Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Curhat Pada Mamah (Lia)


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Lia hendak membantu ibunya untuk membereskan sisa makan malam keluarganya. Namun, ibunya melarang, dan menyuruh Lia untuk beristirahat saja di kamar. Lia pun mengangguk setuju mengikuti perintah ibunya barusan.


Mama Susi sangat menyayangi Lia, terlebih lagi Lia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak tertua Lia sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain, sedangkan Kakak keduanya juga sudah berkeluarga dan tinggal di luar pulau mengikuti suaminya.


Lia tinggal bersama kedua orangtuanya. Ayah Lia yang bernama Heru, merupakan seorang kepala divisi di suatu perusahaan yang bergerak di bidang properti. Profesi ini sudah di tekuni nya sejak ia masih muda, dan sekarang beliau sudah memasuki usia senja, tetapi ia tetap saja enggan untuk keluar dari pekerjaannya, karena ia malas jika harus berdiam diri di rumah saja, begitulah jawaban Pak Heru ketika diminta resign oleh anak-anak maupun istrinya.


Setelah tiba di kamarnya, Lia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk yang menopang tubuhnya itu setiap malam. Kasur itu terlihat sangat nyaman digunakan untuk tidur, terlebih lagi jika sedang kelelahan.


Namun, Lia tidak bisa semudah itu untuk memejamkan matanya. Gema suara Pak Gugun yang mengatakan jika Dean sangat menghawatirkan dirinya, selalu saja mengusik jiwanya. Terlebih lagi ada banyak log panggilan dari Dean yang tidak ia jawab tadi sore, hal itu menunjukkan betapa khawatir nya Dean pada dirinya.


Tanpa sadar, buliran bening merayap di pipi mulusnya itu. Ia kembali merasakan kekecewaan dan sakit hati jika mengingat Dean. Orang yang di kagumi nya selama ini ternyata hanya memberikan harapan untuk hatinya.


Jika Dean memang tidak memiliki perasaan padanya, lalu mengapa Dean begitu khawatir pada dirinya saat menghilang? Lalu untuk apa Dean juga ikut mencari dirinya tadi sore? Bukankah Dean tidak perlu peduli pada dirinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seketika di benak wanita cantik dan cerdas itu, ketika dirinya sedang duduk dan melamun di atas kasur.


Buliran air mata penyesalan juga tiada hentinya terjun bebas membasahi pipinya. Dirinya benar-benar merasakan sakit ketika kehilangan seseorang yang menjadi tumpuan harapan hatinya selama ini.


"Lia," ucap Mama Susi dengan lembut dari depan pintu kamar Lia yang tidak di tutupnya tadi.


Mendengar ibunya memanggil, Lia buru-buru menyapu air matanya dengan selimut yang berada di sampingnya.


"Kamu kenapa menangis, Nak?" tanya Mama Susi penuh iba, sambil berjalan ke arah Lia kemudian merangkul dengan erat putri bungsunya itu.


"Lia nggak kenapa-kenapa kok Mah, Lia baik-baik saja," ujar Lia sambil tersenyum simpul mencoba menutupi kesedihannya, berusaha meyakinkan ibunya jika dirinya baik-baik saja.


Namun, mata Lia masih memerah dan sudut matanya masih basah. Menandakan ia baru saja menangis.

__ADS_1


Mama Susi lantas mengelus dengan lembut punggung Lia, "Nak, kamu masih tanggung jawab Mamah dan Papah. Jadi kalau ada sesuatu hal yang membuat Lia terluka katakan saja pada Mamah atau Papah, jangan sungkan."


Lia lantas menyahut perkataan ibunya barusan dengan yakin."Lia baik-baik saja kok, Mah."


Mama Susi kemudian melepaskan rangkulannya dan memperhatikan dengan seksama wajah ayu putrinya itu yang sudah memasuki usia dewasa.


Tangan halus Mama Susi menyentuh dengan lembut sudut mata Lia yang masih basah dan tak mampu menutupi pernyataan Lia barusan. "Kalau Lia baik-baik saja, lantas mengapa Mata mu memerah, dan sudutnya terasa basah seperti ini."


Lia terdiam dan tidak mampu menyangkal lagi, ibunya benar-benar ingin mengetahui hal apa yang telah membuat dirinya menangis.


"Lia sudah besar Mah, Lia pikir bisa menyelesaikan semua masalah Lia sendiri," ujar Lia pada ibunya.


