Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Kabar Baik (Dean)


__ADS_3

Setelah mengetahui apa yang Riko lakukan, Dean segera berlalu dari sana dan pulang ke rumah.


*******


Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 WIB. Namun, Riko belum juga pulang, Ayah dan Ibunya sangat cemas karena biasanya Riko akan kembali sebelum maghrib, tapi sudah jam segini dia belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Kemana anak itu? sudah jam segini belum juga pulang," ujar Pak Burhan dengan nada sedikit emosi.


"Iya, biasanya kan jam segini dia sudah pulang bermain bersama temannya," timpal Ibu Dewi dengan nada cemas.


"Biar Dean yang hubungi nomornya, Bu," ujar Dean.


Namun, setelah mencoba menelpon selama beberapa kali, tidak ada satu pun jawaban dari Riko. Hal itu tentu saja membuat Pak Burhan dan Ibu Dewi semakin cemas.


"Ayah... Ibu... ayo kita duluan makan saja, aku sudah sangat kelaparan," ujar Gita pada ayah dan ibunya karena mereka sudah menunda makan Malam selama setengah jam untuk menunggu Riko.


"Ayah dan Ibu makan saja duluan. Biar Dean yang mencarinya," ujar Dean hendak meninggalkan meja makan.


"Ya sudah kita makan saja dulu. Dean, kita makan dulu habis itu baru kamu cari Riko," ujar pak Burhan.


"Baiklah, Ayah," ucap Dean sambil kembali ke posisi semula.


Setelah selesai makan malam, Riko baru kelihatan batang hidungnya. Baru saja melangkahkan kaki di dapur, dia langsung di cecar oleh ayahnya.


"Kemana saja kamu Riko?! Jam segini baru pulang!" cecar Pak Burhan kepada Riko.


"Maaf Ayah, tadi Riko habis ngerjain tugas sama teman-teman Riko," jawab Riko yang ketakutan saat di bentak oleh ayahnya.


Dean mendongakkan kepalanya kepada Riko, dan memusatkan perhatiannya pada adiknya itu. Dean benar-benar tidak menyangka jika adik yang selalu di Bela nya itu pandai berbohong.

__ADS_1


"Riko... Kenapa ngerjain tugas sampai kemalaman seperti ini, kamu juga nggak ngasih kabar kalau pulangnya telat, terus telepon dari kakak mu juga tidak diangkat. Ayah dan Ibu sangat khawatir pada kamu Nak," ujar Ibu Dewi dengan lembut.


"Maaf Bu, ponsel Riko ada didalam tas tadi," ujar Riko sambil menundukkan kepalanya.


"Huhhh... Kak Riko ini, untung saja tadi kami makan duluan, kalau tidak, bisa masuk angin Aku," ujar Gita yang turut kesal karena harus menunggu kakaknya itu.


Dean yang sudah mengetahui habis darimana adiknya itu tidak mau ikut- ikutan memarahi Riko, dia lebih memilih untuk menenangkan suasana.


"Ayah... Ibu.... sudahlah, jangan terus mencecar Riko seperti itu, biarkan dia mandi dan makan dulu," ujar Dean pada kedua orang tuanya.


Bagi Riko, Dean adalah kakak yang terbaik, sebab jika ayah dan ibunya memarahi dirinya, maka Dean lah yang selalu membelanya.


"Ya sudah kamu mandi dulu, habis itu makan malam," ujar Pak Burhan dengan nada suara yang lebih lembut daripada sebelumnya kepada Riko.


"Baiklah, Ayah," ujar Riko kemudian berlalu dari sana.


*****


"Ayah.. Ibu.. Dean ada kabar gembira nih," kata Dean sambil melengkungkan senyuman di wajahnya.


"Kabar gembira Apa?" tanya Pak Burhan dengan penasaran.


"Dean sudah mendapatkan pekerjaan, dan besok Dean sudah mulai bekerja," ujar Dean dengan senang.


