Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Pesan Terakhir


__ADS_3

* 8 Bulan Kemudian.


“Apa?!” Dean tercengang mendengar perkataan ibunya barusan dari balik ponselnya.


“Baiklah, Bu. Dean akan segera kesana.” Dengan langkah paniknya, Dean segera meninggalkan pekerjaannya dan berlalu menuju ke Rumah Sakit Setia Medika setelah mendapat kabar dari ibunya kalau ayahnya di bawa ke Rumah Sakit.


Dean tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia benar-benar shock setelah mendengar berita ini, karena selama ini ayahnya tidak pernah mengeluh sedikitpun mengenai sakit yang dideritanya.


Mobil yang di kendarai nya melaju sangat cepat, ia tidak lagi memikirkan keselamatan nya, yang ia inginkan adalah melihat kondisi ayahnya kini, sehingga ia menomorduakan keselamatannya di jalan raya.


Sesampainya di Rumah Sakit Setia Medika, Dean melihat ibunya sedang mondar-mandir khawatir didepan sebuah ruangan ICU Penyakit Dalam. Dari raut wajahnya ia sangat terpukul akan situasi ini. Dulu, saat dirinya sakit keras, suaminya lah yang berusaha keras kesana kemari berjuang mencari uang demi kesembuhan dirinya, hingga mereka harus kehilangan harta benda demi kesembuhan dirinya. Tapi sekarang, ia tidak tahu harus berbuat apa. Jangankan untuk berobat, untuk uang makan saja mereka selalu membagi dengan kebutuhan lain.


Sesekali mengalir buliran bening dari pelupuk matanya yang mulai menyekung itu.


Riko dan Gita juga tak kalah terpukul mengetahui kondisi ayahnya saat ini. Air mata tak pernah berhenti mengalir dari pelupuk mata kedua remaja kakak beradik itu. Mereka tidak jadi berangkat ke sekolah, setelah tetangganya mengatakan ayah mereka pingsan di kebun dan kini sudah dibawa ke Rumah Sakit. Mereka lantas bergegas berangkat menuju ke Rumah Sakit untuk menyusul ayahnya begitu mendengar kabar ini.


Sesampainya di rumah sakit, Pak burhan langsung mendapatkan perawatan. Karena kondisi kesehatan jantungnya yang tergolong sangat buruk. Pak Burhan langsung di tangani di ruang ICU Penyakit Dalam Rumah Sakit Setia Medika, dan hingga kini ia belum juga sadarkan diri.


“Ibu!” Dean memanggil ibunya dengan suara parau.


“Dean!” Ibu dewi segera berhamburan memeluk putra sulungnya itu. Ia menumpahkan air matanya di pelukan putranya itu. “Ayahmu Dean, Ayahmu!” dengan terisak ia hendak memberitahu kondisi suaminya itu kepada Dean, namun apa daya, suaranya sudah terlanjur tertahan dan ia tak sanggup mengatakannya kepada Dean.


Dean juga seketika menangis setelah melihat raut kesedihan yang tergambar dari wajah ibu dan kedua adiknya itu. Dari balik jendela kecil yang terpasang di daun pintu ruang ICU tersebut, Dean terkulai lemas. Ia begitu sedih dan terpukul melihat lelaki yang menjadi panutannya selama ini terbaring tak berdaya di atas sebuah pembaringan dengan berbagai jenis alat bantu kesehatan yang di pasang di tubuh renta itu serta sebuah infus menjuntai di atas pembaringannya. Entah sudah berapa buah infus yang terpakai, entah berapa biaya yang di perlukan dalam perawatan ayahnya, Dean tidak perduli. Yang ia harapkan adalah kesembuhan sang ayah tercinta.


“Ayah...!” gumam Dean tak berdaya.


Namun, tubuh renta dan tak berdaya itu hanya diam dan tak bergerak sedikitpun. Hanya suara Pasien Monitor yang selalu berbunyi setiap detik, menandakan masih ada harapan untuk hidup dari seseorang yang sudah masuk ke ruangan Intensive Care Unit (ICU) tersebut.


