
Setelah menghabiskan kopi yang di pesannya, Dean kembali memperhatikan jam di pergelangan tangannya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit. Setelah ia membayar kopi pesanannya tadi,
Dean lalu bergegas menuju lingkungan kantor KUSUMA CORP.
Disana, Dean diperbolehkan masuk ke lingkungan kantor, setelah mendapat ijin dari satpam yang berjaga di gerbang utama perusahaan KUSUMA CORP dengan tujuan untuk menemui Tuan Yuda. Selain itu, ia juga menunjukkan kartu nama Tuan Yuda Kusuma untuk meyakinkan satpam itu.
Setelah masuk ke lantai dasar gedung tersebut, Dean kebingungan mencari ruangan Tuan Yuda, lantaran di gedung yang bertingkat lima belas tersebut terdapat banyak sekali ruangan.
"Permisi Mbak, saya mau nanya ruangan Tuan Yuda dimana, ya?" tanya Dean pada seorang karyawati yang melintas di lantai dasar gedung tersebut.
"Oh... ruangan Tuan Yuda ada di lantai 12," jawab karyawati tersebut pada Dean.
"Baiklah, terima kasih ya Mbak," ucap Dean sambil tersenyum ramah.
"Sama-sama," ujar karyawati tersebut sambil membalas senyuman Dean.
Lalu Dean menuju lift yang terletak di sudut ruangan tersebut dan naik menuju lantai 12, tempat dimana ruangan Tuan Yuda berada.
Setelah keluar dari lift, Dean dibuat kagum akan interior ruangan lantai dua belas yang terkesan elegan dan sedap di pandang. Setiap sudut Ruangannya tertata rapi dan bersih, membuat mata terpesona kala melihatnya.
Dean melihat hanya ada tiga ruangan di lantai dua belas tersebut. Namun, Dean terlihat kebingungan mencari ruangan Tuan Yuda. Lalu ia bertanya pada seorang wanita cantik yang sedang fokus duduk sambil menatap layar komputer di depan sebuah ruangan disana.
"Permisi Nona, ruangan Tuan Yuda dimana, ya? Saya mau bertemu dengan beliau," ujar Dean pada wanita itu.
Wanita itu pun menoleh pada Dean, ia melihat Dean dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian ia langsung tersenyum ramah, memperhatikan penampilan Dean yang sangat manis dengan kumis tipis diatas bibir nya yang merona.
"Anda siapa ya? Apakah sudah ada janji untuk bertemu dengan Pak Yuda?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Saya Deandra Septian, beberapa hari yang lalu, Tuan Yuda meminta saya untuk menemuinya di kantor ini," ujar Dean mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya!" ujar wanita itu.
"Baik, Nona," ujar Dean sambil menganggukan kepalanya.
Lalu wanita tersebut menelpon ke ruangan Tuan Yuda. "Halo selamat pagi, Pak. Diluar ada seorang tamu atas nama Deandra Septian ingin menemui Bapak."
__ADS_1
"Disuruh masuk saja ke ruangan saya," ujar Tuan Yuda dari sambungan telepon.
"Baik, Pak," jawab wanita itu lalu mematikan sambungan telepon nya dengan Pak Yuda.
"Mari, saya antar kan ke ruangan Pak Yuda." Wanita itu menuntun Dean menuju ruangan Pak Yuda.
Dean berjalan mengikuti wanita cantik itu. Dan mereka berhenti di depan sebuah ruangan. Didepan ruangan itu tertulis Chief Executive Officer (CEO), Dean terkagum, "Mungkinkah orang yang sempat aku tolong beberapa waktu lalu adalah pemilik perusahaan ini?" Dean bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
"Silahkan masuk," ujar wanita itu pada Dean sambil membuka pintu ruangan tersebut.
"Terima kasih, Nona," ucap Dean sambil tersenyum ramah memamerkan barisan gigi putihnya yang tersusun rapi.
Wanita itu pun mengangguk dan melemparkan senyuman nya pada Dean, lalu meninggalkan Dean di ruangan tersebut.
"Nak Dean, kamu sudah datang? Kemarilah!" ujar Tuan Yuda sambil menunjukan sebuah kursi di hadapannya.
Dean lantas duduk berhadapan dengan Tuan Yuda, dan sekali lagi ia di buat terkagum akan ruangan di kantor itu. Ruangan Tuan Yuda terlihat sangat menakjubkan, rasanya ia sangat betah bila ia bekerja di kantor itu, lantaran semua ruangan didesain dengan sangat elegan. Namun, Dean hanya membayangkan nya saja, lantaran tidak ada lowongan kerja di kantor ini.
"Jadi, maksud saya mengundang kamu ke sini, karena saya ingin berterima kasih kepada kamu, karena sudah menolong saya beberapa waktu yang lalu," ujar Tuan Yuda mengawali pembicaraan nya dengan Dean.
"Kamu memang anak yang baik, Nak," ujar Tuan Yuda dengan tersenyum sambil menepuk pundak Dean yang duduk dihadapan nya, hanya dibatasi sebuah meja.
"Bagaimana kalau kamu bekerja disini saja Dean, anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya pada kamu," ucap Tuan Yuda pada Dean.
