
Waktu sudah menunjukkan jam untuk pulang, Dean pun segera mengemasi berkas-berkas dan perlengkapan kerja nya.
Setelah keluar dari ruangan nya, mata Dean langsung tertuju pada meja kerja Lia. Disana ia tidak melihat sosok Lia, meja kerjanya pun Sudah kosong.
"Apa Lia sudah pulang?" gumam Dean.
Hari ini Pak Yuda juga tidak masuk, karena ia kurang enak badan, jadi Dean bisa langsung pulang menuju apartemen nya.
Dean lantas melangkah kan kakinya untuk segera turun ke lantai dasar berharap bisa bertemu dengan Lia untuk menyampaikan permohonan maaf nya, barangkali Lia baru saja pulang. Namun, sesampainya di lantai dasar pun Dean tidak melihat Lia. Ia melirik ke semua arah tapi ia tak kunjung menemukan orang yang di carinya. Padahal biasanya, Lia selalu pulang bersama dengan dirinya menuju ke lantai dasar.
Dean lantas menelpon ke nomor ponsel Lia. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Lho, kok nggak diangkat sih? Apa dia marah padaku?" gumam Dean sambil menahan ponsel didekat telinga nya berusaha menelpon lia.
Mobil yang biasanya mengantar jemput Lia juga terlihat terparkir di halaman depan Kusuma corp.
"Lho... jadi Lia kemana?" ujar Dean kebingungan.
Dean lantas melangkahkan kakinya menuju mobil itu, siapa tahu Lia masih ada di dalam mobil. Begitu dekat dengan mobil itu, Dean melihat sopir pribadi keluarga lia sedang duduk menunggu di kursi tunggu, itu artinya Lia tidak ada didalam mobil.
Dengan langkah tergesa, Dean lantas menghampiri sopir itu.
"Pak Gugun menunggu Lia ya?" ujar Dean pada sopir keluarga Lia yang diketahui bernama Gugun, dan kala itu ia sedang duduk menunggu Lia.
"Eh... Dean, iya saya menunggu Nona Lia. Nona Lia nya kemana? Kan biasanya pulang sama-sama dengan kamu?" tanya sopir itu pada Dean karena tidak mendapati Lia bersama Dean.
"Dean juga kurang tahu Pak, ketika Dean keluar dari ruang kerja tadi, Dean tidak melihatnya sama sekali. Dean kira lia sudah pulang duluan," jelas dean pada pak Gugun.
"Waduh, kemana Non Lia, saya bisa di marahin kalau Non Lia hilang seperti ini." Pak Gugun merungut panik.
"Pak Gugun coba telepon ke nomor ponselnya!" perintah Dean.
"Baik Dean." Pak Gugun mengangguk menuruti perintah Dean.
Tuuuut tuuuut tuuuut tuuuut... tidak ada jawaban dari Lia.
Berulangkali Pak Gugun melakukan panggilan telepon ke nomor Lia tetap saja tidak ada jawaban, hal itu membuat Pak Gugun semakin panik.
Dean juga tidak kalah paniknya, pasalnya dari tadi ia menelpon Lia tapi tidak ada jawaban darinya. Dean takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Lia. Meskipun Dean tidak memiliki rasa cinta terhadap Lia, tetapi ia juga tidak ingin kalau Lia sampai kenapa-kenapa.
"Ya sudah kita cari saja Pak Gugun, Bapak ke arah selatan saya ke arah Utara. Kalau nanti Lia sudah ketemu cepat hubungi saya!" ujar Dean pada pak Gugun.
Pak Gugun pun mengangguk menuruti kata-kata Dean.
Mereka lantas memacu kendaraannya ke arah yang berlawanan untuk mencari Lia.
Selama diperjalanan mencari Lia, Dean terus mengingat mengenai kesalahan nya pada gadis cantik nan cerdas itu. Tadi pagi Lia terlihat gugup saat dirinya memberikan maap kuning itu pada Lia, lalu tadi siang Lia tiba tiba pergi meninggalkan rumah makan karena mendengar penuturannya yang tak punya perasaan pada Lia. Ia tidak mau bertemu dengan Dean bahkan sampai tidak mau mengangkat telepon dari Dean.
Rasa rasanya Dean tidak punya kesalahan pada Lia. Hanya saja sikap Lia yang terlihat berbeda hari ini.
