Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Rencana Perjodohan (Pak Yuda)


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya di kantor, Dean lantas berkemas-kemas untuk segera pulang.


Baru saja melangkahkan kakinya keluar ruangan, Dean langsung di sambut dengan kehadiran Pak Yuda yang juga baru saja keluar dari ruang kerja miliknya dan memanggil dean .


"Dean, apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Pak Yuda sambil berjalan ke arah Dean.


Dean pun menyambut kedatangan Pak Yuda dan tersenyum ramah pada bosnya itu.


"Iya Pak, sudah," ujar Dean.


"Ada yang bisa Dean bantu, Pak?" tanya Dean kala Pak Yuda sudah berhadapan dengan dirinya.


"Hm... tidak ada yang perlu dibantu Dean, saya hanya ingin mengajak kamu untuk makan malam bersama keluarga saya nanti malam," jelas Pak Yuda.


"Oh iya Pak," ujar Dean sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Jadi bagaimana, Dean? Apa kamu punya waktu untuk makan malam bersama keluarga saya malam ini?" tegas Pak Yuda.


"Iya, bisa kok Pak, kebetulan semua pekerjaan di kantor juga sudah saya selesaikan tadi," ujar Dean sambil mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, nanti jam setengah tujuh malam jemput saya di rumah ya!" perintah Pak Yuda.


"Baik Pak," ujar Dean.


"Apa Bapak akan pulang sekarang?" tanya Dean pada Pak Yuda dengan serius.


"Iya, apa lagi yang kita tunggu disini. Ayo kita pulang!" ujar Pak Yuda sambil tertawa kecil ke arah Dean.


"Dean kira bapak mau mengajak lembur," ujar Dean sambil tertawa balik ke arah Pak Yuda.


Setelah sedikit perbincangan tadi, Pak Yuda dan Dean lantas berlalu dari kantor dan segera pulang.


Dalam perjalanan pulang, baik Pak Yuda maupun Dean tidak ada yang bersuara. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah setengah perjalanan pulang, barulah Pak Yuda mengajak Dean berbicara.


"Dean, apa kamu benar-benar tidak punya pacar?" tanya Pak Yuda dengan serius.


Dean tersentak mendengar Pak Yuda kembali bertanya mengenai masalah pribadinya. Sebenarnya apa yang pak Yuda rencanakan? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Dean.

__ADS_1


"Sebelumnya saya mau minta maaf Dean, bukannya saya ingin mencampuri urusan pribadi kamu, saya hanya ingin memastikan saja," ujar Pak Yuda sambil mengarahkan pandangannya ke depan.


Dean yang tadi diam kini mulai mengeluarkan jawaban untuk Pak Yuda. Ia lantas menurunkan kecepatan mobilnya dan menoleh pada Pak Yuda.


"Dean benar-benar belum punya pacar Pak, dan Dean pikir untuk sementara waktu Dean lebih senang mengejar karir ketimbang menjalin suatu hubungan," jelas Dean sambil fokus mengendarai mobilnya.


"Baiklah kalau begitu," ujar Pak Yuda dengan raut wajah yang tak terbaca.


Pak Yuda senang karena Dean belum punya pacar, tatapi di satu sisi la juga kecewa lantaran Dean sudah mengeluarkan keputusan untuk tidak menjalin hubungan terlebih dahulu dalam waktu dekat ini.


Jika Dean berkata demikian, berarti tidak ada hubungan spesial diantara Dean dan Lia. Pak Yuda beranggapan bahwa Dean dan Lia menjalin suatu hubungan, karena Pak Yuda memperhatikan kedekatan mereka berdua selama ini. Tetapi Pak Yuda belum berani menyimpulkan bahwa mereka benar-benar berpacaran sebelum ia mendengar sendiri dari Dean ataupun Lia.


Mobil yang dikendarai Dean sudah tiba di halaman depan rumah Pak Yuda. Ia lantas turun dan membukakan pintu mobil untuk Pak Yuda.


"Dean, ayo mampir dulu barang sebentar," ujar Pak Yuda pada Dean sambil keluar dari mobil.


"Oh tidak usah Pak. Dean juga mau bersiap-siap untuk menjemput Bapak nanti malam," ujar Dean.


"Baiklah, saya tunggu nanti malam ya," ujar Pak Yuda.


Setelah itu, Dean lantas memacu kendaraan nya menuju apartemen yang di sewakan oleh Pak Yuda untuknya.