Dean begitu terkesiap akan penawaran dari Tuan Yuda kepadanya. "Tentu saja Dean mau, siapa juga yang tidak mau bekerja di sebuah perusahaan besar seperti ini," ujar Dean dalam hati.
"Bukan nya di kantor ini tidak ada lowongan pekerjaan ya, Tuan? Karena seminggu yang lalu saya sempat menanyakan lowongan kerja disini, tapi satpam mengatakan tidak ada lowongan pekerjaan di sini," ujar Dean untuk meyakinkan tawaran dari Tuan Yuda tadi.
"Apa kamu meragukan penawaran dari saya, Nak? Apa kamu tau, saya adalah pemilik perusahaan ini, jadi saya berhak memberikan pekerjaan pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa saya, apalagi orang yang sudah menolong saya sangat membutuhkan pekerjaan," ujar Tuan Yuda pada Dean dengan nada suara yang sangat meyakinkan.
Tuan Yuda berkata seperti itu bukan berarti ia menunjukkan kesombongan nya, ia hanya menunjukkan keseriusan nya pada Dean, lantaran nampak keraguan di wajah Dean mendengar tawaran darinya.
"Tapi saya ikhlas menolong Tuan, jadi saya tidak mengharapkan imbalan apapun dari Tuan," ujar Dean.
"Nak Dean, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, saya bermaksud baik menawarkan kamu pekerjaan ini karena saya tahu kamu sedang membutuhkan nya bukan? Tapi, Saya juga tidak akan memaksa kamu Dean, keputusan ada di tangan mu," kata Tuan Yuda pada Dean.
__ADS_1
Dean terlihat Sedikit berpikir, akhirnya Dean menganggukan kepalanya dan menerima tawaran Tuan Yuda kepadanya barusan.
"Iya Tuan , saya mau. Berhubung selama ini saya belum mendapatkan pekerjaan, jadi saya sangat berterima kasih pada Tuan karena sudah memberikan pekerjaan kepada saya," ujar Dean dengan raut wajah yang gembira.
Mendengar Jawaban dari Dean barusan, Pak Yuda tersenyum puas. "Jadi, mulai besok kamu bisa bekerja disini, besok saya akan menunjukkan ruangan dan posisi kamu."
"Iya Tuan, apa pun posisi itu akan saya terima. Sekali lagi terima kasih Tuan," ucap Dean dengan raut gembira yang tak henti ia tunjukkan diwajahnya.
Tuan Yuda hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang berapa umur mu, Nak?" tanya Tuan Yuda.
"Umur saya sekarang 20 tahun, Tuan," jawab Dean.
"Apa kamu baru tamat sekolah?" Kembali Tuan Yuda bertanya pada Dean.
"Saya tamat 2 tahun yang lalu, Tuan," ujar Dean.
"Lalu, dua tahun terakhir kamu bekerja dimana?" tanya Tuan Yuda penasaran.
"Tahun pertama setelah tamat, saya bekerja sebagai pelayan disebuah rumah makan, Tuan. Di tahun kedua, saya melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi swasta di daerah sini. Namun, uang tabungan saya hasil dari bekerja setahun hanya mampu membiayai pendidikan saya selama 2 semester saja, makanya saya mengambil cuti selama setahun ini dan hendak mencari pekerjaan agar bisa melanjutkan kembali pendidikan saya tahun depan," jelas Dean pada Tuan Yuda.
Tuan Yuda terkesiap mendengar penjelasan dari Dean, ternyata ada seorang anak yang pantang menyerah dengan keadaan seperti ini untuk mewujudkan mimpinya.
"Coba kamu ceritakan bagaimana kehidupan dan keseharian kamu dan keluargamu!" pinta Tuan Yuda pada Dean.
Dean nampak ragu untuk menceritakan seluk beluk kehidupan keluarganya.
"Kamu tidak usah takut dan malu Nak Dean, ceritakan saja semuanya, anggap saja saya ini adalah sahabat mu," ujar Tuan Yuda meyakinkan Dean.
Dean pun akhirnya menceritakan kehidupan dirinya beserta keluarganya pada Tuan Yuda, mulai dari kehidupan dirinya, pekerjaan orang tuanya, adik adiknya sampai penghasilan kedua orang tuanya. Dean menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Tuan Yuda mengangguk dan dan sekali lagi ia di buat terkesiap mendengar cerita Dean. Ia mulai berpikir bagaimana mungkin seorang anak dari kalangan menengah ke bawah punya mimpi yang begitu besar di tengah kehidupan ekonomi yang menghimpit dan memaksa untuk mundur. Namun, keadaan seperti itu tidak menyurutkan semangat anak muda yang satu ini. Malahan semangat nya berkobar-kobar bak lidah api yang melalap unggun di tengah teriknya matahari.
Setelah menceritakan semua seluk beluk kehidupan sehari-hari keluarganya, Dean berpamitan pulang karena waktu sudah menunjukkan waktu istirahat siang, tentu Tuan Yuda akan beristirahat untuk makan siang pikir nya.
__ADS_1
Tuan Yuda pun mengijinkan Dean untuk pulang, karena sehabis makan siang ini ia ada pertemuan dengan seorang klien, untuk membahas masalah kerja sama.