"Apakah ini ada hubungannya dengan surat cinta di dalam maap kuning itu?" ujar Dean sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tapi tidak mungkin Lia jatuh cinta padaku," gumam Dean.
__ADS_1
"Apa perhatiannya padaku selama ini adalah wujud rasa cintanya padaku? Tapi itu tidak mungkin, dia gadis cantik dan cerdas. Pasti banyak pria tampan dan kaya yang menyukainya," gumam Dean didalam mobil.
Dean juga teringat akan ancaman yang di utarakan oleh Gino di rumah makan siang tadi, hal itu membuat Dean yakin untuk tidak menjalin hubungan dengan Lia.
Dean terus memacu kendaraannya secara perlahan, melihat ke setiap sudut-sudut jalan dan memperhatikan setiap tempat untuk mencari keberadaan Lia. Namun, Dean tak kunjung menemukan nya.
* Di taman
Sesosok gadis cantik berjalan dengan langkah lesu sambil menenteng sebuah tas kerja ditangannya dan pakaian kerja lengkap yang masih melekat di badannya. Gadis cantik itu adalah Lia.
Tiga puluh menit yang lalu, Lia sudah meninggalkan meja kerja nya. Ia bisa pulang sedikit lebih awal karena pekerjaan nya sudah selesai, lagipula pak Yuda juga tidak datang ke kantor, jadi tidak mengapa jika ia pulang lebih awal.
Lia tidak langsung pulang menuju rumahnya, ia lebih memilih menenangkan pikirannya ke taman. Ia lantas mendudukkan badannya ke sebuah kursi kayu di taman itu.
Terlihat kesedihan dan kekecewaan mendalam yang tergambar dari raut wajahnya.
Sejenak ia melamun dan merenung. Ia benar-benar merasakan sakit mendengar penuturan Dean tadi siang. Hal itu membuat air matanya kembali jatuh tak tertahankan.
Lia sangat menyesali perhatian nya selama ini pada Dean. Ia tidak menyangka jika orang pertama yang masuk ke relung hatinya itu justeru menorehkan luka yang sangat parah pada hatinya.
Ia juga mengutuk dirinya sendiri, mengapa dengan mudahnya ia bisa menyimpan rasa pada Dean, orang yang baru saja di kenalnya itu.
Sebelumnya Lia pernah dekat dengan seorang pria, meskipun belum ke tahap berpacaran. Namun, menurut pandangan nya, pria itu menghianati dirinya, sehingga memunculkan trauma bagi dirinya untuk
membuka hati pada seorang pria.
Beruntunglah pada saat itu Lia belum mencintai pria itu sehingga ia bisa dengan mudahnya melupakan sosok lelaki yang hampir melukai hatinya itu.
Selama ini Lia memang tidak pernah membuka hati pada siapapun. Namun, kehadiran Dean mampu mengobati trauma yang dialaminya.
Dean menjadi orang pertama yang memperoleh tempat di hati Lia. Lia pikir ini adalah keputusan yang tepat dengan menjadikan Dean sebagai cinta pertama nya, tapi ternyata ia salah, ia salah besar karena sudah menempatkan hatinya pada Dean.
Ia tidak menyangka jika perasaan nya tak berbalas. Selama ini ia sering menghabiskan waktu bersama dengan Dean, memberikan perhatian penuh pada Dean, tetapi ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
Air matanya terus berjatuhan, ia tidak mampu menahan gejolak rasa sakit itu. Dirinya dengan Dean memang belum ada hubungan spesial, tapi apakah ia bersalah menaruh harapan pada Dean?
Lia lantas meraih tasnya, ia lalu mengambil surat cintanya itu dari dalam tas, dibacanya kembali tulisan cintanya itu yang sempat ia tuliskan beberapa waktu yang lalu, saat ia membayangkan betapa bahagianya jika bisa memiliki Dean seutuhnya, tapi hal itu kini hanya akan jadi angan-angan saja, karena Dean tidak pernah memiliki perasaan cinta terhadap dirinya.
Lia lantas meremas dengan kasar surat cintanya itu, lalu segera melemparnya ke dalam tempat sampah, berharap perasaannya pada dean bisa hilang dalam sekejap.
"Aku benci kamu Dean!!" jerit Lia sambil terus mengeluarkan butiran air mata kekecewaan hatinya.
"Hiks hiks, aku benci kamu!!" Lia menangis tersedu-sedu sambil meremas dengan kasar bagian bawah baju kerjanya.
