
“Tapi apa, Dean? Kamu tidak mau menikahi anak saya?” tebak Pak Yuda.
“Bukan begitu, Pak.” Dean langsung mengangkat wajahnya. “Saya salah bicara tadi,” sambungnya sembari menyengir.
“Oh ..., baiklah,” tutur Pak Yuda sembari tersenyum.
“Nanti malam datang, ya ke rumah. Saya menjamu kamu untuk makan malam bersama,” pinta Pak Yuda.
Tanpa ragu-ragu lagi Dean langsung menyetujui permintaan Pak Yuda. “Baiklah, Pak.”
...*****...
Matahari sudah redup, waktu juga sudah menunjukkan pukul empat sore, Dean lantas segera meninggalkan kantor dan segera menuju rumah barunya yang baru saja ia beli 2 bulan lalu. Rumah itu khusus ia beli untuk dirinya, sedangkan untuk Ibu dan kedua adiknya, Dean membelikan sebuah rumah yang lebih besar sebagai hadiah ulang tahun sang ibu setahun yang lalu.
“Ini benar atau nggak, sih?” Dean berulang kali mencubit pipinya dan memukuli dadanya untuk meyakinkan kalau ini sungguh nyata, bukan hanya mimpi.
“Aww....” Dean merintih kesakitan saat cubitan yang ia lakukan pada dirinya sendiri meninggalkan tanda merah di pipinya.
“Ini nyata, bukan mimpi!” gumam Dean dengan perasaan gembira.
“Akhirnya perasaanku memiliki titik terang! Aku berjanji akan membahagiakan Elin kelak.” Dean bersorak dan melompat kegirangan karena akan menikah dengan wanita yang sudah lama ia cintai itu.
“Sebaiknya aku harus lekas mandi, biar tidak terlambat datang menemui Elin,” ujar Dean pada dirinya sendiri.
Ini bukanlah kali pertama Dean datang ke rumah Pak Yuda untuk menemui Elin dan keluarganya, ini yang ke sekian kalinya. Tapi entah kenapa jamuan Pak Yuda malam ini terasa berbeda, dan seolah-olah menjadi hal yang sangat menggembirakan bagi Dean.
Setelah mandi dan berpakain sangat rapih, Dean tak lupa menyemprotkan parfum beraroma manly ke tubuh dan pergelangan tangannya. Ia lantas melihat gambar dirinya di pantulan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. “Sudah rapi, tampan, dan yang pasti wangi,” puji Dean pada penampilan dirinya sendiri.
“Ku harap Elin menyukai penampilanku ini,” gumam Dean percaya diri.
Dean lantas meninggalkan kediamannya dan berangkat menuju kediaman Pak Yuda yang berada tak terlalu jauh dari rumah barunya itu.
Sesampainya disana, Dean langsung di sambut oleh Pak Yudan dan Mami Meri. Sedangkan Elin ia tak terlihat untuk menyambut kedatangan Dean.
“Ayo, silahkan masuk, Dean!” pinta Mami Meri.
“Terima kasih, Tante.”
__ADS_1
Dean lantas dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu, untuk menunggu para pembantu di rumah mewah itu menyiapkan makan malam kali ini.
Mereka ngobrol santai di ruang tamu, mata Pak Yuda sesekali melirik ke arah tangga untuk memastikan Elin keluar dari kamarnya. Namun, Elin tak kunjung menampakan batang hidungnya.
“Tuan, Nyonya, makan malamnya sudah siap,” ujar Bik Suni memberitahu jika makan malam sudah selesai ia siapkan.
“Terima kasih, Bik,” ucap Pak Yuda.
“Sama-sama, Tuan,” jawab Bik Suni lantas berlalu meninggalkan dapur dan segera menuju teras belakang.
“Mah, panggilkan Elin!” perintah Pak Yuda pada istrinya.
“Baiklah, Pah.” Mami Meri lantas bergegas meninggalkan mereka dan naik ke lantai atas untuk menjemput Elin.
“Dean, ayo kita ke meja makan!” ajak Pak Yuda.
“Kita tunggu Elin saja, Pak.” Dean menolak ajakan Pak Yuda karena Elin belum terlihat.
“Baiklah, kita tunggu dulu mereka,” kata Pak Yuda.
Tak berselang lama, Mami Meri datang dan Elin berada di sampingnya. Keduanya berjalan beriringan dengan ekspresi yang berbeda. Mami Meri dengan ekspresi yang gembira, sedangkan Elin dengan ekspresi yang murung.
