Biarkan Aku Mencintaimu

Biarkan Aku Mencintaimu
Memandang Dari Jauh (Dean)


__ADS_3

Dering ponsel membangunkan tidur nyenyak Dean. Dengan wajah kucel nya, Ia lantas meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Dilihatnya nomor Pak Yuda yang memanggilnya. Dean pun segera mengangkat telepon dari Pak Yuda.


"Halo Pak!" ujar Dean kala ia mengangkat telepon dari Pak yuda.


"Ya, halo Dean," jawab Pak Yuda dari seberang sana.


"Nanti tolong jemput Saya ya, sopir pribadi keluarga kami belum juga pulang," timpal Pak Yuda.


"Oh iya Pak," ujar Dean.


"Baik, terima kasih Dean," ujar Pak Yuda.


"Iya, sama-sama Pak," ucap Dean, kemudian sambungan telepon pun terputus.


Dean lantas bangun dari ranjangnya, dilihatnya waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Waktunya masih awal sekali untuk berangkat ke kantor.


Dean lantas mengambil sebuah buku di rak buku, lalu membacanya, sambil menikmati udara segar dan suasana kota di pagi hari. Pemandangan indahnya kota Jakarta dapat Dean lihat dari jendela apartemen nya yang mengarah ke pusat kota.


Setengah jam kemudian, Dean lantas beranjak dari duduknya lalu menyimpan kembali buku yang sudah di bacanya tadi.


Dean lantas mandi dan bersiap-siap lalu sarapan. Setelah sarapan, ia berlalu dari apartemen miliknya menuju kediaman Pak Yuda yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini.


Jalanan terlihat ramai lancar pagi ini. Belum ada tanda-tanda kemacetan lalu lintas, sehingga Dean dapat leluasa memacu kendaraannya lebih cepat dari biasanya.


Sesampainya di gerbang rumah Pak Yuda, Dean lantas membunyikan klakson agar Pak Asep membuka pintu gerbang. Pak Asep pun dengan sigap membuka pintu gerbang kala mendengar bunyi klakson mobil yang di kendarai oleh Dean.


"Terima kasih, Pak Asep," ujar Dean sambil tersenyum ramah pada Pak Asep setelah ia membuka kaca mobilnya.


"Sama-sama Den," ujar Pak Asep dengan ramah. Lalu ia segera menutup Kembali gerbang rumah megah majikannya itu.


Dean lantas turun dari mobilnya setelah ia tiba di halaman depan rumah Pak Yuda. Matanya langsung tertuju pada seorang gadis cantik yang sedang duduk manis sambil membaca sebuah buku di teras rumah itu. Rambutnya dibiarkan terurai dengan selendang biru muda membalut lehernya yang jenjang itu.


Dean sejenak menatap Elin dari kejauhan. Gadis itu benar-benar cantik tak terbantahkan, selain wajahnya yang cantik ia juga sangat ramah yang membuat aura kecantikannya kian terpancar.


Karena terlalu fokus membaca buku, Elin tidak menyadari kedatangan Dean di rumahnya.


"Elin," sapa Dean yang baru saja melangkahkan kakinya di rumah itu.


Elin yang sedari tadi fokus menatap buku kini mengalihkan pandangannya pada asal suara yang menyapanya.


"Dean," sambut Elin sambil tersenyum ramah melihat kedatangan Dean di rumahnya.


"Pak Yuda nya ada?" tanya Dean dengan ramah.


"Papi masih bersiap-siap, ayo duduk dulu Dean sambil menunggu papi," jawab Elin sambil mempersilahkan Dean untuk duduk di kursi sebelah nya.


"Iya, Elin," ujar Dean kemudian mendudukkan dirinya berdampingan dengan Elin yang hanya dibatasi sebuah meja.


"Tunggu sebentar ya Dean," ujar Elin setelah ia meletakan buku yang di bacanya diatas meja, kemudian berlalu dari sana menuju dapur.


Dean memperhatikan buku yang di baca Elin tadi, dari judulnya terlihat menarik. Elin benar-benar gadis impian. Sudah cantik, ramah, baik, rajin membaca buku pula, benar benar paket komplit bagi Dean.


Dean buru buru mengalihkan pandangannya kala Elin datang membawa secangkir teh panas untuk Dirinya.


"Silahkan diminum teh nya Dean," ujar Elin setelah ia mendudukkan dirinya di kursi di seberang dean.


"Iya, terima kasih Elin," ujar Dean sambil tersenyum ramah pada Elin, begitu juga dengan Elin yang tersenyum ramah padanya.


"Kamu sudah lama bekerja sama Papi, Dean?" tanya Elin.


"Hampir tiga bulan ini," jawab Dean sambil meletakan secangkir teh yang baru saja di nikmati nya.


"Oh... baru ya? Aku kirain udah lama," ujar Elin sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.

__ADS_1


"Setelah tamat SMP kamu sekolah dimana, Dean?" kembali Elin bertanya dengan penasaran.


