
Dret dret. Sebuah pesan masuk ke ponsel Elin yang terletak di atas nakas kamarnya, sedangkan yang empunya sedang asyik membaca sebuah buku di atas kasurnya sambil rebahan.
“Pesan dari siapa sih, ganggu orang lagi baca aja!” ujar Elin merasa kesal sembari meraih ponselnya dan segera menekan tombol power.
“Malam ini aku mengajakmu makan malam, kamu mau kan?” ~ Diko.
Elin terlihat mengerinyitkan dahinya lalu tersenyum, tanpa berpikir panjang ia langsung membalas pesan dari Diko dan menerima ajakan Diko untuknya.
“Baiklah, aku mau. Aku tunggu di rumah.” ~ Elin.
Tak butuh waktu lama, pesan yang Elin balas langsung dibaca oleh Diko.
“Okay. Jam 7 malam aku akan menjemputmu di rumah, tunggu saja, ya.” ~ Diko.
Elin terlihat sangat senang dengan ajakan Diko. Sejak kepulangannya dari perantauan beberapa waktu yang lalu, Elin memang dekat dengan Diko. Berbalas pesan hampir setiap malam mereka lakukan, meskipun mereka belum menyandang status sebagai pasangan kekasih, tapi kedekatan mereka sudah menunjukkan bahwa Diko memang menyukai Elin.
Sebetulnya Elin juga menyukai perlakuan Diko kepadanya, bahkan perhatian kecil dari Diko membuatnya sangat senang, hanya saja ia tidak mau terlebih dahulu mengutarakan perasaannya pada lelaki tampan itu.
Waktu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Elin sudah bersiap-siap sejak setengah jam yang lalu. Ia begitu antusias menunggu kedatangan Diko ke rumah untuk menjemputnya.
Mami Meri yang kala itu sedang melintas di ruang tamu terlihat tertegun melihat penampilan Elin yang terlihat sangat cantik malam ini, dengan polesan make up tipis di wajahnya.
“Wihh..., putri mami cantik banget sih, kamu mau kemana?” ujar Mami Meri melihat Elin tampil dengan dress selutut sambil menenteng sebuah mini bag di tangannya.
“Elin mau keluar, Mi. Mau makan malam sama Diko, dia ngajak Elin,” ujar Elin sambil menuruni setiap jengkal anak tangga di rumahnya.
Mami Meri menganggukan kepalanya mendengar penuturan putrinya barusan.
“Papi Mana, Mi?” tanya Elin saat ia sampai di lantai dasar rumahnya itu.
“Ada tuh, di teras belakang. Lagi minum kopi kayaknya,” ujar Mami meri sembari berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
Elin lantas berjalan ke teras belakang untuk berpamitan pada papinya.
“Papi!” panggil Elin pada ayahnya.
Pak Yuda yang sedang membaca sebuah artikel, mengalihkan pandangannya pada Elin.
“Eh... putriku yang cantik, kamu mau kemana? kok udah keren begini, ” puji Pak Yuda sembari tersenyum manis ke arah putrinya itu.
“Elin mau keluar sebentar, Pi. Bolehkan?” tanya Elin sedikit ragu. ia takut papinya tidak memberikan izin padahal ia sudah menyanggupi ajakan Diko siang tadi.
“Kemana?” tanya Pak Yuda menelusuri.
“Makan malam, Pi.”
“Sama siapa?”
“Sama Diko, Pi. Tadi siang dia ngajak Elin,” jawab Elin.
Cukup lama Pak Yuda terdiam di depan putrinya itu. Ia menjadi dilema antara memberi izin atau tidak. Bila ia memberikan izin pada Elin, berarti ia merusak rencananya sendiri. Sedangkan bila ia tidak memberikan izin pada putrinya itu, ia terkesan egois, karena hanya memikirkan rencananya tanpa memikirkan kebebasan putrinya itu.
“Bolehkan, Pi?” tegas Elin meminta izin pada papinya itu.
Mata Pak Yuda lantas melirik istrinya di belakang Elin, entah sejak kapan istrinya itu tiba. Melihat anggukan istrinya itu, Pak Yuda lantas mengehembus dengan kasar nafasnya. “Baiklah, tapi jangan lama-lama,” ujar Pak Yuda memberi izin pada putrinya itu.
“Terima kasih, Papi.” Elin dengan sumringah mencium pipi ayahnya.
