Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Dilema


__ADS_3

“Elin!” panggil Pak Yuda dengan raut wajahnya yang serius.


Elin yang kala itu baru saja selesai sarapan tak berani beranjak dari tempat duduknya. Wajah serius sang papi seolah-olah tidak bisa dibantah oleh siapapun. “Ya, Papi.”


“Kamu jangan beranjak dulu, ada yang ingin papi bicarakan padamu.”


Mami Meri yang duduk di samping Pak Yuda sudah mengetahui hal apa yang akan suaminya itu bicarakan pada Elin.


Elin tampak memasang wajah seriusnya di depan sang papi. “Baiklah, Papi.”


Pak Yuda mulai membuka pembicaraan dengan nada suara yang lembut, “Elin putriku, tidak terasa sekarang kamu sudah dewasa, ya. Papi dan Mami juga semakin bertambah usia dan menginjak usia senja. Papi dan Mami tidak tahu sampai kapan kami akan menemanimu di dunia ini ...,” ucap Pak Yuda dengan lirih.


“Papi, jangan bicara seperti itu. Elin nggak mau ditinggalin, kalian harus sama Elin terus,” potong Elin dengan nada suara sedih.


“Papi dan Mami sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan kamu, tapi bila takdir Tuhan sudah memanggil, maka kami sudah pasti akan meninggalkan kamu, karena sesungguhnya tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk papi dan mami. Kami sudah pasti akan meninggalkan kamu, hanya saja masalah waktu,” lirih Pak Yuda.


Tak terasa sebuah cairan bening merayap di pipi mulus Elin mendengar perkataan papinya barusan. Apa yang diucapkan oleh papinya memang benar adanya. Suatu saat ia sudah pasti harus kehilangan kedua orang tuanya. “Papi, jangan bicara seperti itu. Elin belum siap jika kalian pergi, Elin ....” Elin tak menyelesaikan kata-katanya karena ia bertutur dan menagis di waktu yang bersamaan.


“Sudahlah, tak perlu menangis. Papi hanya mengatakan sesuatu yang sudah pasti terjadi, dan kamu harus bersiap-siap jika hal itu terjadi,” ujar Pak Yuda.


“Papah, sudahlah. Jangan mengatakan hal itu lagi! Lihatlah tangisan Elin semakin menjadi!” gertak Mami Meri pada suaminya sambil memeluk Elin.


“Papi ingin melihatmu segera menikah,” ucap Pak Yuda di sela tangisan Elin.


Elin yang sedari tadi menangis di dalam pelukan Mami Meri mengangkat kepalanya dan terkejut mendengar perkataan papinya barusan.


"Papi bercanda?" ujar Elin berani menatap papinya.


"Papi serius," tegasnya sambil menatap Elin.


“Papi ingin melihatmu memiliki seorang suami yang bertanggung jawab dan bisa melindungimu kala Papi tidak bisa lagi menjagamu,” sambungnya.


Tangisan Elin kini mereda. Perkataan Pak Yuda membuatnya kembali teringat jika dirinya sudah menginjak usia 24 tahun. Namun, di usianya sekarang ia belum terpikirkan untuk segera menikah. Rasanya ia masih sangat betah hidup sebagai seorang single. Tapi bagimana jika ia menikah dengan Diko? lelaki yang baru seminggu ini menjadi pacarnya. Apakah harus secepat ini papinya meminta dirinya untuk segera menikah?


Elin masih terdiam menunduk sambil berperang dengan pikirannya sendiri.


“Papi rasa, papi sudah menemukan orang yang tepat untukmu. Papi harap kamu mau menuruti permintaan papi ini, karena hanya ini satu-satunya permintaan papi untukmu,” ujar Pak Yuda memohon.


Elin yang tadinya menunduk kini berani mengangkat kepalanya mendengar perkataan papinya barusan.


“Apa? Aku akan dijodohkan?” tanya Elin dalam hati, “tapi dengan siapa?”


“Mungkin kamu akan bertanya siapa orang itu. Benar, kan?” tanya Pak Yuda sambil menatap Elin.


Elin mengangguk mendengar tebakan papinya.


“Dia adalah ...,” Pak Yuda terjeda saat akan menyebut nama pria yang akan ia jodohkan dengan putrinya itu.


Jantung Elin berdetak tak karuan menunggu nama pria yang akan dijodohkan untuknya. Apakah anak rekan bisnis Papinya? Atau duda kaya? Atau mungkin Diko, pacarnya itu? Bila ia di minta menikah dengan Diko, maka Elin merasa sangat senang, apalagi dirinya tengah menjalani hubungan dengan Diko.

__ADS_1


“Dean!” singkat Pak Yuda.