"Setelah tamat SMP, Aku melanjutkan sekolah di SMA NEGERI 3," ujar Dean.


"Oh, begitu ya," ujar Elin sambil menganggukkan kepalanya lagi.


"Kalau kamu sendiri SMA nya dimana?" Balik Dean yang bertanya pada Elin.


"Aku dulu di SMA Putra Bangsa," ujar Elin.


Ditengah percakapan Dean dan Elin, Pak Yuda tiba dan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia nampak tersenyum mendapati Dean dan putrinya duduk berdua.


"Dean, maaf ya kalau sudah menunggu lama," ujar Pak Yuda.


"Oh tidak apa-apa, Pak," ujar Dean sambil beranjak dari duduknya.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajak Pak Yuda.


"Baik Pak," ujar Dean.


"Sayang, papi berangkat dulu ya," ujar Pak Yuda pada Elin sambil memberikan tangannya untuk di cium putrinya itu.


"Iya papi, hati-hati ya," ujar Elin dengan lembut pada papinya Itu.


Kemudian Pak Yuda segera menyusul Dean yang sudah lebih dahulu berjalan menuju mobil untuk membukakan pintu mobil padanya. Setelah gerbang di buka mereka bergegas berangkat menuju kantor. Diperjalanan menuju kantor mereka saling bertutur kata dengan akrab, sesekali Pak Yuda juga mengeluarkan kalimat candaan untuk Dean.


"Dean, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Pak Yuda sambil tersenyum mengarah pada dean.


Dean sedikit terkejut mendengar Pak Yuda bertanya hal itu padanya. Namun, ia tetap menanggapi pertanyaan Pak Yuda dengan sopan.


"Dean belum punya pacar, Pak," ujar Dean dengan yakin sambil terus fokus mengarahkan pandangannya ke depan.


Pak Yuda melebarkan senyuman nya mendengar jawaban dari Dean. Itu artinya apa yang ia rencanakan bisa berjalan mulus jika Dean tidak punya pacar.


"Dean memang belum terpikirkan untuk mencari pacar apalagi menikah, karena Dean ingin mewujudkan mimpi Dean lebih dulu Pak," ujar Dean pada Pak Yuda.


"Wah bagus itu, orang tuamu pasti sangat bangga punya anak seperti kamu. Orangnya pintar, disiplin, pantang menyerah, konsisten, ramah lagi," puji Pak Yuda.


Dean merasa malu mendengar pujian dari Pak Yuda, ia merasa dirinya belum sebaik apa yang di ucapkan Pak Yuda padanya.


Sesampainya di kantor, Pak Yuda dan Dean langsung menuju ruangannya masing-masing.


Hari ini pekerjaan menumpuk, mata Dean memerah dan terasa perih karena berjam jam berhadapan dengan komputer. Tentu saja matanya perih karena dari pagi sampai siang ia tidak berhenti menatap layar komputer.


Kala jam istirahat, Dean segera meninggalkan ruangan nya untuk mengistirahatkan matanya yang kelelahan.


"Tumben Lia tidak mengajak makan siang, kemana dia?" gumam Dean dengan penasaran karena biasanya Lia akan mengajak nya untuk makan ke luar, tapi hari ini Dean tidak melihat nya.


Baru saja akan melangkahkan kaki untuk kembali menuju ruang kerjanya, Dean langsung menoleh kala Lia memanggilnya.


"Dean, ayo kita makan siang," ajak Lia sambil berjalan ke arah Dean.


"Ayo, tapi kita makan di dekat sini saja ya, pekerjaan ku masih banyak jadi nggak bisa lama-lama," jelas Dean pada Lia.


"Baiklah, tidak apa-apa," ujar Lia sambil tersenyum manis tanda persetujuan nya.


Dean dan Lia pun berangkat menuju rumah makan yang berada di seberang kantor Kusuma corp. Kebanyakan yang makan siang Disana adalah karyawan Kusuma corp yang malas jauh-jauh untuk makan siang. Disini menunya juga enak, tidak kalah di bandingkan dengan hidangan di restoran, maka tak heran banyak yang makan siang disini.


Setelah mengambil makanan, Dean dan Lia langsung memposisikan diri mereka untuk menyantap makan siang nya.


Lia terlihat lahap menikmati makanannya, begitu juga dengan Dean. Mereka segera menghabiskan makanan yang sudah mereka ambil.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Lia mengumpat kesal karena melihat sosok Gino berjalan masuk menuju rumah makan itu.

__ADS_1


"Huh... bertemu dia lagi," ujar Lia sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Siapa? Gino?" tebak Dean.


"Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Lia dengan malas.


"Namanya juga tempat umum, jadi siapa saja boleh mengunjunginya," ujar Dean sambil melihat ke arah Gino yang sedang mengambil makanan di etalase.