‘Pip pip.’ Suara klakson mobil Diko sudah berbunyi di depan sana, menandakan ia sudah siap menjemput sang pujaan hati, hanya saja belum tersampaikan. Elin lantas mencium tangan kedua orang tuanya dan segera meninggalkan teras belakang menuju ke depan rumahnya.
Keduanya lantas berangkat menuju ke restoran tempat mereka akan makan malam. Sesampainya di sana, mereka langsung menempati sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Restoran itu terlihat cukup ramai, itulah alasan mengapa mereka lebih memilih di sudut. agar tidak terlalu bising mendengar pengunjung lain.
Setelah memesan hidangan masing-masing, keduanya lantas menikmati pesanan yang baru saja di antar oleh pelayan. Elin terlihat begitu lahap menyantap hidangan pilihannya, bukan karena tak pernah makan makanan enak di restoran, tapi ia sedang di landa rasa lapar. Pasalnya ia tak mengisi perutnya dengan sedikitpun makanan sejak Diko mengirimkan pesan padanya siang tadi.
__ADS_1
“Makannya pelan-pelan, nanti tersedak” nasihat Diko pada Elin yang terlihat sangat lahap menikmati American Baked Steak pesanannya.
“Maaf, ya Diko. Aku lapar banget soalnya,” ujar Elin malu-malu sembari melirik ke arah Diko di hadapannya.
Tangan Diko tiba-tiba mengarah ke bibir Yuma. Tangan lembutnya kemudian mengusap dengan lembut bibir itu. “Ada bumbu masakan di situ.”
Elin terlihat malu-malu dengan perlakuan Diko barusan, untunglah mereka berada di sudut ruangan sehingga tak banyak yang melihat mereka.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Diko lantas meraih tangan Elin yang sedang memainkan ponselnya di atas meja.
“El, mungkin kamu sudah menyadari perasaanku selama ini padamu. Bahkan sedari dulu saat SMA aku sudah memiliki perasaan ini untukmu, dan hari ini aku ingin menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan sedari dulu padamu, yaitu: aku menyukaimu, aku menyayangimu, dan aku juga mencintaimu. Apa kamu mau jadi pacarku?” ucap Diko dengan nada suara yang mantap dan yakin.
Elin terlihat gugup saat tanganya diraih Diko degan lembut. Kini kata-kata Diko barusan membuat jantungnya berdegug semakin kencang. Wajahya terlihat memerah menahan rasa gugupnya, sedangkan bibirnya tak mampu menutupi rasa sukanya pada Diko. Ia lantas melebarkan senyumannya, “ya, aku mau jadi pacarmu,” jawab Elin menerima Diko sebagai kekasihnya.
Diko terlihat begitu senang mendengar jawaban manis dari Elin, tidak sia-sia ia menyimpan rasa itu bertahun-tahun, akhirnya perasaannya berbalas sesuai dengan harapannya.
Sementara itu, di kediaman Pak Yuda, ia dan istrinya akan tidur dan sudah baring di atas kasur dengan posisi Mami Meri membelakangi dirinya.
“Mi, aku khawatir pada Elin,” tutur Pak Yuda pada istrinya.
“Dia sudah dewasa, Pah. Dia pasti bisa menjaga dirinya, lagipula kita tidak boleh terlalu mengekangnya,” ujar Mami Meri.
“Bukan itu yang aku khawatirkan, Mah. Aku khawatir Elin akan jatuh hati pada Diko. Mamah kan tahu sendiri dengan niatku untuk menjodohkan Elin dan Dean, bahkan sedari dulu aku sudah merencanakannya, dan kini aku harus menepati janjiku pada diri sendiri,” jelas Pak Yuda pada istrinya.
Mami Meri lantas membalikan badannya menghadap pada sang suami.”Pah... kita tidak boleh memaksakan kehendak pada Elin, kita biarkan saja takdir yang menentukan siapa menantu kita kelak, toh Diko juga anak yang sopan, bukan?” ujar Mami Meri.
“Bukan begitu, Mah. Aku hanya ingin menitipkan putriku pada orang yang benar-benar bertanggung jawab, aku sudah menemukan sifat itu dalam diri Dean, dan aku sudah yakin seratus persen padanya,” jelas Pak Yuda pada istrinya.
“Aku ingin di sisa umurku ini melihat Elin hidup bahagia bersama dengan Dean, aku yakin mereka pasti hidup bahagia kelak,” tambahnya.
Mami meri hanya menghembuskan nafasnya, ia tahu suaminya sangat keras. Semua kemauanya tidak bisa di bantah siapapun.
__ADS_1