Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Kejutan


__ADS_3

*5 tahun kemudian


Setelah melewati semua aral melintang selama 5 tahun yang lalu, kini Dean sudah berhasil mewujudkan mimpinya. Ia sekarang sudah menjadi seorang sarjana. Disamping kesibukannya dengan jadwal kuliah, Dean juga berusaha membagi waktunya untuk bekerja di kantor Kusuma corp. Keduanya dapat Dean jalankan dengan sebaik-baiknya.


Kehidupan keluarganya kini jauh berubah dari 5 tahun yang lalu. Usaha perdagangan yang diberikan oleh Pak Yuda kepada ibu dan kedua adiknya berkembang sangat pesat, sehingga bisa merubah kehidupan mereka. Keluarga mereka yang dulunya hidup serba kekurangan, kini jadi serba kecukupan. Tak jarang mereka membagikan rejeki dengan memberi sumbangan ke panti asuhan.


Riko kini sedang disibukan dengan jadwal kuliahnya, sedangkan Gita disibukkan dengan ujian akhir SMA, dan sebentar lagi akan masuk ke perguruan tinggi. Ibu Dewi menjadi wanita tangguh setelah ditinggal suaminya 5 tahun yang lalu. Menjalankan peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya itu. Tidak mudah memang, namun tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya untuk mencari sosok pengganti almarhum suaminya itu, meskipun Dean dan kedua adiknya mengijinkan.


Pak Yuda dan istrinya merasa bangga karena kepedulian mereka bisa merubah kehidupan keluarga Dean. Hubungan keluarga Pak Yuda dan keluarga ibu Dewi juga semakin erat, berkat bantuan Pak Yuda, kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik. Ucapan terima kasih tak pernah luput dari mulut ibu Dewi kepada Pak Yuda dan istrinya.


"Wah, tokonya semakin besar saja, Bu. Barang-barang nya juga semakin lengkap," ujar Mami Meri kagum sembari mengelilingi toko sembako milik ibu Dewi.


"Iya benar, Bu. Sebulan yang lalu toko ini baru saja direnovasi menjadi lebih besar dari sebelumnya," jelas ibu Dewi.


"Bagus itu, Bu. Semoga kedepannya usaha ibu ini semakin baik, dan pasokan barangnya semakin lengkap," timpal Pak Yuda.


"Amin, Pak. Ini semua berkat bantuan dari Pak Yuda dan Ibu Meri, saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau bapak dan ibu tidak menolong kami waktu itu. Sekali lagi terima kasih, Pak, Bu," kata ibu Dewi dengan nada suara terharu.


"Berterima kasihlah pada Tuhan, Bu. Kami hanya perantara saja, lagipula ini bukan pemberian dari kami, kalian menganggapnya sebagai pinjaman, bukan?" ujar Pak Yuda.


"Meskipun ini adalah pinjaman, kami tetap berterima kasih, entah apa yang dapat kami berikan untuk membalas kebaikan kalian ini," ujar ibu Dewi.

__ADS_1


"Bu!" panggil Dean sambil melangkah masuk ke toko.


"Iya, ibu di sini!" pekik ibu Dewi.


"Eh... Bapak, Ibu," ujar Dean sambil mencium tangan ketiga orang itu.


"Habis darimana kamu hari libur gini, Dean?" tanya Pak Yuda sambil mengelus dengan halus kepala Dean saat mencium tangannya.


"Habis menemui teman, Pak," kata Dean sambil tersenyum.


"Oh... Gitu." Pak Yuda menganggukan kepalanya.


"Kami hanya jalan-jalan saja, Dean. Ingin melihat perkembangan usaha ibumu ini," jelas Pak Yuda.


"Oh, iya," sahut Dean sambil mengangguk.


Mereka lantas menikmati kopi yang sudah disiapkan oleh ibu Dewi dan berbicara santai di teras depan toko tersebut.


...*****...


Seorang wanita terlihat gelisah menunggu di kursi tunggu bandara Halim Perdanakusuma. Sejak kedatangannya tadi, ia sudah terlihat gelisah.

__ADS_1


"Aduh..., Mobilnya Kemana, lagi?! Padahal udah dipesan dari kemarin deh!" umpat Elin kesal sambil melirik ke segala arah.


Mobil yang dipesannya belum juga tiba, padahal sudah dipesan dari kemarin. Sebelum keberangkatannya tadi, ia juga sudah mengingatkan sopir itu agar tidak telat. Sekarang ia sudah tiba di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, tapi mobil yang ia rental belum juga terlihat, bahkan nomor sopirnya pun tidak aktif.


Elin kian merungut kesal. Sudah 2 jam ia menunggu dan luntang lantung di bandara, hanya untuk menunggu mobil sewaannya tiba.


Elin sengaja merental mobil karena barang bawaannya yang sangat banyak. Tak tanggung-tanggung, ada 3 koper besar dan beberapa tas yang memuat semua pakaiannya selama merantau untuk kuliah dan bekerja selama 2 tahun.


"Hadehhh... Gimana sih sopirnya, kok ga aktif gini!" ujar Elin sambil berulang kali mencoba menghubungi sopir tersebut. Namun, sampai sekarang nomornya tidak aktif.


"Seandainya saja aku tidak membuat kejutan untuk Mami dan Papi, sudah dari tadi aku minta jemput. Mereka pasti sangat senang, apalagi aku akan menetap disini," sesal Elin.


Elin sudah serba salah, setelah bosan berdiri ia duduk. Setelah bosan duduk ia kembali berdiri, hanya untuk menunggu sopir tersebut.


"Dret dret." Sebuah notifikasi pesan masuk dari sopir tersebut. Elin lantas membuka pesan tersebut.


"Ha! Lagi di Bandung?! Terus kenapa nggak bilang dari tadi sih! Kalau tau gini udah pesan taksi dari tadi! " ujar Elin merungut kesal setelah membaca pesan dari sopir tersebut, yang mengatakan kalau dirinya sedang mengantar penumpang ke Bandung.


"Kalau nggak bisa tuh bilang dari kemarin kek, kayak gini kan menyusahkan saja!" gerutu Elin mencaci, padahal orang yang ingin ia caci tidak ada di sana.


Seorang Pria terlihat berjalan sambil memainkan ponselnya, hanya sesekali ia melihat ke arah jalan, selebihnya, perhatiannya terpusat ke gawai yang ada di tangannya itu, tanpa memperdulikan apa yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2