"Bukan gitu Dean, masalah nya setiap kali bertemu, dia selalu saja membuat masalah," jelas Lia dengan malas.


Setelah mengambil makanan, Gino memperhatikan ruangan sekitar untuk mencari meja makan yang kosong. Namun, matanya menangkap Lia dan Dean sedang duduk berdua dan mengobrol di salah satu meja di ruangan itu.


Seketika amarah nya memuncak menyaksikan kebersamaan Dean dan lia, ia menggeretakan gigi nya sambil menggenggam dengan keras gelas berisi jus mangga pesanannya itu. Beruntung saja gelas itu tidak pecah ditangannya.


Otak licik mulai menguasai diri Gino dan memunculkan niat jahat dipikiran nya. Ia lantas berjalan ke arah Dean dan Lia, lalu dengan sengaja mengaitkan kakinya ke kaki meja, sehingga jus mangga yang ada ditangan nya tumpah dan mengenai kemeja putih yang di kenakan Dean.


Kraaanngggg, semua mata pengunjung tertuju ke arah mereka bertiga, karena mendengar suara gelas yang baru saja jatuh ke lantai dari arah mereka.


"Ginoo!!" teriak Lia dengan ekspresi marah sambil beranjak dari duduknya.


"Maaf Dean, aku nggak sengaja," ucap Gino pada Dean.


"Kamu apa-apaan sih Gino, lain kali kalau jalan itu hati-hati dong! Lihat bajuku jadi kotor begini!" bentak Dean dengan nada marah sambil beranjak dari duduknya karena baru saja tersiram jus mangga.


"Ya aku minta maaf, aku kan nggak sengaja," ujar Gino dengan nada terpaksa.


"Dasar pembuat masalah!" ucap Lia dengan kesal sambil melotot kan matanya pada Gino.


Gino hendak memungut pecahan gelas yang baru saja dijatuhkan oleh nya. Namun, karyawan di rumah makan itu melarang nya dan mempersilahkan dirinya untuk makan saja, dan nanti akan di ganti dengan minuman yang baru.


Gino lantas mengikuti perintah karyawan itu dan berlalu dari sana sambil tersenyum puas karena sudah mengerjai Dean.


Lia terlihat begitu cemas dan peduli pada Dean. Ia lantas mengambil beberapa helai Tissue dan mengelap baju Dean yang terkena tumpahan jus tadi.


"Kamu nggak apa-apa kan Dean?" tanya Lia dengan cemas.


"Nggak apa-apa kok, cuman tersiram jus saja," ucap Dean dengan lembut sambil tersenyum ke arah Lia.


"Tuh kan benar apa kata ku tadi, setiap bertemu dia pasti ada-ada saja masalah yang dibuat olehnya," ujar Lia dengan kesal sambil terus fokus membersihkan baju Dean.


Dean hanya mendengar saja kala Lia mengumpat kesal pada Gino. Ia terus saja memperhatikan jari tangan Lia yang sedari tadi telaten dan tak berhenti membersihkan tumpahan jus mangga di dada bajunya.


Sebenarnya, Dean tidak ingin membentak Gino seperti tadi. Namun, mengingat perlakuan Gino yang selalu saja mencari masalah kala berjumpa dengan dirinya, Ia tidak tahan lagi menahan emosinya. Dan perkataan Lia tadi sungguh dibenarkan oleh Dean.


Gino yang duduk di sebrang Lia dan Dean bukannya merasa puas, ia semakin panas melihat adegan yang merusak matanya itu. Lia terlihat telaten membersihkan baju Dean karena ulahnya tadi.


"Dasar sialan! brengsek!" gumam Gino dengan ekspresi marah sambil menusuk dengan kasar makanan di hadapannya dengan sendok dan garpu.


"Awas saja kamu Dean, akan ku beri pelajaran kamu!" ujar Gino sambil terus memperhatikan Lia dan Dean di seberang sana.


"Apa kamu akan pulang dulu ke apartemen untuk mengganti bajumu?" tanya Lia setelah ia selesai membersihkan baju Dean.


"Aku ada bawa baju cadangan di mobil," ucap Dean.


"Ya sudah, ayo kita pergi dari sini," ajak Lia pada Dean.


"Ayo," ujar Dean sambil beranjak dari duduknya.


Lia sejenak menatap tajam ke arah Gino sebelum dirinya beranjak dari sana. Gino bukannya marah, melainkan melebarkan senyuman diwajahnya memperhatikan Lia menatap dirinya, meskipun bukan tatapan cinta tapi ia sangat senang kala Lia berani menatap nya seperti itu.


"Dia sungguh menggemaskan kalau sedang marah," gumam Gino dalam hati.


Setelah membayar makan siang tadi, Lia dan Dean lantas kembali ke kantor untuk melanjutkan kembali pekerjaan Mereka masing-masing.

__ADS_1


Hai guys, buat kalian yang udah baca karya author, jangan segan-segan ya buat like, komen, dan juga vote.😘


__ADS_2