“Hiks... hiks..., selama ini ayah tidak pernah memberitahu Dean.” Dean terkulai lemas dan tersungkur didepan daun pintu ruangan itu sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya dengan kejadian ini. Begitu juga dengan Riko dan Gita yang sedari tadi tak berhenti menangis.


**********


Dua Jam kemudian, seorang Dokter yang terlihat cukup berpengalaman keluar dari Ruang perawatan Pak Burhan. Rambutnya sudah berwarna putih, menandakan usianya yang tak lagi muda. Dokter Grove, begitulah mereka memanggilnya. Setelah lima belas menit yang lalu ia masuk ke ruangan perawatan itu dan memeriksa kondisi kesehatan Pak Burhan, ia keluar dengan wajah profesionalnya sebagai seorang Dokter yang berpengalaman.

__ADS_1


“Dok, Bagaimana kondisi ayah saya?” tanya Dean dengan antusias setelah Dokter Grove menutup pintu ruangan itu dengan hati-hati.


Dari raut wajahnya, ia mengembangkan senyumnya kepada Dean yang pelupuk matanya masih basah karena menangis.


“Tidak perlu cemas, Kondisi Pak Burhan sudah membaik dari sebelumnya. Tapi tetap saja ia harus di rawat di Ruang ICU ini, karena kondisinya masih lemah dan harus kami pantau terus secara berkala kondisinya,” ujar Dokter Grove kemudian berlalu meninggalkan Dean beserta Ibu dan kedua adiknya di depan ruangan itu.


Dean sedikit senang mendengar ucapan Dokter Grove barusan, tapi ia tidak bisa senang seutuhnya karena kondisi ayahnya belumlah stabil, dan masih tetap mendapatkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit.


*****


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Hari sudah sore, tapi mereka belum juga makan sejak siang tadi. Mereka hanya mengandalkan nutrisi dari sarapan tadi pagi untuk menahan metabolisme tubuh selama seharian ini.


“Ibu, Ibu pulang saja duluan, ajak Gita juga. Biar Dean dan Riko yang menunggu ayah disini,” ujar Dean kepada ibunya yang saat itu sedang duduk berdampingan dengan Gita.


“Tapi, Nak... ,” ujar Ibu Dewi ragu jika harus meninggalkan suaminya itu.


“Tidak apa-apa, Bu. Dean dan Riko bisa menjaga Ayah malam ini. Ibu dan Gita Pulang saja, besok pagi baru kita bergantian menjaga Ayah di sini.” Tutur Dean dengan lembut pada ibunya itu. Ia tidak tega jika harus membiarkan ibunya begadang di rumah sakit, apalagi badan ibunya terlihat kurus sejak beberapa minggu ini.


Ibu dewi mengangguk setuju dengan penuturan Dean. Raganya memang butuh banyak istirahat mengingat kondisi tubuhnya yang sudah tak lagi muda membuatnya tak boleh meninggalkan waktu untuk istirahat, meskipun hanya sejenak.


*****


“Halo Pak!”~Dean.


“Ya, halo Dean.” ucap Pak Yuda dari seberang sana.


“Mohon maaf sebelumnya, Pak. Sepertinya saya hari ini juga tidak bisa bekerja, karena kondisi ayah saya belum juga pulih.”


“Oh tidak apa-apa, Dean. Saya mengerti, sementara ini kamu tidak usah masuk dulu, rawat dulu ayahmu.” ucap Pak yuda.


“Besok kalau kondisi ayah saya membaik, saya usahakan untuk bekerja, Pak.” ucap Dean.


“Tidak apa-apa Dean, rawatlah ayahmu sampai kondisinya benar-benar pulih. Saya mengerti dengan keadaan mu. Kalau kamu perlu apa-apa hubungi saja saya Dean, jangan ragu.” ucap Pak Yuda.

__ADS_1


Dean tidak tahu bagaimana membalas baiknya Pak Yuda terhadap dirinya. Selama ini Pak Yuda selalu saja membantu dirinya dan keluarganya. Susah sekali mendapatkan bos yang sebaik ini, pikir Dean.


“Baiklah, Pak.Terima kasih.” ucap Dean sebelum mengakhiri panggilannya dengan Pak Yuda untuk memberitahukan kabar dirinya kepada Pak Yuda.


