepotin kamu," ujar elin menolak tawaran Diko.
"Nggak papa kali. Kamu tuh, kayak sama siapa aja," ujar Diko bersikeras.
"Kalau memang nggak ngerepotin, aku mau," ujar Elin tersenyum sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Setelah memasukan semua barang bawaan Elin ke bagasi mobilnya, Diko lantas masuk dan mulai menjalankan mobilnya. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang saja, karena lalu lintas terlihat ramai lancar.
"Nomor handphone mu sudah diganti, ya?" tanya Diko sambil menurunkan kecepatan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah.
"Iya, ponselku sempat hilang beberapa tahun yang lalu, jadi semua kontak yang ada hilang semua," jelas Elin.
"Pantas saja pesanku tidak pernah kau baca waktu itu," ujar Diko kecewa.
" Maaf ya, Diko," kata Elin memohon.
"Iya, nggak papa kok. Boleh minta nomor mu lagi?" ujar Diko sambil menyengir.
"Ok. Aku turunin disini, ya!" ancam Diko dengan wajah yang sok serius, padahal ia tidak tega melakukan hal itu.
"Oh... Nggak ikhlas, nih? Baiklah Aku turun sekarang," ancam balik Elin sambil mengangguk.
"Eh..., Aku hanya bercanda," ujar Diko sambil menghalau posisi Elin yang hendak keluar dari mobilnya, padahal Elin hanya bercanda.
"Hahaha... Kamu kira aku serius? Mana berani aku keluar dengan keadaan mobil berjalan seperti ini," ucap Elin sambil tersenyum bercanda bersama temannya itu.
"Siapa tahu aja ya, kan?!" ujar Diko sambil mengejek. "Pulang dari perantauan dapat ilmu kekebalan," sambungnya sambil tertawa.
"Heh... Kamu kira aku merantau mau nuntut ilmu kekebalan, gitu?" ujar Elin melototkan matanya ke arah Diko yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
"Iya iya, aku hanya bercanda kok," ujar Diko sambil tersenyum ke arah Elin.
Tak terasa, mobil yang ditumpangi Elin sudah sampai di depan rumahnya. Rumahnya masih terlihat seperti dulu, tidak ada perubahan. Rumah yang selalu membuat Elin merindukan suasananya.
Sejak 3 tahun lalu Elin tak pernah pulang lagi. Bukan tanpa sebab, Elin disibukkan dengan skripsinya waktu itu, sehingga dia tidak ingin membuang waktunya untuk pulang. Namun, setelah menyelesaikan skripsinya, Elin mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan yang dapat menambah skill dan keterampilannya dalam bekerja.
Meskipun anak orang kaya, Elin tidak mau terus bergantung pada orang tuanya. Ia ingin mandiri, sebab ia sudah berada di usia dewasa sehingga tidak mau lagi dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Akhirnya, Elin harus menahan rindu selama 3 tahun tak bertemu kedua orang tuanya.
Setelah turun dari mobil, Elin lantas menekan bel rumahnya. "Ting tong, Ting tong." Berulang kali menekan bel, akhirnya ada jawaban dari dalam rumah.
__ADS_1
" Iya, sebentar!" pekik seorang wanita yang sudah sangat Elin kenali suaranya. Iya, dia adalah mami Meri.
Elin tersenyum kecut menahan gejolak rindu yang akan segera membuncah, sambil menunggu di depan pintu hingga tuan rumah membukakan pintunya.
"Cekreeekkk...." Pintu terbuka.
Mami Meri terlihat menganga tak percaya. Ia begitu terkejut melihat kedatangan putri semata wayangnya itu. Kerinduan yang sempat membuncah kini hilang setelah melihat kedatangan putrinya. Jatuh setetes air mata kerinduan dari pelupuk matanya. Ia lantas berhamburan memeluk putrinya itu dengan sangat erat, dan tak mau melepaskannya, walaupun hanya sebentar.
"Nak, Mami sangat merindukanmu," ucapnya lirih sambil memeluk erat putrinya itu.
"Elin juga, Mami. Elin sangat rindu Mami," ucap Elin lirih, dan air mata kerinduan tertumpah di pundak sang ibu.
Setelah selesai, Diko yang tadinya menurunkan barang bawaan Elin, terdiam sambil mendudukkan dirinya di depan mobilnya. Ia begitu merasakan bagaimana rasanya menahan kerinduan, karena ia juga sudah merasakannya.
"Siapa, Mah?!" tanya Pak Yuda sambil berjalan ke arah pintu depan.
Pak Yuda dan Mami Meri sebelumnya sedang bicara santai berdua di taman belakang. Bik Suni sudah pergi ke pasar, jadi hanya mereka berdua yang ada di rumah. Karena istrinya tak kunjung datang, Pak Yuda merasa khawatir pada istrinya yang tadi berpamitan untuk membuka pintu, namun tak kunjung datang.
"Lia!" ucap Pak Yuda terpana. Perhatiannya terpusat pada Elin, putri yang sangat dirindukan oleh nya.
"Kamu ingat pulang, Nak?" ucap Pak Yuda lirih.
Elin yang sebelumnya berpelukan dengan ibunya kemudian melepaskan pelukannya dengan ibunya, dan segera memeluk Papinya.
"Papi!" ujar Elin sambil menangis dan memeluk Papinya dengan erat.
Namun, Pak Yuda tak membalas pelukan Elin, ia membiarkan tubuhnya direngkuh putrinya itu, sambil mengedipkan matanya yang basah akibat terjunnya butiran manik dari pelupuk matanya.
"Papi, aku sangat rindu pada Papi!" ujar Elin sambil tersedu-sedu.
"Papi tidak merindukan mu, sekarang lepaskan pelukan mu!" perintah Pak Yuda. Ia begitu kecewa pada Elin yang tak ingat kembali ke rumah.
Namun, Elin Kian mempererat pelukannya. Merangkuh tubuh renta itu seolah tak ingin lepas, meskipun bahu Pak Yuda semakin basah akibat air matanya.
Kekecewaannya pada putrinya itu seketika runtuh karena rasa kerinduan yang begitu besar. Ia lantas memeluk putrinya itu dengan sangat erat, dan sesekali mengelus pucuk kepala putrinya itu.
"Hiks... hiks... Maafkan Elin yang tidak ingat untuk pulang, Papi. Elin janji sekarang Elin tidak akan meninggalkan kalian lagi," ujar elin sambil terisak.
"Sudahlah, jangan menangis lagi," ujar Pak Yuda sambil mengelus kepala Elin dengan lembut.
Mereka lantas masuk ke rumah dan mengobrol di ruang tamu. Pak Yuda dan Mami Meri sangat kesal karena Elin pulang tidak memberitahu terlebih dahulu. Namun, Elin hanya menyengir, karena ini adalah bagian dari rencananya. Yaitu membuat kejutan untuk Mami dan Papinya. Saat melakukan panggilan video minggu lalu, Elin mengatakan bila ia akan pulang tahun depan. Tapi kepulangan nya malah semakin cepat, Pak Yuda dan Mami Meri tentu sangat senang karena kedatangan putrinya itu, apalagi Elin akan menetap di Jakarta.
Setelah menikmati minuman yang sudah disuguhkan oleh Bik Suni, Diko lantas berpamitan untuk pulang.
Elin lantas masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Kamarnya masih seperti yang dulu. Bahkan tumpukan buku-buku yang ia tinggalkan 3 tahun yang lalu masih pada posisinya, tidak ada yang berubah. Kamar yang merupakan tempat Elin sering menghabiskan waktunya.
__ADS_1