Setelah tiba di apartemennya, ia langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau keringat bercampur aroma parfum yang di semprot nya pagi tadi.


*Dikediaman Pak Yuda


Sesampainya di rumah, Pak Yuda langsung masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Mami Meri terlihat sedang memilih-milih pakaian di lemari untuk nanti malam.


"Mah," sapa Pak Yuda pada istrinya itu.


"Eh... Papah," ucap mami Meri sambil melirik ke arah suaminya.


"Pah, nanti malam jadi kan makan malam nya?" ujar Mami Meri pada suaminya yang baru saja datang ke rumah.


"Iya Mah, bersiap-siap gih, nanti malam Dean yang akan menjemput kita," ujar Pak Yuda sambil melepaskan sepatu yang di kenakan nya.


"Papah mengajak Dean?" tanya Ibu Dewi sambil mengarahkan pandangannya pada suaminya itu.

__ADS_1


"Iya Mah, kenapa? tidak boleh ya?" tanya Pak Yuda pada istrinya.


"Mamah justeru sangat senang Pah, Dean sudah Mamah anggap seperti anak sendiri," ujar Mami Meri dengan lirih.


"Papah juga sudah menganggap Dean sebagai anak sendiri Mah," ujar Pak Yuda sambil menatap sendu istrinya.


"Kalau begitu, kenapa papah tidak ajak dia tinggal di sini saja Pah?" ujar Mami Meri.


"Dean itu anak yang mandiri Mah, dia tidak mau menyusahkan orang lain. Apa mama tau, Dean beberapa kali menolak saat papah menawarkan kamar apartemen dan mobil kantor untuknya, dia beralasan dia belum pantas menerima semua itu. Tapi papah bersikeras meminta dia agar mau menerima semua itu dengan alasan pekerjaan, dan akhirnya Dean mau menerima pemberian papah," jelas Pak Yuda.


"Kenapa papah tidak memaksanya saja untuk tinggal disini dan kita jadikan anak angkat," ujar mami Meri.


"Papah tidak mau memaksa Dean lagi mah, jika Mamah mau Dean tinggal bersama kita maka mamah harus membantu Papah untuk mendekatkan mereka berdua," ujar Pak Yuda dengan serius.


"Maksud Papah dengan Elin?" ujar Mami Meri dengan nada sedikit terkejut.


"Iya Mah, Papah berniat menjodohkan mereka berdua," ujar Pak Yuda dengan santai.


"Apaaa?!" Mami Meri sangat terkejut.


"Apa Papah sudah gila? Elin masih kuliah Pah, masa iya kuliahnya enggak di selesaikan. Terus, masa iya jaman sekarang masih menjodohkan anak, apa mereka mau?" gerutu Mami Meri pada suaminya itu.


"Stttt," ujar Pak Yuda sambil menempelkan telunjuknya di bibir istrinya.


"Jangan keras-keras Mah, ini baru rencana Papah. Lagian kenapa Mamah sampai berpikir kalau Papah akan menikahkan mereka dalam waktu dekat? Tentu tidak Mah, tunggu mereka sudah berkarir dan benar-benar sudah mapan nanti. Tapi mamah setuju kan dengan pendapat papah?" ujar Pak Yuda berbisik pada istrinya.


"Terserah Papah," ujar Mami Meri dengan raut wajah kesal sambil berlalu keluar dari kamar.


"Huh... ." Suara Pak Yuda menghela panjang napasnya.


Pak Yuda pikir istrinya bisa menerima usulannya. Tapi tidak semudah itu. Ini adalah keputusan yang tergolong gila di zaman sekarang, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya dimana orang tua bisa menjodohkan anak-anaknya. Ini adalah zaman moderen, dimana teknologi bisa saja mempertemukan dua insan yang saling mencintai.


Terlepas dari semua kecanggihan teknologi zaman sekarang, Pak Yuda tidak perduli. Ia tetap bersikeras menjodohkan Dean dan putri semata wayangnya itu.


Sebetulnya banyak rekan bisnisnya yang mempunyai anak lelaki yang sudah mapan, baik secara emosional maupun finansial. Namun, Pak Yuda tetap menginginkan Dean sebagai menantunya kelak. Hal itu karena Dean adalah sosok yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, dan Pak Yuda berharap Dean bisa menjaga Elin saat ia tidak bisa lagi melindungi putrinya itu kelak.


Mengingat semakin hari usianya semakin bertambah, jadi tidak ada salahnya ia mencarikan sosok yang dapat melindungi putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2