Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Meloncat Saja Kalau Berani (Gino)


__ADS_3

"Mau lari kemana lagi?" ujar Gino sambil menyambar lengan Lia.


Lia terkejut mendapati Gino sudah memegang lengannya, "Gino, tolong lepasin!" bentak Lia.


"Nggak!" bentak balik Gino.


"Gino, kamu mau bawa aku kemana sih? aku mau pulang, tolong lepasin aku!" ujar Lia dengan nada suara sedikit lembut memohon agar di lepaskan gino.


"Biar aku yang antar kamu pulang," ujar Gino sambil terus menarik lengan Lia ke arah mobilnya.


"Nggak mau, aku bisa pulang sendiri," ujar Lia sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Gino.


"Bisa kata mu? Tadi saja kamu hampir tertabrak motor, lalu kamu mau pulang sendiri?" tegas Gino sambil menatap tajam ke arah Lia.


Lia pun menatap balik Gino. Lia sudah mati kutu, ini memang kesalahan nya, untung saja tadi ia tidak tertabrak motor.


Akhirnya Lia menurut saja pada Gino, lelaki yang sangat di bencinya itu.


"Ayo naik!" perintah Gino sambil membuka pintu mobilnya.


Lia lantas naik ke mobil menuruti perintah Gino, tapi ia diam saja tak menyahut perkataan Gino padanya barusan.


Gino pun menyusul masuk ke mobil dan segera memacu kendaraan nya menuju rumah Lia. Gino sudah tahu alamat rumah Lia, jadi ia tidak perlu lagi bertanya pada gadis cantik yang sedang cemberut dan matanya yang sembab di sampingnya itu.


"Kamu kenapa menangis tadi?" tanya Gino sambil melirik ke arah Lia yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


Namun, yang di tanya hanya diam saja. Sepatah kata pun tidak Gino dapatkan dari mulut Lia. Gino lantas menghela nafas nya.


"Lia, kalau kamu punya masalah ceritain aja sama aku, aku siap jadi pendengar kok," timpal Gino pada Lia.


"Ih... berisik banget sih, jangan banyak omong deh, kalau kamu terus saja ngomong aku loncat dari mobil ini sekarang!" gerutu Lia mengancam Gino karena kesal pada Gino yang sedari tadi berusaha mengajak nya untuk mengobrol, padahal ia sedang tidak mood untuk berbicara.


"Silahkan saja!" tutur Gino dengan santai nya.


Lia berusaha membuka pintu mobil untuk mengancam Gino, tapi ia tidak bisa membuka pintu mobilnya karena sudah di kunci oleh Gino.


"Kenapa nggak loncat?" ujar Gino sembari menyematkan sebuah senyum kecil di bibirnya.


Lia menatap kesal ke arah Gino yang sedang fokus mengemudikan mobil. "Pintunya di kunci!" ujar Lia dengan kesal, "terus gimana aku mau loncat?"

__ADS_1


"Benarkah?" ujar Gino pura-pura tidak tahu sambil menahan tawanya.


Gino lantas membuka kunci pintu mobilnya. "Pintunya sudah tidak terkunci lagi, silahkan loncat," imbuh Gino sambil menambah kecepatan mobilnya.


Lia lantas membuka pintu mobilnya, begitu ia melihat ke arah luar ia sangat ketakutan karena mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Padahal tadi ia hanya mengancam Gino saja, tetapi Gino benar-benar menyuruh dirinya untuk meloncat.


"Sialan si gino! Mana aku takut banget lagi," ujar Lia dalam hati.


Melihat Lia yang ragu-ragu untuk meloncat, membuat Gino kian melebarkan senyuman diwajahnya, dan hampir saja tertawa lepas karena ia tahu Lia hanya mengancamnya saja.


Lia lantas menutup kembali pintu mobilnya itu. Lia pikir ia tidak mungkin mencelakai dirinya sendiri hanya karena menghindari Gino. Jika ia melakukan hal itu, maka ia menjadi orang yang paling bodoh sedunia.


"Kenapa nggak jadi loncat? Takut?" tanya Gino sambil menyelipkan sebuah senyuman di wajahnya.


Lia lantas melipat kedua tangannya di perut dan hanya diam saja tak mau merespon Gino, ia tahu ini adalah kesalahan dirinya yang mencoba mengancam Gino, sedangkan ia takut sekali untuk meloncat dari mobil.