Elin membulatkan kedua bola matanya mendengar nama pria barusan karena terkejut. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai Dean. Dean hanya seorang teman baginya, dan tidak mungkin ia mengakhiri hubungan cintanya dengan Diko yang baru menginjak satu minggu.


“Papi harap kamu menuruti permintaan papi, hanya ini yang papi minta darimu,” ujar Pak Yuda memsksa.


Elin lantas meninggalkan meja makan menuju kamarnya tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya. Sepatah kata pun tidak ia ucapkan untuk merespon semua ucapan papinya di meja makan barusan.


Mami Meri menghela nafas melihat punggung Elin yang kian menanjak menaiki tangga menuju kamarnya.


“Papah, lihatlah! Tidak semudah itu, Pah menjodohkan anak-anak zaman sekarang. Mereka tidak hidup di zaman kita, jadi papah tidak perlu memaksakannya,” cela Mami Meri.


“Lalu Papah harus bagaimana, Mah? Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menitipkan Elin pada Dean. Dean anak yang baik, aku tidak perlu lagi merasa khawatir jika harus meninggalkan Elin dengannya,” sanggah Pak Yuda di hadapan istrinya.


“Terserah Papah saja!” cetus Mami Meri kemudian meninggalkan meja makan menuju kamar Elin.


Kini, tinggalah Pak Yuda seorang diri di meja makan. Ia tak menyangka jika istrinya juga tak mendukungnya untuk menjodohkan Elin dan Dean. Tapi ia akan berusaha menjodohkan Elin dan Dean sekalipun Elin menolak.


Terkesan egois memang, tapi demi kebahagian Elin kelak ia rela melakukan apapun untuk menyandingkan putrinya dengan Dean.


“Hiks ... hiks, kenapa Papi jahat! Dia tidak mengerti perasaanku!” lirih Elin sembari meremas sprei kasurnya.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Elin. Pintu yang tidak terkunci itu lantas terbuka meskipun elin tidak menjawab. Mami Meri masuk lalu duduk di samping Elin yang sedang menangis.


Elin lantas memeluk Maminya yang berada di dekatnya. “Mami, kenapa Papi tega menjodohkan aku. Padahal aku masih ingin sendiri, aku belum terpikirkan untuk segera menikah, Mi. Papi jahat!” umpat Elin kesal.


“Tapi Elin sudah bahagia seperti ini, Mi. Elin tidak menginginkan kebahagian yang lebih daripada ini,” gumam Elin menyanggah.


“Nak, sebahagia-bahagianya kamu sekarang, suatu saat kamu akan mencari kebahagiaan yang lain. Kebahagiaanmu akan bertambah bila kamu sudah memiliki suami dan anak. Di situ kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Di mana kamu bisa melayani suamimu dengan baik dan merawat anak-anakmu, its another level of happiness, Sayang,” jelas Mami Meri mencoba membujuk Elin.


Ia sebetulnya juga mengingikan agar Elin segera menikah, karena ia juga ingin menimang cucu. Namun, ia tak mau terlalu memaksakan Elin seperti yang dilakukan suaminya itu. Baginya pilihan Elin tentu yang terbaik bagi dirinya sendiri, oleh karena itu ia tak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya pada putrinya itu.


“Tapi, kenapa harus Dean, Mi?” keluh Elin.


“Karena Papi yakin kamu bisa bahagia bersamanya,” kata Mami Meri.


Rasanya semua orang tidak mengerti dengan perasaannya. Baik Mami ataupun papinya.


“Mami, Elin ingin sendiri.” Elin mengusir dengan halus Mami Meri dari kamarnya.


Mami Meri lantas meninggalkan kamar Elin, dan memberikan waktu untuk Elin berpikir.


“Akhhh!! Dasar Egois!!” Elin menjambak frustasi rambutnya dengan kedua tanganya.


Demi apapun ia merasa kesal. Kedua orangtuanya meminta dirinya untuk segera menikah, sedangkan dirinya belum siap. Apalagi menikah dengan Dean, orang yang tak dicintainya. Ia dan Dean memang berteman baik, tapi bukan berarti ia mencintainya.


Perasaan senang sebagai teman dan perasaan senang wujud dari rasa cinta tentu akan berbeda. Bila perasaan untuk Dean dalah rasa senang sebagai teman, maka perasaan senang sebagai cinta bisa ia tunjukan pada Diko. Namun, kedua orang tuanya tetap saja menjodohkannya dengan Dean. Padahal hati tak bisa menentukan kemana ia akan berlabuh, dan bila dipaksakan maka tidak akan baik hasilnya.