Seorang pria terlihat berjalan mendekat ke arah Lia. Tadi ia tidak sengaja melihat Lia berjalan seorang diri menuju taman yang memang tak jauh dari kusuma corp itu. Ia lantas turun dari mobil dan mengawasi Lia dari kejauhan. Ia juga sedari tadi memperhatikan Lia menangis. Ketika Lia menangis tersedu-sedu, ia tidak tahan lagi untuk menghampiri Lia yang sudah lama menjadi pujaan hatinya itu.
"Lia?" ujar pria itu.
Lia terkejut dan buru-buru menyapu air matanya mendengar seseorang memanggil nya.
Begitu menoleh, Lia melihat sosok Gino berjalan ke arah dirinya. Lia menggerutu kesal karena Gino mendekat padanya.
"Mau apa kamu kesini!" teriak Lia dan tak sedikitpun melihat ke arah Gino.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis?" tanya Gino dengan lembut pada Lia meskipun Lia membelakangi dirinya.
"Bukan urusan mu!" cetus Lia.
"Cepat pergi dari sini!" perintah Lia pada Gino.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakan kenapa kau menangis," ujar Gino.
"Kalau aku bilang pergi ya pergi!" cetus Lia sambil menajamkan pandangan nya pada Gino.
Mendapati tatapan tajam Lia, Gino bukannya takut ia justeru semakin mendekat ke arah Lia dan hendak duduk di samping Lia berharap bisa menjadi sandaran kala Lia sedih seperti ini.
"Mau ngapain sih? Tolong pergi dari sini! Aku benci kalian! Laki-laki sama sama saja!" gerutu Lia sambil memalingkan wajahnya ke lain arah.
"Aku mau duduk," ujar Gino dengan santai.
"Ih... Siapa yang nyuruh duduk?" ujar Lia dengan kesal dan mengarahkan pandangannya pada Gino.
"Nggak ada," ujar Gino dan dengan santainya duduk di samping Lia.
Lia merasa terganggu dengan kehadiran Gino, ia lantas beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Ia lantas meraih tas kerjanya.
Namun, dengan cepat Gino meraih tangan Lia yang hendak meninggalkan dirinya.
"Iih... Lepasin gak tanganku!" bentak Lia sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Gino.
"Mau kemana Lia?" tanya Gino sambil beranjak dari duduknya.
"Aku mau pulang, tolong jangan ganggu aku!" ujar Lia sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Gino.
"Ya udah aku yang antarin kamu pulang ya," ujar Gino dengan lembut.
"Nggak mau, tolong lepasin tangan ku," ujar Lia sambil terus memberontak.
"Aku tidak akan melepaskan tangan mu kalau kau menolak untuk ku antar pulang," tegas Gino.
Karena tak kunjung dilepaskan Gino, Lia lantas menggigit tangan Gino yang sedari tadi mencengkeram erat lengannya.
"Aakkhh!!" teriak Gino sambil melepaskan lengan Lia karena merasakan sakit akibat di gigit Lia barusan.
Lia yang mendapatkan kesempatan melarikan diri dari Gino tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera meraih tasnya dan berlari dari Gino.
Gino pun tak tinggal diam melihat Lia melarikan diri dari hadapannya, sambil terus memegang lengannya yang digigit Lia barusan, ia terus mengejar Lia.
Lia terus berlari melihat Gino mengejar dirinya, ia berlari sekuat kuatnya berharap Gino tidak dapat mengejar dirinya lagi.
Karena sibuk memperhatikan Gino yang mengejarnya di belakang, Lia tidak menyadari kalau ada motor di depannya saat ia akan menyebrang.
Ciiiiiitttt... Terdengar suara rem mendadak dari seorang pengendara motor yang hampir saja menabrak Lia.
"Mbak, kalau mau lomba lari itu di lapangan bukan di jalan raya seperti ini!" ujar pengendara motor itu dengan kesal.
"Saya benar benar minta maaf ya Bang," ujar Lia memohon pada pengendara itu, karena ia hampir saja mencelakai dirinya sendiri dan pengendara motor itu.
__ADS_1
"Ya sudah lain kali hati-hati," ujar pengendara motor itu, lalu segera mengendarai motornya meninggalkan Lia.
Lia mengangguk mendengar nasihat pengendara motor itu, ia lantas menghela napas dengan lega. Untung saja ia tidak di marahi oleh pengendara motor itu.