"Nak, terkadang kita juga perlu mendengar dan melihat dari sudut pandang orang lain mengenai masalah yang kita hadapi. jadi, jangan pernah sungkan berbagi cerita dengan Mamah dan Papah. Fisik dan umur mu memang sudah dewasa, tapi bagi Papah dan Mamah, Lia adalah seorang anak kecil yang harus selalu kami jaga," jelas Mama Susi sambil mencium kening Lia.


Lia terharu mendengar ucapan ibunya barusan, ia lantas memeluk ibunya dengan erat. Tangisannya pun tidak dapat ia bendung lagi, Lia menumpahkan air matanya di pelukan ibunya.


Setelah tangisannya mereda, Lia lantas melepaskan pelukannya. Meskipun tangisan nya sudah mereda, tetapi buliran air mata masih saja mengalir dari kelopak matanya.


"Nak, coba ceritain sama Mamah, sebetulnya apa yang terjadi?" ujar Mamah Susi dengan lembut sambil menyingkap rambut Lia yang menutupi wajah putrinya itu.


"Lia salah Ma, Lia salah sudah menaruh hati pada nya," ujar Lia sambil tersedu-sedu.


"Selama ini Lia menaruh hati padanya, tapi tadi siang Lia mendengar sendiri dengan telinga Lia, kalau dia tidak punya perasaan sedikitpun pada Lia," imbuh Lia sambil terus mengeluarkan air matanya.


Mama Susi kebingungan mendengar penjelasan Lia. Ia tidak tau siapa yang dimaksud oleh Lia. "Siapa orang yang kamu maksud,Nak?"


"Dean," ucap Lia dengan lirih.

__ADS_1


"Dean teman kantor kamu itu? Yang sering Lia ceritain sama Mamah?" tanya Mama Susi meyakinkan ucapan Lia.


Lia mengangguk mendengar pertanyaan ibunya.


"Selama ini, Lia dan Dean selalu bersama kemanapun, kita juga saling memberikan perhatian satu sama lain, hal itu lah yang membuat Lia diam-diam menaruh hati padanya. Lia pikir Dean juga merasakan apa yang Lia rasain, tapi ternyata perhatian dan kebersamaan kami selama ini tidak ada artinya bagi Dean," jelas Lia dengan lirih sambil terus menangis.


Berdasarkan penjelasan Lia barusan, Mama Susi menyimpulkan jika Lia menangis itu karena ia kehilangan harapan pada seseorang yang di kagumi nya selama ini. Ini adalah kali pertama putrinya itu menangis karena cinta.


Hal yang membuat Mama Susi turut prihatin pada Lia, yaitu, ketika Lia baru saja mengenal dan merasakan cinta, ia langsung terluka karena harapan nya yang pupus.


"Apa Lia salah karena sudah jatuh cinta padanya?" ujar Lia sambil tersedu-sedu.


Mama Susi lantas memeluk lagi putrinya itu dengan erat. "Nak, kamu tidak salah sudah jatuh cinta padanya, karena pada dasarnya hati tidak pernah bisa memilih kemana ia akan melabuhkan dirinya."


"Yang salah itu harapan mu padanya. Kamu tidak boleh berharap lebih pada seseorang, karena banyak orang terluka karena harapan nya sendiri pada orang lain. Jadi jatuh cinta lah sewajarnya, jangan berlebihan," imbuh Mama Susi menasehati Lia.


"Perlu kamu ingat, Nak, jangan berusaha mengejar sesuatu yang belum pasti kamu dapatkan, tapi cobalah melihat seseorang yang begitu menginginkan dirimu," ujar Mama Susi dengan nada suara lembut memberikan nasehat pada putrinya itu.


"Ya sudah, sekarang ayo istirahat. Kamu tidak boleh begadang, nanti kamu sakit," ujar Mama Susi sambil melepas pelukannya dengan Lia.


Lia mengangguk menuruti perkataan ibunya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya, kemudian Mama Susi menarik selimut sehingga menutupi sebagian tubuh Lia.


Cup, sebuah kecupan mendarat di kening Lia tatkala Mama Susi hendak meninggalkan kamar Lia menuju kamarnya, untuk menyusul suaminya yang sudah beristirahat setelah makan malam tadi.


..." Ketika kamu sudah menaruh harapan pada seseorang, maka kamu juga sudah siap untuk patah dan jatuh karena harapan mu sendiri. Karena tidak semua harapan bisa berjalan sesuai dengan keinginan mu "...


...~Dominikus Dewanda~...

__ADS_1


__ADS_2