“Aku harus bagaimana?! Aku mencintai Diko, bukan Dean. Seandainya saja bila yang dijodohkan denganku adalah Diko, sudah pasti aku akan melompat kegirangan. Masalahnya Dean bukanlah Diko, dan aku tidak mencintainya,” gumam Elin dengan perasaan tak senang sambil terus menangis.

__ADS_1


Elin menjadi dilema antara menuruti permintaan kedua orang tuanya atau mengikuti kata hatinya. Kedua orang tuanya memang tak pernah meminta dan menuntut apapun dari dirinya selama ini, baru kali ini mereka mengajukan permintaan, tapi terasa sangat memberatkan dirinya. Ia tidak yakin dirinya bisa menjalankan sebuah pernikahan tanpa rasa cinta di dalamnya.


Elin lantas membaringkan tubuhnya ke atas kasur, ia harus memikirkan matang-matang hal itu. Ia tidak mau terburu-buru mengambil keputusan.


*****


Pak Yuda yang baru saja tiba di kantor langsung menuju ruangan Dean. Dean terlihat sedang sibuk mengerjakan beberapa berkas di atas meja kerjanya.


“Pak Yuda,” ujar Dean melihat kedatangan Pak Yuda ke ruangannya.


"Silahkan duduk, Pak."


"Terima kasih." Pak Yuda langsung menduduki kursi di hadapan Dean.


“Bapak ada meeting ke luar?” tanya Dean.


“Tidak, Dean. Saya datang kemari karena ada hal yang ingin saya bicarakan pada kamu.”


"Hal penting apa ya, Pak?” tanya Dean penasaran.


“Eh ..., begini Dean ...,” Pak Yuda terlihat gugup kali ini, padahal dia tak pernah segugup ini berhadapan dengan Dean.


Dean terlihat menunggu hal penting yang akan diucapkan Pak Yuda padanya. Perhatiannya fokus pada pria tua itu


“Saya ingin meminta kamu menikahi anak saya,” ujar Pak Yuda dengan yakin dan raut wajahnya tak terlihat bercanda sedikitpun.


“Apa?!” Dean tak dapat menyembunyikan rasa syoknya mendengar perkataan Pak Yuda barusan.


“Bapak Bercanda, ya? Bapak ada-ada saja,” ucap Dean sembari tertawa.


“Saya serius, Dean. Saya tidak bercanda.” Pak Yuda kian menunjukkan keseriusannya.


Dean yang awalnya merasa Pak Yuda bercanda padanya kini mengubah raut wajahnya menjadi serius. Dari ekspresi dan nada suaranya, Pak Yuda memang sedang tidak bercanda, Dean pun menyadarinya. Tapi, apakah Pak Yuda sungguh-sungguh mengatakan hal itu.


Dean memang sudah lama menyukai putri bossnya itu. Namun, ia tak pernah berani mengatakannya secara langsung pada Elin. Perasaan itu tersimpan rapih di dalam lubuk hatinya, entah sampai kapan perasaan itu akan tersampaikan, Dean tak pernah tahu secara pasti. Yang Dean tahu ia mencintai teman kelasnya itu.


“Saya tidak bermaksud memaksa kamu, Dean. Saya hanya mengatakan hal yang sudah lama saya rencanakan.”


“Apa? ini sudah direncanakan?” ujar Dean dalam hati. Ia begitu syok mendengar kalau hal ini sudah direncanakan oleh Pak Yuda jauh-jauh hari. Bukan ingin menolak, tapi ia tak menyangka jika Pak Yuda melakukan hal ini.


“Saya tidak bermaksud meminta kamu untuk mengembalikan semua pemberian saya pada kamu, Dean. Saya hanya meminta bantuan kamu untuk menjaga Elin saat saya tidak bisa lagi menjaganya kelak, dengan menjadi suaminya,” jelas Pak Yuda.


Dean benar-benar syok mendengar perkataan Pak Yuda, Dean tahu selama ini Pak Yuda memang tak pernah mau jika ia mengembalikan pemberian beliau selama ini.


Permintaan Pak Yuda kali ini membuatnya cukup dilema antara senang atau sebaliknya. Senangnya karena ia tentu saja akan menikahi gadis yang selama ini ia cintai dalam diam, sedangkan sedihnya—ketika dia menyadari ternyata Pak Yuda mengharapkan balasan, meskipun bukan dalam bentuk harta.


“Jadi bagaimana, Dean? Kamu mau, kan menikahi putri saya?” tanya Pak Yuda meminta jawaban dari Dean.


Dean terlihat terdiam. Sedikit tidak percaya, tapi ini nyata. “Saya bersedia, Pak. Tapi ...,”

__ADS_1


__ADS_2