"Oh ya?! Baguslah Nak, ternyata kesabaran kamu selama ini akhirnya berbuah juga," ujar Ibu Dewi yang turut gembira mendengar kabar baik itu.


Pak Burhan, Riko dan Gita juga turut Senang mendengar kabar baik itu. Mereka tiada henti tersenyum ke arah Dean.


"Diterima bekerja dimana kamu, Nak?" tanya Pak Burhan.

__ADS_1


"Di perusahaan KUSUMA CORP, perusahaan Tuan Yuda Kusuma, Ayah," jawab Dean.


"Kusuma CORP? Perusahaan besar yang ada di pusat kota itu kan?" tanya Pak Burhan dengan kagum.


"Iya, Ayah. Tuan Yuda sendiri yang memberikan pekerjaan itu kepada Dean," ujar Dean sambil menganggukkan kepala nya.


"Oh, jadi Tuan Yuda yang kamu tolongin waktu itu memberikan kamu pekerjaan ini?" timpal Ibu Dewi.


"Iya Bu, Dean awalnya ragu untuk menerima tawaran darinya, tapi Tuan Yuda memaksa dan meyakinkan Dean, dia bilang dia ingin berterima kasih pada Dean, jadi Dean menerima pekerjaan ini," jelas Dean.


"Iya Nak, kamu bekerjalah sebaik-baiknya, jangan kecewakan dia, banyak orang yang berlomba-lomba agar bisa bekerja disana. Sedangkan kamu diberikan kepercayaan langsung oleh Tuan Yuda untuk bergabung bersama perusahaannya," nasihat Pak Burhan Kepada Dean.


"Iya Ayah, terima kasih nasehatnya, Dean janji akan bekerja bersungguh-sungguh," ujar Dean dengan yakin.


"Ayah dan Ibu sangat senang mendengar kabar baik ini, semoga saja kamu betah bekerja di sana," ujar Ibu Dewi sambil tersenyum.


"Iya Bu," ujar Dean yang juga tak henti hentinya menyematkan senyuman gembira di wajahnya.


Terlihat dari raut wajahnya, kedua orang tua Dean sangat bangga memperhatikan pencapaian Dean. Hal itu tentu saja membuat mereka semakin sayang kepada Dean.


Riko terlihat tersenyum mendengar pencapaian kakaknya. Jujur saja dirinya juga ingin disayang dan di banggakan seperti kakak sulungnya itu.


Setelah bercengkrama hangat, mereka memutuskan untuk beristirahat ke kamar masing-masing.


Dean dan Riko juga masuk menuju kamar mereka. Didalam kamar, mereka tidak langsung tidur, sebab Dean bertanya beberapa hal kepada Riko terkait kegiatan Riko akhir-akhir ini. Namun, Riko tetap bersikukuh menyembunyikan kegiatan nya selama dua Minggu terakhir kepada siapapun termasuk kepada Dean.


Dean yang sudah mengetahui kebenarannya, hanya ingin mengetahui apa alasan Riko sampai berbohong kepada dirinya dan juga orang tua mereka. Riko keluar dengan alasan akan mengerjakan tugas sekolah, padahal sebenarnya dia bekerja di sebuah warung kopi. Sedangkan dirinya juga masih berstatus pelajar SMA dan harus fokus belajar. Namun, Riko masih saja menutupinya, tanpa dia sadari kalau Dean ternyata sudah mengetahui semuanya.


Dean tidak ingin memaksa Riko untuk mengatakannya, sebab Dean tau Riko memiliki sifat sedikit tertutup. Dia lebih senang menyelesaikan masalahnya sendiri daripada harus berbagi.

__ADS_1


Karena tak mendapat penjelasan dari Riko akhirnya Dean mengajak Riko untuk beristirahat saja dan tak ingin memperpanjang masalah itu.


__ADS_2