
"Aww...." Dean merintih kesakitan saat membersihkan luka di sudut bibirnya.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Dean meletakan peralatan P3K yang ada di tangannya dan segera membuka pintu.
"Elin," kata Dean sembari menatap gadis itu tengah berdiri di hadapannya.
"Ada perlu apa, ya? Tumben kamu kemari?" tambahnya.
"Aku disuruh papi ke sini," jawab Elin dengan wajah datar.
"Oh. Silahkan masuk," ujar Dean mempersilahkan Elin masuk ke dalam rumahnya.
Elin pun berjalan masuk dan langsung menduduki sofa yang ada di ruang utama. Ia melihat beberapa peralatan dan obat-obatan yang tergeletak di atas meja, dan ia yakini itu adalah obat-obatan yang Dean gunakan untuk mengobati lukanya.
"Maaf berantakan, aku tadi sedang mengobati luka di wajahku," ujar Dean sembari tersenyum malu-malu karena meja itu sangat berantakan.
"Tidak apa-apa," kata Elin sembari merogoh ponsel dari tas kecilnya.
"Akan ku kemas dulu," ujar Dean sembari mengambil semua obat-obatan itu dan memasukannya kembali ke dalam kotak.
"Jangan dikemas dulu, bukankah kamu belum selesai mengobati luka itu?"
"Iya, nanti saja. Lagipula lukanya nggak terlalu perih, kok," ujar Dean berdusta, padahal luka itu terasa sangat perih dan beberapa kali ia merintih kesakitan.
"Sini ku bantu obatin," tawar Elin hendak merampas kotak P3K dari tangan Dean.
"Tidak usah, El. Nanti aku obatin lukanya sendiri. Btw kamu disuruh papi ke sini, ada apa, ya?" tolak Dean sembari menjauhkan kotak P3K dari jangkauan Elin.
"Papi memintaku untuk mengobati lukamu, sebagai buktinya aku harus mengirimkan foto saat aku mengobati lukamu, biar aku tidak dikira berbohong oleh papi. Jadi cepat bawa kemari kotak tersebut, setelah itu aku akan pulang, kamu pun tidak perlu terganggu lagi dengan kehadiranku."
Dean lantas memberikan kotak tersebut pada Elin. Sebenarnya ia sangat senang bila Elin datang karena murni ingin mengobati lukanya, tapi ternyata itu hanyalah khayalan belaka sebab Elin punya tujuan lain datang ke rumahnya.
Dengan sigap tangan Elin mengeluarkan kembali obat-obatan tersebut lalu mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan sisa darah di luka wajah Dean.
Setelah sedikit alkohol itu ia tuangkan ke kapas, tangannya yang kiri mengambil ponsel dan membuka kamera selfie untuk membuat bukti jika dirinya tidak berbohong pada papinya.
Tangan kanannya ia arahkan ke luka yang ada di wajah Dean, sedangkan tangan kirinya menekan ikon potret di ponsel untuk mengabadikan momen tersebut.
"Aww...." Dean kembali merintih kesakitan saat alkohol kembali bersentuhan dengan luka di sudut bibirnya itu.
"Untung aja fotonya cepat diambil! Coba tahan dikit, masa cowok kok lemah banget sih, Cemen!" caci Elin pada Dean.
"Sebentar, aku kirim buktinya pada papi dulu," kata Elin sambil meletakkan kapas itu ke atas meja lalu mengirimkan foto tersebut pada papinya.
Harapan Dean pupus, Elin akan segera pulang setelah mendapatkan bukti itu, padahal ia sangat berharap Elin benar-benar mengobati luka di wajahnya.
"Sudah," kata Elin sambil meletakkan ponselnya ke atas meja dan kembali mengambil kapas dan menuangkan kembali alkohol ke kapas tersebut.
Dean mendapat harapan lagi karena Elin kembali mengambil kapas itu.
"Tahan dikit, ya. Memang agak perih, sih, tapi kamu harus tahan, biar nggak dikira banci," titah Elin.
__ADS_1
"Hm." Dean melebarkan senyumnya meskipun bibirnya terluka.
Elin dengan telaten membersihkan setiap luka tersebut, meskipun beberapa kali Dean merintih kesakitan. Tangan halusnya dan wajah cantiknya menjadi pemandangan teduh yang bisa Dean lihat pagi ini.
"Siapa yang melukaimu?" tanya Elin tiba-tiba.
"Orang," kata Dean santai. Ia tak mau mengatakan yang sesungguhnya.
"Iya aku tahu dia orang, tapi siapa namanya?!" desak Elin.
Dean lantas menghembuskan nafasnya, "Diko."
"Apa?! Diko?!" Elin shock mendengar itu.
"Sudahlah, nggak papa kok. Aku baik-baik saja, lagipula dia juga sama terluka, karena kami tadi sempat beradu bogem," kata Dean.
Elin sejenak termenung.
Jadi Diko benar-benar marah pada Dean, seharusnya aku tidak mengatakan tentang perjodohanku padanya kemarin, batin Elin.
"El, kenapa melamun?" tanya Dean mendapati Elin termenung.
"Ah. Enggak, kok," jawabnya sembari tersenyum sekilas dan Kembali membersihkan luka di wajah Dean.
Setelah selesai membersihkan luka itu, Elin lantas meraih obat merah dan mengolesinya pada wajah Dean yang terluka.
Tangan lembut itu kembali menarik perhatian Dean, ia tak tahan untuk menahan pandangannya pada sepasang manik mata yang sendu itu.
