
Setelah bertemu di lampu merah dan sekarang dua minggu telah berlalu, Bintang yang merindukan Sean tengah berbaring di rumah sakit, tangan kecilnya harus infus dan bibirnya selalu memanggil Sean.
Nina yang sedang berjaga pun membangunkan Bintang.
"Bintang, di sini ada Ibu, Nak. Ibu akan menjaga Bintang," kata Nina seraya membelai rambut hitamnya.
Mendengar suara Nina, Bintang yang semula tidur pun membuka mata.
Bintang menanyakan alasan apa yang membuatnya membenci Sean.
"Ibu, kenapa Ibu tidak suka Dady?"
Mendengar pertanyaan itu, Nina tidak mampu menjawab, ia merasa belum waktunya bagi Bintang mengetahui masalah orang dewasa.
Nina yang diam itu melihat ke arah pintu saat pintu itu terbuka dari luar, Sean yang membukanya. Ya, Eny yang merasa tidak tega pada Bintang itu mencari Sean dan Eny menemukan Sean di pasar saat Sean berbelanja seafood.
Bintang yang juga melihat Sean itu merasa senang, Bintang yang semula berbaring segera merubah posisinya menjadi duduk.
"Dady!" seru Bintang seraya tangan yang ia buka lebar, melihat itu, Sean pun segera memeluk Bintang tanpa menghiraukan Nina yang diam saja.
Setelah pelukan itu terlepas, Bintang yang takut Nina akan mengusir Sean pun memohon pada Nina.
"Bu, biarkan Dady di sini, ya, Bu. Sebentar, saja," kata Bintang dan karena kondisi Bintang yang tidak baik membuat Nina merasa tidak tega untuk memisahkan keduanya.
Setelah itu, Nina pun memilih untuk keluar selama ada Sean di dalam.
Di luar, Nina bertemu dengan Eny yang sedang duduk di bangku panjang.
Eny yang mengerti perasaan Nina itu meminta maaf.
"Nak, maafkan Ibu. Ibu terpaksa membawa Sean kemari," kata Eny seraya menatap Nina yang sedang menunduk, Nina menitikkan air matanya dan segera memeluk Eny.
"Salahkah Nina, Bu? Nina sangat membenci pria itu, setiap Nina melihatnya, Nina ingat dengan perlakuan Evan di masa lalu, Bu," tangis Nina yang sedang teringat dengan kejadian di hotel, saat Evan menceraikannya tanpa mau mendengarkan apapun dari Nina.
Eny mengusap punggung Nina dan Eny mengatakan kalau itu tidak salah.
"Tidak, Nak. Tidak salah kalau kamu membencinya, tetapi, apa salahnya kalau kamu memaafkan, kamu lihat Bintang, dia merasa nyaman dengan Sean, anak kecil tidak dapat dibohongi perasaannya, seandainya Sean tidak tulus, mana mungkin anak kamu akan menyukainya," tutur Eny seraya melepaskan pelukan itu.
Eny mengangkat dagu Nina supaya menatapnya, Eny pun bertanya, "Menurutmu, apa yang Ibu katakan itu salah atau benar?"
__ADS_1
Nina mengangguk, membenarkan ucapan Eny dan setelah itu, Eny juga Nina masuk ke kamar rawat Bintang, di dalam, Sean sedang menyuapi Bintang yang sedari tadi menolak untuk makan.
Terlihat, Bintang juga menegang mainan baru, mainan itu boneka beruang yang Sean bawakan.
Melihat kedekatan itu, Nina hanya bisa diam, ia menahan air matanya, membayangkan betapa bahagianya Bintang jika yang sedang bersamanya adalah Evan.
Sementara itu, Evan yang sibuk bekerja terlalu mempercayakan Kinan dan Cate untuk merawat Dante. Tanpa Evan tahu, Dante memiliki banyak luka lebam di tubuhnya.
Luka itu dihasilkan Dari Cate yang selalu mencari pelampiasan saat Evan mengabaikannya.
Kinan yang mengetahui itu hanya diam saja, baginya sudah cukup Cate yang turun tangan untuk memberi pelajaran pada Dante.
Kinan berharap kalau Dante tidak akan kuat, lalu, pergi dari rumahnya.
Tetapi, Dante yang senang dengan Evan itu memilih untuk bertahan.