"Makanya, kalau takut itu jangan sok berani," timpal Gino sambil tertawa lepas yang sedari tadi ia tahan.


"Ih... berisik banget sih," ujar Lia sambil menahan tawanya.


Ia juga merasa lucu sekali dengan tingkah nya barusan, wajar saja bila Gino tertawa dengan ancaman nya.


Tak terasa mobil yang di kendarai oleh Gino akhirnya sampai di depan rumah Lia. Lia lantas segera turun dari mobil itu.


"Iya, sama-sama Lia" ucap Gino dengan penuh kelembutan serta menyelipkan sebuah senyum manis di wajahnya memperhatikan Lia dihadapan nya kini.


Setelah Lia benar-benar masuk ke rumah,


Gino kemudian masuk ke mobil dan memacu kendaraannya menuju kediaman nya yang lumayan jauh dari sini. Ia tiada henti tersenyum karena bisa mendapatkan kesempatan untuk mengantar Lia pulang hari ini, sungguh hari ini menjadi hari yang sangat berharga bagi Gino setelah beberapa tahun ini ia menunggu.


*****


"Lho, kok pulangnya sudah hampir malam seperti ini, Nak?" ujar Susi yang merupakan Mama Lia.


Lia kebingungan harus menjelaskan apa pada ibunya itu, tidak mungkin ia mengatakan sepulang dari kantor tadi dirinya ke pergi ke taman untuk menangis. Sungguh hal itu sangat memalukan.


"Pak Gugun kemana? Kok nggak kelihatan?" Mama Susi kembali bertanya pada Lia sambil menatap Lia penuh tanya.


"Astaga!" ujar Lia dalam hati.

__ADS_1


Lia baru saja teringat kalau Pak Gugun pasti sedari tadi menunggunya di kantor, Lia lantas mengambil ponselnya di dalam tas. Ia melihat ada banyak sekali panggilan masuk yang tidak ia jawab dari Dean maupun dari Pak Gugun.


Lia lantas menelpon balik Pak Gugun. Sekali panggilan saja, telponnya langsung di jawab oleh Pak Gugun.


"Halo Pak Gugun," ucap Lia kala teleponnya di jawab.


"Halo Non, Nona Lia dimana? Biar pak Gugun jemput," ujar Pak Gugun dengan nada suara cemas.


"Lia sekarang sudah di rumah, Pak Gugun pulang saja," ujar Lia.


"Syukurlah Non, tadi Bapak dan Dean berpencar untuk mencari Non Lia, kami sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Nona Lia," jelas Pak Gugun.


"Lia baik-baik saja kok Pak," ujar Lia meyakinkan Pak Gugun kalau ia baik-baik saja.


"Baiklah saya akan pulang sekarang Non," ujar pak Gugun.


Kemudian sambungan telepon pun terputus.


"Matamu kenapa sembab, Nak? Kamu habis menangis, ya?" tebak Mama Susi memperhatikan mata Lia yang sembab.


"Lia..." ujar Lia ragu-ragu, ia tidak berani menceritakan kejadian tadi siang pada ibunya.


Mendapati Lia yang tidak berani menatap dan menjawab pertanyaan darinya, mama Susi lantas menyuruh Lia untuk segera mandi dan makan, ia tidak mau memberikan tekanan pada putrinya itu. Ia tahu Lia habis menangis, hanya saja ia tidak ingin menanyakannya sekarang, tunggu Lia sudah tenang baru ia akan bertanya pada Lia.


*****


Dean terus mengemudi dan melirik setiap keramaian untuk mencari Lia, ia juga sempat turun di beberapa taman kota, tapi ia tetap tak kunjung menemukan Lia.


Dering panggilan dari pak Gugun menghentikan laju mobil Dean.


"Halo Dean," ujar Pak Gugun dari sambungan telepon.


"Iya, halo Pak Gugun, apa Lia sudah ketemu?" tanya Dean dengan penasaran.


"Non Lia sudah di rumah Dean, dia baik-baik saja," ujar Pak Gugun dengan tenang.


"Syukurlah," ujar Dean sambil menghembus lega nafasnya.


"Ya sudah, kamu pulang saja Dean," ujar pak Gugun.

__ADS_1


"Baiklah Pak," kata Dean sambil menjalankan mobilnya.


Setelah sambungan teleponnya terputus, Dean lantas memacu mobilnya menuju apartemen nya. Ia benar-benar merasa lega setelah mendengar kabar jika Lia sudah pulang ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.


__ADS_2