*****


Mata Dean menangkap pergerakan jari tangan ayahnya yang terbaring lemas. Pak Burhan tersadar setelah koma selama 2 hari yang lalu. Dean tentu saja merasa senang melihat perkembangan kesehatan ayahnya. Ia lantas memanggil Dokter Grove yang menangani ayahnya. Ibu Dewi pun turut senang melihat kondisi suaminya yang sudah sadarkan diri, dahaganya seolah pupus dengan segelas air putih melihat suaminya itu sadarkan diri dari koma yang dilaluinya.


“Kondisinya sudah jauh membaik, tapi Pak Burhan masih tetap di rawat di sini, jika kondisi kesehatannya terus meningkat signifikan seperti ini, besok bisa kita pindahkan ke ruang rawat biasa.” ujar Dokter Grove setelah ia memeriksa kondisi kesehatan Pak Burhan.


“Baik, Terima kasih, Dok.” ujar Dean tersenyum puas.


Dean benar-benar merasa lega setelah ayahnya tersadar dari koma. Selama dua hari ayahnya koma, Dean tidak punya nafsu makan sedikit pun, meskipun ibunya memaksa berkali-kali untuk makan. Rasanya ia takkan makan sebelum ayahnya tersadar dari koma.


*****


Hari ini Pak Burhan terlihat sangat sehat, setelah di pindahkan dari ruang ICU tadi pagi ia sangat senang, ia bercengkrama dengan keluarganya meski selang infus masih terpasang ditangannya. Ia terlihat begitu senang ketika istri dan anaknya berkumpul didekatnya. Tidak ada raut kesakitan yang tergambar dari raut wajahnya, ia seperti orang yang sangat sehat. Ia juga memaksa minta untuk pulang kerumah, dan tidak mau di rawat di rumah sakit. Namun, Dean tidak bisa membawa ayahnya itu untuk segera pulang, karena bagaimanapun kondisi ayahnya masih terus di pantau oleh dokter.


Pak Burhan akhirnya menurut juga dengan Dean, ia mau tetap dirawat di rumah sakit asalkan semua keluarganya berkumpul dan tak meninggalkannya malam ini. Seperti sebuah permintaan terakhir. Namun, Dean berusaha berpikir positif kalau ini adalah bagian dari perkembangan kesehatan ayahnya.


*Sore Harinya


“Dean!” panggil Pak Burhan dengan lembut pada Dean yang sedang duduk di kursi ruang rawat ayahnya.


“Iya, Ayah,” jawab Dean sambil berjalan menghampiri ayahnya.


Mendengar Pak Burhan memanggil Dean, mereka semua: Ibu Dewi, Riko, dan Gita menghampiri pembaringan Pak Burhan.


“Dean, Riko, Gita, ayah minta maaf selama ini ayah tidak bisa memberikan apa yang kalian butuhkan. Ayah merasa gagal dalam memenuhi tugas dan kewajiban sebagai orang tua. Namun, ayah merasa bangga pada kalian, kalian menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Ayah sangat senang. Bila nanti ayah tidak bisa lagi bersama dengan kalian, tolong jaga ibu kalian, hormati dia, sayangi dia seperti ayah menyayangi kalian,” ucap Pak Burhan pilu.


Mendengar apa yang diucapkan suaminya barusan, Ibu Dewi tidak dapat membendung air matanya. Betapa tidak, siang tadi Pak Burhan menitipkan anak-anak padanya ketika sedang berbicara berdua. Hal itu tentu membuat Ibu Dewi kian merasakan kesedihan mendengar pesan yang di sampaikan suaminya yang tak lain seperti sebuah pesan terakhir yang membuat hati siapa pun perih bagai teriris sembilu.


*Bersambung...

__ADS_1


hallo readers! author minta maaf karena jarang update, cerita ini pasti tamat, tapi belum tau kapan waktunya. Jadi tetap stay ya... 🤗


Jangan lupa like, komen, vote, dan tambahin ke favorit ya! kalau banyak peminatnya author bakal update minimal seminggu sekali.😄


__ADS_2