Setelah beberapa hari tidak pulang, Evan yang sekarang ada rumah itu menanyakan sekolah Dante dan Dante menjawab kalau semua baik.
Dante juga tidak menceritakan apa yang dialaminya sampai ketika Evan yang sudah berangkat bekerja itu harus kembali untuk mengambil berkas yang tertinggal.
Evan yang berada di pintu itu melihat Dante yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya sedang disiram oleh Cate, Cate merasa tidak sudi untuk memberikan susu setiap pagi pada Dante karena kesal, Cate pun menyiram susu itu ke wajah Dante.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Evan dengan menggunakan bahasa asing pada Cate.
Cate yang terpergok itu dengan reflek menjatuhkan gelas yang dipegangnya dan gelas yang jatuh ke lantai itu pun pecah.
Cate bangun dari duduk, wanita berpakaian seksi dengan belahan dada rendah itu berjalan kearah Evan. Cate menyentuh tangan suaminya dan Evan yang melihat sendiri perlakuan Cate pada Dante pun mengibaskan tangannya.
Setelah itu, Evan membawa Dante ikut dengannya, tentu saja setelah Evan mengambil berkasnya di ruang kerja.
Di mobil, Evan menanyakan sejak kapan Dante mendapatkan perlakuan kasar dan Dante menjawab sejak pertama ia datang.
"Kenapa tidak pernah mengatakan apapun padaku?" tanya Evan dan Dante yang berusia 8 tahun itu tersenyum.
"Kenapa tersenyum?"
"Karena Dante menyukai Papah," jawab Dante.
Tentunya, keduanya itu berbicara menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
Dan Evan membawa Dante ke asrama, menurutnya, Dante akan aman selama berada di sana.
"Maafkan Papah. Kamu harus tinggal di asrama, Papah akan sering datang untuk menjenguk," kata Evan sebelum pergi dan Dante hanya bisa mengiyakan.
Bagi Dante, ada seseorang yang perduli padanya itu sudah cukup dan Evan terlalu baik padanya sehingga Dante sangat menyukai Evan dan berjanji dalam hati kalau besar nanti akan menjadi kebanggan Evan.
****
Setelah keluar dari rumah sakit, Nina tidak lagi melarang Bintang untuk bertemu dengan Sean, tetapi, Nina melarang Sean untuk membawa Bintang kemanapun.
Awalnya, Bintang tidak keberatan, tetapi, lama-kelamaan Bintang merasa bosan kalau hanya bermain di rumah.
Lalu, Bintang mengajak Sean untuk jalan-jalan dan Sean meminta Bintang untuk menghubungi Nina lebih dulu.
"Tidak Dady, nanti Ibu akan melarang," jawab Bintang seraya mengerucutkan bibirnya.
"Bintang mau Dady ditampar Ibu lagi?" tanya Sean seraya memperagakan Nina yang galak, Sean juga berkacak pinggang, Sean berkata, "Apa yang kau lakukan, kenapa pergi tanpa ijin?"
Mendengar dan melihat Sean yang seperti itu, Bintang menertawakannya, bagi Bintang, Sean sangat persis seperti Nina saat menirunya.
Dan Eny yang sedang memotong sayuran itu menggeleng, Eny juga tersenyum saat melihat tawa Bintang yang begitu renyahnya.
Lalu, Sean menjelaskan pada Bintang kalau pergi tanpa memberitahu orangtua itu tidaklah benar karena orangtua akan merasa khawatir.
Setelah itu, Bintang pun meminta ponsel Eny, Bintang mencari wajah Nina di sebuah aplikasi chat berwarna hijau.
Setelah menemukan, Bintang pun segera menghubungi Nina.
Setelah tersambung, Bintang segera mengatakan apa yang diinginkan.
"Ibu, Bintang mau jalan-jalan sama Dady," kata Bintang dan belum sempat menjawab, Bintang sudah memutuskan teleponnya.
"Jawaban Ibu apa?" tanya Sean yang bersedekap dada saat mendapati Bintang yang pintar.
"Tidak menjawab, karena Bintang memberitahu bukan meminta ijin, Dady," kata Bintang yang kemudian mengembalikan ponsel Eny.
"Astaga, anak itu, benar-benar pintar," puji Sean seraya menggeleng.
Apakah Sean akan menuruti keinginan Bintang?
__ADS_1
Like dan komen setelah membaca, ya, all. Dukung karya ini dengan gift/votenya, ya. Terima kasih 💙