“Elin! Kok cuma diam saja sih? Ajak dong Dean ngomong,” ujar Pak Yuda di sela makan malam itu sedang berlangsung.
“Bukankah kalau sedang makan kita tidak boleh berbicara?!” ketus Elin, ia tak menatap sedikitpun papinya.
“Oh iya,” ujar Pak Yuda. Sepertinya dia lupa pada ajarannya sendiri.
“Ayo, Dean. Tambah makannya!” tawar Pak Yuda.
“Sudah cukup, Pak,” tolak Dean.
Setelah selesai makan malam, sikap Elin pun tak berubah. Wajahnya terlihat datar dan tak sekalipun tatapannya mengarah pada Dean.
“Sudah selesai kan, makan malamnya? Kalau begitu Elin permisi dulu,” ujar Elin sembari beranjak dari duduknya.
“Nanti, El. Kita belum ngobrol bersama Dean,” ucap Pak Yuda membuat Elin mengehentikan langkah kakinya.
__ADS_1
“Apa lagi, sih Pi?” tanya Elin malas.
“Kita harus mengobrol lebih jauh lagi tentang rencana pertunangan kalian,” ujar Pak Yuda.
Dean dan Elin memelototkan matanya mendengar kata ‘Pertunangan’ yang diucapkan oleh Pak Yuda barusan, tapi Mami Meri tak terkejut sedikitpun karena ia sudah diberitahu oleh suaminya semalam.
“Apa? Bukankah aku hanya diundang untuk makan malam saja?” tanya Dean dalam hati.
“Apa?! Pertunangan? Astaga! Papi bahkan tidak menunggu jawaban dari ku, aku harus bagaimana?!” Batin Elin.
“Papi ingin pertunangan kalian harus segera dilaksanakan, agar pernikahan kalian juga bisa di langsungkan.” Pak Yuda langsung ke inti pembicaraan.
Dean hanya terdiam mendengar pekataan Pak Yuda, “apakah harus secepat ini, Pak?” Batin Dean.
“Bagaimana, Dean? Kamu setuju, kan jika pertunangan kalian dilaksanakan dalam waktu dekat?” tanya Pak Yuda meyakinkan.
Dean terlihat ragu, ia tidak kepikiran semuanya direncanakan secepatnya oleh Pak Yuda. Ia bahkan belum berbicara empat mata brsama Elin mengenai perjodohan ini. Bagaimana jika ternyata Elin terpaksa menjalankan pernikahan nantinya? Bukankah mereka akan sama-sama tersiksa akan pernikahan yang tak diinginkan?
“Kamu ragu, Dean?” tebak Pak Yuda.
Dean lantas mengangkat kepalanya dan menatap Pak Yuda, “Saya tidak ragu, Pak. Tapi apakah harus secepat ini?” ujar Dean sambil menatap Elin yang juga melihatnya, tapi tatapan Elin terlihat datar.
Jujur saja awalnya Dean merasa percaya diri. Namun, setelah melihat ekspresi yang ditunjukan Elin, ada sedikit keraguan di hatinya. Ia takut Elin akan terpaksa menjalankan pernikahan nantinya, karena menikah adalah sebuah ikatan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan dan tidak boleh diceraikan oleh manusia. Itulah kenapa Dean merasa perlu berbicara pada Elin terlebih dahulu mengenai semua ini.
“Ya, harus secepatnya kalian menikah. Supaya kalian cepat memiliki ikatan sebagai suami istri,” jelas Pak Yuda.
“Saya perlu berbicara pada Elin dulu, Pak,” tutur Dean.
“Baiklah. Saya beri waktu satu minggu untuk kamu berbicara bersama Elin, setelah itu saya ingin jawaban yang tentunya tidak membuat saya kecewa!” ucap Pak Yuda dengan nada mengancam.
Elin tahu maksud papinya itu. Papinya sangat berharap pernikahan antara dirinya dan Dean terjadi. Entah apa yang ada di benak papinya itu, sehingg terkesan terburu-buru menikahi dirinya. Padahal ia masih ingin sendiri.
“Elin permisi dulu,” potong Elin beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan meja makan.
Pak Yuda dan Mami Meri menghembus nafas kasar melihat kelakuan Elin.
“Maafkan Elin, Dean,” ucap Mami Meri.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Tante,” ujar Dean sembari tersenyum.
Dean tahu, Elin pasti tidak bisa secepat ini menerima perjodohan yang dilakukan papinya. Bahkan mereka berdua belum membicarakan hal ini, entah apa yang akan Elin jawab nantinya Dean akan tetap menerima keputusan Elin.