Senyum di bibirnya sangat tipis, karena ia tak mau tertangkap basah sedang mengamati gadis itu.
Jujur saja Dean sangat senang dengan perjodohan ini, bahkan keluarga Dean juga turut senang dengan hal ini, hanya saja masalahnya mereka berdua yang belum pernah berbicara empat mata mengenai hal ini.
"Elin," panggil Dean.
"Ya?"
"Kamu setuju dengan perjodohan kita?" tanya Dean, sudah lama pertanyaan itu ingin ia sampaikan pada Elin, tapi baru kali ini ia berani mengatakannya.
Elin sejenak terdiam, sebenarnya ia tidak setuju, tapi demi kedua orangtuanya, ia rela melakukan ini, "hm."
"Jika memang kamu keberatan, kita bisa membatalkannya," kata Dean.
Bisa saja perjodohan itu dibatalkan jika mereka sepakat, tapi bagaimana dengan papinya, karena papinya sangat berharap mereka bisa menikah.
"Aku tidak ingin lagi melawan perintah papiku," jawab Elin dengan ekspresi datar.
"Aku hanya tidak ingin memaksa kamu, El. Kamu berhak bahagia bersama orang yang kamu pilih, aku mengerti, kok."
Elin lantas menghentikan aktivitasnya, lalu memandang ke lain arah, "Aku memang bisa memilih kebahagiaanku sendiri, tapi kebahagiaan papi dan mami itu yang utama," jelas Elin.
"Bila seperti itu pendapatmu, maka aku akan berjanji untuk membuat kamu bahagia, Elin. Sebelum adanya perjodohan ini, aku sudah jatuh hati padamu," ucap Dean mengakui perasaannya.
__ADS_1
"Aku tau dulu aku pengecut, aku tidak berani mengatakannya padamu, tapi aku rasa ini lebih baik daripada aku harus mendengar kata penolakan."
"Lalu sekarang, kenapa kamu berani mengatakannya?" tanya Elin sembari menatap Dean.
"Sekarang aku sadar, aku tidak bisa membiarkan perasaan ini terbengkalai. Aku sudah bertekad pada diriku sendiri, untuk belajar menerima sesuatu meskipun itu menyakitkan."
"Maafkan aku, Dean. Dengan adanya perjodohan ini, aku tidak berjanji bisa mencintai kamu, aku melakukan ini karena aku sangat menyayangi kedua orangtuaku, jadi jangan terlalu berharap padaku," kata Elin.
Deg. Ternyata dugaan Dean benar, Elin terpaksa menjalani perjodohan ini. Entah bagaimana jadinya pernikahan mereka kelak, bila tidak disertai rasa cinta.
"Siang tetaplah siang, malam tetaplah malam, seperti itulah Aku. Aku tidak akan melawan takdir perasaanku, ku biarkan ia mengalir apa adanya, meskipun kelak kamu tidak bisa mencintaiku sepenuh hatimu, aku tetap mengikuti perasaanku," ucap Dean sendu.
"Sebagai bentuk terima kasih dariku pada Pak Yuda, aku akan menerima perjodohan ini, aku juga ingin membantu kamu membahagiakan kedua orang tuamu, jadi aku ikhlas menjalani perjodohan ini, El." Jelas Dean panjang lebar.
"Dean, jika kedua orang tuaku telah tiada, dan perasaanku masih sama seperti hari ini, maka aku ingin kita sepakat untuk tidak lagi bersama," ucap Elin.
Sekali lagi hati Dean bagai teriris silet. Pernikahan ini saja belum berlangsung, Elin sudah mengutarakan perpisahan di antara mereka. Sedih, pilu hati Dean, ternyata perasaannya selama ini tak berbalas, pernikahan mereka nantinya juga tak abadi dengan keputusan Elin.
Namun, Dean berharap Elin bisa mencintainya sepenuh hati, bukan karena terpaksa.
Sebagai jawaban darinya, Dean tersenyum sembari mengangguk menutupi rasa sakit di dalam sana.
Lukanya hari ini kini bertambah, tidak hanya di wajah, tetapi juga di hati. Luka di wajahnya tak terasa perih bila dibandingkan dengan luka di hatinya.
"Sudah hampir 2 jam aku di sini, aku mau pamit pulang dulu," ujar Elin.
"Baiklah, akan ku antar kamu pulang," ucap Dean.
"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi online. Kamu istirahat saja di rumah," tolak Elin.
"Baiklah."
Dean lantas mengantar Elin sampai halaman rumahnya, setelah Elin masuk ke dalam taksi pesanannya barulah Dean masuk ke rumahnya dan beristirahat.
Bukan hanya mengistirahatkan raganya, tapi juga jiwanya.
Perkataan Elin menjadi beban pikiran Dean.
Bila memang tak cinta mengapa harus diterima? Bukankah hanya akan menimbulkan luka?
*****
Jika sebuah hubungan dijalani secara terpaksa, maka kamu hanya akan melukai perasaan orang lain, juga perasaanmu sendiri.
Itulah perihnya perihal mencintai...
tak semua yang dicintai memberi timbal balik yang berarti...
Malah banyak pula yang menyakiti...
Kadang, luka hati menjadi alasan untuk sendiri...
__ADS_1
Untuk merenungi ada apa dengan diri ini...
Hingga tak ada balasan untuk perasaan yang tulus dari relung hati ini...